
Keluar dari ruang rapat mendadak kepalaku pusing. Kenapa?dan kenapa? pertanyaan itu yang selalu berputar diotakku.
Rio dia adalah cinta pertamaku, orang pertama juga yang berhasil menoreh luka terdalam dihatiku. Membawa sejuta harap dan mimpi.
Bukan, bukan salah dia. Tapi salah keadaan, keadaan yang tidak pernah berfihak pada kami. Hubungan yang terjalin lebih dari 4 tahun harus kandas dan teronggok diatas kata pisah. Ya hanya pisah, tidak pernah ada kata putus diantara kami, hingga saat ini maybe.
Demi melupakan Rio aku pergi kesini, menjauh sebisaku. Bertemu dengan kak Andra yang dalam waktu 1,5 tahun ini selalu ada menemani hari-hari ku. Membantuku bangkit melupakan Rio.
Tapi kenyataan tak pernah berpihak padaku, mereka berdua menjadi alasan terbesar luka dihatiku. Apa salahku? Apa aku tidak berhak bahagia?. Pertanyaan yang selalu ingin aku tanyakan, tapi tidak pernah bisa aku temukan jawabannya
Semua berjalan tanpa bisa aku cegah, tanpa bisa lagi aku tentukan alurnya
Bahkan aku terjebak didalamnya. Permainan ya permainan hati yang aku alami memutar balikkan keadaan ku, menghancurkan harapan dan asa yang selama ini aku coba raih.
Belenggu cinta dan luka seakan membayangi hidupku. Menoreh dan membekas direlung hati ini.
Sekarang disaat aku akan memulai menata kembali hatiku, dia hadir kembali nyata didepanku. Sanggupkah aku melihatnya setiap waktu??
"Ada apa?" Raga menepuk pundakku pelan, dia ini paling peka memang .
Aku hanya mendongak menatap Raga, tanpa kata tanpa suara. Aku yakin Raga tau kekacauanku saat ini.
"Minum lah, nanti kalau sudah tenang cerita ya. Biar lega hati kamu." Lanjutnya setelah tak ada jawaban yang aku keluarkan.
Keluh, iya keluh rasa lidah ini untuk bicara. Memori-memori lembaran kisah masa lalu hadir kembali tanpa aku pinta. Mengingatkanku akan luka yang tertoreh.
"Tidak dan tetap tidak itu jawaban yang kami putuskan."
Hancur rasa hati ini saat itu. Saat dimana keputusan telak diambil keluargaku dan keluarga Rio.
Tak tau apa dan mengapa, tak tau sebab dan musabab tarjadinya keputusan itu.
Mencoba bertahan sakit, tapi melepaskan begitu sulit.
Akhirnya aku putuskan untuk pergi dari kampung halaman tempat aku tumbuh dan menjauh sebisaku untuk melupakan rasa sakit ini.
Susah paya aku berusaha menguasai rasa yang berkecamuk di hati ini. Rasa yang aku sendiri tak tau harus bagaimana menggambarkan nya .
Dalam keadaan kalut dan kacau itulah kak Andra datang, menemani dan membantuku melewati hari-hari kelamku.
Mungkin perasaanku kepada kak Andra hanya perasaan kagum tapi lama -lama rasa itu berubah arah dan kembali mematukku dalam kubangan rasa sakit .
Belenggu Cinta dan luka
__ADS_1
...****************...
"Yank, aku sudah ada solusi."
"Tadi aku berdiskusi sama temanku, dia ada dikota lain. Tapi tadi dia bilang bisa atasi yank."
"Yank, kamu kemana sih?."
"Sayank, gak ada apa-apa kan? jawab dong yank?."
"Kamu kenapa lagi sih Yan? jangan begini ceritalah agar hatimu tenang!." Bujuk Raga mencoba menguatkan ku.
Jujur aku kaget, kejutan hari ini benar-benar diluar dugaanku. Tak pernah aku menduga akan bertemu lagi dengan Rio. Dalam keadaan aku bekerja disini, menjadi karyawannya.
"Ga, aku pulang duluan ya, kayaknya aku gak enak badan. Kurang istirahat mungkin."
"Perlu aku antar Yan?." Tawar Raga sambil membantuku merapikan meja kerjaku
"Gak usah Ga, aku bisa pesan online."
