
SELAMAT MEMBACA
*
*
*
Lauren benar-benar dalam posisi terpojok sekarang. Dalam hati ia terus berteriak untuk mendorong pria didepannya sekuat tenaga, namun reaksi tubuhnya tidak seperti apa yang ia inginkan. Tubuh Lauren justru bergetar dan kedua kakinya seperti jely.
"Kau takut? Jangan takut. "
"Aku hanya ingin menyapa. " senyumnya
"Livi kumohon tolong aku.. " jerit Lauren dalam hati.
Senyuman pria itu naik lebih tinggi ketika melihat wajah ketakutan milik gadis didepannya. Tangan itu terulur menyingkap anak rambut yang menghalangi mata indahnya. Rambut seputih susu itu terasa sangat lembut ditangannya yang kasar.
Kedua mata Lauren terpejam dan kembali terbuka dengan kilatan mata berbeda.
"Lepas.. "
Tubuh Altar terdorong sedikit kebelakang, cukup terkejut dengan kekuatan tiba-tiba yang dimiliki Lauren walaupun hanya bisa mendorong mundur sedikit tubuhnya saja.
Melihat kesempatan itu Lauren berlari mengindar dari jangkauan pria itu. Sebelum berhasil menghilang di balik dinding, pangeran Altar lebih dahulu berhasil memegang pergelangan tangannya. Lauren memberontak dengan kasar dan akhirnya bisa terlepas. Saat hendak berbelok kearah lorong sebelah kanan tubuhnya terhuyung kebelakang karena menabrak tubuh seseorang. Karena larinya yang sedikit kencang tubuhnya terpental dan hendak terjerembab ke lantai namun sebelum itu terjadi tangan seseorang terlebih dahulu menarik tangannya. Lauren berdiri dengan jantung berdegup kencang karena kejadian tadi.
Mendongakkan wajahnya untuk menatap orang yang ia tabrak. Terlihat lah wajah pria yang ia kenali belakang ini, dia adalah pangeran putra mahkota.
Pangeran Altar mendekati keduanya. Pandangan Albert teralihkan kepada pria dibelakang Lauren dan menaikan sebelah alisnya.
"Maafkan saya yang mulia. " hormat Lauren merendahkan sedikit tubuhnya.
Pangeran Albert terlihat datar menanggapinya. Dalam benaknya bermunculan pertanyaan dimulai dari bagaimana bisa Altar dan Lauren bersama? Apa yang mereka lakukan? Dan terakhir apa hubungan mereka?
Namun melihat wajah Lauren yang sedikit pucat dan bergetar, sontak pertanyaan itu ia tepis. Kembali melirik pada pangeran Altar yang terlihat biasa saja dan sangat santai.
"Ohhhoo.. senang bertemu denganmu pangeran Albert. " ucap Altar tersungging senyuman tipis diujung bibirnya.
"Apa yang kau lakukan disini dan dimana Luciana. " tanya Albert menghiraukan ucapan Altar.
Pangeran Altar tersenyum tipis, melihatnya.Pria itu sengaja mengabaikannya ternyata.
"Kami sedang berkenalan, bukankah begitu putri? "
Lauren terkejut ketikan sebuah tangan bertengger dipundaknya.Tangan itu milik pria yang sedari tadi mengganggunya, terlihat santai meletakkannya dibahunya. Lauren hendak menepis tangan itu namun tidak bisa. Altar justru semakin merengkuh tubuhnya.
"Bukankah sesama saudara harus saling mengenal. " imbuhnya santai
Pangeran Albert melihatnya dengan datar, namun saat beralih menatap wajah Lauren yang seperti ketakutan membuatnya merasa sedikit tidak suka.
"Lepaskan rangkulanmu, Altar. " pinta Albert
"Untuk apa? " tanyanya menaikan sebelah alisnya.
__ADS_1
Albert merasa risih melihat wajah nelangsa milik gadis itu dan akhirnya memutuskan untuk menarik tangan Lauren dan menyeretnya di samping tubuhnya. Altar terkekeh pelan. Menatap Albert dengan tatapan mencemooh.
"Apakah kau keberatan aku berdekatan dengannya? "
"Oh atau kau iri denganku karena bisa dekat dengan Lauren sementara dirimu tidak? " tanya Altar dengan ekspresi menjengkelkan.
"Ayolah, dia juga saudaraku jadi kalian harus berbagi juga, kan? "
Albert menatap Altar dengan datar. Tidak ada ekspresi yang tercipta disana. Sementara pangeran Altar terus saja menggoda Albert dengan perkataan nya.
"LAURENN.. " teriak Luciana berlari dari lorong sebelah kiri bersama Emillio dibelakangnya yang turut berlari.
"Luci... " Lauren tersenyum
Setelah sampai disana, Luciana bernapas lega namun matanya melirik kearah pangeran Altar disana. Apa yang terjadi? pikirnya
"Kau baik-baik saja? "
"Hu'um." angguk Lauren berjalan dan berdiri disamping Luciana
"Baguslah."
Di lorong itu mereka berdiri tanpa ada sepatah katapun yang terucap dari bibir mereka, hanya terdengar helaan napas dalam-dalam. Emilio berjalan menuju samping kanan pangeran Albert, "Kau sudah selesai melakukan pelatihan bersama pangeran Leatan? " tanyanya basa-basi
"Belum terlaksana, kegiatan diundur nanti sore. " jawabnya singkat
"Oh begitu.. "
Hening kembali.
