BAD PRINCESS OF AQUALIORS

BAD PRINCESS OF AQUALIORS
42. Sindiran Keras


__ADS_3

Selamat Membaca


*


*


*


Suasana di ruangan tempat mereka makan menjadi hening seketika ketika mendengar perkataan dari Luciana, begitupun dengan Raja Gilbert yang langsung berdehem untuk mencairkan suasana kembali.


"Kenapa tidak kau saja yang memperkenalkannya? " ujar ratu Adriana


"Kenapa begitu ratu? "


"Kau sendiri yang membawa nya kemari. Seharusnya kau yang memperkenalkannya pada kami bukan sebaliknya. Kau pikir bisa berperilaku seenaknya saja putri Luciana." ujar ratu Adriana lembut namun membuat Luciana tersenyum miring.


"Bukankah kalian sudah mengenalnya kenapa aku harus memperkenalkan dia lagi. Hahaha.. seperti orang asing saja. "


"Ohh atau kalian lupa? "


Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Luciana. Merubah ekpresi sedemikian rupa dari tertawa garing menjadi lebih serius.


"Jangan bertele-tele Luciana. " tegur raja Gilbert


"Kalian sudah tau gadis ini siapa. Lauren maksudku Lauren De Aqualiors. "


"Kami sudah mengatahuinya.Dan dengan membawa seorang yang tengah dalam masa pengasingan bukanlah itu pelanggaran hukum putri? " ujar ratu Adriana


"Pengasingan? " tanya Luciana menaikan sebelah alisnya


"Bukankah dibuang?? " koreksi Luciana


Lauren hanya bisa menunduk sesekali melirik kearah Luciana. Dirinya tidak seberani kakaknya itu, Lauren sangat pengecut karena memang lingkungan hidupnya yang bebas dari konflik atau bahkan tidak ada sama sekali. Menjadikannya seperti gadis bodoh dan pemalu.


"Yang mulia. Jika Lauren mendapatkan sebuah pengasingan saja bukankah saat usianya menginjak 17 tahun akan kembali ke kerajaan? Namun sampai usianya 18 tahun pun tidak ada yang menjemputnya. Kalian bukan mengasingkan nya tapi membuangnya." tuntut Luciana tajam


"Aku akan membuktikannya lewat persidangan pembebasannya nanti. Dan satu lagi, jika benar Lauren adalah bagian dari keluarga ini dan ibuku bukanlah orang yang bersalah.. maka aku akan menuntut seseorang yang dengan beraninya menyebarkan berita palsu ini hingga membuat seseorang tidak bersalah mendapatkan dampaknya. Minimal orang itu harus dihukum mati atau bahkan di keluarkan dari kerajaan secara tidak hormat dan hidup sengsara.. "


Luciana menatap selauruh anggota keluarga disana. Lauren dan ibunya membutuhkan keadilan. Dan Luciana aka Lexia akan mengabulkannya.


Raja Gilbert hanya menganggukkan kepalanya. Belum menyetujuinya namun anggukan itu membuat senyuman puas tercetak di bibir Luciana.


Luciana melirik ratu Adriana yang juga tengah menatapnya.


"Kau hanya anak kecil putri Luciana. Jangan mengganggu urusan kerajaan dengan tingkah konyol mu itu. Bersikaplah seperti remaja pada umumnya. " ujar ratu Adriana


"Benar.Sikapnya seperti seorang dewasa saja." sahut putri Arabella


"Biarlah masalah ini Raja yang mengurus. Kau tidak perlu ikut campur putri Luciana. " tegur ratu Adriana


"Jika aku tidak ikut campur maka anda juga tidak perlu ikut campur, yang mulia ratu terhormat. " Luciana menampilkan senyum manisnya


"Apa maksud putri? "


"Kenapa beratnya padaku? Bukankah anda jauh lebih tau tentang diri anda sendiri? " tanya Luciana balik

__ADS_1


Melihat kondisi yang sudah mulai tidak kondusif. Raja Gilbert segera menegur mereka untuk kembali dalam posisi tenang karena akan ada pembicaraan penting.


