BAD PRINCESS OF AQUALIORS

BAD PRINCESS OF AQUALIORS
43. Tidak Ada Yang Tidak Mungkin


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


*


*


*


Flashback on


Ketukan sepatu memenuhi ruangan. Menggema seriiring langkah kaki yang berjalan menuju sebuah ruangan.


"Apa yang kau perlukan hingga datang kesini."


"Aku membutuhkan pertolonganmu, Hunter. "


Sosok itu menampilkan senyuman miring beserta smirik khasnya.


"Soal dua gadis kembar itu? " duganya yang tepat sasaran


"Ya. Kau sudah mengetahuinya bukan, tanpa perlu menjelaskannya terlebih dulu. "


"Tentu saja aku mengetahuinya. " senyumnya puas


"Apa yang ingin aku lakukan? "


"Sembunyikan semua fakta . Menangkan aku dalam sidang pembebasan putri terbuang itu agar aku bisa mengusir keduanya dari dalam istana. " serunya


Sosok itu berdiri dari duduknya dan berjalan mengitari wanita didepannya. Senyuman penuh seringai licik tercipta disana.


"Itu tidak mudah sayang. Harus ada imbalan yang seimbang untukku. Dua gadis itu bukanlah lawan yang mudah. "


"Apa maksudmu, Hunter? "


"Dongeng seorang anak raja yang berhasil menjadi tuan sang Pegasus Putih itu, apa kau melupakan nya? "


"Itu tidak ada hubungannya dengan kasusku. Mereka hanya gadis kolot biasa, bagaimana bisa kau sangkut pautkan dengan dongeng itu. Aku datang kesini bukan untuk mendengarkan omong kosongmu! "


"Kau masih saja bodoh, Adriana. Ku kira setelah berhasil menjadi seorang ratu kau akan menjadi lebih pintar dan licik, ternyata sama saja. "


"Jaga omonganmu! " geram Adriana


"Salah satu gadis itu adalah penerus anak raja ketiga. Gadis dengan rambut putih silver itu adalah pemilik sekaligus tuan dari Sang Pegasus. Kau harus ingat rencana kita delapan belas tahun yang lalu, itu alasanku menyuruhmu dan para pejabat lain untuk mengasingkannya. Karena jika tidak maka gadis itu akan menjadi penguasa kerajaan dengan dukungan penuh dari seluruh rakyat. "


"Jadi dia... "


"Ya. Kau pasti sudah mengetahuinya. Rahasia yang hanya kita berdua yang tau, gadis itu tidak lah cacat namun itu hanya sebuah kelainan. Sungguh rencana yang luar biasa, hingga kau menjadi ratu sekarang. Jangan lupakan jasaku itu. " senyumnya licik


"Dan satu lagi... "


"Gadis dengan rambut hitam itu. "


"Maksudmu Luciana? Ada apa dengan gadis itu? "


Hunter, menatap wanita didepannya dan tersenyum penuh arti, " Kau belum berhak mengetahuinya, Adriana. Tapi tenang saja, cukup berhati-hati dengan gadis itu. "


"Kenapa aku harus berhati-hati? Dia hanya gadis biasa! "


"Jaga emosimu disini. Dia bukan gadis sembarangan yang bisa dengan mudah kau kelabui. Dia bahkan lebih licik darimu, Adriana. " tegas Hunter


"Aku tidak percaya. "


"Terserah saja. "


"Aku tak peduli dengannya. Yang terpenting posisiku tetap aman jika perlu singkirkan semua pengganggu itu tanpa tersisa. " ucapnya penuh penekanan


"Itu mudah. Sebagai gantinya, bermainlah denganku malam ini. "


Wanita itu tersenyum miring dan mengangguk dengan antusias. Apa yang selanjutnya terjadi, hanya mereka berdua yang tau. Ini percintaan orang dewasa dan ini bukanlah cerita mengenai hal seperti itu.


Suara erangan terdengar jelas disetiap penjuru ruangan dengan cahaya minim itu. Saling bergulat untuk mendapatkan kepuasan tersendiri.


"Ternyata tubuhmu masih saja menggiurkan mantan istriku. " bisiknya pelan sembari menikmati kegiatannya.


