
Keesokan harinya lebih tepatnya pada waktu makan malam, dr. Bryan datang ke rumah Clar untuk memenuhi undangan makan malam dari Bagus Papanya Clar.
dr. Bryan tanpa di dampingi kedua orang tuanya dikarenakan Papa Mamanya sudah pulang ke tanah air karena ada urusan kerjaan yang sangat mendesak.
Disinilah mereka berempat di ruang makan, di meja makan telah tersaji eneka ragam makanan khas Indonesia yang tentu saja masakan Mama nya Clat yaitu Intan. Semuanya menikmati makan malam tersebut setelah selesai dengan makan malamnya, Bagus mengajak dr. Bryan ke ruang keluarga sembari menunggu Clar dan Mamanya membereskan ruang makan karena kebetulan mereka tidak menggunakan jasa pembantu.
"dr. Bryan kalau lagi off biasanya ada kegiatan apa saja yang dilakukan?" tanya Bagus membuka pembicaraan di antara mereka.
"Panggil saja Bryan Om, apalagi ini kan bukan di rumah sakit. Kegiatan Bryan kalau off paling istrihat di rumah atau jalan-jalan cari hiburan sama teman-teman" Ucap Bryan.
"Oo..berapa lama rencananya tugas di sini" Tanya Bagus.
" Masih cukup lama si Om, karena saya juga sangat suka bekerja di sini." Tutur Bryan.
"Tidak ada rencana mau balik lagi ke tanah air?" Tanya Bagus lagi.
"Lihat nanti lah Om, kalau ada alasan kuat yang membuat saya harus pulang maka saya akan kembali." Jelas Bryan.
Clar dan Intan menyusul Bagus dan Bryan yang sedang berada di ruang keluarga. Clar membawa teh sedangkan Intan membawa cemilan.
"Oo..harus ada alasan yang kuat ya baru mau pulang, kalau alasan nya Clar bagaimana?" tanya Bagus. Pertanyaan Bagus bukan tanpa alasan karena dia bisa melihat seorang pria yang menyukai seorang wanita. Itulah yang dilihatnya pada Bryan ketika dokter tersebut memandang anaknya seperti apa.
Bryan tampak malu dan canggung dengan pertanyaan Bagus karena perkataan tersebut di dengar langsung oleh si punya nama.
"Maksud Om?" Tanya Bryan kembali karena dia ingin memastikan kembali perkataan Bagus apakah dirinya tidak salah dengar.
__ADS_1
"Jangan gugup gitu dong .." Ledek Bagus yang dibalas senyuman simpul oleh Bryan.
Clar merasa jengah dengan pembicaraan ini yang diangggapnya sangat konyol karena dia sudah menebak arah pembicaraan Papanya tersebut.
"Maaf Clar mau ke kamar dulu." Ucap Clar.
Bagus merasa tidak senang dengan ucapan Clar yang seperti tidak menghargai tamu mereka.
"Kok gitu Clat, disinikan ada Bryan. Kamu kan seharusnya menemaninya. Ingat Bryan inilah yang telah menolong kamu Clar." Jelas Bagus.
"Clar ingat kok Pa..tapi itukan sudah kewajiban dr. Bryan sebagai seorang dokter. Lagian Clar kan mau istirahat." Tutur Clar yang tampak malas berdebat dengan Papanya.
Intan dan Bryan hanya menonton perdebatan antara anak dan ayah tersebut.
"Sudah malam Om, Tante saya pamit pulang." Ucap Ken karena merasa tidak enak berada di tengah keluarga yang sedang berdebat walaupun sebenarnya dalam lubuk hatinya yang paling dalam dia masih ingin berlama-lama di rumah tersebut karena dapat melihat Clar lebih dekat.
"Sudah malam Tante, apalagi besok saya sudah kembali masuk kerja dan saya harap Tante dan Clar dapat memanggil saya dengan nama saja." Jelas Bryan.
"Oh baiklah Bryan, kalau begitu hati-hati ya di jalan." Ucap Intan, sambil mengantarkan Bryan sampai di depan pintu yang diikuti oleh Bagus, namun tidak dengan Clar yang hanya tetap duduk di sofa ruang keluarga.
Setelah kepergian Bryan, Pintu pun ditutup oleh Intan. Bagus dan Intan kembali ke ruang keluarga dan duduk di sebelah Clar dengan sofa yang berbeda.
