BAD PRINCESS OF AQUALIORS

BAD PRINCESS OF AQUALIORS
38.Kembali ke Istana


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


*


*


*


Keesokan harinya.


Keduanya benar-benar tengah bersiap untuk pergi.Lauren terus saja kekeh untuk membawa Pegasus itu, namun jika sampai warga melihatnya itu akan sangat berbahaya. Akhirnya Luciana berjalan mendekati kuda itu dan menatapnya.


"Aku dengar biasanya hewan khusus sepertinya bisa merubah bentuk sesuai yang diinginkan. " ucap Luciana, hanya terinspirasi dari komik yang pernah dibaca.


"Apa kau bisa menyuruhnya untuk menjadi kucing? " pinta Luciana


"Itu mustahil. " sanggah Lauren


"Ada hewan seperti ini disini saja sudah mustahil Lauren, lalu apa lagi? "


"Baiklah, aku akan mencobanya. "


Lauren berjalan mendekati Livi dan mengelus nya dengan lembut, " bisakah kau merubah tubuhmu menjadi seekor kucing, Livi? "


Kuda itu meringkik berlari, hingga hilang tidak terlihat.


"Livi kau dimana!!! " panggil Lauren


Seekor kucing muncul dari arah belakang dan berjalan menuju Lauren menduselkan kepalanya di kaki Lauren. Dirinya pun langsung berjongkok.


"Apa kau Livi? "


Kucing itu menjawabnya dengan mengeong sambil terus mengusel di bawah kaki nya.


"Lihatlah, itu bekerja. "


"Tapi bagaimana bisa.. "


"Tentu saja bisa. Sekarang kita keluar dari sini. "


"Sebaiknya kembalikan Livi seperti semula agar kita tidak kelelahan berjalan. " usul Lauren yang dibalas anggukan oleh Luciana


Keduanya keluar berjalan menyusuri hutan di pagi hari ditemani matahari yang masih malu menampakkan dirinya. Lauren berada di depan memacu kudanya untuk terus berlari santai melewati hutan.


"Livi kau kenapa? " tanya Lauren ketika tiba-tiba Livi berlari tidak tentu arah seolah tengah menghindari sesuatu.


"Liviiii.. berhentilah! "


"Luci, berpeganganlah yang erat agar tidak terjatuh. " teriak Lauren


Luciana yang duduk dibelakang Lauren menolehkan wajahnya kebelakang.


"Sepertinya ada sese yang tengah menarget kan kita. " ucap Luciana


"Siapa? "


"Tidak tahu. Biarkan saja Livi berlari sesukanya agar mereka kesusahan untuk mengejar. " ucap Luciana


"Apa kau yakin? "


"Tentu."


Livi kuda itu benar-benar berlari tidak tentu arah. Luc sesekali menolehkan wajahnya kebelakang dengan tatapan tajam bak elang. Sebenarnya siapa yang mengejar dirinya dan Lauren.


"Aku tidak bisa membiarkan Lauren terluka. " gumamnya


Luciana menyuruhnya untuk memelankan langkah Livi dan melompat dari atas kuda. Mencari sebuah batang kayu yang elastis untuk membuat busur panah. Menajamkan ranting pohon dengan belatinya.


"Tunggu aku di depan sana! " perintah Luciana


"Tapi bagaimana denganmu! "


"Turuti saja perintahku. " tegas Luciana


Setelah kepergian Lauren, kini Luciana bersembunyi dibalik pohon untuk menunggu orang-orang itu melewatinya. Beberapa detik kemudian , sekitar tiga pria menaiki kuda berlari menyusul langkah kuda Lauren.


Luciana bersiap untuk memanah mereka dari arah belakang.


Wushh


Wushh

__ADS_1


Wushh


Tiga anak panah sekalihus ia lontarkan.Dan sesuai dugaannya, ketiga panah itu tepat menancap di belakang leher ketiga pria itu hingga jatuh tersungkur diatas kuda.


Luciana berjalan mengendap-endap. Dua diantaranya telah mati karena panah itu menembus leher hingga ke depan. Ada satu orang yang ia sisakan dengan panah yang mengenai lengannya saja.


