
Pagi ini Ken langsung pergi meninggalkan rumah tetapi bukan tujuan ke kantor melainkan ke rumah sakit. Ken berhenti di depan salah satu rumah sakit yang tidak jauh dari rumahnya dan kebetulan di Rumah Sakit tersebutlah Clat melakuka pemeriksaan.
Ken berjalan menuju tempat informasi yang ada di rumah sakit tersebut.
"Selamat pagi Tuan" Tanya salah satu petugas informasi tersebut
"Pagi, apakah saya boleh bertemu dengan salah satu dokter yang ada di sini?" tanya Ken.
"Apakah Tuan mau berobat?" tanya petugas tersebut.
"Saya hanya perlu konsutasi saja" Jelas Ken.
"Baiklah, tunggu sebentar saya akan membuatkan Tuan janji terlebih dahulu dengan salah satu Dokter yang ada di sini"
"Terimakasih banyak" Ucap Ken yang dari tadi memegang sebuah botol obat yang digenggamnya sangat heran karena sebenarnya Ken sangat takut apabila sesuatu yang ada dipikirannya memang benar adanya.
"Silahkan tunggu sebentar Tuan"
Ken duduk di tempat duduk yang ada di ruabg tunggu pasien. Tak beberapa lama petugas tersebut memanggil Ken.
"Silahkan menuju ruangan Dr. Anastasya, Tuan lurus saja dan ruang beliau ada di sebelah kanan" begitulah kira-kira petunjuk petugas tersebut kepada Ken.
"Terimakasih.." Setelah mengucapkan terimakasih kepada petugas tersebut, Ken melangkahkan kakinya ke arah petunjuk yang telah diberulikan oleh petugas tersebut. Akhirnya sampai juga ruangan Dokter tersebut. Ken mengetuk pintu Dokter tersebit terlebih dahulu.
Tok..tok..tok..tok..terdengarlah suara seorang wanita dari dalam ruangan tersebut.
"Silahkan masuk"
Ken membuka pintu tersebut dan tampaklah seorang wanita yang berumur kira-kira 40 tahunan.
"Silahkan duduk, apa yang bisa saya bantu" Ucap Dr. Anastasya.
"Terimakasih Dok, saya kesini hanya mau menanyakan beberapa hal tapi terlebih dahulu bisakah Dokter men cek obat apakah ini" Ken memberikan botol obat tersebut kepada Dr. Anastasya.
Dokter tersebut menerima botol obat yang diberikan oleh Ken, untuk beberapa saat Dokter tersebut membaca keterangan yang ada di botol tersebut.
__ADS_1
"Maaf Tuan, apa saya boleh tahu ini obat siapa" Dr. Anastasya.
Sebenarnya Ken belum tahu pasti itu obat siapa tapi tidak mungkin ada orang lain yang menaruh obat itu di laci kalau bukan dia atau Clar.
"Istri saya Dok.."Jawab Ken.
"Hmmm..Istri anda kemana Tuan?" tanya Dokter itu kembali.
"Hmmmm .. sebenarnya begini Dok.., sepertinya istri saya tidak mau memberitahukan soal ini kepada saya dan saya menemukan obat ini tanpa sengaja jadi saya ke sini untuk memastikan informasi secara detailnya dari seorang Dokter" Ucap Ken yang tampak merasa gugup, bukan gugup karena Dokter yang ada di hadapannya melainkan informasi mengenai obat tersebut.
"Baiklah Tuan, Obat ini khusus untuk pasien kanker otak" Jelas Dr. Anastasya.
"Apa Dok.." Ken terkejut dengan semua ini sebenarnya dia sudah mendapat informasi dari internet tapi Ken mencoba untuk berharap bahwa itu tidak benar.
Ken benar-benar merasa dunianya berhenti berputar, tangannya menutup mulutnya seakan menahan tangisnya karena tidak mungkin seorang Ken menangis di depan orang asing.
"Anda baik-baik saja Tuan?" tanya Dr. Anastasya yang melihat kesedihan di raut muka orang yang ada di hadapannya.
"Terima kasih Dok..saya pamit dulu" Pamit Ken tanpa menjawab pertanyaan dari Dokter tersebut.
Ken berjalan di koridor rumah sakit dengan langkah gontai, dia tidak berpikir secara tenang saat ini seakan-akan tujuan nya sekarang tidak tahu harus kemana sampai ada panggilan telepon. Ken mengangkat telepon tersebut karena panggilan tersebut dari Rendra.