Raja Gilbert menyuruh tuan Richard untuk mendekat dan membisikkan sesuatu.


"Putri Luciana tangguhanmu saya terima atas perintah dari yang mulia raja. Untuk selanjutnya, persidangan akan dilaksanakan sebelum acara debutante kalian. Menetapkan apakah putri Lauren pantas untuk kembali menjadi anggota kerajaan dan melakukan debutante bersama anda dan putri Arabella nanti. Semua berkas akan saya tindaklanjuti bersama para pejabat yang lainnya. " ujar tuan Richard kemudian mengundurkan dirinya, melaksanakan perintah dari raja Gilbert, entah perintah apa.


Ratu Adriana mengepalkan tangannya dibawah meja saat mendengar keputusan dari suaminya.


"Terimakasih ayah. " ucap Luciana datar


Raja Gilbert menganggukkan kepalanya.


"Saya mengundang kalian kesini bukan untuk bertengkar, melainkan untuk membahas debutante kalian nanti. Acara akan diadakan tiga hati dari sekarang, semua susunan acara dan perlengkapan akan diatur langsung oleh tuan Richard. Jika ada yang merasa keberatan kalian bisa langsung berkoordinasi dengannya." Raja Gilbert berbicara dengan tenang menatap seluruh anggota keluarga nya.


"Aku ingin acara yang sangattttt... meriah ayah. " antusias putri Arabella


"Benarkan ibu?"


"Itu pasti sayang. " sahut ratu Adriana tersenyum lebar


"Sederhana saja. " celetuk Luciana


"Tidak mau! " geram Arabella


Luciana meliriknya, " jika kau tidak mau. Buatlah acara sendiri. "


"Aku juga tidak mau melakukan acara ini dengan kalian! Kau pikir aku mau.. " ucap putri Arabella sinis


"Yasudah buat acara sendiri-sendiri saja. " Luciana terlihat benar-benar tidak peduli


"Itu tidak akan terjadi, karena pangeran Liam juga akan bergabung bersama kalian. " ujar raja Gilbert


Sementara putri Arabella melototkan matanya, kemudian tersenyum penuh kebahagiaan. Jika begini dirinya tidak akan menyia-nyiakan untuk berpenampilan cantik didepan pangeran Leatan nanti. Arabella yakin pangeran Leatan akan datang.


Sedari tadi ketiga pangeran disana hanya diam menyimak. Seperti seorang patung.


"Ayah, apa itu tidak apa-apa? " tanya pangeran Emillio yang sedari tadi diam.


"Ayah sudah membicarakan nya dengan Raja Erland. "


"Jadi persiapkan diri kalian nanti. Ayah tidak ingin kalian mempermalukan nama baik keluarga kerajaan. Karena seluruh keluarga dari Kerajaan Callexius akan datang nanti. "


"Terutama kau Albert. Perlihatkan jika kau putra Mahkota yang baik kepada seluruh tamu nanti. Ayah tidak ingin ada berita buruk tentangmu, sekecil apapun itu. Semua ini bukan untuk Albert saja tapi untuk kalian semua. "


Raja Gilbert beranjak dari aula ruang makan keluarga. Meninggalkan mereka disana yang dilanda keheningan.


"Kau mendengarnya Albert.Raja bahkan meragukan sikapmu nanti. " sindir Pangeran Altar


Pangeran Albert hanya meliriknya saja. Pria ini memang terkesan cuek dan dingin berbeda dengan Emillio yang ceria dan Altar yang seorang player wanita.


"Seorang putra mahkota tidak akan tinggal diam ketika nama baiknya dipertaruhkan bukan? Jika kau hanya diam saja, apa itu pantas untuk memimpin kerajaan ini lebih lanjut? " perkataan itu muncul dari bibir Altar yang terus mendesak Albert untuk berbicara.


