
Ken cukup lama berada di halaman belakang rumahnya seorang diri entah apa yang sedang dipikirkan oleh pria tersebut. Karena hari semakin malam Ken beranjak dari tempat duduk yang ada di taman tersebut kemudian menuju kamar utama.
Ken langsung membaringkan dirinya di atas tempat tidur namun matanya tetap tidak mau tertutup, kemudia. Ken mengambil Laptop yang berada di meja samping tempat tidurnya dan memulai lagi men cek pekerjaannya. Inilah kegiatan Ken setiap harinya sepeninggalan Clar, Ken menyibukkan atau menenggelamkan dirinya dengan segudang pekerjaan.
Pagi harinya Ken seperti biasa melewatkan sarapan paginya dan Bi Imah merasa khawatir dengan keadaan majikannya tersebut karena dilihat secara keseluruhan Ken tampak semakin kurus dan belakangan ini mukanya sedikit pucat dan di rumah Ken jarang makan.
Sesampainya Ken di kantor, pekerjaan sudah menunggunya. Ketika Ken masih bergelut dengan pekerjaannya tiba-tiba Andry datang tanpa mengetuk pintu. Ken melihat kedatangan Papinya tersebut dengan wajah datar tanpa ekspresi sama sekali padahal yang datang adalah Papinya.
Andry langsung mendudukkan tubuhnya di sofa yang ada di ruangan tersebut dan menyusullah Ken yang duduk di samping Papinya tapi beda sofa.
"Mengapa sampai saat ini kamu belum menandatangani surat cerai tersebut? ini sudah 2 minggu Ken" Ucap Andry dengan nada sedikit tegas.
"Aku akan mengurusnya Pi..Papi tidak perlu ikut campur dengan kehidupan pribadiku" Ketus Ken.
Andry menatap kesal Ken karena dia tidak menyangka bahwa Ken berani menjawabnya seperti itu.
" Aku Papimu jadi aku berhak atas kehidupan pribadimu" Andry.
"Itu dulu sebelum aku menikah dengan Clar jadi setelah aku menikah aku punya kehidupanku sendiri" Ken.
"Apa kau bilang?? beraninya berkata seperti itu kepada Papimu Ken" Ucap Andry dengan melototkan matanya kepada Ken.
Sebenarnya Ken tidak bermaksud berkata seperti itu, tapi Ken merasa marah kepada Papinya kalau bukan karena rencana ayah nya dengan perjodohan ini mungkin Ken tidak akan tersiksa seperti ini.
"Kalau tidak ada yang mau dibicarakan lagi Ken mau melanjutkan pekerjaan yang sedang menumpuk" Jelas Ken sambil meninggalkan Papinya yang hanya membuang napas kasarnya dan merasa kesal dengan tingkah Ken yang arogan padahal dulu anaknya tidak searogan ini walaupun mereka sering bertengkar.
__ADS_1
Andry beranjak dari duduknya dan melangkah ke arah meja kerja Ken.
"Kalau kamu tidak mau Papi mengurus kehidupan pribadi mu lagi maka kamu harus berjanji untuk mengurus dirimu dengan baik, kamu lihat perawakanmu saat ini bagaimana kalau Mamimu melihat keadaanmu seperti ini" Setelah mengatakan itu kepada Ken, Andry melangkahkan kakinya ke luar dari ruangan Ken.
Ken menatap nanar Papinya, dia begitu menyesal mengucapkan kata tersebut tapi kehidupannya sudah hancur saat ini. Dia merasa sebagian hidupnya hilang sehingga Ken tidak ada keseimbangan lagi untuk menjalankan hidupnya.
******
Hari sudah hampir malam tapi Ken masih berada di kantornya, sedangkan Rendra masih berada di luar kota sedang mengerjakan suatu proyek bersama Jessica karena Ken sudah menyerahkan pekerjaan yang berhubungan dengan Jessica ke Rendra.
Waktu sudah menunjukkan Pukul 10.45 malam dan Ken baru selesai mengerjakan kerjaannya. Ken merasa begitu lelas ditambah lagi satu harian ini dia tidak makan apa-apa, tapi Ken adalah Pria yang cukup kuat karena didepan karyawannya lebih tepatnya penjaga gedung perusahaannya Ken tidak menunjukkan rasa lelahnya karena dia harus memberi teladan kepada pekerjanya.
