
Kailandar
AL menyembunyikan wajahnya diperutku, geli dan risih namun Aku tidak bisa berbuat apapun. AL membutuhkanku saat ini, jiwanya benar-benar rapuh.
Subuh tadi Kak Andra mengirim pesan padaku, awalnya Aku tidak begitu yakin akan pesannya. Namun sekarang aku mempercayainya.
" Yan, tolong dampingi AL satu minggu ini. Jangan biarkan Dia sendiri, AL membutuhkanmu." Kak Andra
" Maksud Kak Andra bagaimana?"
" Temani AL melewati satu minggu ini Yan, minggu -minggu ini adalah masa terrapuh AL . Tapi ingat jangan ada yang tau soal ini ya!, Jaga dia ya Kakak yakin kamu bisa."
" Iya Kak, akan Aku usahain."
" Ya sudah, hati-hati ya."
Walau bingung akan maksuf Kak Andra Aku tetap melakukannya. Dari pagi setelah sarapan Kami berangkat sampai sekarang ini Aku menemani AL dan melihat sendiri sisih rapuh AL yang menangis sambil memeluk perutku.
Tak banyak yang bisa Aku lakukan, hanya mengusap kepalanya lembut. Aku membiarkan AL tertidur dipangkuanku, Aku yakin Dia juga kurang tidur.
°°°°°
Raga
" Yan, besok Aku mulai cuti ya"
" Jadi ambil cuti juga Ga? mo kemana rencananya?"
" Belum ada pandangan sih, menurutmu mana tempat yang bagus dikunjungi untuk orang yang memiliki kasus sepertiku ini?."
" Hele mulai dah mendramatisir keadaan, kaya pesakitan aja Kamu Ga."
" Lah Aku kan serius Yan, siapa tau ada tempat yang efektif buat kembaliin mood orang pata hati."
" Makan pedas sepedas-pedasnya, biar dower tuh mulut."
" Jahat kali Kamu ini."
" Kamu nya lebay, padahal banyak tempat bagus yang bisa dikunjungi. Yang penting dalam kasus kamu itu adalah niatnya. Niat kamu bangkit dan melupakan rasa patah hati kamu."
" Ya Aku taulah kalau soal itu."
Terus ngapain tadi nanyanya begitu?."
" Kali aja ada tempat yang bisa mempercepat prosesnya gitu." Dengan wajah tanpa dosa Raga berkata sambil tersenyum.
" Nyelem aja kamu dilaut Ga" Suci angkat bicara juga akhirnya setelah lama hanya diam mendengarkan.
" Kalian berdua sama kejamnya". Wajah Raga dibuat semelas mungkin dan akhirnya tawa kami semua pecah memenuhi ruangan.
°°°°°
VIANDRA
__ADS_1
" Bi, kenapa coklatnya cuma ada satu gelas?"
" Satu gelas juga belum tentu habis sayank, jadi segelas berdua lebih romantis bukan? atau sayank gak suka ya ?."
" Bukan begitu Bi, Lid kira Abi yang bakal keberatan kalau Lid ikutan minum."
" Kemarilah, Abi ada yang mau disampaikan."
" Ada masalah apa Bi."
" Soal kamu makanya kesini duduk dekat Abi."
Mungkin lebih cepat lebih baik, Aku juga harus menyiapkan mental dan fisik Lidya agar tidak terlalu terkejut dengan kabar yang ada selanjutnya. Laporan Bim yang Aku terima semua sudah di cek kebenarannya, setidaknya Lidya tau garis besarnya dulu.
" Sayank, boleh Abi tau tentang masa kecil sayank dulu."
" Lid tidak begitu ingat Bi, yang Lid tau dulu waktu masih umur 5 tahun Lid pernah tinggal di jember tapi Lid lupa rumah siapa Bi."
" Gak ingat sama sekali?" Lidya menggeleng sebagai jawaban.
" Tidak pernah bahas sama Ayah Tyo? atau minimal bertanya?."
" Ayah selalu marah waktu itu Bi, pernah Lid bertanya tapi Ayah marah besar sampai membentak Lid. Makanya sampai sekarang Lid tidak berani bertanya lagi."
" Ada apa Bi? kok tiba-tiba Abi bertanya tentang masa kecil Lid?"
" Aturan dari mana itu sayank, seorang suami wajar bukan bertanya tentang istrinya? bagaimanapun kamu sudah menjadi bagian dari Abi, jadi apapun yang ada hubungannya denganmu akan berhubungn langsung dengan Abi juga."
