
...Happy Reading...
...*...
...*...
...*...
"Sebaiknya aku tidur. "
Ia berjalan menuju ranjang kembali tak lupa juga menutup jendela serta pintu balkon. Membenarkan letak seprai dan selimut lalu merebahkan tubuhnya. Menutup mata dan...
Mata yang sempat terpejam kini kembali terbuka saat ia mendengar suara yang mengganggu telinganya.
Seperti suara...
Srek*
Srek*
Luciana menyibak selimut yang sempat menutup tubuhnya lalu turun dari ranjang mengintip dibalik gorden pintu balkon yang transparan.
Tak ada siapapun
Namun, karena penasaran ia membuka pintu balkon itu dan melangkah keluar dengan berani. Jika dilihat dari letak kamarnya yang berada dilantai terakhir, sangat tidak mungkin ada seseorang yang memanjat nya. Namun bukan berarti tidak ada.
Lihatlah tepat di depannya terdapat pria yang ia kenali sebagai seorang pangeran. Berdiri disana sambil menepuk bajunya yang sedikit kotor.
"Ohh kau belum tidur?? "
"Apa yang lakukan disini!! " tajam Luciana
"Hanya ingin berkunjung, aku kira kau sudah tertidur ahhh ternyata belum." kekehnya
"Jawab pertanyaan dan berhenti membual! "
"Bagaimana dengan tawaranku pagi tadi?" tanya pangeran Altar
"Tentu saja menolaknya." sahut Luciana cepat
"Ahh sayang sekali padahal aku sudah berniat memberitahumu dimana adikmu itu, jika aku memintamu secara baik-baik namun ditolak itu artinya kesempatan terakhir hanya dengan paksaan bukan? " ucapnya menaikkan sebelah alisnya menggoda.
"Tcih! Carilah wanita lain yang berselera denganmu!" sarkas Luciana
"Kau terlalu menjijikkan untukku. " lanjut Luciana sarkas
"Mulutmu sangat tajam sekali. "
"Padahal dia sudah aku dapatkan, kupikir kakaknya juga mudah untuk didapatkan.. Oh ternyata jauh lebih sulit, tapi tidak apa itu jauh lebih menantang.. " ucapnya tersenyum misterius
"Aku sering berkunjung menemui putri terbuang itu dan bahkan kita sudah pernah melakukannya. " ucapnya tersenyum miring.
Luciana nampak terkejut saat mengetahui arah pembicaraan pria didepannya itu.
"Jaga mulutmu! "
Luciana hendak memukul tubuh pria didepannya, baru bersiap namun terdengar suara prajurit yang berjaga. Dengan terpaksa Luciana membatalkan niatnya.
"Apa? Kenapa tidak jadi? " efeknya menantang
"Pergi dari sini! "
"Hahaha.. Kau makin menarik putri Luciana bahkan lebih menarik dari adikmu, aku tak menyangka sikapmu yang sekarang justru lebih menggoda daripada sikapmu yang dulu hahaha.. "
"Ohh kau memiliki mulut yang tajam, aku jadi ingin merasakannya. " goda nya
"Bacot sia! "
__ADS_1
"Kau hendak pergi atau tidak terserahmu!"
Luciana berbalik dan kembali menutup pintu balkon kamar untuk melanjutkan tidur nya yang tertunda karena pria mesum itu. Seharusnya tadi dirinya menghiraukan saja suara berisik itu dan melanjutkan tidurnya. Membuang waktu saja.
Luciana mengepalkan tangannya geram.
Sementara pangeran Altar yang melihat sikap cuek dari gadis itu terkekeh kecil. Sungguh ia tidak tahu bahwa adik berbeda ibunya sangatlah menarik untuk didekati. Kemana saja ia saat ini??
Jika ia tahu seperti ini, dirinya tidak akan sulit untuk mendapatkan kepuasan tanpa harus menyewa seorang wanita. Adiknya sendiri lah yang bisa melayaninya setiap hari.
Ahh.. Andai saja ia tahu waktu gadis itu masih menjadi gadis pemalu pasti akan sangat mudah mendapatkan nya.
Pria itu tersenyum membayangkannya.
Melihat kamar Luciana yang sudah padam lampunya, pria itu langsung turun dari atas sana dengan mudah bak orang berpengalaman dalam memanjat pagar sekolah.
Di pagi harinya yaitu hari pertama ia berada di kediaman Awan, Luciana kini sudah bersiap untuk melakukan tour keliling paviliun.
Dengan memakai gaun yang sederhana namun elegan pagi-pagi ia sudah berjalan melewati lorong-lorong megah disana. Tak ada tujuan, Luciana hanya ingin berkeliling saja.
Langkah kakinya membawa Luciana ke tempat sebuah lapangan berumput hijau yang luas dan terdapat peralatan untuk memanah.
Luciana berkeliling sendirian walaupun sempat ingin ditemani oleh pelayan Elis namun ia menolaknya. Luciana tahu wanita berumur 28tahunan itu tengah sibuk semenjak direkrut nya menjadi kepala pelayan di paviliun Awan.
Itu sebabnya ia tak ingin merepotkan wanita itu hanya untuk berkeliling.
Luciana berjalan mendekat tepat di depan alat pemanah yang tertempel rapi di sebuah dinding. Terdapat sekitar 5 busur panah dengan bermacam-macam ukiran dan bentuk.
Ia ingin mengetes ketrampilan memanah nya apakah masih akurat atau tidak. Dia mengambil sebuah busur berwarna hitam pekat dengan ornamen sederhana. Diambilnya beberapa anak panah.
Luciana bersiap di tempatnya, dengan membenarkan posisi agar bisa tepat mendapatkan titik yang ia incar.