"Siapa yang menyuruhmu. " tanya Luciana


"Kau masih tidak ingin berbicara? "


"Perlu ku robek mulutmu yang tidak berguna itu? "


"Tolong jangan sakiti saya nona, saya hanya suruhan seseorang. " mohon nya


"Aku akan membiarkan mu hidup jika kau mengatakan siapa yang telah menyuruh kalian. " tekan Luciana


"Tidak bisa! "


"Katakan, siapa yang kalian incar. "


"P-putri Luciana. "


Luciana terkesiap, jadi mereka menargetkannya bukan Lauren. Itu cukup bagus.


Krekk


Luciana menginjak jari tangan pria itu hingga berbunyi patahan tulang, " siapa yang menyuruhmu. " tanya Luciana dengan kesabaran


"Aku tidak akan mengat-Argghhhhhh.. " teriaknya ketika Luciana menginjak dan memelintir jari tanyanya.


"Masih belum mau menjawab? "


Luciana merogoh tasnya dan mengambil sebuah botol kecil dan memaksa pria itu untuk meminumnya.


"Minuman ini adalah racun yang akan membuat tubuhmu seolah berpisah satu sama lain, hingga sakitnya membuat seseorang ingin cepat mengakhiri hidupnya. Aku memiliki penawarnya jika kau mau. " ucap Luciana tersenyum licik


"Berikan penawar it-Argggghhhh.. "


Pria itu menggeliat diatas tanah seperti seekor cacing. Menjerit kesakitan. Luciana menatapnya dengan datar. Hingga sejauh ini masih belum ingin berkata, apa pria itu benar-benar setianya dengan orang yang menyuruhnya? Baiklah mari kita lihat sejauh mana dia bisa bertahan.


"R-tolong saya nona!! Ini sangat sakittt!! "


"Katakan dan aku akan memberikan penawar nya, cepat!!!! " geramnya yang sudah mulai terbawa emosi


"Tuuu Adrriannn-"


Oke.


Sebelum pria itu selesai mengatakan nama yang sangat ia tidak suka dengar, pria itu pingsan seketika. Sebenarnya bukan pingsan tapi mati.Ia harus segera menyusul Lauren.


"Darimana saja kau, Luci? "


"Membersihkan para penguntit. "


Keduanya kembali melanjutkan perjalanan hingga sampai di pinggir kota. Livi berada di gendongan Lauren sebagai kucing. Untuk sampai ke wilayah istana butuh sekitar setengah jam dari sini jika menggunakan mobil. Namun jika berjalan kaki itu akan cukup lama.


Sampai memesan mobil, Lauren terus saja membuntuti nya seolah tidak ingin tertinggal di tengah kota padat penduduk seperti ini. Lauren cukup kagum, ternyata disini sangat maju dibandingkan dengan desa Weissa. Jelas ini adalah kota bukan perkampungan.


Luciana mengajak Lauren naik mobil. Namun saat perjalanan Lauren mengeluh seperti perutnya sakit dan ingin muntah. Luciana panik .


"Tahan! Sebentar lagi akan sampai!! "


Bertepatan dengan berhentinya mobil, Lauren langsung membuka pintu mobil dan berlari menjauh untuk menumpahkan semua isi perutnya. Sedikit lega, namun perutnya benar-benar tidak nyaman sekarang. Dirinya juga merasakan lemas dan pusing.


"Kau mabuk. "


"Mabuk? Aku tidak minum minuman apapun." sanggah Lauren


"Bukan mabuk karena meminum, tapi mabuk perjalanan. " jawab Luciana


"Pusing sekali dan perut ku terasa tidak nyaman. " ucap Lauren lemas


Luciana memaklumi nya. Karena gadis ini pasti belum pernah merasakan menaiki kendaraan seperti mobil. Keseharian Lauren hanya bermain di bangunan itu dan pergi bersama Livi jika perlu.


"Kau belum terbiasa, nanti akan sembuh dengan sendirinya." ucap Luciana


Ia berjalan lebih dahulu menuju gerbang utama.


"Putri Luciana? Sedang apa anda diluar? " tanya penjaga yang langsung membukakan pintu untuknya


"Jalan-jalan."

__ADS_1


"Dia adikku. " sahut Luciana ketika mereka menatap kearah Lauren seolah bertanya siapa gadis yang mirip denganya.


