BAD PRINCESS OF AQUALIORS

BAD PRINCESS OF AQUALIORS
Bab 51 : Menjelang


__ADS_3

...HAPPY READING...


...*...


...*...


...*...



Hari yang dinanti telah sampai.


Tidak seperti yang ia perkirakan sebelumnya. Ia padahal menganggap enteng pesta debu tante nya hanya karena sosoknya yang hanya seorang putri bekas buangan. Kini Lauren salah besar. Para tamu undangan dari bangsawan terendah hingga petinggi kerajaan turut hadir disana. Mereka sangat penasaran akan sosok putri yang selama ini disembunyikan oleh kerajaan Aqualiors.


Putri dengan tingkat ketenaran sebagai sosok putri kembar terpisahkan dan sekaligus putri buangan.


Mereka sangat ingin melihatnya dengan langsung dan sangat penasaran akan tampangnya. Apalagi dengan adanya pangeran dari kerajaan seberang yang turut hadir dalam pesta kali ini.


Mereka memakai pakaian terbaiknya dihadapan para Raja agar bisa menarik atensi sang Raja. Para gadis sangat berharap bisa menjadi menantu dari salah satu pangeran disana.



Saling berbincang dengan kata-kata halus namun selalu memuja dan terus memuja diri mereka sendiri, seolah merekalah sang mutiara di acara kali ini.


Tidak berbeda dengan para gadis bangsawan lain. Para pria juga melakukan hal yang sama. Berbincang mengenai bisnis mereka masing-masing selebihnya untuk mendapatkan beberapa atensi dari mereka untuk menanamkan saham bahkan bekerjasama. Mereka juga sebenarnya sangat ingin melihat sosok putri yang digandrungi sebagai putri tersembunyi kerajaan.


Jelas saja. Tiga putri dari kerajaan Aqualiors akan melakukan debutante bersama-sama, jelas para pria sangat menantikannya.



Semua orang disana sontak berdiri ketika seorang pengawal mengumandangkan bahwa Raja Gilbert beserta Ratu Adriana memasuki aula megah itu.


Keduanya berjalan dengan sangat berwibawa layaknya seorang penguasa di kerajaan ini. Ya mereka memang orang kesatu dari kerajaan Aqualiors.


Mereka semua membungkuk hormat.


Ratu Adriana tersenyum sangat ramah dan menawan. Sementara Raja Gilbert hanya menampilkan wajah datar walaupun sesekali menaikkan sedikit ujung jarinya.


Keduanya berjalan menuju singgasana megah diiringi oleh para pelayan dan pengawal yang sangat ketat.


Tak berselang lama, mereka kembali menatap kearah pintu masuk aula yang menampilkan Raja dan Ratu dari Kerajaan Calexius. Mereka semua membungkuk hormat seperti sebelumnya.


Raja Edward beserta Ratu Aillen berjalan berdampingan dengan tangan saling bertaut. Keduanya menampilkan wajah ramah dan sumringahnya. Ratu Aillen terlihat masih sangat muda walaupun usianya sudah menginjak kepala empat.


Keduanya berjalan menuju singgasana tempat Raja Gilbert dan Ratu Adriana berada. Mereka bersalaman dan saling menyapa satu sama lain. Raja Gilbert dan Raja Edward sangat dekat dan akur.


Mari kita lihat dari sisi kedua wanita disana.


Ratu Adriana tersenyum ramah pada Ratu Aillen, keduanya berjabat tangan. Ya hanya seperti itu saja. Ratu Aillen tersenyum singkat saat Ratu Adriana menyapanya. Hanya untuk ke formalan semata di hadapan seluruh tamu undangan.


Ratu Adriana menggeram dalam hati.


Ia merasa sedikit iri dengan kecantikan Ratu Aillen yang masih tampak muda walaupun sudah menginjak kepala 4. Ia ingin mengobrol dan bercengkrama dengannya dan berharap bisa menarik hati Ratu Aillen agar bisa menikahkan kedua putranya kepada anaknya. Itu sangat menguntungkan bagi dirinya nanti.

__ADS_1


"Anda terlihat sangat muda sekali, " ucap Ratu Adriana tersenyum ramah


"Ah terimakasih. " balas Ratu Aillen tersenyum singkat


"Baju anda terlihat sangat mewah. " komentar Ratu Aillen menatap penampilan Ratu Adriana yang terkesan sangat mewah dan megah dari gaun dan riasan yang digunakan.


"Anda bisa saja. Saya memesan gaun terbaik di seluruh Kerajaan hanya untuk acara putriku seorang. " balas Ratu Adriana tersenyum


"Ohh begitu. "


Tidak ada percakapan lain lagi, membuat Ratu Adriana mendengus dalam hati namun harus terus menampilkan ekspresi sebaik mungkin.


Sedangkan Ratu Aillen memang sedikit tidak menyukai Ratu Adriana. Dari penampilan dan gaya bicaranya saja tadi membuatnya berspekulasi bahwa wanita itu sangatlah sombong dan pandai memainkan ekspresi.


Terlepas dari itu, ia juga sudah mengetahui bagaimana sifat wanita itu melalui Lady Adellia. Ratu Aillen lebih menyukai Lady Adellia dari segi apapun.


Sementara disisi lain.


"Anda harus memakai pakaian ini, nona. "


"Acara akan segera dimulai. Tolong dengarkan hamba, nona. "


Para pelayan tengah dibuat bingung dengan tingkah Luciana yang tengah santai duduk sambil memakan kue. Mereka telah selesai merias wajah dan rambutnya, walaupun dengan susah payah.


