
Viandra
" Kita sudah sampai, ayo turun?."
" Bi, gelap sekali ini dimana? kenapa lampunya dimatiian Bi? setidaknya kita bisa pakai dulu buat lihat jalan?."
" Setelah sampai kita balik lagi untuk matiin lampunya, terus mau kesana lagi gelap lagi? apa bedanya dimatiin sekarang biar tidak bolak balik."
" Bi handphone Lid mana dah?."
Lidya sibuk mengacak-acak tasnya . Sementara Viandra mala membuka pintu mobil dan turun. Berputar menuju pintu disebelah istrinya.
" Besok saja dicarinya, ayo turun nanti mala kelamaan disini kita. Udara mulai dingin."
" Tapi Bi kan gelap."
" Kan ada Aku sayank, atau mau digendong?."
" Eh gak usah Bi, biar Lid jalan sendiri."
" Ayo kalau begitu."
Lidya berjalan sambil menggenggam erat tangan Viandra, jujur dia sedikit takut. Sedikit ngeri melihat sekeliling yang gelap gulita hanya ada temaram cahaya kecil di depan sana.
" Bi harusnya kita datangnya siang hari ya, jadi tidak kemalaman begini."
" Tadi keasyikan sih dikantor sampai lupa waktu, maaf ya sayank sampai buat kamu ketakutan."
" Abi tau Lid takut? bagaimana bisa kan Lid belum bilang juga?."
" Tanganmu gemetar sayank," Vin tersenyum geli walaupun Dia tau istrinya tidak akan bisa melihatnya.
°°°°°
Raga
" Permisi Pak boleh saya menghadap."
" Eh Ga masuk saja."
" Ada apa Ga kok tumben? ada yang bisa saya bantu nih?.
" Maaf Pak sebelumnya, Saya mau bertanya soal tenaga mutasi. Apa tahun ini ada rencana mutasi lagi?."
" Panggil AL saja Ga kalau lagi berdua gini, biar lebih enak ngobrolnya. Mutasi ya? sebenarnya progam mutasi dilakukan untuk membiasakan tim bekerja diberbagai tempat."
" Maksudnya begini, mutasi dalam perusahaan ini bukan dilakukan karna pekerja itu bermasalah atau karna pengurangan pekerja. Namun mungkin lebih enaknya dianggap rolingan pegawai saja ya, tujuannya agar semua tenaga kerja bisa siap siaga di segala perusahaan jika nanti ada tugas mendadak."
" Tumben kamu nanyain ini Ga ada apa? jangan bilang kamu mau ngajuin diri untuk progam itu."
" Rencananya memang begitu Al."
" Bisa kasih alasan yang lebih spesifik lagi Ga."
" Huff AL , aku pengen menghindari masalah lebih tepatnya Aku mau mencari suasana baru untuk menyegarkan pikiran dan otakku AL, Aku ingin membuang semuanya kenangan. Kamu tau kan masalahku AL."
" Masalah hati? Aku bisa mengirimmu sekarang kesala satu kantor cabang tapi pertanyaannya setelah kamu disana apa hatimu akan bisa melupakan Dia?.
__ADS_1
" Paling tidak aku bisa menghindari saat-saat bertemu dengannya, ditempat baru Aku akan banyak bergaul dengan orang-orang baru pula. Jadi kesempatan untuk melupakannya akan lebih terbuka."
" Tidak"
" Kenapa tidak AL?, kamu tidak mau membantuku?"
" Jangan salah faham dulu, dengarkan Aku."
Al menghela nafas Dia tau masalah hati sangat rumit, seperti dia dulu. Mau kemanapun melangkah akan tetap sama hasilnya. Jadi Al tidak lagi ingin menyarankan untuk pergi dan menghindar.
" Ga kemanapun kamu melangkah jika hatimu masih tertinggal maka sejauh manapun kamu pergi hasilnya tetap sama. Kamu tidak harus menghindari masalah tapi hadapi masalah. Selesaikan masalah hatimu Ga hanya kamu sendiri yang mampu. Aku sudah pernah mengalaminya, luar negri tujuanku namun tetap saja hatiku masih tertinggal disini tanpa mampu aku hapus."
" Aku mengerti, baiklah akan Aku coba semampuku. Thanks banget AL kamu sudah mau dengerin Aku."
" Teman Queen adalah temanku juga, jangan sungkan untuk mencariku. Ingat Aku adalah AL bukan boss kalau lagi berdua.Ok."
" Sip thanks boss." hahahha mereka tertawa setelah bertos ria.
" Ga, gimana kalau kamu ambil cuti. Satu minggu cukup kan? pergilah bersenang-senang."
" Thanks sekali lagi AL."
