
...SELAMAT MEMBACA...
...*...
...*...
...*...
Paviliun Awan
Kedua gadis itu telah sampai di dalam paviliun. Luciana berniat untuk membersihkan ruangan sebelah yang selama ini kosong untuk menjadi kamar Lauren.
Beruntung sekali pelayanan Elis telah sembuh setelah sehari dirawat oleh dokter. Sekarang Luciana sedang menunggu kedatangannya di ruang tengah sembari meminum teh herbal untuk menjaga daya tubuhnya.
Kalian bertanya dimana Lauren? Ah gadis itu tengah berada di taman belakang tengah bermain dengan Livi yang sudah berubah menjadi seekor kuda.
Maka dari itu Luciana berjaga diruang tengah agar bisa memantau pelayanan yang hendak ke taman belakang. Ya tentu saja sembari menunggu kedatangan pelayanan utama kediaman ini.
Terdengar suara langkah kaki mendekat dari arah pintu utama. Luciana menatapnya disana menunggu siapa yang muncul.
Ya, benar dia pelayanan Elis.
"Kak." panggil Luciana
Baru saja menginjak ambang pintu, Elis dikejutkan dengan keberadaan nona mudanya yang tengah duduk di santai disana. Pelayan Elis langsung berjalan mendekati Luciana dengan pandangan haru,Luciana menyambutnya dengan berdiri.
"N-nona... "
"Kau sudah baikan? " tanya Luciana
"Seperti yang Anda lihat nona. B-bagaiman dengan kondisi anda sendiri, nona? " tanya pelayanan Elis
"Syukurlah.. "
"Aku baik seperti yang kau lihat, Elis. " jawab Luciana tersenyum sedikit.
Tubuh Elis bergetar dan langsung menjatuhkan tubuhnya dihadapan Luciana , bersujud di depan kaki Luciana. Sontak membuat Luciana terkejut atas tindakannya. Luciana sedikit memundurkan kakinya.
"Apa yang kau lakukan, Elis? "
"T-terimakasih atas bantuan anda , nona. Berkat anda sekarang hamba bisa terbebas dan bisa bertemu dengan anda lagi. " isaknya dengan posisi bersujud.
Luciana sedikit terkejut.
"Berdiri.. "
"T-terimakasih nona. Saya berutang budi kepada Anda. Tolong tetap jadikan hamba sebagai pelayan Anda nona dan bawa hamba kemanapun Anda pergi... " mohon nya
"Kau terlalu berlebihan, Elis. Aku tidak masalah dengan itu, dan... kau tak perlu bersujud padaku! " ucap Luciana sedikit kesal
"Berdiri.. " perintah Luciana
"T-tapi non-"
"Ada apa ini, Lucy?"
Luciana menolehkan kepala menghadap Lauren yang berdiri dengan bingung disana. Digendongnya seekor kucing yang ia yakini adalah Livi.
__ADS_1
Mendengar suara seseorang, Elis menegakkan kembali tubuhnya dan menoleh kearah sumber suara. Tubuhnya seketika kaku dan pucat pasi menatap terkejut kearah sosok di depannya.
Lauren menatap kearah Elis yang berdiri pucat, lalu menaikkan sebelah alisnya menatap kearah Luciana. Ia berpikir Luciana baru saja menghukumnya karena sebuah kesalahan dan membuat pelayan ini terlihat ketakutan.
"Kau baru saja menghukumnya, Lucy? " tanya Lauren
"Untuk apa aku menghukumnya? "
"Lalu? "
"Dia pelayan pribadi ku. Namanya Elis. Dia baru saja keluar dari rumah sakit dan sekarang sudah kembali kepadaku. " jawab Luciana
Lauren mengangguk paham, dengan tangan setia mengelus bulu halus milik Livi digendongnya.
Luciana kembali menatap pelayan Elis yang seperti ketakutan sekaligus bingung. Luciana menghela napas pelan. Elis pasti terkejut melihat Lauren yang memang mirip sekali dengan ibunya, ratu Adellia. Walaupun berbeda dengan warna rambutnya saja.
"Ny-nyonya A-Adellia?" ucapnya bergetar dengan menutup mulutnya tidak percaya.
"Bukan. Dia Lauren." sahut Luciana
Kini ia justru menunjukkan wajah shok berat. Seperti tidak percaya apa yang tengah ia lihat sekarang. Mungkin aku menceritakan ekspresi nya seperti berlebihan, namun memang sekaget itu. Mungkin ada hal yang lain yang membuatnya se terkejut ini.
"P-putri Lauren.. " hormat Elis membungkuk kan tubuhnya.
Lauren tersenyum manis, " Salam kenal, Elis. "
"I-iya putri. "
"Samakan saja panggilan mu seperti kepada Luciana. Panggil saja nona. " suruh Lauren dengan sopan
"Baik nona Lauren."
Luciana menyuruh pelayan Elis untuk memanggil seluruh pelayan di kediaman ini. Dan sekarang mereka semua tengah berkumpul di depan kamar yang memang kosong sedari dulu.
