
Satu minggu kemudian.
Viandra pov
Huff Aku berdosa besar, sampai sekarang Aku belum bisa memberi nafkah batin pada istriku. Aku tau Dia pasti kecewa walau hanya diam.
Setelah hidup bersama beberapa hari dapat Aku lihat perubahannya, Dia lebih rajin dan ramah pada orang-orang sekitar. Aku harap ini akan berlaku selamanya dan tidak untuk waktu-waktu tertentu saja.
Aku harus mencoba membuka hatiku dan menerima kehadirannya, tidak pantas bagiku mengabaikannya begini. Tuhan kuatkan Aku, beri Aku ridho Mu.
°°°°°
Ting ..
" Lidya bagaimana apa kamu sudah bisa merayu anak pungut itu? jangan lama-lama Ayah sudah tidak sabar pengen punya usaha sendiri!" .
" Boro- boro Ayah, tiap malam aja Dia tidur diruang kerjanya."
" Kamu kurang agresif, goda gimanapun caranya yang penting Ayah mau hidup keluarga Kita berubah, tidak lagi dipandang sebelah mata. Ingat Lidya jangan lama-lama Ayah sudah tidak sabar menunggu hari itu tiba."
" Lid, dimana Kamu?." ( Viandra)
" Eh iya bi, Aku disini bi dikamar sebentar."
" Ganti bajumu sebentar lagi Kita pergi kesuatu tempat."
" Sekarang bi? Kita mau kemana sebenarnya bi?."
" Jangan banyak bertanya, nanti juga kamu tau sendiri."
Cup..
Ha, Dia Viandra kan? Aku tidak lagi bermimpi kan? Vin menciumku? kenapa Dia manis sekali.
" Kenapa masih bengong, mau Aku bantuin ganti baju juga?."
" Ah tidak-tidak terima kasih."
Viandra hanya tersenyum melihat kegugupan Lidya, Vin makhlum karna Dia sendiri juga mengalami hal yang sama. Namun Vin bertekat untuk memulai semua dari awal.
Bagaimanapun Lidya punya hak atas dirinya begitupun sebaliknya dan itu sah dimata hukum dan agama.
°°°°°
" Yank, nanti malam ada acara tidak?."
" Aku kayaknya gak ada tuh, kan jarang anak-anak bikin acara sekarang Ayy, mereka sudah sibuk dengan pasangan masing-masing."
" Kenapa Ayy?". Tanyaku setelah untuk beberapa waktu AL terdiam.
AL menarikku mendekat, meletakkan kepalaku di dadanya dan mengecup kepalaku sayank.
" Ayah mengundang Kita pulang kerumah nanti malam."
" Ha ada apa Ayy, kok tiba-tiba ada sesuatu yang seriuskah?."
Aku mendongak menatap rahang kokoh yang menjulang dan mata hitam itu menatapku lembut.
" Aish kenapa kau manis sekali hari ini Yank, kau menggodaku."
AL menarik daguku dan memegang tengkukku membuat ku gelagapan tak siap menerima seranagnnya.
__ADS_1
" hemm..Ayy,,huuf,,huff."
" Jangan menggodaku sayank, bagaimana kalau Aku khilaf?"
" Siapa yang menggodamu coba, dasar ya. Jangan cari-cari alasan, bilang aja kamu mau menciumku Ayy." Manyun sudah bibir ini, enak aja siapa juga yang menggodanya.
" Iya Aku ingin menciummu lagi dan lagi."
Sudah habislah Aku, melawanpun sudah tak mampu lagi. Jangankan bergerak mencoba bergeser sedikit saja sudah tak ada cela, yang bisa Aku lakukan hanya menerima dan menikmati ciumannya. Bohong jika aku bilang tidak menginginkannya.
" Astaghfirullah."
Suara dibalik pintu mengagetkan kami. Sontak kami menoleh kearah suara, astaga malunya pasti mukaku sudah merah padam ini.
Aku lirik AL yang hanya tersenyum tipis sambil mengusap pipiku, aish gara-gara AL ini kan malu jadinya.
" Masih mau diteruskan apa udahan nih? kalau masih mau lanjut Kami bisa keluar dulu kalau begitu."
" Hahaha maaf Aa, silakan masuk."
Ya yang datang adalah Kak Andra dan Lidya, sekilas aku melirik mereka dan tersenyum kikuk astaga malunya. Aku sempat melihat Kak Andra menggandeng tangan Lidya. Apakah hubungan mereka sudah baikan?.
" Kalian ini ya tidak tau tempat dan waktu, main nyosor aja. Buruan nikah sana, takutnya ada setan nanti merasuk tanpa sadar, kan bahaya."
" Iya Aa maaf." AL menjawab sambil nyengir kaku.
" AL Aa mau ambil cuti beberapa waktu bisa?."
" Bisa dong Aa, tapi Aa mau kemana? honeymoon?."