"Sayang..Mama tidak suka kamu bertingkah seperti tadi, setidaknya hormati Bryan sebagai dokter yang telah menyelamatkan kamu." Jelas Intan sambil menatap Clar dengan penuh kelembutan tidak seperti suaminya yang langsung meng gas apabila tidak menyukai sesuatu.
"Maafkan Intan Ma..tapi Clar benar-benar tidak suka dengan perkataan Papa kepada dr. Bryan." Jelas Clar yang membuat matanya seperti berkaca-kaca karena sebenarnya Clar adalah anak yang sangat lembut dan ini kali pertama dia berdebat seperti itu dengan Papanya.
__ADS_1
"Mengapa kamu tidak suka sama dengan perkataan Papa tadi? kalau kamu menyangka kalau Papa mau menjodohkan kalian.... itu adalah benar adanya, mulai sekarang kamu harus melupakan pernikahan kamu dengan Ken. Papa akan mengurus perceraian kalian dan Papa harap kamu mau membuka hati kamu dengan pria yang lain, apalagi kalau itu adalah dr. Bryan. Dia dapat menjagamu apalagi dia seorang dokter yang dapat menolongmu saat kamu sakit dan Papa percaya dia adalah pria yang tepat bagimu." Ucap Bagus dengan tegas.
"Papa mengapa harus membahas jodoh untuk saat ini, berikan Clar waktu untuk membenahi kehidupannya." Ucap Intan yang memandang wajah Clar yang sendu.
Clar sangat sedih mendengar perkataan Papanya, sehingga air mata pun menetes dari sudut matanya.
"Papa tidak perlu repot untuk mengurus perceraian Clar dengan Kak Ken, karena sebentar lagi berkas perceraian tersebut akan dikirim kemari dan Clar tinggal menanda tanganinya". Jelas Clar dengan suara lirih.
"Baguslah kalau begitu, ternyata anak itu tidak terlalu egois." Gumam Bagus.
"Tapi Clar minta sama Papa jangan pernah menjodohkan Clar dengan Bryan, urusan pasangan hidup itu urusan Clar. Apa Papa tidak mengambil pelajaran dari pernikahan Clar dengan Kak Ken? Apa Papa mau Clar mengalami hal serupa untuk kedua kalinya? Papa bilang dr. Bryan bisa menjaga dan dia adalah pria yang tepat bagi Clar? Waktu Clar di jodohkan sama Kak Ken apakah Papa tidak berpikir kalau Kak Ken pria yang tepat bagi Clar? Biarkan Clar menentukan masa depan Clar, bukannya Clar mau mengacuhkan Papa dan Mama tapi inilah saatnya Clar menjalani hidup sesuai dengan kemauan Clar. Dan satu lagi Clar bukan mencari dokter tapi clar mencari pasangan hidup. Clar juga tidak tahu masa depan Clar, apakah menikah atau tidak sama sekali." Jelas Clar panjang lebar dengan sedikit getaran di suaranya.
"Clar pamit ke kamar dulu." Clar melangkah sambil sesekali menghapus air matanya yang jatuh di pipinya.
Bagus dan Intan hanya bisa diam setelah mendengar ucapan Clar apalagi kata terakhirnya yang lebih tepatnya ada kemungkinan dia tidak akan menikah lagi.
Di dalam kamarnya Clar menangis tersedu-sedu, bukan hanya perkataan yang tadi dia lontarkan di depan kedua orang tua nya tapi juga karena panggilan telepon Rendra sebelumnya. Clar mengambil handphone nya dan men chat alamat rumahnya dan mengirimkan kan ke Rendra.
*******
Terdengar suara notifikasi di handphone Rendra dan kebetulan di sebelahnya ada Ken. Rendra membuka pesan di handphonenya dan melihat sebuah pesan yang tertulis alamat rumah Clar. Rendra melihat Ken dan menganggukkan kepalanya. Sepertinya Ken sudah mengetahui apa isi pesan di hand phone Rendra.
"Kirimkan segera Ren.." Perintah Ken.
"Baik Tuan." Jawab Rendra.
__ADS_1
***bersambung....
Dukung novel ini dengan cara like, komen dan vote. Terimakasih ..ππ***