
Berulang kali aku menarik nafas mengatur detak jantungku yang berpacu tak beraturan, sesak dan gelisah hati ini. Aku tau sejak kepulanganku waktu itu, ada yang tidak beres dengan Aa Vin bukan masalah keluarga tapi lebih ke masalah hati.
Makin hari aku makin sadar tentang rasanya, aku mencoba untuk menutup mata walau aku sangat menyadarinya. Aku ingin egois untuk diriku sendiri, aku benci dan ingin marah bila melihat tatapan matanya untuk pemilik hatiku. Sungguh jika itu orang lain mungkin aku sudah membuat perhitungan dengannya.
Sesak didadaku semakin bertambah saat kemarin Aa Vin dengan gamblang mengakui rasanya untuk my Quuen. Bahkan tanpa ragu dia bilang melakukan semua pengorbanan untuk kebahagian queen dengan ku.
Aku tau dan sangat sadar pengorbanan yang Dia maksud adalah pengorbanan hati, menjadikanku pesimis akan rasa queen terhadapku. Aku takut apa yang aku lakukan selama ini hanya akan menjadi beban untuknya dan mengekang kebebasannya.
Jujur saja aku ingin tau rasa queen apa kah masih ada tersimpan untuk Aa Vin. Akan tetapi aku tidak sanggup untuk menanyakan secara langsung padanya, karna itu aku menggunakan kata sebagai isyarat, tapi aku tidak pernah memperhitungkan perasaannya. Aku membuatnya tersinggung dengan pernyataanku.
Queen pergi dengan luka, aku bisa melihat dari tatapan matanya, aku tidak menginginkan hal itu terjadi tapi aku tidak punya cara lain lagi untuk mendapat jawaban dari kegelisahanku.
Jika memang rasa itu masih tertinggal dan tersimpan rapi di hati mereka, maka biarlah aku yang akan mengala dan pergi jauh. Belum terlambat jika memang mereka masih menginginkan bersatu. Toh pernikahan Aa Vin dan Lidya belum berlangsung.
°°°°°°
" Kenapa lagi lue Yan? tumben tiba-tiba ngajak nongkrong disini. Eh bukan ngajak sih tapi "memerintah" dasar ya."
Raga datang sambil menenteng tasku, haha lucu ya disaat para cowok gengsi untuk membawakan tas ceweknya aku mala seenaknya meminta tolong pada Raga untuk melakukannya.
" Kagak ada sih, cuma penasaran aja Ga. Selama aku bekerja disini baru 2 kali saja aku menginjakkan kaki kemari, yang pertama karna salah jalan, dan sekarang ini."
Aku mencoba menutupi segala rasa pahit hatiku, tidak mau lagi orang lain tau. Biarlah hanya aku saja yang merasakannya sendiri. Aku tidak boleh egois menceritakan segala masalahku padahal aku tau orang lain juga sedang dalam masalah.
" Benar juga ya, udara disini lebih sejuk malahan." Raga beranjak merentangkan kedua tangannya sambil menarik nafas dalam menikmati udara sejuk ditengah terik matahari siang ini.
" Tapi ngomong-ngomong kalau ada camilan lebih enak sih Yan, bentar ya aku mau beli beberapa camilan dulu biar tambah pas acara malas-malasan kita hari ini."
Raga berlalu tanpa menunggu jawaban dariku terlebih dahulu. Sudahlah kan memang dia begitu.
" Huuff..apa yang harus aku lakukan Tuhan, kenapa hidupku penuh dengan drama begini?." Tanyaku pada diri sendiri
°°°°
Ku redam, rasa pilu hatiku. walau perih dan merobek asaku.
Kini kucoba, tuk tegarkan hatiku dalam menjalani hari ku.
__ADS_1
Namun semua itu terlalu, terlalu sesakkan nafasku saat bayangmu menggodaku
Namun sadarku harus menepis semuanya tentang dirimu, kau tlah patahkan asaku.
Tergores kembali satu luka dihatiku, mengendap memberat jiwa.
Ku ingin berlari mencoba tak tersentuh oleh hasrat angan jiwa di hatiku,,
Duduk sendirian dipojok cafe ditemani music dari " Shifter , Luka" ini membuat aku semakin memantapkan hati untuk melanjutkan langkahku.
Aku akui akan banyak kendala dan duri yang harus aku hadapi setelah ini, tapi anggap saja pernikahanku nanti adalah gerbang dari semua masalah di keluarga Rahma.