SRETTT
"Apa yang kau lakukan dengan adikku, Altar.. " desis Luciana
Mendapatkan serangan tiba-tiba membuatnya sedikit terkejut. Seperti kecepatan angin kini tangan Luciana sudah bertengger di kerah bajunya. Mendekatkan wajahnya dengan pandangan mata yang setajam elang.
"Wohooo.. kau membuatku terkejut Luciana, apa maksudmu? " tanyanya seolah tidak tau
"Jangan banyak beralasan! Atau aku akan mencekikmu. "
"Galak sekali... Aku tidak melakukan apapun dengannya. Apa alasanmu menurutku seperti ini putri Luciana? Kau menurunkan harga diriku didepan putra mahkota. "
Luciana melepaskan tangannya dari kerah Altar dengan kasar dan menepuk tanganya seolah telah memegang sesuatu yang kotor, " Ah iya seharusnya aku jauh lebih berhati-hati agar tidak sembarangan menyentuhmu. " Ucapnya dengan senyuman kecil
Altar merasa apa yang dilakukan putri Luciana sangat melukai harga dirinya. Ia menggeram marah atas penghinaan itu, namun sebelum membalasnya Emillio terlebih dahulu menarik tangan Luciana untuk mundur kebelakang. Altar menggeram karena emosi dan berakhir berjalan pergi dari sana dengan tatapan tajamnya.
"Jangan sembarangan berperilaku dengannya, Luci.. Dia jauh lebih berbahaya dari yang kau duga. " tegas Pangeran Emillio
"Aku tidak takut. " acuhnya
Langkah kaki terdengar di sepanjang lorong, mereka melirik kearah lorong bagian kiri menunggu siapa yang berjalan disana. Yang jelas itu bukanlah pelayan maupun seorang prajurit. Kawasan ini hanya khusus untuk keluarga kerajaan dan beberapa tamu penting.
"Pangeran jangan terlalu cepat berjalan, tunggu aku.. "
__ADS_1
"Pangeran kakiku sakit karena memakai heels dan mengejarmu. "
"Saya tidak memintamu untuk mengejar. "
"Tap-"
Keduanya berhenti ketika berpapasan dengan Pangeran Albert dan lainnya disana. Putri Arabella terdiam seketika sambil mengelus kakikinya yang sedikit sakit karena terlalu fokus mengejar langkah pangeran Leatan menggunakan heels.
"Yang mulia putri Mahkota kerajaan Callexius." sapa Pangeran Albert
Leatan mengangguk sebagai jawaban, " jangan memakai bahasa formal. " ucapnya yang dibalas anggukan oleh pangeran Albert.
"Sejak kapan anda datang? " tanya Emillio tersenyum ramah.
"Baru saja. " jawabnya tak kalah ramah.
Pandangan Leatan beralih menatap dia gadis berwajah hampir sama disana. Luciana mengalihkan pandangannya kearah lain untuk menghindari tatapan miliknya.
"Dia? "
"Dia putri Lauren kembaran putri Luciana. " jawab Albert
Pangeran Leatan mengangguk paham tanpa banyak kata. Putri Arabella memberengut ketika mereka tidak menyapanya. Ia berada disini sebagai manusia bukan angin, decaknya.
"Kakak apa yang kalian lakukan disini? " tanya Putri Arabella
"Berbincang." sahut Emillio
"Sebaiknya kita kembali ke kamar. "
Luciana mengajak Lauren untuk kembali menuju kediaman Awan meninggalkan mereka disana. Sikapnya diamati dengan teliti oleh Leatan, dan pria itu menyimpulkan bahwa gadis bernama Luciana itu memang sedikit sembrono dan angkuh diluarnya. Itu penilaiannya sekarang, berbeda ketika mereka pertama kali berjumpa. Namun, itu hanya sikap luarnya, Leatan yakin dibalik wajah tegas dan angkuh itu ada berlian yang tengah ia sembunyikan.
"Sebaiknya kita memulai latihannya sekarang."
Pangeran Leatan mengangguk setuju dan mereka kembali berjalan menuju lapangan pelatihan. Putri Arabella mengikutinya dari belakang namun saat melewati paviliun Matahari ia pamit untuk kembali ke kediamannya.
"Anda datang sendiri? "
"Tidak.Saya datang bersama adik saya Liam. " jawabnya
"Pangeran Liam juga datang? Lalu dimana dia? " tanya Emillio
"Dia berkata ingin mengunjungi seseorang disini dan akan menyusul setelahnya. "
"Memangnya siapa? " kernyit Emillio
Sampailah mereka di lapangan pelatihan khusus prajurit dan beberapa komandan maupun panglima disana. Para prajurit dan pengawal yang sedang berlatih langsung menunduk hormat melihat kedatangan ketiga pangeran itu.
"Edward.. " panggil Albert pada salah satu panglima disana.
Albert mengatakan sesuatu padanya dengan singkat dan langsung dengan mudah ditangkap olehnya, "Baik yang mulia. "
Bersambung....
__ADS_1
Tinggalkan Jejak Guys...