
Tentang Lidya sudah terpecahkan walau belum selesai sempurna, namun setidaknya mengurangi beban pikiran Vin. Ada satu lagi masalah besar yang belum terpecahkan dan itu lebih sensitif lagi, karna menyangkut nama besar keluarga Rahma.
Rio adalah satu anggota keluarga Rahma yang dikenal orang luaran, walau banyak yang tidak tau pasti asal muasal Rio masuk ke keluarga terpandang itu. Beda halnya dengan Vin yang memang anak angkat Pak Rahma.
Setiap orang mempunyai cerita entah itu tentang cinta maupun harta dan tahta. Tak terkecuali keluarga Rahma. Pak Rahma sendiri memiliki cerita yang tak kala membuat orang menggeleng saat mendengarnya.
Jangan menghujat jangan mencela karna hidup bukan cuma tentang Kita dan juga bukan hanya milik Kita.
°°°°°
Viandra
" Hallo Bim, ada jadwal apa minggu ini?."
"???"
" Aturkan waktu buat Aku bertemu Pak Ricart, Aku ingin dalam minggu ini segera beres."
" ???"
" Ok thanks ya Bim"
Vin mengakhiri panggilan gawainya dan kembali fokus membaca laporan Bim tentang Rio. Ya Vin mendapatkan laporan tentang asal usul Rio, itu sebabnya Vin akan bekerja sama dengan Pak Ricart untuk mengungkap semua kebenaran atau bahkan kepalsuan dari berita yang didapat Bim dan anak buahnya.
" Aku kasih tau AL atau tidak, huuf kenapa waktunya sangat tidak tepat begini."
" Bi, makan siang sudah siap. Istirahatlah Bi ayo Kita makan dulu." Lidya datang dengan senyum yang mengembang tanpa beban.
" Sudah matang, cepet sekali sekarang masaknya."
" Harus dong Bi, kalau tidak cepat nanti kasihan cacing perut suamiku berdemo masal dalam perut."
__ADS_1
" Sudah pandai ngeledek juga sekarang."
Vin mencolek ujung hidung istrinya sebelum berdiri meninggalkan laporan yang membuat kepalanya pusing.
°°°°
Kailandar
" Yah, AL mau bertanya tentang sesuatu hal mungkin akan membuat Ayah kembali mengingat masa lalu namun ini sangat penting bagi AL. Oleh sebab itu AL sangat berharap Ayah bisa menjelaskan masalah yang sebenarnya."
" Tentang Rio? apa yang AL tau soal ini?"
" Banyak Ayah namun AL hanya akan bertanya beberapa pokok penting saja Ayah. Apa Ayah tidak keberatan?."
" Katakanlah Nak, tanyakan apa yang ingin Kau tanyakan. Ayah akan berusaha menjawab semampu Ayah." Om Rahma berkata bijak pada putranya
" Ayah benarkah Rio bukan adikku? dan benarkah Rio orang lain yang Ayah akui sebagai anak agar bisa menjaga posisi AL? juga benarkah semua tuduhan orang-orang tentang masa lalu Ayah semua salah? dan Mama adalah korban dari kebohongan Ayah selama ini?."
Ya AL adalah putra satu-satunya keluarga Rahma, tidak ada yang tau alasan Pak Rahma membuat benteng untuk Al dan memberinya banyak saudara. Namun atas segala tindakan Pak Rahma mengakibatkan kesalahan fatalnya.
Pak Rahma menarik nafas panjang sebelum menjawab AL, beliau mengambil gawainya dan mulai memencet tombolnya. AL terdiam dia tau Ayahnya bukan berniat menghindar seperti sebelum-sebelumnya. Di waktu lalu setiap AL bertanya tentang masa lalunya Pak Rahma selalu marah dan pergi meninggalkannya tanpa mau mendengar pertanyaan walau hanya satu pertanyaan saja.
" Kemarilah, usahakan cepat dan sendiri saja Nak. Ada hal penting yang akan Ayah bicarakan denganmu dan AL."
"???"
" Baiklah tapi tetap berhati-hatilah dijalan nak."