Terkadang aku menyesali akan artinya hidupku ini, tapi kembali aku harus bersyukur akan segala yang aku terima. Dan sekarang saat nyalah aku berkorban.
°°°°°°
" Yan, ada kabar yang mampir nih ditelingahku. Katanya Kak Andramu akan menikah minggu depan? benarkah?."
" Lue gak papa?."
" Maksudnya apa yang gak papa? kok aku gak faham sih maksud pertanyaan kamu."
" Lue udah gak ada rasakan ama Kak Andra?"
Eh, ternyata Raga pun punya pemikiran sama tentang rasaku, sebegitu gampang nyakah mereka membaca hatiku?. Padahal aku sendiri tidak yakin akan rasaku pada Kak Andra waktu itu cinta atau kenyamanan? terus kenapa mereka dengan mudahnya menyimpulkan? apa AL juga berpikir begitu? makanya tadi dia lontarkan pertanyaan yang intinya sama seperti pertanyaan yang Raga ucapkan barusan. Astaga kenapa aku tidak kepikiran kesana, kenapa pula aku langsung kesal dan pergi.
" Gila kamu Ga, mana ada begitu. Aku cuma nyaman aja dengan keberadaan Kak Andra, mungkin karna aku jauh dari keluarga dan adikku. Makanya saat ada dia disetiap waktu aku merasa ada yang melindungi."
Ku mencoba menjabarkan apa yang ada dibenakku, sambil aku sendiri menyelami rasanya apa ada yang aneh didalam hatiku saat mengatakannya? ternyata biasa saja, itu artinya rasa itu memang rasa nyaman karna memiliki kakak bukan nyaman sebagai kekasih.
" Hanya nyaman?"
" Kamu ini kenapa sih Ga?, nanyanya begitu amat"
" Bukan apa-apa Yan, aku takut saja kamu mempunyai perasaan lain terhadap Kak Andra mu itu."
__ADS_1
" Huuf, kenapa sih orang-orang suka sekali menyimpulkan sesuatu tanpa mau melihat kenyataan dulu? salah ya kalau kita merasa nyaman sama seseorang tapi bukan cinta?"
" Gak begitu juga sih, tetapi terkadang orang akan melihat kita hanya dari casing saja Yan, seperti saat kamu bersama Pak Andra senyum selalu terukir dibibirmu setiap hari, berbeda saat waktu pertunangan Dia diselenggarakan senyum itu hilang pergi entah kemana."
" Lagakmu Ga, pakai mendramatisir semua. Cocok kali kamu jadi sutradara film. Bisa-bisa hitz tuh filmnya tinggal nambah bumbu dikit aja, mantap dah." Ledekku balik
" Setdah, aku yang niat ngebully mala kena bully sendiri. Otak lue isi apaan sih Yan? kok cepet amat loadingnya."
" Udah pentium 16 wkwkekwk, kacau kamu ini."
" Eh beneran nih kamu gak lagi ada masalah kan?."
" Kagak Ga, gak percaya amat kamu ini."
" Ya sudah mari kita nikmati waktu bersantai ini dengan bercerita ngalor ngidul."
Aku hanya menggeleng kepala melihat kelakuan Raga yang kadang konyol, tidak tau seandainya aku tidak punya teman seperti Raga, mungkin hariku akan semakin terpuruk dan sepi.
mungkin ragaku sedang bersenda gurau di Taman ini bersama Raga tapi pikiranku berkelana jauh entah kemana, aku sendiri tidak tau apa yang harus aku pikirkan terlebih dahulu.
Terkadang aku ingin cuek dan acuh pada setiap masalah orang, tapi kadang timbul rasa kasihan sehingga tidak sampai hati untuk mendiamkannya.
Begitupun tentang " Cinta" aku tidak bisa dengan muda untuk mengexpresikannya. Tak jarang orang sering menganggap aku pribadi yang sombong, itu karna aku lebih memilih berdiam diri dan hanya bercerita dengan orang-orang terdekatku saja seperti Raga ini contohnya.
***Andai hati bisa bicara sendiri tanpa harus meminta mulut untuk mewakili mungkin semua akan lebih muda.
°°°°°°°°
TBC GUY'S
Mohon dukungannya
° like, komen , dan rate ☆ 5
°vote jika berkenan..
Terima kasih banyak & love you all***
__ADS_1