Ken memasuki mobilnya dan berlalu menuju rumahnya. Sesampainya di depan rumah Bi Imah membukakan pintu rumah karena Bi Imah mendengar suara mobil majikannya.
Ken hanya memberi senyum kepada Bi Imah. Setelah kepergian Clar Bi Imah selalu memperhatikan keperluan Ken tapi tidak untuk makannya karena dia tidak mungkin memaksa majikannya untuk makan karena apabila dipaksa malah Bi Imah yang akan di paksa meninggalkan rumah ini. Selain karena Ken adalah majikannya tapi ada seseorang yang 1 minggu yang lalu meminta tolong Bi Imah untuk memeperhatikan Ken dan Bi Imah menyanggupinya.
******
Ken sibuk mencari flash disknya karena dia butuh untuk menyimpan data.
"Aduh kemana ku letakkan flash disknya, mm..kalau tidak dicari terlihat tapi kalau lagi dibutuhkan entah sembunyi kemana" gumam Ken sambil menggertakkan giginya karena sedikit kesal.
Ken mencari disetiap tempat termasuk laci-laci yang jarang dia buka. Saat membuka salah satu laci, mata Ken tertuju pada suatu tempat yang berupa botol berukuran sedang.
"Obat siapa ini? sepertinya ini bukan obatku, apakah ini obat Clar..?" Ken tampak bingung dengan bacaan di botol obat tersebut karena dia tidak mengerti dengan tulisan yang tertera di sana.
__ADS_1
Ken mendudukkan dirinya diatas tempat tidur dan mulai membuka laptopnya tapi matanya terus melirik ke arah obat itu, Ken langsung mengetik di Laptopnya untuk aplikasi pencarian dan Ken langsung mengetik nama obat yang tertulis di botol tersebut dan setelah menunggu beberapa detik muncullah keterangan untuk obat tersebut. Ken mengatupkan mulutnya dengan sebelah tangannya dan tidak beberapa lama mata nya berkaca-kaca. Ken seketika teringat pembicaraan dirinya dengan Bi Imah yang pernah mengatakan sering melihat Clar merasakan sakit di kepalanya.
"Clar apakah ini rahasia mu selama ini..." lirih suara Ken.
*****
Di tempat lain Clar tetap semangat menjalani pengobatan nya di tambah ada kedua orang tuanya yang mendampinginya.
Hari ini pengobatan Clar berjalan dengan lancar. Dr. Bryan memang termasuk dokter yang terbaik di bidangnya pantas saja dia diperebutkan beberapa rumah sakit terkenal di negara-negara maju.
"Clar sebaiknya kamu beristirahat supaya tenagamu kembali pulih, aku sudah melihat hasil dari beberapa pengobatan yang sudah kamu jalani dan hasilnya sangat memuaskan. Aku hanya berharap kamu bisa mengontrol pikiranmu jangan terlalu berat berpikir karena itu akan membuat penyakitmu semakin cepat berkembang." ulas Dr. Bryan.
"Baik Dok..terimakasih semuanya" Ucap Clar.
"Sama-sama" Ucap Dr. Bryan sambil mengusap rambut Clar dengan lembut.
Clar merasa tidak nyaman dengan kelakuan Dr. Bryan. Tapi tidak dengan Intan yang melihat kejadian tersebut, dia merasa kalau Dr. Bryan sangat cocok dengan Clar. Apalagi selama mereka di sini Dr. Bryan bukan hanya perhatian kepada Clar tapi dengan Intan dan Bagus pun Dr. Bryan sangat perhatian.
Dr. Bryan melihat raut muka Clar yang merasa kurang nyaman.
"Ma..af Clar tadi aku hanya spontanitas saja, hmm..lebih baik sekarang kamu istirahat aku mau melihat pasien yang lain dulu" Pamit Dr. Bryan.
Clar melihat kepergian Dr. Bryan dengan pandangan yang tidak bisa di artikan....
***bersambung ππ
__ADS_1
Jangan lupa Like, komen dan vote ya..yang banyak ππππ***