
...SELAMAT MEMBACA📖...
...*...
...*...
...*...
Kehadiran Liam yang tiba-tiba masuk kedalam paviliun nya tanpa angin tanpa hujan membuat semua bingung sekaligus kaget. Bagaimana bisa seorang pangeran masuk ke suatu paviliun kerajaan lain tanpa ada penyambutan dan acara sejenis nya dari mereka. Bukan itu saja yang membuat para pengawal dan pelayan terkaget-kaget. Pangeran Liam mengunjungi semua paviliun dengan wajah entengnya dan pergi ketika tidak menemukan orang yang tengah ia cari. Cukup sembrono ,namun mereka tidak berani menegurnya.
Sekarang pria itu tengah berdiri di hadapan Luciana, sesekali melirik kearah Lauren seperti tengah meneliti sesuatu.
"Apa yang kau lakukan disini, Liam? "
"Kau mendengarkanku atau tidak. " geram Luciana ketika pria itu seperti tengah sibuk dengan pikirannya.
Dengan santai, Liam melangkah lebih dekat lagi kearah dua gadis itu.
"Apa dia kembaranmu? " tanyanya
"Aku bertanya kepadamu terlebih dahulu. " desis Luciana tidak suka diabaikan
"Baiklah..baiklah.. Saya em.. maksudku aku datang kesini untuk menemani Leatan berlatih. Sekaligus ingin bertemu denganmu. ." jawabnya
"Untuk apa bertemu denganku? " kernyit Luciana
"Emm.... " dia menampilkan ekspresi berpikir keras, membuat Luciana berdecak kesal melihatnya.
"Sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan padamu, mengenai de-"
"Aku sudah tahu itu. " potong Luciana
"Baguslah.... " angguk Liam
"Sekarang kau wajib menjawab pertanyaanku tadi. " desak Liam
"Soal?"
"Apa dia kembaranmu itu? " tanyanya lagi
"Jika iya kenapa, jika bukan kenapa? Apa urusannya denganmu?"
"Ahhh.. jangan berbelit-belit. Aku tengah tidak mood untuk melayani perkataanmu itu. Kau bisakah langsung saja menjawabnya tanpa menampilkan kalimat menjengkelkan seperti itu? "
"Dasar... "
"Oke, itu artinya dia adalah kembaranmu." final Liam walaupun belum mendapatkan jawaban dari gadis itu.
Liam nampak mengamati Lauren dengan pandangan entah seperti apa. Terlihat tengah mengulik sesuatu. Itu sontak membuat Lauren sedikit risih dan salah tingkah. Wajar saja dirinya tidak pernah ber-interkasi dengan pria seumuran dengannya, itu membuatnya canggung.
"Jangan menatapnya seperti itu, nanti suka. " tegur Luciana menginjak kaki Liam yang berbalut sepatu bot dengan desain yang mewah dan mengkilap.
Liam meringis dan menatap tajam sang pelaku. Apa gadis disampingnya tidak bisa lebih lembut sedikit saja? Remuk lama-lama tubuhnya jika setiap bertemu ia melakukan seperti itu padanya.
"Kau tidak bisa kalem sedikit? Dia saja kalem dan lembut kenapa kau beda begini.. " gumam Liam
"Kau mengatakan sesuatu, Liam? "
"Em, tidak. " gelengnya dengan cepat
__ADS_1
"Namaku, Liam pangeran kedua dari Kerajaan Callexius. " ucapnya memperkenalkan diri
"Lauren." jawab Lauren singkat
Liam mengangguk dan kembali menatap Lauren. Kini tatapannya lebih dalam seolah ingin menusuk lebih dalam dan mengulik sesuatu dari matanya. Liam terkesiap ketika Luciana kembali menegurnya.
"Kau menyukai adikku? Langkahi aku dulu sebelum kau mendapatkan nya, Liam. "
Liam tersenyum. Sepertinya Luciana Berpikir salah dengan dirinya. Liam tidak menyukai Lauren tapi...
