
SELAMAT MEMBACA
*
*
*
Suasana di aula keluarga tempat yang biasanya digunakan untuk membahas permasalah khusus keluarga kerajaan itu sudah mulai ramai. Tepatnya di meja makan yang panjang disana. Pangeran Emillio datang lebih cepat dari biasanya.
"Selamat datang yang mulia. " sapa pengawal disana
"Apakah belum ada yang datang? "
"Belum yang mulia. Baru anda saja. Yang mulia raja akan datang sepuluh menit lagi. " hormatnya
Pangeran Emillio mengangguk dan diarahkan untuk menuju meja makan yang sudah terisi banyak makanan. Para pelayan tengah sibuk mondar-mandir mempersiapkannya. Sementara Emillio hanya diam di salah satu kursi sembari menunggu yang lainnya datang. Beberapa menit kemudian pangeran Albert datang dan disambut oleh para pengawal dan pelayan yang bertugas, seperti biasa diarahkan untuk duduk bangku meja makan.
"Kau sudah datang? " tanya Albert
"Ya. Ku kira semuanya sudah datang ternyata hanya aku saja. " jawab Emillio
Hening
"Sebenarnya apa yang akan ayah katakan nanti? Hingga mengadakan makan malam dadakan seperti ini. " tanya Emillio
"Tidak tau. " jawab Albert
Pangeran Albert hanya menjawabnya singkat. Sedari pertemuannya dengan dua adiknya itu membuat pikirannya bercabang kemana-mana. Pikirannya selalu terpecah menjadi bagian-bagian kecil yang hampir 40 persennya memikirkan kedua adik perempuan nya. Adik perempuan? Sejak kapan ia menganggap keduanya sebagai adik? pikir Albert
Lima menit kemudian datanglah ratu Adriana bersama putrinya, putri Arabella yang disambut oleh yang lainnya. Mereka berjalan menuju meja makan. Emillio dan Albert berdiri dari duduknya dan mengucapkan salam penghormatan.
"Terimakasih atas sambutannya pangeran. " jawab ratu Adriana tersenyum
"Kakak sudah datang? " tanya Arabella
"Kau sudah melihat kami ada disini bukan? Kenapa harus bertanya lagi? " sahut pangeran Emillio sedangkan Albert hanya diam.
"Ah. Benar juga. Maafkan aku kak. " lirih Arabella tersenyum kikuk
"Duduklah Nak. " perintah Ratu Adriana kepada putrinya itu
"Diamana kakakmu, pangeran Altar? " tanya Emillio
"Kau mencariku? "
Pangeran Altar berjalan santai dari arah pintu yang diarahkan menuju meja makan. Dengan santai pria itu duduk di bangkunya sendiri. Namun sebelum duduk, ia menghentikan langkahnya sejenak saat berada di dekat Emillio.
"Ku kira kau tidak akan datang. " sahut Emillio santai, namun terkesan menyindir.
"Tentu saja tidak. Bukankah aku juga bagian dari keluarga ini? Oh apalagi kedua adik kembarku sudah kembali. " jawab Altar santai namun dengan seringai tipis diujung bibirnya.
"Jangan macam-macam. " geraman rendah dari Emillio yang menahan tinjuan tangannya.
"Hanya satu macam. "
Altar melongos berjalan kembali menuju bangkunya. Duduk disana dengan tenang. Ratu Adriana menatap putranya itu dengan senyuman tipis. Kelakuan Altar sangatlah mirip dengan mendiang suaminya, sangat licik. Namun ia tidak menghiraukan nya, bukankah untuk menjadi pemimpin membutuhkan sikap itu agar tidak mudah diperdaya oleh musuh?
"Duduklah yang benar Lio. " tegur Albert datar
Emillio mendengus.
Dari arah pintu masuk. Raja Gilbert datang bersama tangan kanannya tuan Richard. Mereka berdua berjalan kearah meja makan, semua orang pun berdiri untuk menyambut nya.
