BAD PRINCESS OF AQUALIORS

BAD PRINCESS OF AQUALIORS
Bab 26 : Hari Kelima


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA!...


...*...


...*...


...*...


"Kau benar-benar akan pergi seorang diri Luci? " tanya Lauren khawatir


"Tentu saja, kau diajak tidak mau. " balas Luciana


Matahari belum menunjukkan sinar kebesarannya namun Luciana sudah sibuk mempersiapkan diri untuk pergi. Hari ini adalah hari kelima Luciana pergi dari istana, waktu yang dimiliki Luciana hanyalah tinggal 2 hari saja. Dirinya harus benar-benar menemukan ex queen Aqualiors yaitu lady Adellia.


"Tapi ini terlalu pagi, Luci, menurutku kau pergi ketika matahari sudah terbit saja. " pinta Lauren


"Aku tidak punya banyak waktu Lauren. " sahut Luciana mencoba ingin dimengerti.


"T-tapi kita belum lama bertemu, aku masih ingin berbincang denganmu. " cemberut nya


Luciana mencubit pipi mulus nan kenyal milik Lauren. Gemas! itu yang Luciana rasakan.


"Tenang saja kita akan mempunyai banyak waktu untuk berbincang dikemudian hari. " ujar Luciana


"Atau kau ingin ikut bersamaku, Lauren? " tawar Luciana


"Aku ingin tapi.. "


"Yasudah bertahanlah disini. " sambung Luciana


"Baiklah."


Luciana berjalan keluar dari bangunan kecil itu. Lauren senantiasa mengikuti langkah kaki Luciana. Keduanya berhenti di depan danau.


"Setiap hari kau makan apa? Kulihat disini hanya ada beberapa tanaman buah. Tidak mungkin kau bertahun-tahun tinggal hanya makan buah saja bukan? " tanya Luciana penasaran


"Buah itu hanya untuk cemilan saja. " sahut Lauren


"Lalu? "


"Aku akan keluar dari wilayah sini untuk pergi ke pasar di desa Weissa , membeli bahan makanan untuk keperluan selama seminggu. Makannya aku hanya keluar seminggu sekali.." jawab Lauren tersenyum


"Apa kau diberi pesangon dari Kerajaan? Maksudnya untuk bertahan hidup seperti uang dan koin? " Lagi-lagi Luciana tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran nya.


"Pfttt.. " kekehnya


"Kau tau Luciana, mereka tidak pernah memberiku uang sepeserpun! Uang yang sering aku belanjakan adalah uang peninggalan ibu Mary. " jelas Lauren


Luciana mengeryit bingung. Dirinya pernah bertanya kepada tuan Richard bahwa setiap pekerja baik yang sudah pensiun atau masih bekerja di istana akan selalu mendapatkan pesangon. Kenapa Lauren yang seorang putri Raja justru tidak mendapatkan nya?? Benar-benar ada yang tidak beres.


"Aku juga tidak tahu mengapa seperti itu. Sampai sekarang aku menganggap bahwa pihak kerajaan memang sudah melupakan ku. Terbesit perasaan ingin kembali tapi aku menyerah, bagaimanapun juga memberontak bukanlah hal yang benar. "


"Kedatanganmu ternyata mematahkan presepsi ku, tenyata kau mengingatku, dan sungguh tidak menyangkal kau akan kesini hanya seorang diri. " puji Lauren


"Saudara kembar walaupun tidak seiras tetapi tetap memiliki naluri yang tajam satu sama lain. " ujar Luciana


"Aku harus pergi sekarang. "


Luciana mendekati perahu kecil itu dan hendak menaikinya namun tangannya dicegah oleh Lauren.


"Ada apa? "

__ADS_1


"Kau mau kemana? Kenapa kearah sana? " tanya Lauren


"Tentu saja keluar dari sini, bukankah harus menyeberangi danau itu? "


Lagi-lagi Lauren terkekeh sontak membuat Luciana bingung.


"Kenapa kau tertawa seperti itu! " kesal Luciana


"Luci, apa setiap aku pergi keluar dari sini harus terus menyeberangi danau walaupun perahu itu ada diseberang sana? " tanya Lauren


"Heh? "


"Maksudmu kau keluar bukan lewat sana? "


"Tentu saja bukan! "


"Ayo ikut aku! "


Lauren menyeret tangan Luciana menuju belakang bangunan rumah itu. Mengajak Luciana untuk berjalan kearah sebuah tembok besar tertutup tanaman rambat.