°°°°°
" I love you."
" Love you more Ayy, dari mana?."
" Dari pantri sayank, kangen." AL memelukku erat.
Aku heran dengannya akhir-akhir ini. AL berubah jadi manja, aku tidak tau apa sebenarnya yang sedang dia pikirkan. Tapi aku tau pasti AL menyimpan suatu masalah.
" Mau cium boleh?."
" Ngelunjak."
" Yank, boleh?."
" Tumben ijin dulu biasanya juga lang.."
Kebiasaan sudah, ijinnya hanya basa basi, dan Aku sudah terbiasa dengan serangan mendadaknya itu.
" Yank, kita menikah ya. Aku tau kamu ragu padaku tapi percayalah aku akan lakukan apapun untuk kebahagian Kita."
" Ceritakan padaku ada apa Ayy, masalah menikah nanti kita bicarakan lagi. Sekarang berceritalah dulu tentang masalahku."
" Kamu tau?."
" Aku bisa merasakannya Ayy."
AL menggeser tubuhnya, dan menaruh kepalanya dipangkuanku. Siang ini kami menghabiskan waktu makan siang dikantor. Hari ini kantor terasa lengang, pertengahan bulan seperti ini pekerjaan tidak begitu menumpuk. Beda halnya dengan awal dan akhir bulan yang super sibuk.
" Awal bulan besuk peringatan hari kematian Mama yang ke tiga Yank, namun Aku belum mampu mewujudkan mimpinya."
" Sabar Ayy, mungkin belum waktunya saja."
" Kamu tau ada hal yang menyakitkan diwaktu-waktu menjelang kepergian Mama, dan itu masih sangat membekas dibenakku. Terkadang aku merasa benci namun kadang juga aku merasa sayang."
__ADS_1
Aku bingung harus gimana menyikapi curhatan AL, mana aku tau silsilah keluarga Rahma. Bahkan wajah mama AL pun aku tidak tau yang mana. Keluarga Rahma sangat tertutup dan rumit.
Keberadaan Rio dalam bagian dari keluarga Rahma saja sudah membingungkan. Rio, kemarin Om Rahma mengatakan bahwa Rio putranya apa maksud Om Rahma anak angkat sama seperti Kak Viandra?
Sungguh keluarga rumit.
°°°°°°
Viandra
" Rumah siapa Abi kok gelap?"
" Rumah kita satu minggu ini."
" Ha, maksud Abi apaan? kita mau tinggal disini?"
" Ehmm, keberatan? bukannya tadi sudah setuju waktu dimobil?."
" Ihh, Abi apaan. Lid terkejut kenapa pindah mendadak, baju ganti saja kita gak ada bawa Bi."
" Ayo masuk."
Rumah ini berlantai dua, jika dilihat dari luar tak akan nampak. Karna yang terlihat adalah sebuah rumah mungil, siapa sangka dalamnya sangat dibilang mewah untuk ukuran rumah sederhana.
Rumah itu adalah rumah peninggalan Ayah Viandra sebelum dia wafat, tidak ada yang tau bagaimana awalnya Viandra bisa menjadi anak angkat dari Pak Rahma. Semua tertutup rapat tanpa cela.
" Sayank suka?."
" Bagus Bi, bener ini rumah kita?."
" Iya, besuk kita jalan-jalan ketaman belakang. Kamu pasti lebih suka menghabiskan waktu disana nanti."
" Benarkah? jadi gak sabar nunggu besuk Bi."
Viandra membelai pipi Lidya sayang, Dia sudah bertekat dalam hati akan berusaha mencintai Lidya dan melindunginya. Apalagi setelah mengetahui kebenaran keluarga asli Lidya dari laporan Bim.
" Capek?"
Lidya hanya menggeleng, Dia berjalan berkeliling mengitari ruangan yang nampak terawat dan bersih. Ada beberapa foto terpajang disana namun Lidya belum tertarik untuk bertanya.
" Aku mau bikin coklat panas, sayank mau dibuatin juga?."
" Boleh Bi, eh sini biar Lid aja yang buat"
" Kamu keliling aja dulu, biar aku yang bikin. Hati-hati jangan keluar."
Sebuah kecupan singgah di pipi kiri Lidya membuatnya tersipu dan merona. Dia tidak pernah menyangkah kalau hari ini akan dicurahi kasih sayang oleh Viandra yang dia sendiri tau selama ini terkenal cuek.
Lidya tidak tau perasaannya sendiri bagaimana? yang dia tau hanya bahagia.
°°°°°°
***TBC Genk's
° Mohon dukungannya
°like komen rate ☆5 & favourite
__ADS_1
° Makasih & love you all***