"Ada apa Ren.." tanya Ken tanpa menjawab pertanyaan dari asistennya tersebut.
"Sebentar lagi ada meeting dewan direksi dan Tn. Andry sudah tiba beberapa menit yang lali" Jelas Rendra.
"Aku tidak akan hadir Ren..kamu handle saja meeting tersebut" Ucap Ken sambil memutuskan panggilan tersebut**.
Mungkin disana Rendra sudah sumpah serapah karena panggilan teleponnya diputuskan secara sepihak oleh Ken. Tapi apalah daya dirinya hanya seorang bawahan. Bos selalu benar....π.
Ken sekarang berada di dalam mobilnya dibelakang kemudi, dia benar-benar tidak bisa konsentrasi terhadap apa pun dipikirannya hanya Clar. Sejenak Ken berpikir apakah pasti Clar kembali ke rumah orang tuanya dan karena itulah sekarang Ken mengarahkan mobilnya ke rumah orang tuanya Clar.
******
Ken tiba di rumah orang tuanya Clar dan berulang kali dirinya memencet bel maupun mengetuk pintu rumah tersebut karena rumah orang tuanya Clar tinggal di sebuah komplek perumahan mewah yang halaman rumahnya tidak berpagar. Sudah cukup lama Ken mem bel maupun mengetuk pintu tapi tidak kunjung ada jawaban. Untung ada warga komplek yang melihat keberadaan Ken.
__ADS_1
"Cari siapa ya" tanya warga tersebut.
"Saya cari Bapak dan Ibu Wijaya" Ucap Ken.
" Oh .. mereka sudah beberapa minggu tidak ada di rumah, Anda siapa?"
"Saya .. saya keponakannya" Ucap Ken berbohong, karena tidak mungkin dirinya berkata jujur kalau dirinya menantu Wijaya karena orang tersebut pasti heran kenapa menantunya tidak tahu mertuanya dimana.
"Apa Bapak tahu Pak Wijaya kemana?" Tanya Ken.
"Oh..kalau itu saya tidak tahu, coba saja di telepon?" Ucap orang tersebut dan segera pamit dari hadapan Ken.
"Tidak mungkin aku telepon Papa, mungkin kalau aku telepon tidak akan diangkatnya atau malahan lebih ngeri dari itu" gumam Ken.
"Dimanakah aku bisa menemukanmu dirimu Clar....."
Tiba-tiba Ken terpikir dengan Helen dan Ken segera melajukan mobilnya ke rumah Helen.
******
"Dimana Ken.." tanya Andry kepada Rendra.
Rendra tidak langsung menjawab, dia sedang memikirkan alasan kenapa Bos nya tidak datang.
"Tuan Ken tidak bisa hadir dalam meeting direksi ini dan saya yang akan mewakili beliau Tuan" Ucap Ken dengan sedikit rasa takut, karena sudah rahasia umum bagaimana kalau Andry sedang marah.
"Apa dia sakit?" tanya Andry.
"Mm....tidak Tuan. Beliau ada urusan di luar jadi tidak bisa menghadiri meeting ini." Jelas Rendra masih dalam rasa ketakutan melihat raut muka Andry.
"Apa....jadi dia menganggap remeh rapat ini." Bentak Andry sehingga Rendra benar-benar terkejut karena selain membentak gelas pun yang ada di atas meja melayang ke udara terus jatuh ke lantai berkeping-keping.
"Tuan Ken dimanakah Anda sekarang, mengapa Anda mengurung saya dikandang singa. Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan. Seandainya kalau aku tidak butuh uang untuk biaya hidupku sudah ku tinggalkan kandang singa ini. Nasib ya nasib.." Batin Rendra dengan menundukkan kepalanya karena jujur dia tidak berani memandang Rendra yang masih meradang.
Andry masih meradang dan dia merasa tidak dianggap oleh Ken, Andry langsung meninggalkan ruang meeting sedangkan dewan direksi yang sudah ada diruang tersebut hanya diam membisu, sebenarnya bukan Rendra saja yang takut tapi semua orang yang ada di sana. Mungkin dalam hati Rendra mengatakan ternyata dia tidak sendiri menghadapi singa yang sedang marah..ππ
__ADS_1
***bersambung .....
LIKE, KOMEN DAN VOTE ya teman-teman***