"Aku memanggil kalian kesini untuk memerintahkan kalian membersihkan seluruh isi paviliun. Bersihkan semuanya, hal ini sebagai bentuk pelaksaan sebelum debutante kami. Jangan sungkan untuk beristirahat, aku tidak memaksa kalian seperti robot pembersih. Istirahat lah jika lelah, makanlah jika lapar dan minumlah jika haus. Apa kalian paham? " seru Luciana
Mereka menjawabnya dengan enggukan, "Paham yang mulia. "
"Ada yang ingin ditanyakan? "
"Apakah sekalian dihias taun putri? " tanya salah satu dari mereka
"Emm.. tidak perlu. Biarkan itu urusan pihak kerajaan nanti. Kalian hanya perlu membersihkannya. Termasuk kamar kalian sendiri agar kita sama-sama nyaman disini. "
"Baik yang mulia. " jawab mereka serempak.
Luciana menatap sekitar sepuluh pelayan didepannya, "Saya butuh dua orang untuk membantu membersihkan kamar ini. Terserah siapapun dari kalian. "
"Biarkan kami saja yang membersihkan yang mulia. " angguk mereka
"Tidak. Aku hanya butuh dua orang selebihnya kalian bisa berpencar untuk membersihkan ruangan lain. "
"Baik yang mulia. "
Mereka semua membubarkan diri setelah Luciana suruh. Tertinggal dirinya, Lauren , Elis dan dua pelayan yang bertugas membantunya membersihkan.
Mereka semua membersihkan seluruh ruangan dengan semangat. Apalagi nona mereka putri Lauren tengah memasak untuk mereka. Sementara Luciana tengah menatap ruangan yang akan ditempati Lauren dibantu Elis dan dua pelayan lain.
__ADS_1
Sekitar hampir 3 jam mereka bekerja. Luciana menatap puas ruangan yang baru saja ia bersihkan.
"Kalian boleh pergi dan beristirahat. "
"Terimakasih yang mulia. "
"Nona, apakah perlu saya panggilkan seorang pengecat untuk mengecat ulang dinding ruangan ini? " tanya Elis
"Tidak perlu. Lauren lebih nyaman dengan ruangan bersih dengan desain putih seperti ini. Dan cat nya masih sangat bagus , jadi tidak perlu di cat ulang. " sahut Luciana
"Baiklah nona. "
Luciana keluar berjalan menuju dapur , menemui Lauren. Disana Lauren sudah selesai memasak.
"Lucy.. bagaimana menurutmu? Cobalah. '
" Emm.. sangat enak. " komentar Luciana ketika mencicipi kue buatan Lauren.
Lauren tersenyum senang.
"KALIAN MAKANLAH INI, JANGAN SUNGKAN. " teriak Luciana
Mereka mulai berdatangan untuk mencicipi masakan Lauren yang dibantu oleh kepala koki disini.
"Enak sekali... "
"Ya benar.. "
Lauren tersenyum mendengarnya.
"T-terimakasih atas makanannya, putri Lauren. . "
"Ya. Sama-sama. " jawab Lauren tersenyum manis
Mereka mulai berbisik-bisik dan mengobrol sambil menikmati makanannya. Para pelayan sangat kagum dengan masakan Lauren dan tidak menyangka putri yang sempat mereka pikirkan sosok putri tanpa bakat dan lemah ternyata cukup pandai memasak. Mereka juga menyukai pembawaan Lauren yang sangat lembut dan manis itu. Senyuman nya juga sangat manis seperti gula dengan mata bulan sabitnya.
Ya, berbeda dengan Luciana. Mereka memang masih sedikit sungkan dan takut kepadanya karena pembawaan Luciana yang sedikit kasar dan penuh penegasan.
Mereka yang sempat mengutuk kedua saudara kembar itu dengan perkataan kasar dulunya, sekarang mulai menghilangkan nya. Ternyata apa yang mereka dengar dengan apa yang mereka lihat dan rasakan langsung itu jauh berbeda. Mereka nyaman berada di paviliun ini daripada berada di paviliun mawar dan matahari. Dua saudara ini sangat baik walaupun terkadang Luciana bisa menjadi sosok yang kejam, berbeda dengan ratu Adriana dan Putri Arabella yang sering seenaknya memerintah mereka.
"Ada apa ini?"
Mereka langsung menolehkan wajahnya kearah pintu ruangan, melihat keberadaan pria yang mereka ketahui sebagai sosok pangeran kedua dari Kerajaan Callexius.
Liam telah sampai di kerjaan Aqualiors bersama pangeran Leatan. Ia memilih berpisah untuk menemui sosok perempuan yang ia kenal sebelumnya. Mencari keseluruhan paviliun yang ada dan ternyata belum menemukan nya. Dan terakhir ia berjalan menuju paviliun Awan . Saat memasukinya Liam sedikit bingung karena disini sangat bersih sekali, atau memang para pelayan disini baru saja membersihkannya.
Cukup terkejut saat memasuki ruangan ternyata tidak ada seorang pelayan pun yang menyambutnya, membuat Liam mengeryit bingung.
Namun, rasa bingung nya itu musnah ketika memasuki kawasan dapur ia melihat banyak sekali pelayan yang tengah menikmati makanan disana. Cukup terkejut saat melihat gadis yang ia cari tengah berdiri disana bersama seorang gadis berambut putih Silver.
"Liam? " ujar Luciana
Para pelayan segera menundukkan tubuhnya dan melakukan salam penghormatan untuk pria itu. Mereka yang mengerti suasana , langsung beranjak pergi dari sana termasuk pelayan Elis. Meninggalkan Luciana dan Lauren disana.
"Apa yang kau lakukan disini, Liam? "
...To be continued..... ...
__ADS_1
...JANGAN LUPA KOMENTAR DAN TINGGALKAN JEJAK SEBELUM MEMBACA NEXT CHAPTER YA. ...