BAD PRINCESS OF AQUALIORS

BAD PRINCESS OF AQUALIORS
Bab 12 : Kerajaan Aqualiors


__ADS_3

...Happy Reading...


...*...


...*...


...*...


Malam semakin larut, kini di dalam kamar yang luas terdapat seorang gadis yang tengah bersiap untuk melanjutkan ceritanya.


"Ini sudah malam yang mulia, sebaiknya anda tidur. " pinta pelayan Elis


Pelayan Elis pamit dan keluar dari dalam kamar baru Luciana. Kamar ini sebetulnya terlalu luas untuknya yang sudah terbiasa tidur dengan ruangan yang sempit.


Luciana terdiam mengingat percakapannya dengan pelayan Elis tadi. Kakek Hendrik masih hidup dan kini sedang berkelana di suatu daerah untuk menikmati masa ruangan bersama sangat nenek.


Raja 1, 2 tidak ada masalah dan jauh lebih damai karena memang mereka lebih menjunjung tinggi perdamaian. Namun celaka waktu pemerintahan raja ke-3 karena keserakahan nya. Sampai lahirlah kakek Hendrik yang waktu itu berumur 21 sudah menjadi seorang raja.


Sekarang adalah masa kepemerintahan ayah Luciana, yaitu raja Gilbert. Menurutnya sekarang tidak jauh beda dengan masa dahulu, jika dilihat dari dekat pemerintahan ayahnya jauh lebih banyak orang dalam yang menyetir nya. Dimana seharusnya raja yang memberikan keputusan dan hak tanpa meminta persetujuan yang lain namun sekarang tidak, karena banyak sekelompok orang yang pasti akan memprotes nya. Raja jauh lebih tunduk kepada para bangsawan tinggi khususnya kubu ratu Adriana yang hampir memegang suara di seluruh wilayah.


Ini sangat kacau menurut Luciana. Ia sedikit merasa kasihan. Luciana juga sempat berpikir apa yang selama ini mereka perbuat kepada Luciana hanya untuk menutupi sesuatu dan bisa jadi untuk menjaganya. Jika benar begitu, jelas itu langkah yang salah. Secara tidak langsung mereka melukai hati maupun mentalnya.


"Kubu Ratu Adriana pasti ada seseorang yang mengendalikannya, ibaratnya seperti sebuah partai jika dalam dunia modern. "


"Kasihan pada mereka? Jelas tidak akan semudah itu, aku harus membalas dendam terlebih dahulu. " tawa Luciana


Terdengar suara ketukan pintu, dalam hati Luciana siapa yang berkunjung di malam hari seperti ini?? Tanpa pikir panjang ia berjalan untuk membuka pintu.


"Mengapa kau berkunjung dimalam seperti ini."


"Kau tak tahu waktu berkunjung?! "


"Aishh.. Kenapa kau semakin galak saja. " ucap pangeran Emillio dengan jahil


Tanpa persetujuan Luciana, pria itu masuk kedalam kamarnya. Luciana yang melihat itu berdecak kesal namun tak urung ia menutup pintunya.


Luciana berbalik dan berjalan mendekat sambil bersedekap dada, " Apa yang membuatmu kesini??" sinis Luciana


Dengan santai pangeran Emillio duduk diatas ranjang dan melihat kamar baru di kediaman Awan, " Cukup luas. " komentarnya


"Jawab pertanyaanku! "


"Duduk sini. " perintah Pangeran Emillio menepuk ranjang di sampingnya, menyuruh Luciana untuk duduk disampingnya.


Luciana menurut.


Pangeran Emillio menatap Luciana intens selama beberapa detik, "Aku ingin membicarakan sesuatu padamu. " ucapnya

__ADS_1


"Soal?"


"Apa kau sungguh-sungguh ingin tau dimana Lauren berada? " tanya Emillio serius


"Tentu saja."


"Baguslah... "


"Ada apa?? Cepat katakan. Aku mengantuk! " desak Luciana


Tangan pangeran Emillio mencubit pipi adiknya gemas, " Kau harus lebih sopan kepada kakamu. " nasehatnya.


"Dih ogah."


"Dihogah? Apa itu? " tanya Emillio


"Kudet banget! Begitu saja tidak tahu. "


"Kudet? Bahasa apa yang kau gunakan? Kenapa terdengar asing sekali. " kerut pangeran Emillio bingung


"Astaga aku lupa sedang dimana aku berada," batin Luciana


"Bukan apa-apa. "


Pangeran Emillio mengeryit bingung, sebelum pria itu bertanya lebih lanjut Luciana segera memotongnya dan mengalihkan pembicaraan.


"Cepat katakan apa yang ingin kau bicarakan!"