"Jangan didalam. Aku tidak ingin hamil dan membuat masalah lainnya. " erangnya


"Tentu saja. Aku hanya membutuhkan satu penerus dan putraku ternyata tidak jauh denganku. "

__ADS_1


Mereka sama-sama menikmati setiap kegiatan. Sementara seseorang yang tengah melihatnya memandang mereka dengan tatapan jijik.


Flasback End


Kembali kepada Luciana yang tengah bermain bersama Lauren.


"Luci, kenapa kau melamun? " tanya Lauren


"Aku tidak melamun, hanya tengah berpikir. "


"Apa yang tengah kau pikirkan? "


Luciana terdiam. Ia tengah mengingat kejadian tadi malam sebelum makan keluarga dilaksanakan. Fakta yang membuatnya merubah arah pandangan terhadap Pangeran Altar. Sempat berpikir apakah pria itu gila hingga menyetubuhi adiknya sendiri, ternyata Altar bukanlah anak dari raja bersama ratu Adriana. Pantas saja pria itu berani berbuat nekat.


"Luci? "


"Ah, kenapa? "


"Kau melamun lagi. "


"Maafkan aku Lauren. Akhir-akhir ini aku memang banyak melamun. " ucap Luciana tulus


"Tidak masalah. " Lauren membalasnya dengan senyuman


"Ayo kesana. "


"Eh? "


Lauren menggandeng tangan Luciana menuju bawah pohon mangga di taman. Mendudukkan tubuhnya diatas rumput hijau. Lauren menidurkan tubuhnya dan menyuruh Luciana untuk melakukan hal yang sama. Keduanya menatap langit yang berawan. Matahari tidak terlalu terik sehingga membuatnya sedikit sejuk dan tidak kepanasan.


"Pejamkan matamu Luciana. Dan tarik napas lalu hembuskan secara perlahan. "


Luciana menurutinya sesuai perintah dari Lauren. Menarik napas dan membuangnya secara perlahan.


"Rileks kan pikiranmu Luci. "


Lauren menolehkan wajahnya kesamping, kearah Luciana yang tengah memejamkan matanya. Gadis itu bangkit dari tidur nya dan terduduk diatas rumput. Lauren merogoh saku gaunnya untuk mengambil sesuatu yang mengkilap lalu meletakkan nya di dahi Luciana.


Benda itu terlihat bersinar terkena sedikit sinar matahari kemudian menghilang setelah nya. Lauren tersenyum.


"Merasa jauh lebih baik? " tanya Lauren dengan senyuman khasnya


Luciana mengangguk. Pikirannya sekarang jauh lebih tertata dan tidak seperti benang kusut lagi. Sempat merasakan kesejukan di dahinya ketika menutup mata, namun itu membuatnya sedikit rileks.


"Kau yang melakukannya? "


"Iya. Aku tidak ingin kau terlalu terbebani dengan hadirnya aku. " ucap Lauren


"Jangan berkata seperti itu. Kau adikku sudah sepantasnya aku membelamu. "


Lauren mengangguk.


"Jika aku harus kembali ke tempat sediakala, aku tidak masalah Luci.Tapi aku juga tidak bisa berpisah denganmu. Namun, jika memang itu akhir keputusannya nanti aku harus menerimanya, bukan. "


Lauren tersenyum lagi.Namun senyum kali ini membuat Luciana jengkel.


"Jangan tersenyum dia saat kau tidak baik-baik saja! Lagian, aku akan memenangkannya nanti. Kau tidak perlu kembali ke tempat terpencil itu. " tegas Luciana penuh kepercayaan diri


Di ruangan penuh akan jeruji besi, kini Luciana berada.


"Anda tidak diperbolehkan masuk yang mulia putri. " cegah salah satu penjaga


"Saya ingin menjenguk seseorang. "


"Tetap saja tidak bisa. Anda harus memiliki izin dari yang mulia ratu Adriana, putri. " ucapnya penuh kehormatan


"Saya datang kesini atas perintahnya. " ucap Luciana tanpa ragu


Penjaga itu meminta bukti bahwa Luciana mendapatkan izin dari ratu Adriana yang justru mendapatkan sebuah tinjuan di wajahnya. Kedua pria itu pingsan ditempat.


Gadis itu masuk kedalam. Terlihat sangat minim pencahayaan dan baunya sangatlah tidak enak. Jika orang biasa pasti akan muntah dan tidak tahan berada disini, namun tidak dengan Luciana yang sudah terbiasa akan hal seperti sekarang.


