
...SELAMAT MEMBACA!...
...*...
...*...
...*...
"Kau ingin dihukum tenyata! " geram Leatan
"Tidak tunggu! "
"Maafkan kelancangan hamba yang mulia putra mahkota, hamba hanya pelayan baru, maaf tidak mengenali anda. " hormat Luciana
"Saya harus pergi untuk mencuci jubah ini. "
Luciana segera berjalan cepat keluar dari ruangan terkutuk itu. Biarkan dikatakan sembrono atau apalah yang terpenting jubahnya telah kembali kepada pemiliknya.
Sementara Pangeran Leatan menatap kepergian Luciana dengan ekspresi datarnya.
"Hey kau!! Ke sini cepat!! " teriak seseorang
"Ada apa? " tanya Luciana datar
"Bantu kami membawa makanan ini kedalam sel penjara! Oh tunggu, bukankah itu jubah pangeran Leatan kenapa bisa ada padamu heh! " tanyanya sambil melotot
"Mencuci nya. "
"Kau akan mencuci nya? "
'"Ya."
"Biar aku saja!! Kau antarkan makanan ini kedalam sel penjara! " perintah pelayan senior itu dengan langsung merebut jubah itu begitu saja.
Sementara Luciana kedua tangannya memegang mangkok makanan membuat dirinya tidak bisa melawan. Luciana hanya bisa menggerakkan giginya hingga bergemelatuk saking kesal dan geramnya. Pelayan pun ada senioritas?? Bedebah!!
"Inginku menebas lehernya. "
Dengan terpaksa Luciana berjalan menuju sel yang dimaksud. Bertanya pada penjaga dan mengarahkannya dengan mudah menuju sel penjara untuk tempat menunggu peradilan. Penjara disini masih cukup baik karena hanya sementara sebelum mereka diberikan sebuah sanksi di pengadilan dengan dihadiri raja. Keputusan mutlak berada ditangan seorang raja.
Luciana memberikan makanan itu pada dua orang yang berada di sel penjara. Mereka terpisah dengan sel yang berbeda.
"Psttt.. " panggil Luciana
"Apa? " ucap pemuda bernama Will itu, ia tidak mengenali Luciana tenyata.
"Ini aku yang menangkapmu tadi. "
"Untuk apa kau datang kesini? Ingin mengejekku? " sinis nya
"Adikmu memintaku untuk membebaskanmu dan aku kesini untuk melakukan itu. Berbaiklah disini hingga waktu pengadilan tiba. Aku akan memberikan kejutan diwaktu itu. "
"Aku tidak butuh bantuanmu! "
"Heh!! Kau tidak memikirkan nasib kedua adikmu!! " geram Luciana
"Berbaiklah disini! "
Luciana berbalik dan pergi dari sana. Sementara pemuda bernama Will itu menatap kepergian Luciana dengan tatapan sendu.
"Kau sudah memberikan makanan itu? "
"Ya."
"Jawab yang benar!! " sentaknya pada Luciana
"Iya sudah. " jawab Luciana
"Bagus!! " puji nya senang
"Dimana jubah pangeran sekarang? " tanya Luciana
Apa yang Luciana ucapkan saat ini benar-benar hanya kalimat datar tanpa sebuah nada.
"Sedang dijemur. "
"Kau selesaikan masakan ini!! " suruhnya pada Luciana
"Itu tugasmu bukan tugasku. " sahut Luciana tidak peduli, kemudian berbalik badan hendak pergi dari dapur itu namun...
Srettt
Tubuh Luciana terseret kebelakang . Rambut panjangnya dijambak membuatnya tersentak.
"Jangan membantah! Kau hanya pelayan baru disini!! Aku seniormu!! Lakukan semua perintahku paham!! " teriaknya menarik rambutnya hingga terdongak keatas.
Emosi.
Emosi Luciana hampir mencapai ubun-ubun.
__ADS_1
Menggenggam erat tasnya untuk menahan geraman marahnya.
"Lepaskan! " pinta Luciana baik-baik
"Kau songong sekali!!! Berbicaralah yang sopan kepadaku!! " bentaknya dengan menarik kencang rambutnya hingga Luciana meringis sakit.
Luciana merogoh tasnya untuk mengambil belati kesayangannya, wanita jelek ini sepertinya membutuhkan pelajaran dari Luciana.
"Apa yang terjadi.... "
Sebelum mengeluarkan belati nya, Luciana kembali memasukannya setelah mendengar suara seseorang.
"Lady Dellia.. " hormatnya melepaskan jambakan pada rambutnya dengan tergesa-gesa.
"Apa yang tengah kau lakukan pada gadis ini?? "
"Ha-hamba hanya memberikan pelajaran padanya karena telah berperilaku tidak sopan Lady. " jawabnya menunduk
"Tapi caramu salah. Kau tidak bisa memberi pelajaran hanya karena hal seperti itu! Tegur saja itu cukup untuk memperbaiki sikapnya. "
"Baik Lady. "
"Kau boleh pergi. "
"Terimakasih Lady. " wanita itu pergi meninggalkan Luciana dengan wanita ini.
Wanita bernama Lady Dellia itu berjalan mendekati Luciana, " Apa kau baik-baik saja? " tanyanya
"Saya baik. "
"Terimakasih atas bantuannya. "
"Tidak masalah. " jawabnya tersenyum manis
Senyum itu??
"Shhhhh... " ringis Luciana saat jari nya tergesek oleh bajunya.
Terlihat jari Luciana berdarah. Darah yang mengalir karena dirinya memasukkan belati nya terlalu terburu-buru hingga jari telunjuk nya tergores.
