
...SELAMAT MEMBACA!...
...*...
...*...
...*...
Selama di perjalanan Luciana hanya diam sambil menatap hamparan ruas jalan yang dari mulus sampai kasar. Luciana sudah hampir dua jam didalam mobil. Sekarang ia memasuki kawasan dimana jalan yang berlubang bertanah subur dengan banyaknya rumput tinggi di sepanjang jalan.
"Sepertinya saya hanya bisa mengantarkan anda sampai sini nona. " ucap pria itu
"Apakah masih jauh? "
"Tidak nona. Anda hanya perlu berjalan sekitar 2 kilometer dari sini, nanti anda akan menemukan pedesaan dan beberapa hutan disana." ucapnya
"Baiklah."
Luciana turun dari dalam mobil, berjalan 2 kilometer bukan hal yang sulit untuk nya. Saat Luciana hendak melanjutkan perjalanan terdengar teriakan dari seseorang yang tengah berlari dengan membopong seorang bayi berumur sekitar 1 tahunan.
"Nona dan tuan tolong antarkan hamba dan anak hamba ke bidan, tolong antarkan hamba nona..hamba mohon.." pinta ibu itu sambil memohon dan menangis.
"Oh ya Tuhan, hamba sangat bersyukur bisa menemukan seseorang setelah menyusuri hutan demi membawa anak hamba ke bidan terdekat. " tangisnya
Luciana mendekat untuk melihat kondisi anak itu, terlihat membiru, Luciana melotot tajam.
"Dia terkena bisa ular? "
"Iya nona, tolong bantu hamba.. " simpuhnya di kaki Luciana, memohon dengan sangat merendah.
"Baiklah -baiklah. Paman tolong cepat antar ibu ini ke dokter di kota!! Ini keadaan darurat, aku yang akan membiayainya!!" perintah Luciana
Luciana memberikan uang sekitar dua puluh lembar uang berwarna merah, " Ini untuk anda, bawalah segera ke rumah sakit agar bisa ditangani dengan baik. "
"Te-terimakasih banyak nona!! " ibu itu bersujud di kaki Luciana sontak Luciana menjauhkan kakinya.
"Tidak masalah. " Luciana memerintah ibu itu untuk berdiri dengan lembut. Dalam hati Luciana sedikit kasihan dengan kondisi anak itu yang tubuhnya sudah sedikit membiru khususnya di bagian yang terkena bisa itu.
Semoga saja bisa tertolong.
"Apa anda sungguh tidak apa-apa berjalan kaki nona? " tanya sopir yang mengantarkannya tadi.
"Bukan masalah. "
"Antarkan ibu ini dengan selamat. " perintah Luciana datar.
"Ba-baik nona. "
Ibu yang melihat aura bangsawan yang sangat dominan dalam diri Luciana sedikit terkejut, "A-apa anda seorang putri dari kerajaan ini? " tanyanya bergetar, takut menyinggung perasaannya.
"Bisa dibilang begitu. "
"Oh ya Tuhan!! "
"Salam yang mulia putri!!!" hormat keduanya kaget setelah mengetahui jati diri Luciana.
"Aku harus pergi. "
__ADS_1
"Tunggu, anda dari Kerajaan mana nona? "
Luciana terus berjalan dengan gesit menghiraukan orang-orang itu. Bukan sombong, dirinya tidak ingin jati dirinya terbongkar oleh siapapun. Hanya mengatakan ia adalah seorang putri sudah dipastikan berita itu akan menyebar dari mulut ke mulut.
Itu yang Luciana inginkan, memperbaiki citranya dengan pelan namun pasti. Mereka yang tidak tahu siapa itu Luciana akan tercengang ketika mengetahuinya nanti.
Hari mulai petang dan hawa semakin dingin, Luciana memutuskan untuk beristirahat sejenak dibawah pohon di hutan. Membiarkan dirinya dalam kegelapan. Kenapa tidak menyalakan api? Api dapat menarik hewan buas keluar dan mendekatinya.
Luciana memakan kue yang sempat ia bawa dari pria tua tadi dan memakannya. Mengenakan jubah hitam khusus kemudian kembali melanjutkan istirahat nya dengan mengumpulkan kembali energinya.
Menyilangkan kedua kakinya, meletakkan kedua tangan di lutut masing-masing kemudian memejamkan mata menikmati udara dan berbagai suara yang dihasilkan oleh hutan ini. Merilekskan pikiran akan membantu mempercepat pemulihan energinya.
Srekkk!
Srekkk!
Fokus Luciana terganggu saat mendengar suara benda berjalan melewati dedaunan kering. Ia segera berdiri dan mengambil belatinya untuk berjaga.
Srekkk!
Luciana mengambil sebuah benda yang bercahaya seperti bulatan bercahaya dan mengarahkannya kesegala arah.
