BAD PRINCESS OF AQUALIORS

BAD PRINCESS OF AQUALIORS
Bab 6 : Mau Menghukumku?


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA!...


...*...


...*...


...*...


"Yang mulia tolong buka pintu nya!! " teriak pelayan Elis sambil mengetuk pintu kamarnya dengan tergesa-gesa.


"Ada apa? "


" Yang mulia raja memanggil Anda , tuan putri , dan anda harus segera kesana. " nada cemas suara pelayanan Elis begitu terdengar jelas .


Suara langkah mondar - mandir dari pelayanan Elis membuat Luciana memutar matanya malas .


Paginya yang damai ternyata tidak bertahan lama,diluar kediaman terdengar beberapa suara baik pelayanan maupun prajurit yang berisik, membuat Luciana jengkel.


"Lalu ? Apa aku harus datang ? " tanya Luciana tak minat,perhatiannya jatuh pada kebun mawar di halaman depan .


Pelayan Elis rasanya ingin menghilang saja dari dunia jika putri Luciana berniat untuk tidak mengindahkan perintah raja .


"Jika Anda tidak datang , hukuman Anda akan lebih berat yang mulia , " Luciana menoleh ke belakang , ekspresinya masih sama .


Terlihat tidak begitu tertarik .


"Menghukumku? Memangnya aku melakukan apa? " ucap Luciana bingung, ia merasa tidak melakukan hal kriminal sampai harus dihukum.


"Aishh.. " hela napas dari pelayan Elis, kenapa sangat sulit membujuk tuan putrinya ini.


" Ayo yang mulia , kita harus cepat ! Setidaknya hukuman Anda tidak akan ditambah , " langsung saja pelayan Elis menggandeng tangan kiri Luciana.


Untung saja putri Luciana tak melawan , memudahkan pelayan Elis untuk membawanya .


Baru saja mereka keluar dari kediaman Bulan, ia langsung disambut oleh ratu Adriana dan sosok gadis yang asing baginya, namun ia tau dia adalah putri Arabella yang didampingi tiga orang prajurit datang menghambur di halaman .


"Yang mulia Ratu, semoga anda selalu diberikan keberkahan. " hormat pelayan Elis


Pelayan Elis mencolek tangan Luciana agar melakukan hal yang sama dengan apa yang ia lakukan, namun Luciana tak merespon. Gadis itu masih saja diam.


"Maafkan putri Luciana yang mulia, kaki nona sedang sakit sehingga sulit untuk membungkuk. " hormat pelayan Elis atas kesalahan dari Luciana.


Elis tidak ingin putri nya terkena masalah, hanya kerana tidak memberikan penghormatan.


"Baiklah, tidak masalah. " ujar Ratu Adriana


"Apa kau bisa berjalan putri? Raja sudah menunggu anda disana, jangan sampai membuat raja menunggu lama. " ucap Ratu Adriana tersenyum manis.


Itu bukan sekedar senyum biasa, namun senyum dengan dibumbui kelicikan  disana.


Putri yang berdiri samping belakang ratu Adriana merasa jengkel saat melihat raut wajah Luciana yang terkesan angkuh dan menyepelekan. Bagaimana bisa perempuan bodoh itu bersikap layaknya penguasa.


"Apa kau tuli wahai putri bodoh??! Ratu bertanya padamu kenapa kau tak menjawabnya! " geram putri Arabella


Luciana yang tadinya menatap lurus kedepan dengan ekspresi datar kini memandang kearah dua wanita didepannya dengan tenang.

__ADS_1


"Kalian berbicara padaku?? " tanya Luciana mengangkat alisnya.


"Kau!! " geram putri Arabella


"Bukankah katamu aku sudah ditunggu oleh raja? Kenapa kalian justru menghalangi jalanku?? " sarkas Luciana


Tanpa menunggu jawaban dari keduanya, Luciana menggandeng tangan pelayan Elis dan melenggang pergi dari sana. Tindakan itu sontak membuat Ratu Arabella mengepalkan tangan nya menahan emosi.


"Ibu lihat kelakuannya, dia sangat sombong! " tajuknya


"Kita akan membalasnya nanti . "


"Tapi bu.. "


"Diam! Ibu sudah ada rencana dan jangan banyak merengek. " tegas Ratu Adriana


Keduanya bebalik untuk menuju tempat persidangan berlangsung. Mereka tidak boleh terlambat terlalu lama hanya karena gadis sial*n itu.


Luciana berjalan didampingi pelayan Elis, tepat di depan pintu aula ia langsung disambut dengan banyaknya orang disana. Seolah mereka tengah menunggunya sedari tadi.



"Saya hanya bisa mengantar anda sampai sini. Tolong berbuatlah sebaik mungkin agar anda tidak dihukum. " pinta pelayan Elis.


"Kau tenang saja. "


Luciana memasuki Aula dengan tatapan datar , setiap langkahnya semua orang terus menatapnya . Sesampainya di depan singgasana, Luciana menghentikan langkahnya.


"Ada apa? "


"Dimana sopan santunmu putri Luciana? "


Suara itu berasal dari Ratu Adriana yang tengah berjalan menuju singgasananya.