"Astaga jarimu berdarah! " pekik wanita itu
"Ayo ikut, aku akan mengobatinya. "
"Tap-"
"Nah sudah selesai. " ucapnya
Jari Luciana telah terbungkus kain kasa dengan rapi.
"Terimakasih."
"Tidak masalah. " ucapnya tersenyum
"Apa kau pelayan baru di kediaman ini? " tanyanya
"Iya."
Lady Dellia tersenyum dan mengangguk, "Melihat wajahmu membuatku teringat anakku. " ucapnya menerawang kedepan
"Ada apa dengan anakmu? " tanya Luciana reflek
"Ahh mereka tinggal jauh dariku. " ucapnya tersenyum
Wanita ini murah senyum ternyata.
"Kenapa tidak mengunjungi nya? " tanya Luciana
"Aku tidak bisa.. " tawanya
Tawa itu?
"Mereka pasti sudah besar sepertimu. " ucapnya tersenyum
Luciana hanya diam memperhatikan wajah wanita itu dengan seksama. Kenapa mirip dengan wajah ...
"Siapa namamu? "
"Lexia."
"Nama yang bagus."
"Terimakasih."
"Kenapa kau memakai cadar? "
"Emm.. hanya untuk hiasan saja. " jawab Luciana
__ADS_1
"Wajahmu sangat cantik. " puji nya
"Terimakasih." hanya itu yang Luciana katakan.
"Permisi, Lady Dellia anda di panggil oleh yang mulia Ratu. "ucap seseorang pelayan
" Baiklah. "
"Sampai jumpa Lexia. " pamitnya
"Apa yang kau lakukan bersama Lady Dellia? " tanya pelayan itu
"Siapa dia? " bukannya menjawab, Luciana justru bertanya balik.
"Beliau Lady Dellia penasehat Ratu Aillen yang baru beberapa tahun dilantik oleh yang mulia. Katanya keduanya sempat bertemu di hutan dan akhirnya bisa dekat. " jawabnya
"Ohhhh begitu. "
"Jadwal pelayanan kita sangat padat besok. " ucapnya
"Oh iya namaku Yasinan. "
Luciana hampir saja tersedak ludahnya sendiri ketika mendengar nama pelayan muda itu. Apa Yasinan?? Kenapa tidak Tahlilan saja. Sungguh Luciana ingin tertawa.
"Teman-teman ku biasanya memanggilku Inan. " lanjutnya
"Siapa namamu? "
"Lexia." jawab Luciana setelah merasa rileks kembali, kenapa tidak menyebutkan nama panggilan nya saja "Inan" itu jauh lebih baik daripada 'Yasinan'
"Oh Lexia, nama yang bagus. " tawanya
"Namamu juga bagus. " sahut Lexia dengan ekspresi kakunya.
"Hahaha.. Orang-orang juga sering memuji namaku seperti itu. " kekehnya
"Apa kau sudah tau jadwal terkini?" tanyanya
"Tidak. "
"Nanti malam akan ada sidang untuk para tahanan yang akan dihadiri oleh yang mulia Raja dan keesokan harinya akan ada pesta perayaan diplomatik antara kerajaan Callexius dengan Kerajaan Aqualiors, pesta itu diadakan untuk acara penutupan hasil kerjasama antara keduanya. " jelas Inan
Benar!
Itu artinya ayahnya akan pulang besok. Sementara Luciana belum berhasil menemukan ibunya.
Namun bukan berarti gagal! Luciana optimis Lady Adellia pasti akan bertemu dengannya.
Masih ada beberapa waktu lagi.
"Aku harus menghindar , agar tidak bertemu dengan ayah Luciana. "
"Perayaan itu akan sangat mewah karena sambil menyam kepulangan Putra Mahkota Pangeran Leatan. Serta Pangeran kedua juga sepertinya akan datang."
"Pangeran kedua sangatlah nakal dan sulit diatur, namun dia sangatlah tampan dan bertalenta. Semoga saja dirinya bisa hadir. "
Luciana tidak mendengarkan apa yang pelayan Inan itu katakan. Karena pikiran Luciana tengah terfokus pada satu objek.
"Yasinan!! Aku mencarimu tenyata kau disini!!" kesal pelayan itu, seperti nya dia teman Inan.
"Pfttt.. "
Astaga saat pelayan itu datang dan memanggil namanya dengan lengkap membuat Luciana hampir saja menyembur kan tawa.
"Ada berita penting!!! "
"Apa itu? "
"Kalian mau tau? "
"Tentu saja! Cepat katakan! " desak Inan
"Besok selain ada perayaan namun ada berita yang lebih menghebohkan seluruh istana, yaitu bahwa besok Putra Mahkota Pangeran Leatan akan memilih jodohnya disaksikan langsung oleh kedua Raja dari Kerajaan kita dan Kerajaan Aqualiors!!!!! Besok akan banyak Lady yang akan datang!! Ini akan sangat menarik!!! Aku tidak sabar ingin mengetahui seperti apa type dari pangeran Leatan!!! " teriaknya heboh
"Benarkah?!!! "
"Luar biasaaaaa!!! "
Luciana memutar bola matanya malas melihat tingkah keduanya, "Pangeran sepertinya paling seleranya rendah. " gumam Luciana
"Jangan begitu!! "
"Siapa tau kita bisa menjadi selirnya xixixixi.. "
"Mimpimu terlalu tinggi. "
...To be continued......
...TINGGALKAN JEJAK DAN KOMENTAR DULU YA...
__ADS_1