
...HAPPY READING📖...
...*...
...*...
...*...
"Jika aku menang, aku ingin kau menjadi istriku dan menikah denganku. Bagaimana? " seringainya
Liam mengulum bibirnya mendengar ucapan itu. Itu curang! Sementara Luciana berdecih kemudian tertawa kecil mendengarnya.
"Itu pun jika anda menang," seringainya
"Maka itu kita lihat. " sahut Leatan
Luciana terdiam. Menimbang apa yang akan terjadi selanjutnya, walaupun ia yakin dirinya bisa saja menang darinya. Namun, memungkinkan juga dirinya kalah dari segi kekuatan dengan pria itu. Luciana yang tengah menimbang itu, membuat para prajurit yang melihat nya berbisik-bisik. Mereka juga penasaran dengan keyakinan putri Luciana melalui ucapanya.
Mereka membandingkannya dengan seorang pendekar wanita dari Kerajaan seberang yang sempat terkenal di semua kalangan dengan tingkat kehebatannya bermain pedang. Mereka juga berspekulasi jika Luciana akan kalah dengan pangeran Leatan, mengingat proporsi tubuh yang tidak sebanding.
"Aku yakin Putri Luciana yang menang. " celetuk prajurit muda disana dengan tanpa ekspresi.
Mereka memandang prajurit muda itu dengan menyelidiki, pasalnya dia baru saja bergabung di kemiliteran kerjaan ini dan usianya masih sangat muda. Membuatnya seperti kacung dalam sebuah tim. Pemuda itu tidak memperdulikan nya, ia tetap menatap kearah tengah lapangan .
Luciana mengangguk dan merobek ujung gaunnya menggunakan pedang, membuat gaun itu seperti gaun pendek dengan potongan dibawah lutut. Membuat kaki jenjang mulusnya itu teroampang jelas walaupun hanya sebatas bawah lutut.
Sontak para lelaki yang melihat langsung melotot dan buru-buru memalingkan wajahnya.
"Apa yang kau lakukan! " sentak Albert yang langsung melepas jubahnya dan meletakkan di pinggang Luciana dengan secepat kilat.
Tubuh Luciana tersentak dengan perlakuan Albert. Albert memundurkan tubuhnya setelah berhasil mengikat jubahnya di tubuh gadis itu. Albert menatap manik mata Luciana dengan tajam.
"Kau ingin mempertontonkan tubuhmu secara gratis, hah! " katanya penuh penekanan.
"Selain tidak punya etika ternyata kau juga tidak punya malu. "
Luciana masih diam.
"Kau ingin menjadi ****** seperti ibumu, hah?! "
Cukup, kata-katanya keterlaluan hanya karena hal sepele seperti ini. Bahkan diluar sana para bangsawan wanita memakai gaun ketat mempertontonkan lekuk tubuhnya.
Emillio menatap kakaknya dengan pandangan kaget.
Luciana mengepalkan tangannya dan berjalan maju mendekatkan dirinya kepada pria itu.
Padahal ia melakukan itu untuk memudahkan bergerak, bagaimana bisa ia bertarung dengan gaun panjang itu?
Luciana mendorong dada Albert menggunakan telunjuknya dengan keras membuat Albert mundur sedikit.
__ADS_1
"Kau mengatai, ibumu sendiri sebagai ******?"
"Kau ... kau mengatai orang yang melahirkan mu sebagai wanita pelacur?"
Langkah kaki Luciana terus maju mendekati Albert dengan langkah pelan dan tatapan tajam yang mengembang. Menggerakkan giginya hingga terdengar olehnya. Albert sendiri juga tidak sadar mengatakan hal itu, sungguh.
PLAK
Wajah Albert tertoleh kesamping saat mendapatkan tamparan dari Luciana. Pipinya kebas saking kuatnya Luciana menampar nya.
Semua prajurit menjerit tertahan melihatnya.Mereka tidak menyangka akan menyaksikan kejadian seperti ini tepat dihadapan mereka.
Hati Albert tersentil karena merasa di permalukan di hadapan para prajurit dan anggota kerajaan Callexius. Namun, ia tau dirinya juga salah karena tidak bisa menjaga kata-katanya. Ia terlalu emosi tadi dengan tindakan Luciana.
Luciana hendak kembali melemparkan tamparan mautnya namun segera dicegah oleh Leatan yang langsung menarik tubuh gadis itu kebelakang. Tindakan itu justru membuat Luciana berbalik menyerang Leatan dengan ganasnya.
Luciana memukul dan menendang dengan gesit membuat Leatan terkejut karena tidak siap dengan serangan tiba-tiba itu. Leatan berusaha menangkis gerakan Luciana tanpa membalas memukulnya.
Albert dapat melihat emosi di kedua mata Luciana saat menyerang Leatan dengan sangat gesit seperti seorang petarung profesional.
Seakan ingin meluapkan emosi di dalam dirinya, Luciana benar-benar menyerang, mengunci, memukul, menangkis dan menendang semua gerakan Leatan dengan mudah. Luciana butuh pelampiasan sekarang dan Leatan adalah sasaran empuknya.
