ASALKAN ENGKAU BAHAGIA

ASALKAN ENGKAU BAHAGIA
MIMPI BURUK


__ADS_3

Clar masih memegang berkas perceraian yang diterimanya beberapa saat yang lalu dan terdengar suara ketukan pintu yang membuat Clar tersadar dengan segala pikirannya yang sedang berkecamuk sekarang ini.


"Clar sayang, ayo makan dulu. Papa dan Mama tunggu di ruang makan ya." Panggil Mama Intan dari balik pintu yang beberapa saat lalu di ketuknya.


"Ya Ma..bentar lagi Clar turun." Balas Clar.


Clar menaruh berkas tersebut di meja sebelah tempat tidurnya, kemudian Clar keluar dari kamar dan menuju ruang makan sesuai instruksi Mamanya.


Suasana diruang makan seperti biasa hening tanpa suara dari ke 3 pemilik rumah walaupun tidak bersuara tapi tatapan dari masing-masing orang di meja makan tersebut berbeda-beda. Tatapan dari Baguslah yang menjadi perhatian 2 wanita di ruangan tersebut tapi mereka harus menahan diri untuk berbicara karena saat ini waktunya makan.


Selesai makan Clar membantu Intan membereskan perkakas makan mereka, sedangkan Bagus sudah berlalu ke arah ruang keluarga tapi sebelum pergi Bagus berpesan agar Clar dan Intan ke ruang keluarga setelah urusan dapur selesai.


Setelah menunggu beberapa lama akhirnya Clar dan Intan sudah berada di ruang keluarga.


"Clar mengapa kamu berbicara seperti itu kepada Bryan di rumah sakit? dan kenapa kamu mengatakan akan mencari dokter lain bahkan mau pindah rumah sakit?" Ujar Bagus yang sedang menahan amarahnya terhadap putrinya tersebut.


Clar tersenyum tipis mendengar perkataan Bagus, Clar tidak menyangka mulut dr. Bryan lemes juga.


"Clar rasa Papa sudah dengar semua dari dr. Bryan jadi tidak perlu Clar jelaskan lagi bukan, Clar malas berdebat saat ini Pa..jadi Clar harap Papa bisa memahami keadaan Clar." Jelas Clar.


"Kalau sikap mu terus seperti ini, maka Papa akan segera bertindak." Tegas Bagus.


"Papa mau bertindak apa?" Tanya Clar.


"Papa akan segera mengurus perceraian mu karena kalau menunggu Ken akan lama dan mungkin saja dia hanya mempermainkan mu. Mungkin kalau kamu sudah bercerai maka hatimu bisa terbuka untuk Bryan." Jelas Bagus.


"Sampai kapan pun atau dalam keadaan apapun Clar tidak akan membuka hati untuk dr. Bryan, Papa tidak perlu mengurusi perceraian Clar karena Kak Ken sudah mengirim berkasnya dan Clar akan segera menandatanganinya. Ini urusan Clar jadi Papa tidak perlu ikut campur." Clar beranjak dan pergi meninggalkan ruangan tersebut , sedangkan Intan dan Bagus terkejut dengan sikap Clar. Mereka melihat perubahan Clar belakangan ini, mana Clar yang baik, lembut dan sopan sama orang tua terutama Intan dia merasa sedih dengan sikap putrinya yang banyak berubah.


"Pa..bisa tidak mulai hari ini jangan bicarakan soal hubungan Clar dan Bryan, anak kita itu butuh waktu dan jangan keras di lawan dengan keras juga yang jadi nantinya malah makin susah untuk di lunakkan.


Bagus tidak menjawab ucapan istrinya, dirinya bahkan meninggalkan Istrinya tersebut sendiri karena rasa kesalnya kepada Clar masih memuncak.


Intan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku Ayah dan Anak tersebut. Intan hanya bisa bertepuk dada saja.


******


Clar membaringkan tubuhnya di tempat tidurnya yang lumayan besar dan yang terutama sangat nyaman, dia mencoba menenangkan pikirannya setelah terulang kembali perdebatan antara dirinya dengan Papanya. Clar harus tetap menjaga kestabilan emosinya karena itu tidak baik untuk kesehatannya yang masih belum pulih benar.

__ADS_1


Pandangannya mengarah ke langit-langit kamarnya, tiba-tiba dering handphonenya pun berbunyi. Clar beranjak untuk mengambil handphonenya yang berada di meja samping tempat tidurnya dimana surat tersebut juga berada di tempat yang sama.


Clar mengangkat panggilan telepon tersebut karena tertera nama Rendra Asisten Ken.


"Hallo .. ada apa Ken?" tanya Clar.


"Maaf nyonya tadi saya lupa mengatakan, apabila Nyonya sudah menandatanganinya tolong untuk mengirimkan kembali ke alamat pengirim semula. Apakah Nyonya sudah menandatanganinya?" Tanya Ken tanpa basa basi.