"P-putri Lauren?!! "


Luciana menggandeng tangan Lauren masuk kedalam halaman istana. Meninggalkan para penjaga itu dengan keterkejutan nya.


"Apa akan ada karma lagi untuk kerajaan? "


"Mereka telah bersatu! Semoga saja tidak ada kemalangan yang terjadi. "


"Jangan menundukkan kepalamu Lauren, kau adalah seorang putri, jika kau menundukkan maka mahkotamu akan jatuh. " peringat Luciana


"Mereka.. mereka meng-"


"Hiraukan saja. " potong Luciana


Disetiap lorong dan pilar-pilar yang megah itu, mereka sering berpapasan dengan beberapa pelayanan dan yang lainnya. Namun, ia terus berjalan dengan sorot mata tajamnya. Terlihat anggun namun angkuh.


Dominant itu yang ingin Luciana perlihatkan.


"Bukankah dia adalah putri pembawa petaka itu? "


"Benar, hasil dari perselingkuhan. Apa mereka tidak malu menginjakkan kakinya disini lagi.. "


"Sepertinya mereka sudah gila. "


"Semoga saja tidak ada kemalangan disini. "


"Semoga saja. Tapi aku tidak habis pikir dimana rasa malu mereka? Apa sudah hilang bersama harga dirinya? "


Mereka berbisik-bisik dan terkikik geli menertawakan Luciana dan Lauren.


Bruk


Luciana berbalik badan dan menendang perut dia orang yang sudah terlalu banyak berbicara kotor tentangnya. Mereka memekik kaget melihatnya.Seulas senyuman tipis tersungging di bibirnya sambil berjalan mendekat dan berakhir menaiki tubuh mereka, menarik kerah baju itu. Luciana mencengkram nya dengan kuat hingga terlihat urat ditangannya.


"Mulutmu sangatlah manis, hingga aku ingin menghancurkannya. "


"Atau lebih baik menjahit nya saja, agar kau tidak bisa berbicara selamanya? "


Mereka yang melihat adegan itu mundur perlahan. Luciana terlihat sangat menyeramkan dengan urat yang menonjol di lehernya beserta rahang yang mengeras.


Sebagai finishing, Luciana menghadiahkan sebuah bogeman mentah tepat kearah bibir wanita itu hingga berdarah. Setelah itu bangkit, menatap semua orang disana.


"Jaga mulut kalian, jika tidak ingin aku hancurkan sepertinya! " tekannya


Ia langsung menggandeng tangan Lauren dengan mempercepat langkahnya. Luciana sempat melihat wajah terkejut milik Lauren karena tindakannya yang seperti preman. Ia tidak peduli, itu bukan salahnya, mereka dahulu yang memancing kemarahannya.


"Kau terlihat menyeramkan tadi.. " celetuk Lauren


"Kau bahkan bisa lebih dari itu. "


Sampailah di kediaman awan .


"Tidak terlalu buruk. " komentar Lauren setelah berinteraksi dengan beberapa pelayan yang dipilih langsung oleh Luciana untuk menjaga paviliun nya.


"Kau belum melihat semuanya Lauren. Ini bagian baiknya namun beberapa saat lagi pasti ada bagian buruknya yang akan datang , seiring dengan tersebarnya berita hingga sampai kedalam istana utama. "


"Kenapa kamar ini ada sisa tepung? " tanya Luciana ketika mengelap pintu dengan jarinya.


"Lalu dimana pelayan Elis? "


Mereka semuanya terdiam melirik satu sama lain.


"Kenapa? "


"S-sebenarnya jebakan yang anda buat mengenai ratu Adriana dan putri Arabella. Ratu marah dan menyeret pelayan Elis keluar. Sekarang dia berada di dalam kurungan nona.. " tunduknya


"Sial.. " geram Luciana


"Dia yang salah dengan masuk ke kamarku dan berani sekali menghukum pelayan dikediaman ini tanpa seizin ku!! "


"Tenanglah Luci, kau membuat mereka takut." ucap Lauren dengan lembut.


Ibarat Lauren adalah air dengan ketenangan nya, sementara Luciana sendiri adalah api kecil yang sewaktu-waktu bisa membesar sesuai moodnya.


__________________________


Hai


Azekk double up nih..

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak!!! W. A. J. I. B


__ADS_2