
SELAMAT MEMBACA
*
*
*
Luciana benar-benar akan pergi dari sini. Sebelumnya dirinya telah lama berbincang dengan ibu Luciana , mengobrol bagaimana kehidupannya sejak dulu. Luciana menceritakan semuanya kecuali bahwa dirinya bukanlah jiwa asli anaknya itu. Luciana akan menjaga rahasia ini hingga waktu yang pas untuk mengatakannya.
Luciana harus bersabar. Dirinya tidak mungkin terus berbuat seolah dirinya adalah Luciana asli, Lexia butuh kebebasan. Lexia ingin bebas tanpa harus terikat dengan statusnya sebagai seorang anak dari keluarga kerajaan.
"Kenapa ayahmu jahat sekali.. " lirihnya
"Kau tau Luciana, ibu bersedia diasingkan asal mereka bisa merawatmu dengan baik. Kau percaya jika ibu tidak akan pernah melakukan hal menjijikkan itu kan? "
"Tidak sama sekali bu. "
"Ibu tenang saja, Luci akan mencari bukti itu agar ibu terhindar dari fitnah ini dan bisa mengembalikan nama baik ibu. " tegas Luciana
"Kau tidak perlu melakukannya, ibu sudah terbiasa.. " ucapnya tersenyum
"Tidak! Aku akan tetap mencari bukti itu dan membersihkan nama ibu, tolong jangan melarangku bu.. " pinta Luciana
"Baiklah.. " angguknya setuju
Lady Adellia menatap anak perempuannya itu, dan tersenyum karena ternyata Luciana tumbuh menjadi perempuan yang berani walaupun sejak kecil harus ditinggal oleh ibunya. Dirinya sangat berterimakasih kepada wanita yang telah menjaga Luciana sejak kecil. Entah bagaimana keadaan pelayan pribadinya sekarang.
"Kau tumbuh menjadi perem yang cantik dan pemberani Luciana.. "
Ingin sekali dirinya mengatakan bahwa Luciana telah mati dan sekarang bukanlah Luciana namun Lexia.
"Ibu, sepertinya aku harus pergi. "
"Jaga dirimu baik-baik, aku akan berkunjung suatu saat untuk menjengukmu... " ucap Luciana
"Berhati-hatilah dan jaga dirimu dengan baik, anakku.. "
"Dengan senang hati.. " angguk Luciana
Lady Adellia mengantar Luciana menuju halaman istana, baru saja membuka pintu ternyata disana pangeran Liam tengah berdiri didepan pintu.
"Ah aku berniat ingin mengantar Luciana pergi, Lady Adellia. " ucap Liam
"Kebetulan kita akan kedepan, mari berjalan bersama pangeran. " ucap Lady Adellia yang dibalas anggukan olehnya.
Luciana hanya diam, berjalan dengan santai.
"Ibu akan datang ketika kau debutante nanti." ucap Ldy Adellia sesampainya mereka di depan mobil ynag nantinya akan mengantar kepergian Luciana.
Awalnya ia menolak menggunakan mobil karena dirinya ingi pergi ke hutan Elleusis ,namun ibu dan ratu Aillen teru saha memaksanya untuk menggunakan mobil.Sembari menghemat waktu perjalanan.Lucian pun hanya mengangguk tak acuh.Lagipula itu cukup menguntungkannya.
" Aku juga akan datang bersama ibumu Luciana,kau tidak perlu khawatir." ujar ratu Aillen
"Oh Liam juga akan melakukan debutante,bagiaman jika kita merayakannya bersama?" usul Ratu Aillen antusias
__ADS_1
"Oh ideĀ yang sangat bagus yang mulia." sahut Lady Adellia
"Aku tid-"
"Baiklah aku akan mendiskusikannya dengan suamiku." potong Ratu Aillen tersenyum penuh arti.
Luciana mendengus.Sementara Liam pria itu hanya menganggukan kepalanya," Itu bagus ,kita bisa menghemat pengeluaran" sahut Liam dengan jiwa hematnya
"Benarkan Luciana?" tanyanya
"Apa?"
"Ah kami setuju." senyum Liam
"Itu bagus!"
Setelah oercakapn singkat itu ,akhirnya Luciana bisa memasuki mobilnya.Liam! Ya pria itu ingin ikut bersama dengan berkedok menjadi pengawalnya.Tentu saja Luciana menolaknya dengan keras.Bruntung saja ratu Aillen memperingatkannya itu cepat masuk kedalam mobil dan menahan langkah kaki pria itu,Sungguh pria itu seperti anak yang ingin mengintili ibunya kemanapun ia pergi.Sangat merepotkan.
"Anda akan kemana nona?"
"Antar ku ke hutan Eleusis."
"Baik nona."
Selama perjalanan ia hanya menopang dagu menatap kearah luar jendela.Terlihat langit menampakkan awan mendung yang sepertinya sebentar lagi akan turun hujan.Setelah sampia di pinggiran hutan ,Luciana langsung turun dari mobil.
"Sepertinya akan turun hujan nona,apa tidak apa-apa jika saya mneinggalkan anda disini?"
"Tidak masalah."
Luciana menengadahkan telapak tangannya keatas dan benar saja bulir-bulir air mulai turun membasahi tubuhnya.Walaupun hanya gerimis kecil namun sewaktu-waktu bisa saja menjadi hujan lebat.
