
...SELAMAT MEMBACA!...
...*...
...*...
...*...
Keesokan paginya, terdapat seorang gadis yang tengah membersihkan belatinya di aliran sungai yang tidak cukup deras. Gadis yang menatap ke depan dengan pikiran berkecamuk.
"Apa yang sedang kau lakukan disini?? " tanya Liam
"Membersihkan belati kesayanganku. " jawab Luciana singkat
"Berhati-hatilah, jangan sampai tercebur. " peringatnya
Luciana hanya mengangguk, namun pandangan nya masih menatap aliran air disana. Dirinya telah pergi dari Kerajaan selama 3 hari, namun belum menemukan siapapun yang tengah ia cari. Dalam benaknya terbesit pertanyaan, apakah benar ibu dan kembaran Luciana tengah diasingkan??
"Aku akan membunuh orang yang memberiku berita hoax. " gumam Luciana
Bukan tanpa sebab ia berbicara seperti itu, ia merasa apa yang tersebar dalam seluruh wilayah kerajaan adalah berita yang tidak benar. Mungkin ada satu orang yang mengetahuinya, selain raja.
"Melamunkan sesuatu? " tanya Liam mendudukkan dirinya disamping Luciana.
"Kenapa kau memakai cadar? Cadar itu tidak bisa menutupi kecantikanmu, lepas saja. " ucap Liam menatap wajah Luciana dari samping.
"Jangan memerintahku."
"Baiklah, lalu kenapa kau ingin pergi ke pedalaman hutan Eleusis?? " tanyanya penasaran
Luciana menatap lelaki itu dengan intens, menyipitkan matanya seolah tengah mengamati sesuatu.
"Jangan menatapku seperti itu! " tegur Liam merasa risih dan salah tingkah.
Bagaimanapun tatapan mata Luciana memang tajam dan penuh makna misterius. Ibaratnya semakin kau menatapnya semakin tersedot seluruh jiwamu kedalamnya.
"Aku tengah mencari seseorang yang sangat berharga. " jawab Luciana
"Siapa? "
"Kekasih? " tanya Liam
"Apa aku terlihat seperti wanita yang menyukai hal romansa seperti itu Liam? " tanya Luciana sinis
"Tidak juga. Menurutku kau wanita yang tangguh dan anti hal seperti itu, namun siapa yang tau?? "
"Aku tidak mempunyai kekasih dan tidak ada waktu untuk melakukan hal menjijikkan seperti itu. " ujar Luciana keras
"Hati manusia itu penuh misterius, Lexia. " ucap Liam tersenyum penuh arti
Luciana menatap senyuman itu dengan pandangan kosong, senyuman itu seperti senyuman yang sering kali Rei perlihatkan padanya. Tidak! Lelaki itu sekarang pasti tengah membalaskan dendamku pada orang yang membunuhku.
"Jangan melamun. " tergur Liam
"Liam." panggil Luciana
"Ya."
"Kau tau dunia seperti apa yang tengah kita tempati sekarang? Maksudku kenapa bisa ada kejadian seperti tadi? "
"Dan... Apakah manusia itu adalah vampir? " tanya Luciana penasaran
Bukannya menjawab pria itu justru tertawa saat mendengar pertanyaan dari Luciana.
"Kenapa kau tertawa! "
__ADS_1
"Pertanyaan mu seperti orang yang baru saja keluar dari dalam gua setelah lama tertidur. " tawanya
"Aku serius Liam!! " sentak Luciana
"Baiklah... "
"Berapa umurmu? " tanya Liam
"Umur? " pikir Luciana
Berapa umur Luciana?? Astaga Lexia tidak tahu. Namun dilihat dari penampilan dan bentuk tubuhnya sepertinya Luciana baru saja berumur 19an tahun. Jika Lexia sendiri memang sudah tua yaitu berumur 25tahun.Selama itu juga Lexia belum pernah menikah dan akhirnya mati dengan kondisi lajang, miris bukan.
"Jangan bilang kau tidak tahu berapa umurmu sendiri?? " tebak Liam
"Aku lupa. "
"Sudah diduga, kau memang gadis yang aneh. Tapi menurutku kau em... sepertinya baru saja berumur 18 tahunan. Hanya menebak. " ujar Liam
"Yasudah anggap saja begitu. " ucap Luciana
"Cepat beritahu dunia apa ini! " tuntut Luciana tidak sabaran.
"Astaga.. ini hanya dunia manusia seperti pada umumnya, Lexia. " ujar Liam
"Jika begitu kenapa ada kejadian seperti tadi??"
"Dia hanya roh yang kelaparan, menyesap darah manusia sebanyak-banyaknya untuk membangkitkan kembali raganya. " jelas Liam
"Jadi bukan vampir? "
"Jelas bukan, Lexia! Sama seperti makhluk yang lainnya, manusia akan mati dan rohnya pasti akan keluar dari dalam raga, roh yang belum menerima kematiannya jelas terbesit keinginan untuk hidup kembali. Baru-baru ini mereka sudah tidak terlihat, namun mereka banyak berada di dalam hutan dan hanya keluar ketika mereka mencium darah manusia yang penuh energi. " jelasnya lagi
"Dan....Darahmu sepertinya berhasil memancing mereka keluar. " sambung Liam menatap Luciana dengan ekspresi serius.