"Menurutmu aku tidak pantas menjadi seorang putra mahkota hah?! "


"Aku tidak mengatakan demikian. " sahut Pangeran Altar dengan senyum kecil diujung bibirnya, terkesan meremehkan yang membuat Leatan sedikit geram.

__ADS_1


"Kenapa kau justru marah? "


"Sudah cukup. Jangan memancing keributan disini. Jika raja melihat nya maka kalian akan mendapatkan hukuman. " letai ratu Adriana


"Jika kalian ingin saling memantaskan lakukanlah di arena pertarungan. Seorang putra mahkota haruslah kuat untuk menjaga rakyat nya dimasa yang akan datang. "


Baru saja Luciana ingin memuji kebijaksanaan ratu rempong itu, namun lenyap seketika. Memang rempong ya akan tetap rempong.


Ratu Adriana beranjak pergi diikuti putri Arabella, namun langkah kakinya terhenti ketika mendengar celetukan seseorang.


"Menurutku seorang raja tidaklah harus kuat saja, melainkan harus memiliki otak yang bersih agar terhindar dari pengaruh dan hasutan orang lain. Sama seperti seorang ratu, mereka bertugas untuk membantu raja mewakili para wanita, bukan hanya sekedar mempercantik diri apalagi hanya berdiam diri di dalam istana. "


"Anda menyindir saya, tuan putri Luciana? "


"Tentu saja tidak. Seorang ratu tidak hanya anda saja yang mulia. " senyum manis tersungging di bibir Luciana


"Syukurlah jika begitu.. " ratu Adriana membalasnya dengan senyuman manis pula dan melenggang pergi dari sana.


"Bisakah kita berbicara hanya berempat? " ucap Emillio melirik pangeran Altar yang masih setia duduk di bangkunya.


"Caramu sangat bagus Emillio. Mengusir seseorang tanpa menyakitinya. " sindir Pangeran Altar yang tak urung berdiri dari posisi duduknya


Luciana berdiri bersama Lauren. Altar berjalan keluar dan berpapasan dengan dua gadis itu. Luciana menatap gerak-gerik Altar dengan intens.


"Kita berjumpa lagi,baby." bisiknya di telinga Lauren


Lauren mencengkram lengan Luciana , menempelkan tubuhnya kepada gadis itu. Luciana menarik kerah pangeran Altar dan mencengkram nya kuat.


"Kau... jangan pernah lagi ganggu Lauren. " desisnya tajam


"Aku tidak pernah mengganggunya. " jawabnya santai menatap mata Luciana balik


"Tidak pernah katamu... " geram Luciana


"Ku peringatan kau Altar. Jangan berlagak di istana ini sesukamu, karena kau bukanlah anak seorang Raja. Jangan berbangga diri. Aku bisa saja menyebarkan rahasiamu dan ibumu kepada seluruh warga kerajaan. " bisik Luciana kemudian menjauhkan tubuhnya tersenyum miring.


Pangeran Altar berdesis. Menatap Luciana tajam dengan ekspresi terkejut nya. Kemudian membenarkan letak kerahnya dan melenggang pergi dari sana.


"Apa yang kalian bicarakan tadi? " tanya Emillio


"Apa yang ingin kau bicarakan. " tanya Luciana langsung


"Jawab pertanyaanku dulu. "


"Tidak.Pertanyaanku dulu.. "


"Aku lebih tua darimu, jadi kau harus mengalah.. "


"Justru yang tua yang mengalah. "


Lauren yang melihat perdebatan kecil itu hanya bisa menyunggingkan senyum tipis, namun terlihat jelas oleh Leatan yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik gadis berambut putih silver itu.


_________________________


Hai guysss.. Makasih buat yang udah suport aku> wkwkkw, sampe pada nunggu episode baru lagi.Pengin deh double up. Tapi nanti deh wkwkwk

__ADS_1


Tinggalkan jejak guyss!!


See you <


__ADS_2