
...Selamat Membaca...
...*...
...*...
...*...
Dimalam harinya , suasana pukul tengah malam sangatlah sepi dan sunyi. Mereka dari paviliun lain pastinya sudah tertidur lelap. Hanya penjaga dan beberapa orang yang masih terjaga.
Disebuah ruangan dimana terdapat seorang gadis tengah sibuk dengan kegiatannya sendiri. Gadis yang tengah mempersiapkan dirinya untuk kabur dari dalam istana. Terhitung kabur karena pergi tanpa ijin dari pihak istana.
Luciana memakai jubah hitam bertutup layaknya seorang mata-mata. Jubah itu merupakan jubah yang ia buat sendiri dengan fungsi anti peluru dan benda tajam.
Dibalik jubah itu ia memakai gaun sederhana berwarna hitam. Sebenarnya ia menginginkan penggunaan celana agar memudahkan bergerak namun setelah mencari di dalam lemari pakaian ternyata tidak ada. Terpaksa menggunakan gaun sederhana daripada bertelanjang bukan.
Bagaimana dirinya kabur nanti tergantung bagaimana pelayan Elis mengelabui para penjaga. Luciana telah memerintahkan Elis untuk memberikan minuman berisi serbuk tidur kepada semua penjaga paviliun.
Sejauh mata memandang suasana sangatlah sunyi tidak ada suara orang berbicara ataupun tapak langkah kaki.
Hanya bermodal senjata dan uang Luciana bisa bertahan hidup. Uang untuk keperluannya sementara senjata untuk penjaga diri.
Mengambil sebuah tanda pengenal palsu dan asli, ia berjalan menuju jendela dan turjun kebawah dengan santai. Menutup jendela kamar dan berjalan menuju kamar dimana pelayan Elis berada.
Sesuai permintaannya jendela kamar Elis tidak dikunci tanpa banyak waktu terbuang ia melempar sebuah surat berwarna ungu. Berharap dia membacanya sebelum menjelang pagi.
Dengan langkah pelan seringan angin Luciana menerobos penjaga pintu yang sudah tertidur. Dengan mudah berhasil keluar dengan memanjat pagar besi yang tidak terlalu tinggi. Kenapa memanjat? Jika dirinya membuka dengan sebuah kunci maka jejak jarinya dalam kunci itu akan ada. Apalagi bagaimana dia mengembalikan kunci sementara tubuhnya sudah berada di luar gerbang.
Luciana berjalan kearah utara sesuai peta melewati jembatan kayu yang biasanya digunakan oleh pelayan untuk berpergian dari istana.
Jika ia berjalan lurus kedepan tertulis akan menemukan sebuah kota yang dekat dari kerajaan. Disana ia akan menginap untuk semalam dan melanjutkan perjalanan menjelang subuh.
Cukup lama dari paviliun Awan sampai di kota ini. Dirinya berjalan kaki memakan waktu sekitar setengah jam. Lumayan untuk berolahraga malam.
Suasana kota dimalam hari sedikit ramai walaupun sudah menjelang sepertiga malam. Masih banyak toko dan kafe yang buka.
Kendaraan tidak ada , mereka lebih suka memilih untuk berjalan kaki. Walaupun hanya segelintir orang, namun penerangan disini cukup baik sehingga tidak ada kesan horor atau semacamnya. Berbeda saat dirinya berjalan dari paviliun sampai sini ia menemui jalan yang sangat sepi dan perang dikelilingi tembok tinggi dan pepohonan.
Luciana berjalan melewati jalan pintas, jika melewati jalan utama kerajaan pasti disana terjaga sangat ketat.
"Udara malam hari memang menenangkan. " ucap Luciana
Dirinya berjalan menuju hotel dan cek in hanya untuk satu malam saja.
"Kartu pengenal nona? "
Luciana menyerahkan kartu pengenal dengan nama samarannya. Tidak mungkin ia memberikan tanda pengenal asli hanya untuk menginap di hotel.