" Iya Aa perlu kualiti time bersama istriku."
" Kalau dalam waktu dekat ini bagaimana? apa ada hal mendesak dikantor yang membutuhkan Aa?."
" Bulan ini sepertinya tidak ada hal serius Aa, masih normal seperti biasa. Bulan depan yang kemungkinan kita akan sibuk berat, karna proyek di Sidney akan mulai berjalan."
" Bukannya itu jadi tanggung jawab Rio?."
" Benar tapi AL tidak mau lepas tangan begitu saja Aa, harus ada yang membingkai Rio. Paling tidak harus ada yang membackup Dia Aa."
" Baiklah serahkan pada Aa tugas itu nanti, biar Aa yang urus masalah Rio."
" Baiklah kalau begitu Aa pergi dulu, nanti kalau sudah waktunya Aa kasih kabar lagi yang jelas dalam waktu dekat ya."
" Siap boss." AL berucap sambil tersenyum dilanjut tos ala mereka.
Aku dan Lidya hanya jadi pendengar yang baik dari tadi. Kami hanya menyimak pembicaraan karna kami tau dalam jalur itu kami tidak lagi mampu mengejar tingkatan berpikir mereka berdua.
" Kunci pintu jangan sampai orang lain apes melihat kalian seperti tadi."
Kak Andra kembali berkata sesampainya diambang pintu, kan shit malunya aku. Aku mau sembunyi,,
" Kamu sih Ayy, kan malu diledekin."
" Kenapa malu, sama Aa juga bukan orang lain"
" ish kamu ini, sudahlah Aku kembali keruanganku dulu ya. Tadi ada kerjaan yang aku tinggal."
" Emang gak mau lagi?"
" Ayy!!."
__ADS_1
" Hahahahha ya sudah sana, gak usah manyun bikin pengen nyium lagi mala."
Tak aku tanggapai sudah perkataan AL, segera beranjak keluar ruangan lebih baik. Kalau masih tetap disini aku yakin akan ikutan oleng seperti AL.
°°°°°°
Ruang Viandra
" Bi, mau aku bikinin kopi?."
" Kopi susu sayang yang manis ya."
" Iya, Aku kepantri dulu Bi." Vian hanya mengangguk menanggapi istrinya.
Sepeninggal Lidya, Viandra meraih gawai disakunya. Dia ingin menuntaskan suatu masalah sebelum rencana honeymoonnya.
" Bim siapkan semuanya, besok siang Kita akan kesana!."
" Siap boss segera saya kerjakan."
" Thanks bim."
" Siap bos sama-sama"
Aku harap langkahku ini akan berjalan sesuai rencana, semoga Lidya bisa menerima kehadirannya nanti. Aku akan mencoba menjelaskan semuanya secara perlahan mulai nanti malam, agar besok Dia tidak terlalu kaget.
Tapi Aku bingung harus memulainya dari mana, jujur saja aku tidak tega. Mungkin ini akan melukai hatinya namun tidak ada jalan lain Aku harus jujur padanya.
" Bi, Abi kenapa melamun?." Lidya menyentuh pundak Viandra lembut.
" Huff Yank, kepalaku penuh rasanya. Aku bingung harus menyelesaikan yang mana dulu, semua sama pentingnya."
" Selesaikan yang terpenting dulu saja Bi, kalau yang tidak begitu mendesak bisa menyusul nanti."
" Justru itu Abi bingung harus memulainya dari mana, sayank mau bantu kan?."
" Kalau Abi tidak keberatan Lid mau bantu."
" Tentu saja tidak, kamu adalah bagian dari diriku sekarang. Jadi apapun itu kita hadapi berdua ya."
" Benar Abi percaya sama Lid?."
" Kamu istriku, bagian dari tulang rusukku. Walau mungkin cinta antara kita belum hadir sempurna yakinlah Abi akan selalu berusaha untuk itu, yang perlu kamu tau sekarang bahwa Abi sayang sama Lidya. Abi akan berbagi bahagia dan juga derita bersamamu. Yakinlah akan hal itu, hemm."
" Iya Abi makasih banyak sudah memberi kesempatan untuk Lid, kasih tau dan tegur Lid kalau Lid ada salah Abi."
" Tentu, duduklah Abi selesaikan sedikit pekerjaan setelah itu kita berangkat."
Dengan semangat dan senyum Lidya melangkah ke pojok ruangan dekat jendela kaca dimana sofa pojok menantinya.
Gawai menemani hatinya yang sedang berbunga, Lidya tidak menyadari bahwa gawai ditangannya pun sudah terpasang penyadap, siapa lagi pelakunya kalau bukan suami gantengnya.
°°°°°°
***TBC Genk's
° Mohon dukungannya
°like komen rate ☆ 5 & favorite
° makasih dukungannya & love you all***
__ADS_1