"Biar saya antar, kebetulan saya belum makan siang. Jadi gk ada salahnya, sekalian keluar kan?." Aku kembali mematung.
Tuhan jangan lagi, aku mau pulang untuk menghindarinya. Jangan lagi Kau buat cerita aku dekat dengannya Tuhan.
"Batalkan saja!."
"Maaf pak, kasihan kalau dibatalkan. Tidak apa biar saya pulang sendiri. Makasih atas kemurahan Bapak mau mengantar saya pulang."
Aku menunduk menangkupkan kedua tangan berharap Dia segera berlalu dari hadapanku.
"Sudah, saya gak suka dibantah."
"Saya tunggu di bawa, nanti kalau angkutan online itu datang biar saya yang ganti rugi." Ucapnya sambil berlalu.
Dia, Rio orang yang sama kah? apakah dia Rio ku yang dulu? Ingin tertawa aku mengulang pertanyaan ku sendiri. Rio ku masih pantaskah aku menyebutnya begitu. Sungguh miris bukan .
"Ish, ada apa dengannya, kenapa memaksa sekali sih?Gerutuku
"Gak papa lagi Yan, hitung-hitung numpang gratis.bHemat ongkos".
"Dasar, bukan itu masalahnya Ga." Kembali aku menunduk.
"Aku becanda, sudah gak papa lagian biar aku gk khawatir ama kamu Yan. Lebih aman kan kalau Pak Rio yang antar.
__ADS_1
Apanya yang aman Ga? andai kau tau bagaimana perasaanku saat ini. Aku yakin kamu akan bisa memahaminya Ga. Tapi aku belum mampu bercerita tentang ini, terlalu rumit, terlalu sulit.
"Udah sana nanti Pak Rio marah karna kelamaan menunggu mu." Raga mendorong tubuhku untuk berlalu
Pergi jauh titipkan perih, sedikit pun peduli. Seandainya kamu merasakan jadi aku sebentar sajaaa. Takkan sanggup hatimu terima, sakit ini begitu parahhh.
Sepenggal lagu Judika membuyarkan lamunan ku. Bergegas ku anggkat panggilan tanpa melihat penelfon. Aku takut Rio benar-benar marah seperti yang Raga bilang.
"Hallo, assalamualaikum." Gemetar juga suaraku astaga, kenapa aku kembali lemah
"Wa'alaikumussalam, sayang kamu gak papa kan? kenapa pesanku gak kamu balas satu pun?." Buru-buru kulihat nama yang terterah di layar.
"Maaf ya, tadi aku sedang diruang rapat jadi hanphone gak aku bawa. Maaf ya." Astaga kacau
"Oh, aku khawatir tau yank. Takut kamu kenapa-napa."
"Kok mikirnya gitu sih?, harusnya kita saling mendoakan yang baik kan."
"Aku tau, tapi beneran kamu gak papa? bukan gak percaya yank, tapi..."
"Kenapa? ada apa sih? kan sudah aku kasih tau. Lagi rapat tadi, ini sudah bisa angkat telphone, itu artinya aku baik-baik saja." Taukah kamu hatiku campur aduk saat ini, seperti sayur lodeh rasanya enak, gurih, pedas, manis, asin. Itulah rasa dihatiku.
"Gak tau yank, yang jelas hatiku gak tenang. Seperti ada sesuatu, tapi aku gak tau apa itu."
"Maaf ya yank, bukan aku gak percaya tapi jujur aku khawatir yank." Ku dengar dia menghela nafas panjang.
"Tenang lah, aku baik-baik saja,ini disini berdiri sambil berbicara denganmu." Ucapku menenangkan
"Maaf mungkin aku yang terlalu banyak berfikir yank, syukurlah kalau kamu baik-baik saja."
"Kenapa lama sih, kamu ini kan harus segera istirahat. Kalau ada apa-apa nanti gimana?." Aku terlonjak keget, kenapa aku bisa melupakan Rio.
"Maaf pak, sebentar." Gugupku
"Ayo cepet dikit ! kamu harus istirahat. Pucat begitu." Omelnya
"Sayank kamu sakit?." Ya ampun tolong
gantung dikit ya wkwwkwk
salam damai hati yang terluka.
mohon dukungannya.like,komen dan rate ya genk's.thanks and love you all
__ADS_1