"Bukan hanya dongeng namun memang ada. " imbuh Liam
"Darah dengan tubuh kosong yang ditempati jiwa yang berbeda, mereka menyukai hal seperti itu. " ucap Liam menatap Luciana penuh selidik.
Pernyataan dari Liam membuat tubuh Luciana terdiam. Apa Liam tengah mencurigainya?
"Ke-kenapa kau menatapku seperti itu hah?! " sentak Luciana, tiba-tiba tubuhnya berkeringat dingin.
"Bukan apa-apa, mungkin darahmu itu manis sehingga mereka menyukainya. " tawa Liam
Luciana tersenyum tipis, Liam , pria itu pasti mencurigainya. Namun, Luciana membiarkannya saja.Biarkan pria itu penasaran dengannya. Itu bukan sesuatu yang merugikan.
Keduanya kembali melanjutkan perjalanan. Sampailah mereka di sebuah tempat dimana terdapat tanaman rambat menutupi sebuah dinding.
"Kenapa ada tanaman rambat sebanyak ini dihutan? " ucap Luciana
"Pinjamkan pedang mu! " ucap Luciana
"Untuk? " tanya Liam
"Cepat berikan! "
Liam memberikan pedangnya yang selalu terselip dibelakang punggungnya, seperti seseorang membawa anak panah. Namun Liam membawa sebilah pedang dengan wadah silver.
Luciana membabat sebagian tanaman rambat itu , tidak lupa menyerahkan kembali pedang itu kepada pemiliknya. Luciana menatap dinding sepanjang dan seluas tanaman rambat itu.
Meraba, seperti yang pernah ia alami, penjahat kelas dunia pasti akan menyimpan sesuatu rahasia di balik sebuah dinding. Orang awam tidak akan mengetahuinya, namun Luciana tau bagaimana cara mencarinya.
"Itu hanya dinding. " komentar Liam
Luciana sibuk meraba-raba dinding berlumut itu.
__ADS_1
Crak!
Luciana tersenyum miring saat telapak tangannya menyentuh permukaan kasar dan menonjol itu. Ia mendorong nya namun tidak bisa. Menarik pun tidak bisa.
"Apa yang sedang kau lakukan?? " tanya Liam lagi, dirinya bingung saat memperhatikan tingkah gadis itu.
"Tidak bisa. " gumam Luciana
"Itu hanya dinding biasa, bukan sebuah pintu ya-"
Ctak!
Berhasil!
Luciana tersenyum senang saat melihat dinding itu menampilkan sebuah pintu kecil yang hanya muat untuk satu orang saja. Itupun hanya bisa dilalui oleh orang yang bertubuh langsing. Bukan mengejek namun emang itu kenyataannya.
Liam terdiam terkejut melihatnya, bisa dikatakan hampir sering ia memasuki hutan ini namun tidak menemukan pintu seperti ini. Liam hanya melewatinya saja dan menganggap dinding berlumut tanaman rambat itu hanya dinding biasa. Namun ternyata tidak, gadis itu telah menemukan pintu rahasia.
"Tunggu! "
Cegah Liam saat Luciana hendak masuk kedalam dan bersiap melipat gaun sederhana nya.
"Apa? "
"Biarkan aku yang mengeceknya terlebih dahulu, kemudian jika aman kau baru memasukinya. " ujar Liam
Luciana mengangguk setuju membiarkan pria itu masuk terlebih dahulu. Menunggu tidak lama kemudian Liam menyuruh Luciana untuk masuk tidak lupa menutup pintu itu dengan tanaman rambat yang lain.
Luciana tercengang saat melihat sebuah rumah berbentuk vila kecil yang terlihat kusam namun masih berdiri dengan kokohnya.
Diseberang danau kecil ini, terlihat sebuah bangunan kecil. Luciana berjalan mendekati danau itu. Bagaimana cara dirinya sampai diseberang sana?
"Bagaimana kita menyebrangi danau kecil ini?
"Disana ada perahu kecil, kita bisa menggunakan nya. " ujar Liam menunjuk perahu yang terlihat masih bisa dipakai.
Liam, lelaki itu memejamkan matanya sejenak, kemudian terlihat seperti orang panik.
"Maaf Lexia. Aku harus pergi. "
"Ada apa? "
"Apa kau tidak apa-apa aku tinggal seorang diri? " tanya Liam gelisah
"Pergilah, aku baik-baik saja. " ucap Luciana
"Kau serius? "
"Ya."
Liam menghela napas kasar, " Baiklah, sepertinya tempat ini aman dan tersembunyi, aku akan kembali kesini setelah urusanku selesai, tolong jangan keluar sebelum aku datang. " pintanya
"Terserah kau saja, tidak kembali juga tidak apa-apa." sahut Luciana yang tengah membenarkan posisi perahu kecil itu.
Setelah izin karena ada urusan mendadak pria itu pergi. Namun sebelum itu, ia sempat memberikan Luciana sebuah bandul berbentuk burung merpati putih kepadanya. Pria itu bilang sebagai tanda persahabatan. Luciana menerimanya dengan senang hati.
...To be continued... ...
...WAJIB TINGGALKAN JEJAK JIKA INGIN MEMBACA NEXT CHAPTER...
__ADS_1