Al terdiam Dia dapat menebak kalau Ayahnya memanggil Vin, Dia tau Ayahnya juga sangat menyayangi Vin namun baik AL dan Vin tidak pernah ada kata iri, mereka berdua selalu berbagi dalam hal apapun kecuali "Cinta"
" Bersabarlah Nak, tunggu Abangmu datang. Ayah akan menjawab semua pertanyaanmu dan juga menceritakan semua yang ingin kalian ketahui." Pak Rahma kembali tersenyum menatap putra tampannya yang wajahnya selalu mengingatkannya pada sang mendiang Istri tercintanya yang pergi karna kebodohannya sendiri.
__ADS_1
" Bagaimana dengan rencana pertunanganmu dan Yana? apa kalian berdua sudah membicarakan hal ini?."
" Belum Ayah, AL memang berencana untuk melamar Queen secepatnya. Namun AL ingin menyelesaikan semua hal yang selama ini mengganggu pikiran AL Ayah. AL tidak mau mengambil resiko, masa lalu membuat masa depan Kami bermasalah setidaknya AL ingin menghindari hal itu terjadi Yah."
" Pemikiran yang bagus nak, Kamu dan Vin memang selalu mengedepankan pemikiran matang dalam menjalankan segala sesuatu, Ayah bangga pada Kalian. Tidak seperti Ayah yang gagal dan mala melakukan kesalahan fatal yang membuat Ayah selalu dibelenggu rasa bersalah disisa hidup Ayah." Om Rahma menunduk terlihat jelas penyesalan dimatanya yang sayu.
" Assalamualaikum." Vin masuk dengan tergesa-gesa.
" Wa'alaikumussalam" Jawabku dan Ayah bersamaan.
" Ayah, AL apa yang terjadi? Ayah baik-baik sajakan ?" Raut khawatir diwajah Viandra tidak dapat Dia sembunyikan.
" Duduk dulu Nak, tenanglah. Ayah baik-baik saja, hanya saja adikmu membutuhkan penjelasan tentang semua yang Ayah tutup rapat sejak lama. Ayah pikir Kamu juga berhak tau soal ini, karna Ayah tau Kalian berdua selalu berbagi tentang info apapun itu bukan? dan lagi Vin suruh anak buahmu menghentikan penyelidikannya karna Ayah sendiri yang akan menceritakan kebenarannya pada Kalian."
" Ayah tau?" Vin tak percaya Ayah Rahma bisa mengetahui semua pergerakannya.
" Kalian anak-anak Ayah mana mungkin Ayah tidak bisa membaca tabiat Kalian. Sudahlah ayo Kita pindah keruang kerja Ayah."
Om Rahma melangkah keruang kerjanya yang berada dilantai dua rumahnya diikuti kedua putra kesayamgannya.
AL menahan nafas dalam ketika memasuki ruangan kerja Ayahnya, masih sama tak ada yang berubah sejak dulu tatanannya masih sama tidak ada yang bergeser.
" Ruangan ini dulu Mama yang mendekorasi, Dia sendiri yang mengerjakannya. Mama bilang ruangan kerja Ayah harus nyaman dan terasa penuh cinta ketika berada didalamnya, karna itu Ayah tidak ingin merubah apapun disini. Mama ada disini menemani Ayah setiap waktu."
Terlihat foto besar Mama Yona terpajang di sudut pojok ruangan tepat arah pandang saat seseorang duduk di kursi kerja. Mungkin Om Rahma sengaja menaruhnya disana agar bisa memandang wajah Mama ketika letih bekerja sudah merenggut fisik dan otaknya.
" Baiklah duduk disini Ayah akan menceritakan semuanya pada Kalian berdua. Ayah harap cerita ini hanya ada dikeluarga ini saja dan Ayah juga meminta kalian berdua tidak sampai mengulangi kesalahan yang pernah Ayah lakukan. Belajarlah Kalian pada pengalaman Ayah, jujur pada pasangan kunci dari semua kesuksesan Kalian dalam hal apapun."
Helaan nafas kembali terdengar, tekanan itu terpampang jelas. Kami tau Ayah sedang berusaha menekan perasaan dan jiwanya ketika harus kembali mengingat masa lalunya.
☆ Jangan pernah meremahkan kenangan karna ada cerita disetiap jalannya. hidup bukan punya kita sendiri jadi jangan egois.
__ADS_1