"I..itu sudah kok" Ucap Clar berbohong.


"Baiklah, saya tunggu pengembalian suratnya Nyonya, terimakasih." Rendra memutuskan sambungan telepon tersebut bukan karena tidak sopan tapi saat lagi menelepon sekretaris Ken menyampaikan kalau rekan bisnis Ken sudah menunggu dirinya.


Clar menatap handphonenya yang sudah tidak ada panggilan telepon yang tertera di sana.


"Kenapa langsung ditutup, tidak sopan ni orang. Apa karena aku bukan istri Tuannya lagi sehingga dia bersikap seperti itu?" gumam Clar.


Clar sangat bingung apakah dia akan menandatangani surat cerai tersebut, Clar mengambil ballpoint dari laci meja setelah mendapatkannya Clar menancapkan ballpoint tersebut ke tempat yang perlu di tanda tanganinya tapi tangannya langsung lemas seakan tidak ada tenaga.


"Kak....aku tidak bisa, apa yang harus ku lakukan" batin Clar. Lagi-lagi air mata jatuh di atas pipinya.


******


Akhirnya selesai juga pekerjaan Ken, dia merasa senang karena mendapat menjalin kerjasama dengan perusahaan bonafit asal Amerika tersebut.


"Ini semua untukmu sayang...." batin Ken.


Ken sudah berada di dalam mobilnya yang hendak pulang namun handphone nya berbunyi dan tertera nama Rendra disana, Ken langsung mengangkat panggilan tersebut.


"Ya ada apa Ren.." Tanya Ken.


"Tuan sekarang ada dimana?" Tanya Rendra.


"Masih di kota ....Ada apa? apakah ada yang penting." Tanya Ken kembali.


"Bukan urusan kerjaan Tuan, tapi.....ini soal Nyonya Clar." Ucap Rendra.


"Apa ada sesuatu yang terjadi dengan Clar." Ucap Ken yang tampak panik.

__ADS_1


"Tenang Tuan, Nyonya Clar baik-baik saja. Hanya ini tentang.....surat cerai tersebut" Ucap Rendra yang sedang merutuki dirinya, seharusnya dia menunggu Ken pulang dulu karena Ken menyetir sendiri jadi takut kepikiran. Dasar bodoh kau Rendra bodoh.... umpat Rendra dalam hatinya.


"Apakah dia sudah tanda tangani?" Tanya Ken menebak.


"Su..sudah Tuan. Pada saat saya telepon kemaren Nyonya sendiri yang memberitahu bahwa beliau sudah menandatanganinya" Ucap Rendra tak enak hati.


Ken tertegun mendengar jawaban Rendra, rasa sakit yang di rasakan oleh Ken membuat dirinya tidak bisa berkata apa-apa seakan-akan seluruh jiwanya sudah pergi melayang, padahal sambungan telepon dengan Rendra masih menyala.


"Tuan Anda baik-baik saja?" Panggil Rendra.


"Saya baik-baik saja Ren..seperti rencana sebelumnya kamu urus sampai tuntas." Perintah Ken.


Panggilan tersebut diakhiri oleh Ken. Tangan Ken meremas kemudi mobilnya. Hatinya begitu merasa sakit yang tak tertahankan dan terjatuhlah bulir-bulir air mata dari sudut matanya walaupun Ken seorang yang dingin tapi dia tetaplah seorang manusia biasa.


Ken melajukan mobilnya untuk kembali pulang ke kotanya. Saat ini cuaca lagi tidak bersahabat, turun hujan yang sangat deras di luar sana sehingga mengganggu pemandangan mata. Apalagi jalan yang dilalui Ken banyak kelokan dan mobil-mobil besar yang lewat silih berganti baik yang searah maupun berlawanan arah.


Brukkk....


******


"Kak Ken....." Teriak Clar, ternyata Clar bermimpi buruk dan membuat Intan yang baru lewat dari kamar Clar masuk karena kebetulan pintu kamar Ken tidak terkunci.


Intan mendekat ke arah Clar yang terbangun dari tidurnya dengan keringat yang memenuhi sekitar keningnya.


"Mama...hiks..hiks...Kak Ken Ma.." Ucap Clar dengan sesegukan.


"Kamu mimpi sayang....tenanglah" Ucap Intan sambil mengusap punggung Clar.


"Clar mau pulang Ma.." Pinta Clar.


"Tapi Clar kamu masih masa pemulihan, kamu mimpi apa sayang" Tanya Intan.


Clar hanya bisa menangis dipelukan Mamanya tanpa menjawab pertanyaan mengenai dia bermimpi apa tentang Ken....


***Bersambung .....


Mana ni Like, Komen dan Votenya πŸ˜†πŸ˜†***

__ADS_1


__ADS_2