" Makasih Bi, sudah mau terima Lid."
Vin berharap kehadiran Lidya disisinya setiap hari akan membantunya menghapus rasa yang menyumbat hatinya.
°°°°
Tyo pov
" Sialan kemana anak itu? berani-beraninya dia tidak angkat telfonku."
" Siapa sih Yah? kok dari tadi ngomel aja."
" Lidya siapa lagi ?"
" Sibuk kali, makhlumlah kan namanya harus menyesuaikan diri."
" Tapi tidak seharusnya mengabaikan telfon Ayah."
" Kalau tidak sibuk pasti nanti nelfon balik Dia"
Lambat sekali kerjanya anak itu, kalau begini terus kapan Aku punya perusahaan sendiri.
°°°°
Kailandar
__ADS_1
" Queen, kita mampir kesuatu tempat dulu gak papa? atau kamu ada rencana setelah ini Yank?."
" Tidak ada kok, paling nanti pulangnya Aku mampir supermarket bentar Ayy. Ada beberapa barang yang habis."
AL tidak menjawab Dia hanya tersenyum dan menggenggam tanganku. Kami keluar kantor lebih awal, Aku tidak tau kemana AL akan membawaku.
Jalanan lumayan padat karna mendekati jam pulang kantor, empat puluh lima menit kemudian mobil AL berbelok ke sebuah kawasan apartement. Kesan pertama masuk adalah asri, ya apartement ini ditata sedemikian rupa. Taman bunga mengelilingi komplek ini. Dan sepanjang jalan Aku hanya melihat lansia dan para pengasuhnya sedang bercengkrama. Mana anak muda dan warga yang lain?
" Kita sudah sampai, sayank kenapa melamun?"
AL membawaku masuk kesalah satu unit, unik desain ruangannya unik menurutku. Hanya berbentuk kotak panjang tanpa ada sekatan antara ruang satu dan ruang lain, terbukti hanya ada beberapa pintu yang terlihat.
" Ini apartement siapa Ayy?."
" Aku?."
AL masuk kesalah satu ruangan dan kembali membawa segelas air, Aku pikir itu dapurnya.
" Serius ini punyamu Ayy?" AL mengangguk
" Queen ada beberapa hal yang ingin Aku bagi denganmu, Aku tidak tau setelah mengetahui ini semua masihkah Kamu mau berada disisiku lagi seperti sekarang ini."
" Hey kenapa bicara begitu sih Ayy"
Aku tidak habis pikir kemana arah pembicaraan AL, banyak perubahan yang terjadi padanya hari ini. AL membimbing ku memasuki sebuah pitu paling ujung, ternyata ruang kerja. Karna hanya terdapat rak buku yang tertata rapih dan juga meja kerja.
" Queen lihatlah ini." AL menyodorkan sebuah album foto tebal nan usang.
Banyak pertanyaan belum terjawab dalam benakku, namun Aku menahannya untuk bertanya. Kata Kak Andra masa menjelang peringatan hari kematian Mamanya adalah hari tersensitif bagi AL, meskipun Aku tidak begitu tau alasannya namun Aku berfikir wajar setiap anak pasti merindukan orang tuanya apalagi Ibu.
Lembar demi lembar album ku buka, masih belum Aku temukan sesuatu yang aneh. Semua berisi foto kenangan saat AL kecil. Namun sejauh ini Aku belum melihat foto Om Rahma ataupun mama AL.
Dilembar kesekian kalinya baru Aku menemukan foto wanita cantik, mungkin mama AL.
" Itu mamaku sayang, waktu beliau masih muda dulu."
" Cantik Ayy."
" Hem, sama kaya kamu cantik." AL kembali menaruh kepalanya dipangkuanku, memeluk perutku erat.
Kembali lagi manjanya pikirku namun Aku tahan agar dia tidak mendengarnya. Sungguh Aku heran dengan sikap kekanakan AL hari ini, sangat-sangat beda dengan AL yang biasanya.
" AL ini siapa?" Tunjukku pada dua lembar foto yang terselip diantara foto lain.
( sepertinya Aku pernah melihat foto ini tapi dimana?)
°°°°°
***TBC Genk's
° Mohon dukungannya
° like komen rate ☆ 5 & favourite
__ADS_1
° Makasih & love you all***