
SELAMAT MEMBACA
*
*
*
"Lady? "
Grep!
"Luciana anakku.. " tangisnya memeluk Luciana
Tubuh Luciana terdiam kaku. Tidak bergerak seinci pun.
Lady Dellia menangis di pelukan Luciana. Raja Gilbert yang mendengar suara itu sontak terdiam bagai patung. Begitupun yang lain yang hanya diam menyaksikan tidak tahu apa yang terjadi.
"Adellia apa itu kau? " lirih Raja Gilbert
"Ya." angguknya menatap suaminya dengan pandangan datar.
Ratu Aillen membelalak kaget. Tidak hanya itu mereka semua yang berada disana juga sama kagetnya. Terlebih ratu Aillen yang sangat tidak menyangka bahwa yang selama ini melayaninya adalah mantan ratu dari kerajaan Aqualiors. Sungguh dirinya tidak percaya. Dari segi penampilan dan perilakunya sangatlah berbeda dengan ratu Adellia belasan tahun yang lalu.
Sekarang Luciana sudah menginjak umur 18tahun, selama itu.
Bahkan walaupun sudah menginjak umur hampir 40tahun Lady Adellia masih tampak seperti seorang gadis puluhan tahun? Sungguh di luar dugaan. Ratu Aillen sendiri saja sudah mulai kesusahan mengontrol kulitnya yang semakin mengeriput dan kendur, walaupun belum terlalu terlihat, namun jika dibandingkan dengan Lady Dellia itu akan sangat kontras.
Itu alasan bahkan suaminya sendiri saja tidak bisa menyangkalnya, bahwa ia tidak mengenalinya walaupun pasti sempat bertelepati melalui hati, namun pikiran pasti akan tidak sejalan dan terus menyangkalnya.
Raja saja tidak mengenalinya bagaimana dengan Luciana yang tidak pernah melihatnya sedari kecil? Namun memang, telepati seorang ibu dan anak tidak akan bisa diragukan lagi.
"Lady ka-"
"Tidak, panggil ibu sayang. " pintanya mengelus pipi Luciana dengan senyuman yang begitu tulus.
"Aku ingin memastikan sesuatu. "
Kini mereka berada di ruangan yang lebih privat lagi, hanya keluarga kerajaan yang bisa memasukinya. Putri Arabella sempat ingin gabung namun tidak bisa karena dirinya sudah disuruh pulang oleh Ratu Adriana melalui pengawalnya.
"Anda awet muda sekali. " puji Ratu Aillen
"Terimakasih yang mulia. "
"Lalu setelah ini kau akan kembali ke kerajaan Aqualiors? " tanya ratu Aillen
Terlihat Lady Adellia menggelengkan kepalanya, " saya sudah diusir dari sana , tidak sepantasnya kembali begitu saja. Lagipula saya sudah terikat kontrak dengan Anda yang mulia, sebagai penasehat sekaligus tangan kanan saya tidak bisa meninggalkan begitu saja tugas saya. " ucapnya terlihat begitu tenang dan tegas.
Luciana masih saja diam. Dirinya belum sepenuhnya tersadar. Walaupun sebelumnya beliau telah menjelaskannya.
Bahwa selama di istana dingin yang entah dimana tempatnya, beliau terlihat bosan dan tepat tiga belas tahun setelah lama berada di sana ia akhirnya bertekad untuk keluar. Mencari dan menelusuri setiap hutan untuk kembali keperadaban dimana manusia saling berinteraksi satu sama lain. Sampailah suatu saat dirinya menemukan ratu Aillen tengah dikejar oleh sekawanan pemberontakan hingga tersesat kedalam hutan seorang diri. Lady Adellia pun membantu nya untuk bersembunyi hingga terbebas dari sekelompok orang jahat itu. Ya karena berutang nyawa, ratu Aillen akhirnya mengangkatnya sebagai penasehat sekaligus angkatannya hingga sekarang.
Cukup beruntung karena ratu Aillen yang waktu itu baru saja beranjak 22 tahun dan sudah menjadi seorang ratu pun tidak mengenalinya karena dirinya tengah tidak memakai riasan sehingga wajahnya terlihat bersih polos.
"Apa kau serius? Anakmu jauh lebih membutuhkanmu. " ucap Ratu Aillen
"Saya rasa mereka sudah menjadi pribadi yang tangguh dan cantik. "
__ADS_1
Perkataan itu diangguki sepontan oleh Pangeran Liam. Luciana menatap pria itu dengan datar kemudian menendang kakinya agar berhenti mengangguk.
"Perempuan tidak boleh kasar. " ucap Liam yang mendapat pelototan olehnya.
Luciana bangkit dari duduknya untuk mendapatkan aliansi lebih luas, " Jika benar anda ibu saya, apa yang dapat anda berikan kepada saya sebagai bukti. " tuntutnya
"Kalung yang kau kenakan itu terdapat tiga potongan, untukku, untukmu dan untuk adik kembarmj. " jelasnya sambil mengeluarkan kalung yang dirinya pakai.
Benar, Luciana sempat bertanya-tanya soal kalung yang waktu dirinya bangun dan berada di dunia ini, ia juga sempat melihat milik Lauren, sekarang ia dapat melihat milik Lady Adellia.
"Adik? " ulang ratu Aillen
"Ya, Luciana memiliki adik kembar bernama Lauren. "
"Lalu kenapa tidak bersamamu? "
"Sebaiknya anda melontarkan pertanyaan itu kepada yang mulia raja Gilbert. " sahut Luciana
Semuanha sontak menatap raja Gilbert yang sedari tadi hanya diam tidak berkomentar.
"Dia diasingkan. " ucapnya datar namun di balik itu terdengar suara bergetar.