"Aku harus sampai di tempat Luren sebelum hujan turun lebih lebat."
Luciana berlari melewati pohon-pohon besar disana ditemani gerimis yang semakin membesar.Karena ini membuat jarak pandangnya melemah.Kabut mulai demi sedikit menyelimuti hutan.Luciana tersu berlari dengan menggunakan jubahnyamengiraukan semuanya.Bahkan gaun soft pink nya sudah mulai basah terguyur hujan.
"Sial!"
Luciana mulai mengeluh ketika jarak pandangnya mulai mengebur.Jika begini bagaimana dirinya bisa sampai di tempat Luren tanpa tersesat.Dirinya bahkan memelankan langkah kakinya agar bisa memudahkan untuk mencari jalan.Dirinya tidak bisa mengeluarkan lentera itu karena tidak tahan dengan air hujan.Setidaknya sekarang ia bisa menajamkan indra pendengarnya sebagai jalan terakhir.
"Lauren!!!!."
"Luciana ayo kesini!" lambainya di tengah kabut hujan
Luciana pun berlari, namun setelah akal sehatnya kembali ia menghentikan langkahnya dan berjalan mundur.Bagaimana bisa Luren berada di hutan dengan kondisi hujan seperti ini?Ini sangat mustahil.Ada satu kemungkinan yang saat ini terjadi.Luciana telah terjebak oleh ilusi kabut hujan ini,dan perempuan itu bukanlah Lauren!
Luren tidak akan pergi tanpa bersama Pegasus itu karen mereka berdua telah terikat satu sama lai,itu yang Luren sempat ceritakan padanya.
"LUCIANA AYO KESINI!!"
"IKUTLAH BERSAMAKU LUCIANA."
Luciana mengusap belakang lehernya yang sudah basah kuyub terkena hujan.Berjalan kebelakang waspada.Luciana benci makhluk bernama Hantu.Namun ini masih sore hari.
"Pejamkan matamu Luciana dan terus berjalan lurus kedepan,hiraukan apapun."
__ADS_1
Entah bisikan apa itu namun Luciana melakukannya.Memejamkan mata dan terus berjalan santai kearah depan.Terlihat mudah namun suara Lauren memanggilanya terus terdengar.Lucian cuek saja karena faktanya suara yang menyuruhnya untuk menutup mata adalah suara Lauren yang asli ,terdengar lembut dan bernyawa.Tidak seperti teriakan tadi.
Semakin lama ia melangkah , rintikan hujan semakin mengecil hanya menyisakan gerimis kecil. Perlahan Luciana membuka matanya dan benar ia telah keluar dari kabut itu.
Luciana mengusap tanganya yang dingin. Seluruh tubuhnya benar-benar basah kuyup tanpa tersisa.
"Luciana!!"
Luciana terdiam kaku, apa dirinya masih berada di dalam kabut ilusi hujan itu? Kenapa suara Lauren masih saja ada memanggil namanya.
"Luci, ini aku Lauren sungguhan! "
Luciana menolehkan wajahnya kesamping dan melihat Lauren berjalan kesini dengan memacu kudanya itu. Ternyata benar, dia Lauren. Astaga apa yang dirinya pikirkan tadi hingga parnoan seperti ini.
Lauren meloncat turun dari atas kudanya dan berlari menuju Luciana.
"Kau tidak apa-apa Luci? " tanyanya khawatir
Bahkan bajunya sama seperti baju Luciana, basah kuyup terkena hujan.
"Aku baik-baik saja. "
"Syukurlah, itu artinya kau mendengar telepati ku. " ucapnya lega
"Telepati? "
"Ya. Aku sempat bingung ketika Livia meringkik sangat keras dan berusaha keluar dari dalam bangunan tempat kami tinggal, dia sampai ingin menghancurkan tembok itu. Aku berlari mendekatinya dan menenangkan Livi namun tetap tidak bisa. Sampai akhirnya aku mencoba membuka telepati antara aku dan Livi dan ternyata dia mengatakan bahwa kau tengah dalam bahaya. Aku sempat panik dan berusaha mengirim sinyal telepati ku padamu dibantu Livi dan utung saja berhasil. Kami pun keluar untuk menjemput mu. " jelas Lauren
Luciana terdiam, apa telepati masih ada di dunia ini?Bukankah itu hanya cerita belaka?
"Jadi begitu, terimakasih.. '
" Sama-sama Luci. " senyumnya
"Lalu apa itu tadi? "
"Aku akan menceritakan nya padamu, setelah kita kembali. "
"Ayo naik. "
Lauren naik keatas kuda itu dan menyuruh Luciana untuk naik bersama. Luciana hanya diam.
"Ada apa Luci? "
"Bukan apa-apa. "
"Ayo naik. "
Luciana naik keatas kuda itu dibantu oleh Lauren. Luciana duduk dibelakang gadis itu hingga Lauren memacu Livi berlari menuju kediaman mereka kembali. Luciana memejamkan matanya saat merasakan udara dingin berhembus menerpa dirinya, sejuk dan dingin namun menyegarkan. Apalagi disini tidak ada polisi seperti di tempatnya dulu tinggal.
___________________________
Hai Hai...
Tinggalkan jejak! Wajib! Harus!Jangan lupa komen, berihadiah dan voteeee
__ADS_1
see you eferibadieh>