"Nenek reot itu sangat menjengkelkan. " gerutu Luciana


"Kalian memanggilku karena ingin menghukumku bukan ? Maka lakukanlah."


Sontak ucapan itu kembali membuat semua orang disana terkejut . Lebih - lebih Raja Gilbert, ia kira Luciana akan memohon - mohon padanya . Itu salah besar , Luciana tidak akan memohon selama ia bisa menangani semuanya .


"Namun, sebelum kalian menghukumku, jelaskan terlebih dahulu apa alasannya. Tidak mungkin kalian  menghukum seseorang tanpa alasan bukan? "


Luciana menatap sinis Ratu Adriana, kemudian memandang raja Gilbert, pangeran Albert, putri Arabella dan Pangeran Altar. Terakhir ia menatap wanita yang duduk diujung singgasana yang tengah menggendong seorang bayi laki-laki yang sepertinya baru berumur 10bulan. Dia adalah selir Desiana.


Terlihat beliau menatap kearah Luciana dengan tampang khawatir.


"Dia selir yang dekat dengan Luciana, khusus untuknya aku akan berbuat baik. "batin Luciana


Dimana Emillio?


"Kau telah berbuat kekacauan serta menyakiti seorang pelayan, tidak melakukan hormat kepada Raja dan Ratu, berperilaku angkuh layaknya preman. Apa itu cukup Putri Luciana? " ucap Ratu Adriana tersenyum sedih.


"Kau mengakuinya? " tanya raja Gilbert


"Aku mengakuinya. Jadi segeralah berikan aku hukuman."

__ADS_1


"Menarik. " Pangeran Altar tersenyum licik melihat keberanian Luciana.


Rencana licik sudah tersusun di otaknya.


wanita itu sangat cantik dan seksi.. pikir pangeran Altar


Dengan telunjuknya Luciana memanggil seorang prajurit yang menenteng sepotong kayu pemukul . Jangan berpikir jika Luciana akan menerima hukuman itu , tentu saja ia akan melawan .


"Apa yang kau tunggu ? " tanya Luciana yang sudah memasang kuda - kuda . Kedua tangannya berada di depan dada siap untuk menyerang dan menangkis lawan .


"Apa yang kau lakukan. " seru raja Gilbert yang mulai geram dengan tingkah aneh Luciana.


"Apa kalian pikir aku akan diam dan menerima semua ini?! Tcih ... Simpan saja harapan itu ! " Luciana langsung menerjang prajurit yang berdiri mematung di depannya . Kayu panjang yang di tenteng oleh prajurit itu melayang jauh akibat tendangan keras Luciana .


"Cukup. Hentikan !!! " perintah raja Gilbert lantang


"Aku tidak akan mentolerir sikapmu ini, putri Luciana! Prajurit !!! Bawa putri Luciana dan kurung di penjara bawah tanah sampai dia mengakui dan menyesali kesalahan nya! " putus raja murka.


Langsung saja dua orang prajurit datang menyergap dan menahan kedua tangan Luciana untuk membawanya sesuai perintah.


Pelayan Elis yang melihatnya langsung berlari bersujud di hadapan raja, " Ma-maafkan putri hamba yang mulia! tolong jangan penjarakan putri Luciana, saya mohon yang mulia.. "


"Untuk apa kau memohon? Mereka semua sudah dibutakan oleh kebohongan. " sahut Luciana datar


"Putri... "lirih pelayan  Elis


Melihat tampang kasihan dari Elis membuat Luciana merasa tak enak, " Kau tenang saja, aku akan baik-baik saja... "


Semua orang yang berada disana hanya diam menatap sang majikan dengan pelayan yang tengah berbicara disana.


"Yang mulia saya memiliki saran untuk anda, bagaimana jika putri Luciana kita kirim bersama putri Lauren?? Mereka tidak akan menginjak daerah kerajaan lagi yang mulia.. " ucap pejabat keuangan.


"Tidak." tolak Raja Gilbert membuat pria tua tadi memberenggut, namun tetap menunjukan senyumannya.


"Jawab pertanyaanku, dimana adikku?? " tanya Luciana sedikit bergetar.


"Prajurit cepat bawa dia dari sini!! " perintah sang Raja.


Dengan sedikit paksaan kedua Prajurit itu menyeret Luciana agar keluar dari aula.


"TIDAK SEBELUM ANDA MEMBERITAHU KEBERADAAN NYA!!!" teriak Luciana meronta.


"Bajingan! Dimana kalian menyembunyikan adikku!! "


Teriakan Luciana semakin meredup dengan  sudah tidak terlihatnya tubuhnya yang sudah keluar sepenuhnya dari ruangan.


Ratu Adriana tersenyum penuh kemenangan.


"Seorang anak kecil berusaha menyingkirkanku?? Hahaha... mengurus dirinya sendiri saja masih tidak becus. " batin Ratu Adriana.


Pangeran Albert menatap kepergian Luciana dengan tatapan sulit diartikan. Pecundang ya itu kata yang pantas untuk nya.


...To be continued........


...TINGGALKAN JEJAK 😉...

__ADS_1


__ADS_2