"Sebenernya aku ingin memberitahu mu dimana dia berada. " ucap pangeran Emillio


"Dia? Lauren maksudmu? "


"Iya dia dan ibu. " lirihnya


"Lalu dimana? Cepat katakan... " desak Luciana tak sabar.


"Tapi kau harus berjanji untuk tidak membocorkan  apapun apalagi sampai ayah dan para menteri tahu aku yang telah memberitahumu soal ini. Paham? "


"Hmm.. Tenang saja. "


"Ibu berada di Istana dingin tempat pengasingan di sebelah barat daya kerajaan tepatnya di balik pedesaan yang bernama desa Weissa. Sementara Lauren dia berada di pedalaman hutan Eleusis yang berbatasan langsung dengan kerajaan Callexius. Apa kau paham? " jelasnya


"Paham.. " angguk Luciana


"Aku tidak bisa membantumu untuk membawa kembali mereka, karena aku sudah terlanjur terikat perjanjian seorang pangeran. Maafkan kakak.. Tolong selesaikan semuanya, aku dan kak Albert sangat percaya padamu.. " ucap pangeran Emillio tersenyum kecil.


"Aku mengatakan hal ini saja sudah melanggar aturan, namun tak apa asal tidak ada yang tau "

__ADS_1


"Kepercayaan mu sangat berharga untukku, terimakasih. " ucap Luciana tersenyum manis.


Emillio masih saja tertegun saat melihat senyum adiknya itu walaupun ini kali keduanya ia melihat senyum indah itu. Senyum Luciana sangat mirip dengan ibunya.


Semoga saja ada kabar baik nantinya.


"Huftt.. Sepertinya segitu saja, aku harus segera pergi untuk beristirahat. " ucapnya kemudian berdiri.


"Oh satu lagi, Ayah besok akan pergi ke kerajaan Callexius untuk melakukan perjalanan diplomatik sekitar satu minggu, dalam waktu itu kau bisa bebas melakukan apapun... Namun tentu saja masih ada ratu Adriana yang mengawasi istana. Jaga dirimu.. " pesan Pangeran Emillio


"Baiklah.. "


"Apa aku boleh memelukmu? " tanya Pangeran Emillio ragu. Dirinya tentu saja takut ditolak karena itu akan melukai hatinya.


"Hm."


Dengan senyum mengembang, Emillio memeluk tubuh kecil Luciana hanya beberapa detik kemudian melepasnya.


"Aku pergi, segeralah tidur. " pamitnya


Setelah kepergian Emillio, kini Luciana tengah duduk di depan cermin dengan menopang dagu . Terlihat seperti melamun namun sebenarnya tidak, ia sedang memfokuskan pikirannya untuk menyusun rencana kedepannya.


"Aku belum bertemu dengan jiwa Luciana asli.. " ucapnya menatap cermin.


Tak perlu waktu lama Luciana sudah menemukan lebih dari 5 rencana nantinya. Bahkan sudah banyak plan jika salah satunya ada yang gagal.


"Cukup mudah. "


Dalam menyusun rencana bagi Lexia dulu adalah hal yang mudah, namun berbeda ketika berada langsung di lapangan, disana benar-benar semua kemampuan individu di uji. Hidup atau mati, berhasil atau gagal, tertangkap atau menangkap.


Ia berjalan menuju balkon kamar, melihat langit yang bertabur bintang.



Disini bukanlah kerajaan masa kuno yang sangat tradisional, Luciana berada di tempat berbasis kerajaan namun terlihat lebih modern.


Mobil, Sepeda, lampu disini ada semuanya, namun tidak dengan handphone. Mereka bertukar kabar masih menggunakan surat.


Belum ada gedung pencakar langit hanya ada sebuah toko, pasar, dan tempat wisata yang sedikit alamiah. Rumah-rumah warga terletak sedikit jauh dari wilayah kerajaan, namun dari atas sini ia dapat melihat rumah berbaris rapi disana. Hanya rumah biasa yang masih menyatu dengan alam.


Kendaraan bermotor dan fasilitas mewah masih sulit dijangkau oleh masyarakat bawah, hanya pejabat dan pemerintahan yang bisa memakainya. Membeli? Jelas itu sangat mahal, mereka jauh lebih memilih untuk kebutuhan sehari-hari.


"Kehidupan dalam kerajaan sangat monoton."


Mungkin suatu saat dirinya akan turun ke bawah untuk melihat kehidupan disana. Membayangkan nya saja membuat hati Luciana merasa tak sabar untuk segera menyelesaikan urusannya agar bisa berbaur dengan masyarakat. Bukan sebagai putri namun  hanya seorang gadis biasa.


...To be continued.......

__ADS_1


...YUK!! TINGGALKAN JEJAK!...


...like, vote, coment , favorit juga. . ........


__ADS_2