Emillio dan Liam langsung berlari mendekat kearah tengah lapangan. Emillio menatap kakaknya dengan pandangan sedikit kecewa.
"Perkataanmu sangat keterlaluan. Wajar saja Luciana semarah ini padamu. "
"Aku tidak bermaksud mengatakannya. "
Albert mengehela napas pelan.
Liam mengamati keduanya yang tengah bertarung. Dimana Luciana lebih dominan menyerang, sementara Leatan sibuk bertahan. Jika seperti itu, maka pertarungan tidak akan selesai. Harusnya ia melawannya saja dan membuat gadis itu berhenti menyerang setelah berhasil dikalahkan. Karena, Liam tau sifat gadis seperti Luciana. Dia akan semakin tertantang ketika melihat lawannya merasa pasrah terhadapnya.
Tidak tahu saja, bahwa sedari tadi Leatan sudah berusaha mencari kelemahan Luciana yang sangat rapi. Ia sedikit kelelahan. Namun, gadis itu seperti terus menyerang seperti harimau yang tengah mengincar mangsanya.
Tubuh Luciana terdorong ke belakang saat Leatan mendorongnya dengan kuat.
"Cukup." ucapnya sambil mengatur napasnya
Luciana tersenyum miring, " Jangan harap, aku belum selesai memberimu pelajaran karena telah mencuri jubahku. "
Luciana berlari menggapai pedang milik Albert dan membuat Leatan juga mengambil pedangnya yang selalu tersimpan di balik jubahnya. Menatap gadis itu waspada. Setelah merasakan pertarungan tadi, ia menjadi tidak bisa meremehkaan kegesitan gadis itu.
Luciana maju dan menyerang pria itu. Terdengar suara aduan pedang yang membuat para prajurit yang melihat merinding. Mereka juga telah salah menilai putri Luciana. Jenderal Edward yang melihatnya juga speechless dengan kegesitan dan gerakan Luciana yang tampak baru namun mematikan. Beruntung saja bukan ia yang menjadi lawan gadis itu.
"Untung saja... " helanya tenang
Kemudian memerintahkan beberapa prajurit untuk melaporkan berita ini kepada yang mulia raja.
__ADS_1
"Berhenti, Luciana! " teriak Emillio berusaha mendekat
"Kau ingin terkena sabetan pedang? " tanya Liam membuat Emillio berhenti melangkah.
"Kita harus menghentikan nya! "
"Aku tau. Tapi hanya dirinya sendiri yang bisa menghentikan nya. " sahut Liam
Mereka dapat melihat Leatan mulai kelelahan. Namun, gadis itu masih saja senantiasa mengayukan pedangnya. Tubuh Leatan terjatuh diatas rumput saat mendapati tendangan dari Luciana. Gadis itu mengacungkan pedangnya kearah wajah Leatan. Sementara Leatan langsung menepis dan menahannya. Tubuh Luciana berada diatas tubuh Leatan, membuatnya tidak bisa bergerak bebas.
"HENTIKAN."
Mereka semua menoh kearah Raja Gilbert yang tengah berjalan dan menatap kearah mereka dengan pandangan marah.
Luciana berdiri begitu pun dengan Leatan. Terlihat ada sobekan di jubah Leatan dan lengannya yang terkena sasaran kuku dari gadis itu. Sementara Luciana terlihat santai. Emosinya sudah stabil.
"Kau tau apa yang kau lakukan itu, sangat memalukan putri Luciana. " tegas raja Gilbert
"Aku hanya membela diri. "
"Kau telah melukai pangeran putra mahkota kerajaan lain. Dan itu sungguh tindakan yang tidak pantas. "
"Maaf... "
"Apa anda baik-baik saja, pangeran? " tanya Raja Gilbert dengan khawatir
"Saya baik yang mulia. "
"Baguslah. Maafkan tindakan putri hamba yang merugikan ini. " maafnya dengan tulus layaknya seperti ayah .
Luciana mendengus, sejak kapan pria itu menganggapnya anak?
"Tidak masalah yang mulia. Kami hanya bermain-main. "
"Tetap, dia harus dihukum yang mulia. "
Celetukan itu membuat mereka menoleh kearah belakang Raja berdiri, disana ratu Adriana tengah berjalan bersama para pelayan pribadinya. Diikuti Lauren di ambang pintu bersama pelayan Elis yang terlihat berjalan tergesa-gesa karena khawatir akan berita itu.
Tuan Richard memerintahkan panglima Edward untuk membubarkan seluruh pasukannya dan mengosongkan wilayah ini.
"Hukuman, karena telah melukai dan melakukan tindakan berbahaya kepada pangeran Leatan yang merupakan tindakan yang sangat hina dan memalukan. Hukuman yang pantas adalah pengasingan dan dicabut gelar sebagai putri. " ucap Ratu Adriana setelah sampai di samping Raja Gilbert.
"Tidak! "
...To be continued..... ...
Ekpresi Luciana mendengar perkataan ratu Adriana:v
📥Tinggalkan komentar dan jejak
__ADS_1