Mereka bahkan menghabiskan waktu 2 jam hanya untuk merias wajahnya. Mereka sedikit gemas dan frustasi secara bersamaan saat putri Luciana terus aja menolak apapun yang telah dipersiapkan. Entah itu karena riasan yang terlalu tebal, tidak mau memakai bedak dan lipstik, hiasan rambut yang terlalu berat dan mengkilap, komentar itu terus saja keluar dari bibirnya. Dan mau tidak mau para pelayan hanya bisa pasrah dan melakukan apa yang putri mereka minta, daripada putri Luciana marah dan melakukan hal diluar nalar lainnya.


Sementara di kamar sebalah, tempat kamar baru Lauren kini gadis itu telah siap secara keseluruhan nya. Para pelayan sangat puas karena bagi mereka merias putri Lauren jauh lebih mudah karena putri Lauren sudah memiliki wajah dan rambut yang sangat menawan. Dan satu lagi, putri Lauren sangatlah penurut itu yang membuat mereka menyukainya.


"Anda sangat menawan, putri. " puji mereka



"Sama-sama putri. Kami senang bisa merias Anda. " jawab mereka


Lauren mengangguk dan tersenyum tulus. Namun, dibalik senyum itu ia merasakan kegundahan yang amat sangat mengganggu. Lauren meremas ujung gaunnya, tanpa sadar tangannya berkeringat dingin karena merasa gugup dan takut.


"Apakah Anda ingin berkunjung ke ruangan, putri Luciana? "


"Baiklah ayo. "


Lauren berjalan dengan pelan, menuju kamar Luciana yang terletak tepat disamping kamarnya. Berjalan dengan anggun bagaikan putri solo.


Saat membuka pintu kamar itu, Lauren terdiam diambang pintu. Terkejut karena Luciana belum selesai bahkan masih memakai jubah mandi.


Tidak jauh darinya, para pelayan yang bertugas merias putri Luciana juga tersentak melihat seorang diambang pintu yang menatap kearah mereka berdiri.


"Astaga! " pekik pelayan Elis menutup mulutnya


Mereka sangat terpana akan kecantikan yang dimiliki Putri Lauren. Terkesan manis, lemah lembut dan sangat menawan. Rambut berwarna putih itu sangatlah mengatu dengan indah dengan gaun yang ia gunakan. Kulit seputih porselen itu tidak kalah menawannya.


"Lauren? "


Lauren berjalan masuk didampingi oleh pelayan pribadinya. Ya ia sudah memiliki pelayan pribadi yang ditunjuk langsung oleh Luciana, bahkan melalui tes. Sungguh gadis itu sangat perhatian padanya.

__ADS_1


"Kenapa kau belum bersiap? " tanyanya pada Luciana


"Aku tidak menyukai bajunya. Mereka semuanya berat dan merepotkan. "


"Tapi acara sudah hendak dimulai. " Lauren memberitahu


Luciana mencebikkan bibirnya.


"Biarkan saja mereka semua menunggu. "


"Kau tidak bisa seperti ini, Luci. Cobalah untuk lebih tenang dan biarkan para pelayan untuk meriasmu sebaik mungkin. " Lauren mencoba memberi pengertian


"Baiklah.. "


Para pelayan itu tersenyum semringah. Kenapa Putri Lauren tidak datang sedari tadi saja. Astaga jika itu terjadi pasti mereka sudah selesai merias nya.


"Jangan gaun itu. "


"Terlalu terbuka. "


"Seperti orang melayat. "


"Jelek."


Lauren terkekeh mendengar tuturannya," Jika begitu tidak perlu memakai baju saja. "


Para pelayan menghela napas pelan. Harus Ektra sabar menghadapi sikap Luciana yang dingin, datar dan sangat sulit diatur.


"Bagaimana jika ini? " Pelayan Elis mengangkat salah satu gaun yang terakhir.


"Itu bagus. "


Mereka tersenyum semringah dan secepat mungkin mempersiapkan semuanya dengan cepat mengingat waktu yang sudah mepet.


Di aula istana.


Keempat pangeran memasuki aula secara bersamaan. Mereka mengatakan jas formal dengan desain berbeda-beda.



Kehadiran mereka sontak membuat para gadis bangsawan menjerit sambil menggigit jari kukunya. Mereka terus menatap keempat nya dengan tatapan memuja dan penuh binar harapan. Mereka layaknya seorang pangeran sejati. Postur tubuh yang sangat ideal , wajah yang sangat tampan, astaga mereka menginginkan salah satu dari mereka.


Bahkan jika mereka harus memilih dengan mata tertutup pun tidak apa.


Pangeran Liam yang sedikit berbeda. Karena pria itu memakai setelan jas lebih mewah dari yang lainnya. Jelas karena hari ini adalah hari debutantenya sebagai seorang pangeran Calexius.


Keempatnya berjalan menuju kedepan para Raja dan Ratu berada untuk memberikan salam hormat, kemudian menuju meja dan bangku yang telah disediakan.


Gerakan mereka tak pernah luput dari para tatapan memuja gadis disana. Mereka ingin salah satu dari mereka!!


Mereka menatap kearah pintu utama menunggu siapa selanjutnya yang akan memasuki aula.


Mereka semua membeku.

__ADS_1


Bersambung..


HAI HAI HAI... JUMPA LAGI HEHEHE.. TUNGGALKAN KOMENTAR, LIKE, VOTE DAN HADIAH YAK.


__ADS_2