Srekkk
"Shhh tolongggg.. "
Terdengar suara lirih meminta tolong. Dengan penuh keberanian melihat sekitar mencari sumber suara.
"Ada orang?? " teriak Luciana lirih
Luciana berjalan mengendap-endap pelan namun pasti, dengan posisi waspada. Luciana mengintip dibalik pohon itu dan terlihat seorang pria berjubah putih tengah meringkuk kesakitan.
"Apa kau manusia? " tanya Luciana
Luciana meletakkan benda bulat bercahaya itu dan melihat wajah pria yang tengah terkulai lemas kehabisan darah.
"Astaga.. Dia manusia."
Dibagian dada pria berjubah mewah berwarna putih itu terdapat sebuah panah yang menancap dalam disana. Luciana membaringkan tubuh itu dan membenarkan posisi agar jauh lebih nyaman.
Srut!
Dengan tanpa aba-aban Luciana mencabut panah itu dengan kencang sontak membuat pria itu tersentak kaget. Namun hanya beberapa detik kemudian pingsan.
Luciana menggantung lampu bulat itu di ranting pohon. Dapat dilihat jelas wajah pria itu yang terkena bercak darah namun ya tetap tampan. Luciana mengamati luka didada pria itu yang seperti sangat dalam.
Tanpa malu ataupun ragu Luciana menyobek baju atas pria itu untuk memudahkan mengobati luka nya.
"Shh.. Ini terlalu dalam. " ringis Luciana ngilu
Terlihat darah menetes deras dari luka itu setelah panah yang sempat menancap nya terlepas.
Luciana membersihkan luka itu dengan air yang ia bawa, " Ini air untuk ku minum beberapa hari ke depan namun harus terbuang. " lirihnya
"Menyebalkan sekali. "
Setelah membersihkan lukanya dengan sedikit gerutuan, kini waktunya ia untuk mengobati luka itu dengan seksama tepat dibagian dada kiri pria itu.
__ADS_1
Mata yang tadinya terpejam kuat kini perlahan terbuka sedikit demi sedikit, pria itu sangat lemas karena kehabisan banyak darah. Setelah berhasil membuka mata sepenuhnya bisa dilihat wajah seorang gadis yang tengah menatap dadanya intens.
Telanjang ?
Dadanya telanjang?
Pekik pria itu saat melihat bagian atas tubuhnya terekspos bebas dan dengan tanpa malunya gadis itu menatapnya!
Luciana belum menyadari sepasang mata yang tengah menatapnya terkejut, tangan Luciana perlahan mendekat untuk menyentuh luka itu , semakin dekat...
"Apa yang kau lakukan!! " Tangan Luciana terhenti di udara dan menatap sepasang mata hitam yang tengah menatapnya tajam.
"Menyembuhkan lukamu tentu saja, apa lagi??"
Pria itu menepis tangan Luciana, " Tidak perlu. Saya bisa mengobatinya sendiri. " tegasnya
"Ohhh.. Yasudah jika begitu. " ucap Luciana sama sekali tidak peduli.
Luciana membereskan semua peralatannya dan berjalan pergi, " Tunggu! " cegah pria itu
"Shhh..Kau harus bertanggungjawab!!! "
"Untuk apa aku bertanggungjawab? "
"Karena kau telah menelanjangiku! " geram nya merasa dilecehkan.
"Pfttt.. " Luciana tekekeh
"Kenapa kau tertawa? "
"Kau masih memakai celana bukan? Kau belum telanjang! Dasar pria bod0h. " decak Luciana
"Tidak ada wanita satupun yang boleh melihat tubuh lelaki ! Berani-benarinya gadis kecil sepertimu menodai ku! Kita akan menikah setelah ini. "
"Kau benar-benar gila tuan. " decak Luciana
"Kau.. Shhhh.. " ringisnya saat hendak menggapai kaki Luciana.
Luciana menyentak tangan itu dengan kasar, "Arrghhh.. "
Pingsan lagi?
Luciana berjalan mendekat kearah pria itu dan mengarahkan lampu untuk melihat wajahnya.
"Dia benar-benar pingsan. " decak Luciana
Dengan hati nurani yang sudah besar sejak lahir, Luciana tidak bisa meninggalkan seseorang yang tengah terluka begitu saja apalagi mereka tengah berada di dalam hutan.
Luciana kembali mengeluarkan alat dan obat yang sudah ia persiapkan sebelum nya. Dengan telaten ia kembali mengobati dada pria itu dan terakhir ia menutupinya dengan sebuah perban yang melintang dari ketiak sampai pundak kanan.
"Selesai."
Luciana kembali membereskan peralatannya.
"Selain menyebalkan dia juga menyusahkan. " ejek Luciana pada pria yang tengah pingsan ataupun tertidur, Luciana tidak peduli.
...To be continued.......
...SEBELUM KE BAB SELANJUTNYA, TINGGALKAN JEJAK DULU YA <3...
__ADS_1