"Apa kau gila?!! Dia anak kita, bagai bisa kau asingkan begitu saja! Apa salahnya! " geram Lady Adellia
"Kau selingkuh dan melahirkan anak cacat sepertinya. "
"Aku tidak selingkuh!! Dan tidak akan pernah melak nya! " tegasnya
"Dia cacat, aku mengasingkan nya untuk menjaga nama baik kerajaan. " ucapnya datar
"KAU TIDAK PUNYA HATI!! " teriak Lady Adellia yang merasa tidak terima anaknyaa diperlakukan seperti itu.
Dirinya menerima jika harus dikirim ke istana dingin, difitnah, dan dicaci namun tidak dengan darah dagingnya. Ibu mana yang tidak marah ketika mendengar Ayah anaknya sendiri berkata seperti ini!
"Aku rela diasingkan dan menitipkan semua anakku padamu dengan syarat kalian merawatnya dengan baik, tapi kau justru mengasingkan nya??" tanya Lady Adellia bergetar disertai isakan
"BAJINGAN KAU GILBERT!! "
Luciana yang juga merasa geram dengan jawaban dari ayahnya itu pun hendak bangkit melayangkan sebuah pukulan, namun terhenti ketika tangannya ditahan oleh Liam menyuruhnya untuk tetap duduk.
"Lepaskan! Aku ingin memukul wajah pria bajingan itu. " geram Luciana
"Pria yang kau katakan bajingan itu juga ayahmu, apa kau lupa? " ujar Liam
"Persetan dengan itu! "
Pangeran Leatan yang melihat kedekatan antara keduanya hanya bisa diam tanpa ekspresi. Walaupun dalam pikirannya bertanya-tanya ada hubungan apa antara keduanya, hingga saling berbisik dan berpegangan tangan disaat seperti ini.
Jelas itu adalah salah paham, keduanya tidak seperti itu, mereka bahkan tengah debat satu sama lain.
"Dia hanyalah anak cacat tidak pantas untuk tinggal di area istana. " ucap raja Gilbert
"Dia anakmu!! "
"Dia bukan anakku. "
Perkataan itu jas sangat menohok hati Luciana sebagai seorang kembaran dari Lauren, jika Lauren mendengarnya bisa dibayangkan bagaimana sakit hatinya.
__ADS_1
Raja Gilbert berdiri dari duduknya dan berdehem, "Maaf telah membawahi persoalan keluarga disini dan sampai membuat keributan."
"Tidak masalah, mari saya antar kedepan. " ujar raja Erland mempersilahkan keluar.
"Yang mulia terhormat raja Gilbert, anda terlalu naif dan mudah dikendalikan oleh orang itu. Bahkan menjunjung kebenaran saja anda tidak berani, apa kah itu pantas dikatakan sebagai seorang raja? "
Perkataan Luciana ditujukan kepada ayahnya namun ternyata raja Erland juga merasa tersindir akan hal itu.
"Jaga ucapanmu Luciana! " peringatnya
"Sebaiknya kita pergi dari sini, biarkan para wanita mencurahkan isi hatinya, kita sebagai pria hanya bisa memberikan ruang untuk mereka. " ucap raja Erland
"Kau ingin berada disini Leatan,Liam? "
"Aku masih ingin disini. " kedua pria itu menjawabnya secara bersamaan.
Ratu Aillen yang tengah menenangkan Lady Adellia pun tersenyum penuh arti.
"Bukankah kau ada pelatihan berpedang saat ini? " peringat raja Erland
"Ah benar. " Leatan segera bangkit dari duduknya.
"Dan kau Liam apa kau ingin tetap disini dan dikelilingi oleh para wanita? "
"Ayah tau, aku tengah bosan dan ingin mengajak Luciana untuk mengobrol. " ucap Liam
"Kenapa membawa-bawa namaku! " geram Luciana
"Baiklah terserah kau saja. "
Ketiganya pergi dari ruangan, menyisakan Luciana, ratu Aillen, Pangeran Liam dan Lady Adellia.
"Ibu tenang saja, aku akan membalas semua perbuatan ayah pada kita dan juga memberikan hukuman mati kepada wanita ular itu. " ucap Luciana
"Ibu memang membenci sikap ayahmu, namun tidak baik menyimpan dendam, bairakan waktu yang akan menjawabnya.. " nasehatnya
Luciana hanya mengangguk tak acuh, tidak mempan dengan nasehat ibu Luciana. Karena memang sejak awal dirinya datang kesini memang untuk membunuh wanita jal*ng itu bersama para pengikutnya.
Luciana juga merasa sedikit lega ketika bisa menemukan ibu Luciana dalam keadaan sangat baik. Dirmah juga menghargai keputusan ibunya yang akan tetap tinggal disini. Itu jauh lebih baik daripada kembali ke istana dan bertemu dengannya.
Sembari menunggu semua bukti terkumpul, memang lebih baik seperti ini. Luciana ingin bermain dengan aman dengan memastikan orang yang Luciana sayangi tetap dalam posisi aman.
Eksekusi?
Hahah.. Bagaimana jika mengoyak dada besar wanita itu dan mengeluarkan semua isinya? Membuatnya menjerit kesakitan karena disiram air keras? Atau hanya hukuman penggal tanpa menimbulkan rasa sakit?
"Sore ini aku harus pergi ibu. " izin Luciana
"Kau mau kemana??" tanyanya sedikit tidak rela karena waktu yang begitu singkat
"Aku harus menjemput Lauren, Luci sudah menemukan keberadaan Lauren.. "
_________________________
Anyeong👀Tinggalkan jejak heh! Jangan baca doang👀cape tau ngetik hanya untuk readers tercintah.. kwkwkw
See you>
__ADS_1