Wushhh*
Luciana kembali mengambil anak panah yang tergantung di punggungnya. Bersiap untuk menembakkan anak panahnya lagi.
Wushhh*
Anak panah kedua mengenai angka 1 tepat di samping titik utama. Tanpa lelah mencoba ia kembali mengambil anak panah, dan bersiap...
Wushhh*
Tepat!
Anak panah ketiga, berhasil mendarat di tengah titik berwarna putih itu. Luciana menyunggingkan seulas tersenyum.
"Lumayan." gumam Luciana walaupun harus mengulang secara tiga kali percobaan.
"Yang Mulia!! " panggil pelayan Elis tergopoh-gopong menghampiri Luciana.
"Ada apa?" Luciana bertanya dengan santai sambil membereskan anak panah yang terjatuh di atas rumput.
"Hosshh.. Hoshhh.. sebentar nona, hamba izin untuk mengatur napas sejenak. " pintanya , dirinya lelah karena mencari keberadaan Putri Luciana di seluruh penjuru paviliun namun tak kunjung menemukannya.
Setelah mulai tenang pelayan Elis menatap putri Luciana.
"Hamba mencari anda di seluruh paviliun dan ternyata anda berada disini. "
"Apa yang Anda lakukan disini, Yang Mulia?"
"Ini lapangan panahan. Tentu saja untuk belajar memanah, bukan? "
Jawaban itu sontak membuat pelayan Elis bertanya bingung, ada gerangan apa nona mudanya itu sampai belajar memanah? Bukan bermaksud merendahkan, namun putri Luciana sangat tidak mahir dalam hal apapun. Catat! Dalam hal apapun.
__ADS_1
"Ada apa? " tanya Luciana
"Itu nona.. Em yang mulia raja Gilbert hendak melakukan perjalanan diplomatik, untuk mengantarkannya anda diperintahkan untuk ke istana utama segera. " jelasnya membungkuk hormat
"Apa urusannya denganku? "
Pelayan Elis menatap putri yang telah ia layani sepanjang hidupnya itu dengan ekspresi bingung, " Anda tidak bisa menolaknya yang mulia karena ini adalah kewajiban sebagai anggota keluarga kerajaan. " jelasnya memohon.
"Baiklah, mari kita kesana. "
"Tu-tunggu yang mulia. "
"Ada apa lagi? "
"Anda harus berganti pakaian nona, anda tidak bisa kesana dengan pakaian seperti ini..." jelasnya
"Memangnya kenapa dengan pakaianku? ini masih baik walaupun sederhana."
"Tidak.Maksud saya Anda harus berganti yang mulia. Jika tidak nanti Anda akan mendapatkan masalah lagi. " jelas pelayan Elis
"Memangnya harus memakai pakaian mewah? Ayolah hanya mengantarkan keberangkatan buka pesta! " tegas Luciana yang memang sedang tidak mood untuk merias diri.
"Baiklah.. Mari nona.. "
Dengan penuh kelesuan pelayan Elis akhirnya mengalah daripada sangat putri menolaknya. Jika sampai itu terjadi maka bisa saja mendapatkan hukuman kembali. Luciana sudah berbenah meletakkan kembali peralatan memanahnya dan berjalan mendahului pelayannya.
Hanya butuh sekitar 10 menit untuk sampai di istana utama dengan berjalan santai, jika telat ia pun tak peduli.
Terlihat banyak pelayan dan prajurit yang berbaris rapi disana. Mereka berbaris layaknya tengah menyambut sesuatu di balik pintu bertanggal disana.
Luciana berjalan dengan tenang dan memilih untuk berbaris di belakang para pelayan lainnya.
"Kenapa disini yang mulia? Anda harus berbaris bersama para pejabat dan keluarga kerajaan. " bisik pelayan Elis
"Disini saja. "
"Tapi yang mulia an-"
"Diamlah! Yang terpenting aku sudah ikut! "
"Lagipula aku tengah malas bertemu wanita jelek itu. " lanjutnya tak peduli.
Pelayan Elis pun akhirnya pasrah melihat sikap taun putri nya yang sedikit sulit untuk diatur. Raja Albert keluar dengan didampingi ratu Adriana.
"Segeralah pulang dengan selamat yang mulia, kami akan selalu menunggu anda di sini dan menyambutmu dengan suasana hangat. " ucapnya tersenyum manis sambil mengelus lengan Raja Gilbert.
Raja Gilbert hanya mengangguk singkat.
"Ayah segeralah pulang dengan kabar baik. " sambut putri Arabella dengan memberikan
Ketiga pangeran, pangeran Albert, Emillio, dan Altar juga menyambutnya dengan memberikan beberapa bekal seperti belati, pedang, dan sebuah ramuan.
"Ini untuk anda yang mulia, saya baru saja mengembangkan ramuan untuk menjaga kesehatan imun tubuh. Semoga bisa bermanfaat untuk yang mulia. " pangeran Emillio menyerahkannya pada prajurit.
"Pulanglah dengan keadaan baik dan selamat, yang mulia. Ini pemberian saya untuk Anda yang mulia. Sapu tangan ini saya membuatnya khsusus untuk Anda. " Putri Arabella tersenyum bangga
Raja Albert mengangguk menerima semua pemberian, namun pandangan matanya terlihat tengah mencari seseorang. Seseorang yang secara tidak langsung ia tunggu kehadiran nya.
"Dimana Putri Luciana?"
...To be continued........
__ADS_1
...SEBELUM BERALIH MEMBACA NEXT CHAPTER ALANGKAH LEBIH BAIKNYA TINGGALKAN JEJEK DULU YA, KOMENTAR DAN LIKE AKU SUKA, APALAGI HADIAH DAN VOTE HHHE...