Langkah kaki menuntunnya menuju sel pe jarak paling pojok dan terkesan sangatlah kotor dibandingkan yang lainnya. Terlihat seperti wanita tengah meringkuk diatas tanah beralaskan jerami. Bajunya sudah terkoyak sana-sini. Terpancar kemarahan yang luar biasa dikedua mata Luciana.


"Elis.. "


"N-nona Luciana?? "

__ADS_1


Bahkan untuk berjalan mendekatinya saja tidak bisa. Wanita itu terlihat lemah tak berdaya. Namun, dengan rasa antusias nya menguatkan dirinya untuk mendekati Luciana.


"A-anda sudah kembali nona? " harunya


"Aku membawakan ini untuk mu. "


Luciana memberikan makanan yang bergizi dan layak untuk dikonsumsi. Lalu mengeluarkan kotak oba-obatan.


"Siapa yang membuatmu seperti ini? " desis Luciana


"N-nona saya tidak apa-apa. "


"Katakan siapa yang membuatmu seperti ini. " tanya Luciana penuh penekanan


"Jika kau tidak menjawabnya, maka terpaksa aku akan memecatmu. "


" Jangan nona. Hamba sungguh baik-baik saja. "


"Aku tidak bertanya kondisimu. Cukup katakan nama seseorang. "


"R-ratu Adriana d-dan... " jedanya


"Dan? "


"Nyonya Erikson. " tunduk nya


"Apa yang mereka lakukan padamu? "


"M-mencambuk dan memukuli hamba,nona.. "


"Baiklah... " ia bangkit dari posisi jongkok nya


"Anda hendak kemana , nona? " tanya pelayan Elis


"Memberikan perlajaran kepada seseorang. Makanlah makanan dan minuman itu, obati seluruh lukamu. Aku akan datang kesini lagi esok hari. "


Luciana beranjak dari sana berjalan keluar melewati penjaga yang masih pingsan ditempat. Luciana kembali ke dalam kediamannya dan menutup pintu dengan kencang.


"Apa apa, Luci? " kaget Lauren yang tengah belajar membaca buku.


Luciana duduk diatas ranjang dengan ekpresi kelamnya. Lauren langsung mendekati nya dan mengelus leher Luciana dengan lembut, sederhana namun membuat Luciana berhasil lebih tenang.


"Belajarlah untuk lebih tenang, Luciana. " tegur Lauren


"Aku tidak pemaaf dan sesabar dirimu, Lauren. "


"Aku tau.. " sahut Lauren paham


"Aku baru saja berhasil membaca satu buku cerita ini. " ucap Lauren bangga


"Itu bagus. " puji Luciana


Ya. Lauren memang tidak bisa membaca atau bisa dikatakan buta huruf. Selama disini Luciana terus mengajari Lauren untuk membaca dan menulis, sangat miris melihatnya. Namun, melihat progres Lauren yang langsung bisa membaca buku sekitar 500 lembar dalam sehari itu membuatnya kagum. Lauren tidak bodoh hanya kurang pendidikan saja.


Selama berdekatan dengannya, Luciana merasa sangat nyaman dan damai. Lauren selalu bisa membuatnya jauh lebih baik dalam mengontrol emosi, entah apa yang gadis itu gunakan.


"Livii.. kau dimana? " panggil Lauren mencari kuda berbentuk kucing itu.


"Luciana, Livi menghilang. " panik Lauren


"Hilang? Lalu itu apa? " tunjuk Luciana kearah atas lemari


Sontak kedua matanya mereka melotot melihat nya.


___________________________


Hai... Sorry ya kalau alurnya sedikit lambat, Soalnya aku pengin lebih detail aja njabarinnya biar nggak ada yang terlewati..


Atau kalian lebih suka alur yang cepet?


Aduhhh.. tapi kalau ceper-cepet nanti cepet tamat wkwkwk


Tinggalkan Jejak Guyss!! Thank you buat yang udah suport cerita ini<


Oiya aku ingetin lagi, kalau cerita ini fantasi ya jadi jangan disangkut pautin sama kehidupan nyata😌Jelas beda jauh..


Okay. See you<

__ADS_1


__ADS_2