"Baiklah ms. Lexia ini adalah kunci beserta nomor kamar yang akan anda tempati. Selamat menginap. "
Ternyata dirinya mendapatkan kamar di lantai paling atas. Hotel ini hanya ada 3 lantai. Berjalan menaiki tangga demi tangga untuk sampai di ruangan yang ia pesan.
Saat melewati anak tangga terakhir dirinya tak sengaja berpapasan dengan seorang pria hingga hampir terjungkal ke belakang, namun tangan Luciana segera ditarik sampai menubruk dada pria itu.
__ADS_1
Bruk*
"Apa anda baik-baik saja nona? " tanya pria itu
Luciana segera menjauh dan membenarkan letak tudungnya agar hanya mulutnya saja yang terlihat.
"Saya baik saja. Terimakasih telah menolongku."
Luciana segera pergi dari sana karena merasakan pria yang ia tabrak itu mengamati nya dengan intens. Luciana tidak melihat wajahnya namun jika dilihat dari wangi parfum yang tertinggal di hidungnya dia adalah type pria yang romantis.
Luciana berjalan terburu-buru. Saat menemukan ruangan yang ia cari segeralah masuk kedalam dan mengunci pintu.
Pukul 5 pagi.
Luciana sudah bersiap-siap untuk pergi berkelana. Waktunya tidak banyak hanya satu minggu sebelum kembalinya raja. Beruntung sekali dirinya tidak membawa banyak barang. Sekarang ia akan chekout dan pergi dari hotel ini.
"Terimakasih nona Lexia. "
Luciana mengangguk dirinya tidak lagi memakai jubah hitamnya, jubah itu hanya digunakan ketika malah hari jika disiang hari dirinya memakai pakaian seperti itu di pusat kota pasti orang-orang akan mencurigainya.
Luciana memakai pakaian sederhana layaknya nona dari kalangan menengah kebawah. Tidak lupa memakai cadar untuk menutupi wajahnya dengan cadar selaras dengan warna gaunnya.
Berjalan bersama orang-orang dengan santai, walaupun masih pagi disini sudah sangat ramai orang berlalu lalang untuk bekerja atau mencari makanan.
Terlihat para wanita memakai rok tidak ada yang memakai celana, hanya ada bermacam-macam rok yang mereka gunakan. Entah itu panjang, pendek, mengembang, atau ketat yang jelas mereka memakai rok. Sementara pria jelas memakai celana panjang. Ini adalah kota utama kerajaan pakaian yang mereka kenakan jelas sesuai keadaan ekonomi kelas menengah ke atas.
Aurora berjalan menuju sebuah penyewaan mobil.
"Permisi."
"Ada yang bisa dibantu nona? " tanya pemilik usaha
"Aku membutuhkan mobil untuk mengantarkan ku ke tempat ini. " tunjuk Aurora pada sebuah tempat dipetanya.
"Tidak apa aku akan membayarnya. " ucap Luciana
"Apa anda yakin nona? " tanya bapak itu sedikit ragu saat melihat penampilan sederhana Luciana.
"Apa ini cukup? "
Luciana mengeluarkan satu ikat uang berwarna abu-abu dan bercorak hijau lumut. Terlihat pria itu melotot kaget melihat jumlah uang yang ia genggam. Ini hanya sebagian uang yang ia bawa.
"Itu lebih dari cukup nona. "
"Jadi antarkan aku sekarang. "
Pria berumur itu mengangguk dan mempersiapkan mobil yang akan mereka kenakan. Sambil menunggu Luciana berjalan kearah penjual yang tengah berdagang sebuah makanan tradisional. Terlihat sepi pembeli padahal bapak tua itu menjual sebuah kue yang jika dikehidupannya dulu diberi nama kue serabi. Namun disini jauh lebih kecil ukurannya hanya bisa sekali lahap.