"K-kenapa kau menatapku seperti itu? " akhirnya Lauren angkat bicara
"Bukan apa. Hanya kagum dengan rambutmu dan penampilan mu yang luar biasa. " Liam tersenyum
Lauren mengangguk paham, walaupun ia juga tidak percaya akan itu. Lauren bisa membaca pikiran seseorang dengan hanya menatap matanya. Namun, tadi ia tidak bisa membaca apa isi pikiran Liam yang menatap nya intens.
"Kau mempunyai kelebihan. " puji Liam lagi
Sontak membuat tubuh Lauren terdiam kaku, begitu pun dengan Luciana.
"Sepertinya aku harus pergi dan menemui kakakku. "
Liam sudah bertemu dengan orang yang ia cari dan itu cukup untuk mengobati rasa penasarannya akan Luciana dan kembarannya itu. Mereka memiliki kepribadian yang sangat kontras ternyata.
"Kau hendak kemana? " tanya Luciana saat Liam hendak melangkah
"Pelatihan prajurit. "
Luciana berbinar senang mendengar tempat itu. Ia ingin sekali melihat bagaimana para prajurit dilatih. Namun, ia tidak bisa kesana karena masalah yang terus datang padanya. Dan kali ini ia tidak akan melewatkan itu.
"Aku ikut. "
Luciana menawarkan Lauren untuk ikut atau tetap tinggal di paviliun. Dan gadis itu memilih berada disini.
"Terimakasih, Luci. "
"Tidak masalah, Lauren. Ini juga paviliun milikmu jadi kau bebas menggunakan dan memerintah pelayanan sesukamu. "
Lauren mengangguk dan pergi dari sana menuju ruangan tengah yang terdapat pelayan Elis dan pelayan lainnya. Luciana berharap Lauren terus dalam keadaan aman selama berada disekitarnya. Luciana tidak akan membiarkan bajingan mana pun mendekati gadis lugu itu. Walaupun ia yakin Lauren bisa mengatasinya dengan caranya sendiri, oleh karena itu tugas Luciana untuk mengawasinya dari jauh.
Keduanya berjalan berdampingan menuju lapangan pelatihan. Ekspresi Luciana datar disepanjang perjalanan. Sementara Liam justru terlihat lebih acuh terhadap sekitar. Luciana berlari sambil mengangkat gaunnya yang sedikit panjang agar memudahkannya berlari. Sampailah mereka di gerbang yang dijaga ketat oleh para pengawal.
"Salam kepada pangeran Liam dari Kerajaan Callexius dan putri Luciana de Aqualiors.. " salam mereka
"Apakah mereka ada didalam? "
"Pangeran Leatan, pangeran Albert dan pangeran Emillio sudah berada disana, pangeran. " jawab mereka
Liam mengangguk dan berjalan masuk dengan mudah. Sementara Luciana baru saja hendak membuntuti nya, ia malah dicegah oleh pengawal. itu.
"Maaf yang mulia, tempat ini hanya khsusus untuk laki-laki. Sementara perempuan tidak diperkenankan untuk masuk kedalam karena sangat berbahaya. " jelasnya
Luciana terlihat keberatan.
"Tapi, aku ingin masuk. "
"Tidak bisa yang mulai, kami mohon maaf. "
__ADS_1
"Kalian berani melarangku? " Luciana memberikan penekan
"B-bukan b-begituu.. tapi-"
"Biarkan saja dia masuk. Aku sendiri yang akan menjaga keselamatannya. " sahut Liam dimbang gerbang
"T-tapi pangeran... "
"Biarkan saja. Kedua saudaranya berada di dalam, jadi tidak ada yang perlu di khawatir kan. " ujar Liam
Dengan ragu mereka pun mengangguk. Luciana terlihat senang dan berteriak kegirangan. Mereka yang melihat nya mendadak terpesona dengan senyuman menawan diwajahnya yang tegas dan berwibawa itu.bLuciana kembali dalam mode senyap. Datar dan tanpa ekspresi. Namun, dalam hatinya masih berteriak senang karena ia tidak sabar melihat pelatihan itu dan ia juga sangat ingin mencoba pistol gunung khusus di Kerajaan dunia ini.
