
SELAMAT MEMBACA
*
*
*
Merasa terintimidasi oleh tatapan Luciana, pria yang dirinya rasa menjadi ketua sekaligus penghianat itu langsung melangkah mundur. Sementara Luciana berjalan mendekat secara perlahan.
Luciana tercengang ketika pria itu menjulurkan pedangnya dengan gesit kearah Luciana membuatnya terkejut dengan posisi yang sedikit dekat. Ruang Luciana untuk menghindar cukup minim.
Keterkejutan nya bertambah ketika ia merasakan pinggangnya ditarik oleh seseorang, memutarnya hingga tubuhnya bergerak begitu saja. Beberapa detik kemudian terdengar suara logam beradu hingga menimbulkan suara khasnya.
Mereka yang disana memekik melihatnya. Luciana membuka matanya dan menatap tangan yang mencengkram pinggang rampinya dengan kuat kemudian mendongak untuk melihat wajahnya. Betapa terkejutnya ketika melihat wajah yang tidak begitu asing baginya. Pria itu adalah Liam.
"Letakkan senjata dan semua pengikutmu Kris, menyerahlah dan bersiap untuk dipenjara karena semua bukti telah aku dapatkan. " ucap Liam datar menodongkan pedangnya.
"Lepaskan tanganmu! " bisik Luciana
"Diamlah, jika aku berpaling pria ini akan pergi begitu saja. " bisiknya pula
"Lepas-"
Para gadis yang melihatnya terpekik gemas, mereka menahan pekikannya saat melihat pangeran Liam terlihat sangat gantle sebagai seorang lelaki. Mereka terpesona. Namun ini bukan saatnya untuk saling mengagumi!
"Tunjukkan dirimu yang sebenarnya tuan Kris! Sebelum pedang ini mengoyak dadamu itu. " ancam Liam
Terlihat pria itu tertawa dan membuka penutup wajahnya, Raja yang melihat itu menatap nya dingin. Dirinya hanya menunggu bukti yang telah putranya bawa.
"Salam pangeran kedua, bukankah anda sedang kabur dari Istana? Cukup terkejut ketika saya melihat anda disini. " ucapnya
"Tidak udah bertele-tele! " tegas Liam
"Kau tau tuan Kris, aku pergi karena ingin mencari bukti kebusukanmu selama ini. "
"Bukti apa yang Anda maksud yang mulia? " ucapnya terkesan menyepelekan
"Tcih! " decih Liam
"Kau yang akan mengaku sendiri atau aku yang akan membongkar semua keburukanmu di depan semua orang? " tawar Liam
"Saya tidak melakukan apapun. " sangkalnya
" Apa bukti yang kau maksud adalah mngkorupsi hasil pajak penduduk ? Menyelundupkan senjata tajam? Menjual pohon dan menebangnya secara liar? Dan Mengambil kas kerajaan untuk prostitusi?? "
Terlihat pria itu membelalak kaget atas pernyataan dari Liam. Begitupun dengan para tamu dan beberapa jajaran.
"Anda terlalu tamak akan uang dan kekayaan tuan Kris. " sinis Liam
"Bahkan anda rela menjual tubuh anda kepada kejahatan dengan menggunakan bantuan roh? Melakukan perjanjian dengan syarat anda harus memberi mereka tubuh manusia dengan jiwa yang berbeda dan istimewa? "
Benar Liam pergi kedalam desa Weissa hingga masuk kedalam hutan untuk memantau keberadaan mereka.Pemburu Liar yang sering merusak lingkungan tanpa tanggung jawab yang jelas. Dan siapa sangka mereka akan muncul dan memberontak karena tidak puas dengan hasil perundingan? Liam sudah menduganya sejak awal. Kepulangannya ke istana sebenarnya hanya untuk melihat saudaranya yang akan mencari jodoh, Liam pergi juga sebenarnya ingin menghindari perjodohan oleh ayahnya. Pergi berkedok melakukan sesuatu namun dibalik itu ia tengah menghindari perjodohan seperti kakanya itu.
Merasa terpojok pria tua itu mengkode anak buahnya.
"Awas Liam! " teriak Luciana
Beruntung refleks pria itu cukup baik hingga pedang itu terpental jauh karena tendangannya. Bawahan pria itu terus menyerang Liam, sementara Luciana bergerak kesana kemari karena Liam belum saja melepaskan tangannya dari pinggang Luciana. Walaupun begitu Luciana membantu Liam menangkis pedang yang berusaha menjangkau keduanya.
__ADS_1
Pria tersangka utama melihat momen itu pun memanfaatkan nya untuk kabur, namun langkahnya terhenti ketika diambang pintu masuklah pasukan prajurit berbondong-bondong masuk kedalam.
"Cukup!! " perintah Raja
Mereka semua telah terkepung, dengan tuan Kris yang sudah diringkus terlebih dahulu oleh para prajurit. Bukannya Raja tidak tau, namun memang dirinya hanya ingin diam dan menyiapkan pasukan dalam skala yang lebih besar. Kehadiran putra keduanya cukup membuatnya terkejut.
"Tuan Kris kau akan dimasukkan kedalam penjara sembari menunggu bukti-bukti untuk memprosesnya kedalam hukuman yang lebih lanjut. " ucap Raja Erland
"Kau tidak bisa bertindak seperti ini, hanya karena putramu!! Dia hanya membual!! " teriaknya
"Tinggal mengaku saja, sudah tertangkap basah masih saja menyangkal. " ucap
"Tangkap semuanya dan bawa kedalam penjara! " perintahnya pada prajurit
Shutt!