"Dimana mereka? " bingung nya
__ADS_1
"Siapa yang ayah maksud? " tanya Emillio
"Luciana."
"Dia juga ayah minta untuk ikut makan bersama?" kaget Emillio
"Ya. Ayah menyuruh semuanya untuk datang."
Raja Gilbert bertanya pada tuan Richard dan beliau menjawabnya dengan anggukan pasti jika dirinya sudah memberitahu Luciana untuk datang. Sesuai dengan perintah raja. Namun hingga mereka menunggu sekitar 10 menit belum juga datang.
"Apa kau sudah memastikannya mereka datang? " tanya raja Gilbert
"U-untuk itu saya tidak memastikan nya yang mulia. Saya hanya memberitahu nya untuk datang kesini dan tidak memastikannya untuk datang. " jawab tuan Richard merasa bodoh
Raja menghela napas pelan dan menatap kearah makanan di depan nya.
"Biarkan saya yang memanggilnya. " ujar Emillio
"Tidak perlu. Kita tunggu saja sepuluh menit lagi. " perintah Raja Gilbert
Pangeran Emillio kembali duduk. Sementara ratu Adriana merasa keberatan namun tidak bisa mengungkapkannya. Terlihat dari wajah suaminya yang terkesan tegas dan tidak ingin dibantah. Ia hanya bisa menggeram rendah karena merasa bahwa gadis itu pasti memang suka membuat seseorang menunggu. Sangat lelet.
Sementara sang empu kini tengah di depan pintu kamarnya. Lauren hanya bisa mendengus ketika melihat kakak yang terpaut beberapa menit itu dengan santainya bersandar di pintu. Lauren sudah berkali-kali memberitahu Luciana bahwa telah terlambat untuk datang, namun gadis ulitu hanya menjawab, " sepuluh menit lagi. "
"Ini sudah lebih dari sepuluh menit Luci... "
"Benar juga. Mereka pasti sudah lelah menunggu. " tawa Luciana
Keduanya berjalan menuju ruangan yang dimaksud. Selama perjalanan Lauren tidak hentinya kagum dengan dekorasi di istana utama. Sangat megah dan mewah dengan pilar-pilar besar disepanjang lorong.
Sampai di depan pintu masuk, mendadak tidak bisa menggerakkan kakinya. Lauren mendadak ragu untuk masuk kedalam ruangan itu. Sementara Luciana yang tidak memperhatikan nya sudah sampai di depan pintu besar disambut langsung oleh para pengawal dan pelayan yang bertugas.
"Lauren.. " panggil Luciana
Luciana menggandeng tangan Lauren untuk masuk kedalam. Semua orang yang sudah menunggu sekitar 20 menitan itu langsung menoleh kearah pintu masuk yang menampilkan wajah Luciana dan disusul oleh gadis berambut putih silver yang menundukkan kepalanya.
Deg
Pertama yang ia lihat ketika menegakkan kepalanya adalah wajah pria itu. Pria yang tengah menatap intens kearahnya. Lauren memegang tangan Luciana semakin erat. Luciana merasakan ketegangan yang dialami Lauren namun terus berjalan dengan datar kearah meja makan.
"Salam yang mulia kerajaan Aqualiors. " hormat Luciana
"Kenapa kalian diam? Saya datang kesini tidak ingin hanya berdiri terus seperti ini. " sindir Luciana ketika mereka terus menatap Lauren .
"Duduklah.. "
Luciana mengajak Lauren untuk duduk di samping kedua abangnya berhadapan dengan ratu Adriana, putri Arabella dan pengeran Altar. Sementara raja duduk diujung meja sebagai pemimpin makan bersama kali ini.
"Jangan menatap gadis pemalu ini dengan tatapan seperti itu. Kalian membuatnya tidak nyaman. " ujar Luciana yang langsung mengalihkan pandangan mereka.