Luciana berjalan dengan datar namun, matanya terus berbinar senang.
Didepan sana para prajurit dan pengawal sedang melakukan pelatihan bersama jendral yang Luciana tidak tahu namanya.
Disebelahnya terlihat para pangeran itu tengah melihat hasil latihan mereka dengan intens. Liam berjalan mendekat Luciana pun mengikutinya.
Luciana melangkah dengan matanya menatap kearah lapangan pelatihan, decakan rendah tercipta di bibirnya yang lembut.
"Pelatihan macam apa itu.. "
Celetukan lirih namun berhasil membuat mereka semua menolehkan wajahnya kearah gadis itu yang tengah fokus berdecak menatap kedepan.
"Apa yang kau lakukan disini?! " jengit Emillio tekejut dan langsung menutup mata Luciana dengan gerakan cepat. Luciana berusaha melepaskan bekapan tangan Emillio, menatap pria itu tajam.
"Jangan menatap kesana. "
"Kenapa? "
"Mereka tidak memakai baju. Nakal sekali kau ini. " dengus Emillio gemas
Luciana menoleh ke arah lapangan dan dicegah oleh Emillio lagi. Memangnya mengapa dengan mereka tidak memakai baju? Yang terpenting mereka masih memakai celana bukan? Luciana bahkan sudah terbiasa melihat badan kekar partner nya dulu.
Biasanya para gadis bangsawan akan menjerit histeris ketika melihat tubuh lawan jenisnya.. Luciana diseret keluar oleh Emillio karena tak ingin mata adiknya ternodai. Astaga, Emillio sangat pengertian. Tapi, Luciana tetap memaku tubuhnya agar tetap berdiri ditempat.
"Aku maunya disini, Emillio! " kesal Luciana meninggikan volume suaranya.
Sontak mendengar suara teriak perempuan membuat para prajurit yang tengah berlatih itu memelototkan matanya dan bersembunyi di belakang para jendral dan pelatih hingga membentuk barisan vertikal layaknya mainan ular-ularan. Jendral Edward juga sama terkejut nya melihat putri Luciana yang tengah tarik-tarikan bersama pangeran Emillio. Bagaimana bisa ada perempuan disini!
"Berbalik dan cepat pakai kembali baju kalian! " perintahnya pada mereka yang langsung dilaksanakan tanpa banyak tanya.
Pangeran Albert menghela napas kasar melihatnya. Bagaimana para prajurit yang berjumlah 100 orang itu terbirit-birit bersembunyi di belakang Edward dan langsung bergegas memakai pakaiannya dengan tergesa-gesa. Itu terekam jelas oleh matanya, membuat sudut bibirnya terangkat keatas sedikit. Albert berusaha menahan senyuman itu.
"Biarkan saja. Mereka sudah memakai pakaian. " ucap Albert
Emillio pun berhenti memaksa Luciana untuk pergi. Namun terus bergerak mengikuti langkah Luciana, seperti seorang bodyguard.
"Sepertinya kau sering melihat tubuh pria ya, putri Luciana. " celetuk Pangeran Leatan yang sedari tadi melihat tingkah gadis itu.
"Tentu saja. " Luciana menutup mulutnya dengan cepat. Ia bisa melihat tatapan tajam penuh intimidasi oleh keempatnya.
Sepertinya mereka salah paham..
*
*
__ADS_1
BERSAMBUNG....
*akhirnya up juga. Terharu deh karena ada yang nyariin aku karena udh lama gk up😭sampe banyak yg minta permintaan update ... Aku baru saja sakit kemarin gara-gara makan seblak pedes poul dan belum makan apapun, akhirnya lambungku kena dan itu perih banget plisss... Huhu tapi sekarang udah baikan..kok.. Thaks you readers😘maaf kalau episode kali ini kurang greget😌*jangan lupa tinggalkan jejak😬