Panah meluncur dengan mulus mengarah kearah Raja Erland membuat Luciana langsung berlari dan berusaha untuk menangkis nya, hingga panah itu tidak mengenai Raja namun justru menggores pipinya hingga kain penutup wajahnya terlepas.
Luciana menunduk berusaha menghalau orang untuk melihat wajahnya.
"Sial." decak Luciana
Terlihat semua orang menatap kearah Luciana seolah penasaran seperti apa wajah yang telah menyelamatkan mereka dari kematian. Bagaimanapun diserang dalam ruanga seperti ini dengan kondisi banyak orang akan sangat merepotkan.
"Tunjukkan wajahmu nona. " perintah Pangeran Leatan
"Kami ingin melihat seperti apa wajah yang telah menolong kami, walapun hanya seorang pelay-" perkataan pangeran Leatan terhenti ketika Luciana mendongakkan kepalanya.
Putri Arabella dan Raja Gilbert yang melihat wajah dibalik kain itu terkejut seketika.
"Siapa namamu? " tanya Raja Erland
"Putri Luciana? " Raja Erland menatap ayah Luciana seolah meminta penjelasan.
"Ya dia anakku, Putri Luciana . " ucapnya
"Put-"
"Maaf yang mulia saya harus pergi. " Luciana mengambil kembali cadarnya yang terbang dan berjalan cepat keluar.
Sementara ada satu orang lagi yang tengah terkejut hingga matanya mengabur menahan air mata. Dia terkejut ternyata pelayan yang sering ia datangi hingga merasa nyaman ternyata adalah... Tidak ini kebetulan yang sangat luar biasa.
"Yang Mulai ingin saya mencari pasangan disini bukan? " tanya pangeran Leatan berdiri dari duduknya
"Aku memilih putri Luciana sebagai pasanganku. "
Perkataan itu membuat langkah kaki Luciana terhenti diambang pintu. Tidak hanya para tamu yang terkejut bahkan para gadis banyak yang tidak percaya akan pernyataan Pangeran Leatan. Begitu juga dengan putri Arabella yang mengepalkan tangannya menatap tajam kearah punggung Luciana.
Luciana berbalik badan, "Saya tolak. " balasnya langsung
"Kau tidak bisa menolaknya, karena perjanjian kita waktu di hutan itu. "
"Perjanjian? "
"Ya, jika kita bertemu lagi maka aku akan menikahimu atas pertanggungjawabanmu yang telah menelanj-"
"Jangan bicara omong kosong, pangeran! " tegas Luciana
"Tapi ,kau tidak bisa menolaknya. "
__ADS_1
"Aku akan mengadakan sesi pengikatan satu sama lain seminggu set-"
"Tidak bisa. " potong Liam
Semua orang kembali memfokuskan pandangannya kearah pangeran kedua yang masih berdiri disana memegang pedangnya.
"Apa maksud mu Liam? " tanya Leatan
"Ah maksud ku kau tidak bisa menunjuk putri Luciana sebagai pasanganmu karena dia tidak berada di dalam daftar para gadis. " jelas Liam santai
"Liam benar. " sahut ibundanya
Dalam hati Liam tersenyum puas saat alasan yang ia lontarkan dibenarkan langsung oleh ibunya.
Aurora meringis ketika angin berhembus dan mengelus pipinya yang tergores pedang. Ini sangat perih seperti terkena es.
"Lexiaa kau tidak apa-apa? " Lady Sefja berlari kearah Luciana dengan raut khawatir. Dirinya sudah tau bahwa Lexiaa adalah seorang putri ketika Luciana menyewa kartu Identitas nya.
"Kalian semuanya boleh kembali, acara sudah selesai.. " perintah dari tangan kanan Raja Erland
"Bisa dilanjutkan dengan acara makan siang di ruangan sebelah, para pelayan akan mengantarkan anda, terimakasih atas kunjungannya. "
Kerumunan gadis disana berdecak kesal namun tidak urung mereka keluar dari ruangan. Meninggalkan beberapa orang yang bersangkutan saja. Putri Arabella pun enggan beranjak dan masih berdiri di tempat.
"Maaf atas ketidaknyamanannya. " ucap Raja Erland kepada Raja Gilbert
"Tidak masalah, hanya perlu pengawalan lebih ketat. " koreksinya yang dibalas anggukan setuju oleh Raja Erland.
"Perlu aku obati? " tawar Lady Sefia
"Tid-"
"Luciana." suara halus nanti lembut itu mengalun indah di telinganya, Luciana tersenyum kearah Lady Dellia yang tengah berjalan kearahnya.
"Anakku.. "
Deg
"Maaf? " tanya Luciana
Bukannya menjawab Lady Dellia justru meraba wajah Luciana dengan tangan bergetar, ia seperti tidak menyangka bahwa mereka akan bertemu, berarti selama ini rasa nyaman itu memang benar adanya.
"Lady? "
Grep!
"Luciana anakku.. " tangisnya memeluk Luciana
Tubuh Luciana terdiam kaku. Tidak bergerak seinci pun.
Lady Dellia menangis di pelukan Luciana. Raja Gilbert yang mendengar suara itu sontak terdiam bagai patung. Begitupun yang lain yang hanya diam menyaksikan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Adellia apa itu kau? " lirih Raja Gilbert
_____________________________
Hayo👀Tinggalkan jejak, awas kalau enggak, pitees nih!
Next or no?
__ADS_1