"Ya.Gadis ini sangat pemalu terhadap orang luar karena kehidupan nya yang hanya seorang diri. Tidak pernah bersosialisasi dan seperti tidak mempunyai keluarga. Bahkan harus tinggal di tempat yang jauh dari pemukiman hanya karena tuduhan tidak berdasar dan sangat bodoh. "
"Seharusnya kalian yang pandai bersosialisasi bisa mengerti perasaannya. Jangan justru menatap nya seperti seorang penjahat yang dihujami tatapan tidak suka oleh orang-orang. "
Hening
"Sebaiknya kita memulai makan malam kali ini. " ujar raja Gilbert
"Ya.Memang seharusnya begitu. Kita tidak punya banyak waktu untuk berada disini terus. " sahut Luciana
Mereka semuanya makan dengan tenang. Tidak ada obrolan dan terkesan canggung. Luciana menghiraukan saja. Lauren tengah mencicipi makanan lezatnya dengan semangat.Sedari tadi tatapan pangeran Altar terus melirik keberadaan Lauren.
"Makanmu berada di depanmu bukan disini. " ujar Luciana sinis
Pangeran Altar menaoleh kearah Luciana, " Hahaha.. kau benar Luciana. Makananku berada disini tapi rasanya ingin makan milikmu. "
__ADS_1
"Maksudnya makanan milikmu. " ucap pangeran Altar tersenyum
Luciana menatap pria itu tajam. Tangan kanannya tengah memegang garpu, ingin rasanya ia lempar kearah mata pria itu, " Kenapa tidak memintanya kepada pelayan? Tingkahmu seperti kalangan bawah yang melirik makanan enak milik orang lain. "
"Habiskan makananmu Luciana. Jangan berbicara ketika makan. " teruguran berasal dari sang pemimpin
"Paman Richard tidak ikut makan? " tanya Luciana menghiraukan ucapan pria paruh baya itu.
"Paman? "
"Ya.Apakah aku tidak boleh memanggilnya seperti itu? "
"Ten-tentu saja boleh putri. " angguknya
"Kenapa paman tidak ikut bergabung dan justru berdiri saja. "
"Tidak putri. Nanti saya makan bersama yang lain saja. "
"Ohhh begitu.. jangan lupa makan ya paman. Karena bekerja memang membutuhkan tenaga lebih apalagi untuk mengurusi masalah orang lain. " senyum Luciana
"I-iya putri. "
Acara makan sudah selesai. Para pelayan sudah membersihkan meja makan. Namun saat melewati Luciana yang duduk diujung, kuah sop jatuh mengenai gaunnya.
"M-maafkan hamba yang mulia! " pekik wanita pelayan itu menunduk penuh penyesalan.
"Tidak masalah. "
"A-anda bisa menghukum hamba karena kesalahan hamba... " tunduk nya
"Tidak.Pergilah.Tidak usah seperti itu, aku bukan seorang pengusaha yang terobsesi akan menghukum orang bawah bahkan hanya karena kesalahan kecil. "
"T-terima kasih yang mulia. "
Ucapan Luciana sebenarnya biasa saja tidak berbuat menyendir siapapun. Namun ratu Adriana merasa bahwa kalimat itu ditujukan kepada dirinya karena kasus pelayan pribadi Luciana. Luciana hanya terdiam datar.
"Saya mengundang kalian kesini untuk beberapa alasan. "
"Pertama adal-"
"Tunggu." potong Luciana
"Ada apa Luciana? "
"Kau sangat tidak sopan putri Luciana. Yang mulia tengah berbicara tidak baik untuk menyelanya. " tegur ratu Adriana
"Maafkan saya."
"Apa yang ingin kau katakan Luciana. " tanya raja
"Bukankah disini kita mendapatkan kehadiran anggota baru? Alangkah lebih baiknya anda menyapa dan mengenalkannya bukan? Kenapa anda langsung saja membahasnya tanpa memperkenalkan anggota baru ini."
End
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
santai santai, nggak kok mwehehehe
Seneng banget bisa up juga setelah dua hari sibuk kegiatan di kampus. Sampai ada yang minta episode baru😭huhuhu thank you readers.. Love sekebon deh🤩🤗Dukung terus yak