Luciana berjalan mendekati bapak penjualnya yang terlihat sudah tua.
"Apa yang Anda jual? "
"Saya menjual kue buatan saya sendiri nona. "
"Boleh aku mencicipinya? Tenang aku akan membayarnya. "
Melihat wajah senang penjual itu membuat Luciana tersenyum tipis. Pria tua itu membuatkannya yang baru padahal yang sebelumnya masih banyak . Tidak lama hanya beberapa menit kue itu pun sudah jadi.
Luciana mencicipinya dan wow! Benar ini adalah rasa kue serabi dan disini jauh lebih gurih karena menggunakan minyak dan kelapa yang segar.
__ADS_1
"Kue anda sangat enak tuan. "
"Saya akan membeli semuanya. "
"Ap-apa? Benarkah nona?? " ucap pria tua itu tidak percaya
Luciana mengeluarkan beberapa lembar uang berwana merah bercampur oranye, " Ini untuk kue semua, apakah cukup? "
"Cukup nona, ini bahkan terlalu banyak. " pekik pria tua itu terharu, sambil membungkukkan tubuhnya.
"Terimalah." pria itu menerima uang dari Luciana dengan gemetar haru.
Pria tua itu hendak bersujud pada Luciana namun segera ia cegah. Pendidikan akhlak disini apa serendah itu? Bagaimana bisa semua orang baik tua ataupun muda bisa sembarangan melakukan sujud.
"Kalian semua!! Disini ada kue serabi gratis!! Cicipilah! Sangat enak!! " teriak Luciana
Awalnya mereka mengabaikannya namun beberapa detik kemudian banyak orang yang datang dan mengerubungi pria tua itu. Pria tua itu terlihat sangat senang melayani semuanya.
"Wah benar ini sangat enak. "
"Aku sering sekali hanya melewatinya saja, sungguh tidak percaya akan seenak ini. "
"Benar, aku akan kesini dan membelinya setiap hari. "
"Apa kata gadis itu nama kue ini tadi? "
Luciana berjalan mendekat, " Ini kue serabi yang terbuat dari campuran kelapa parut dan tepung. " jelas Luciana
"Wah begitu..."
" Kami baru tahu. "
Terlihat mobil yang ia pesan sudah siap, Luciana berjalan menuju pria penjual itu dan memberikan sebuah amplop berisi surat khas dari putri kerajaan.
"Baca ini. Saya menunggu anda di istana minggu depan, buatkan kue yang enak seperti ini. "
"Ap-apa? Apa anda seorang bangsawan kelas tinggi?? " terkejutnya dengan mata bergetar.
"Bukan saya hanya bangsawan biasa. "
"Te-terimakasih nona!! " teriak pria itu mengejar Luciana, namun Luciana sudah terlebih dahulu memasuki mobil dan pergi dari sana.
"Siapa dia ? Kenapa memakai mobil? " tanya beberapa pelanggan barunya.
"Dia seorang bangsawan. " ucap sang pria tua itu
"Oh benarkah??! "
"Ada apa..ada apa? " penasaran mereka
"Gadis tadi adalah seorang bangsawan di Kerajaan ini. " hebohnya
Sejak itu kue yang tadinya tidak laku kini menjadi sangat laku setelah diperkenalkan oleh Luciana sebagai kue benama kue serabi. Pria tua itu tidak sabar menemui gadis itu lagi minggu depan. Sangat antusias bukan karena bisa mengunjungi istana namun karena bisa bertemu dengan Luciana.
Benar bukan? Kebaikan sekecil apapun disaat seseorang tengah susah, bisa membuat orang tidak bisa melupakan jasamu.
"Gadis itu? "
...To be continued........
__ADS_1
...SEBELUM BACA NEXT CHAPTER , TOLONG LIKE, KOMENTAR, VOTE YA....
...YANG BELUM FOLLOW, HAYUK FOLLOW DULU<3...