"Aku keluar melalui pintu rahasia ini, jadi tidak perlu mendayung setiap kali aku keluar dari sini. " ucap Lauren


"Kenapa tidak bilang dari tadi! " decak Luciana


"Maafkan aku." kekeh Lauren


Lauren entah melakukan apa hingga pintu itu terbuka. Luciana memerintahkan Luciana untuk mendekat.


"Ingatlah posisi pintu rahasia ini Luciana, jika kau kembali kesini usap saja dengan tanganmu, pintu ini akan terbuka hanya untukmu. " jelas Lauren


"Berhati-hatilah!! " teriak Lauren


Selama bersama Lauren, itu bukan sifatnya yang sebenarnya, Lexia membiarkan reaksi tubuhnya bekerja seperti seharusnya secara alamiah. Bisa dikatakan Luciana yang memegang kendali ketika bersama orang yang benar-benar ia sayangi.


Lexia membiarkan nya karena sifat seperti itu akan semakin mudah dirinya mendapatkan kepercayaan dari Lauren. Jika kalian tau mendapatkan kepercayaan dari orang lain sangatlah sulit, maka beberapa orang pasti akan menampilkan beberapa topeng untuk mengelabui nya.


Luciana berjalan kearah barat daya. Kembali mengecek peta yang ia bawa. Menurut peta untuk sampai di perbatasan kedua kerajaan dirinya harus kembali ke perkampungan bernama desa Weissa itu.


"Baiklah.. "


Hari memang masih sangat pagi, Luciana memanfaatkan waktu seperti ini untuk melatih kekuatan dan kemampuannya kembali. Seperti berjalan sesuai insting, Lexia terkenal dengan insting yang cukup tajam.


Luciana mempercepat langkahnya menjadi berlari kecil melewati batang-batang pohon besar beserta semak rerumputan. Terus mempercepat langkahnya beserta tangan kanannya yang memegang sebuah belati kecil miliknya.


Melempar dan..


Wushhh...


Jleb!


Arghhhhhhhh!!!



Suara rintihan manusia. Luciana berhasil melemparkan belatinya tepat sasaran. Luciana berjalan mendekati seseorang berpakaian serba hitam itu.


Menghindar, itu alasan Luciana mempercepat langkah kakinya hingga berlari untuk mengecoh sosok hitam yang me mata-matainya sejak dirinya mengecek peta.


SRETT!

__ADS_1


Luciana menarik belati itu dengan mudah hingga darah bercucuran dibagian dahi pria bercadar serba hitam itu. Luciana mengecek nadinya dan pria aneh itu telah mati ditempat. Itu artinya jeritan yang sempat ia dengar tadi adalah suara terakhirnya.


Luciana terkekeh. Menatap pria itu tanpa minat kemudian kembali melanjutkan langkah kakinya.


Setelah beberapa langkah ia berbalik badan dan benar jasad pria itu telah menghilang atau lebih tepatnya telah menjadi abu. Luciana berdecak kesal walaupun sudah menjelang pagi pun roh-roh jelek itu masih saja berani keluar. Mereka tidak keluar saat siang hari, selama matahari belum terbit maka itu adalah waktunya mereka bekerja.


"Sepertinya benar roh disini menyukai raga dengan jiwa yang berbeda, apalagi raga ini pemiliknya sudah mati . " gumam Luciana


Langkah kakinya telah sampai diperbatasan tugu yang kemarin ia lewati. Tepat dengan itu pagar disana sudah terbuka karena waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Seperti biasa Luciana berjalan mengelilingi pasar untuk membeli gaun baru.


"Carikan aku gaun sederhana . "


"Baik nona. "


Luciana diam menunggu pelayan toko yang tengah mengambil baju yang ia minta. Tidak berselang lama dia kembali membawa tiga jenis gaun.


"Hanya ada ini nona, anda bisa memilih sesuai selera anda. "


Luciana memperhatikan gaun itu, namun tidak ada yang menarik perhatiannya.


"Tidak ada yang lain? "


"Tidak ada nona ini hany-"


"Ambilkan gaun itu! " potong Luciana menunjuk gaun yang terpasang di salah satu patung manekin


"Ada apa? " tanya Luciana ketika wanita itu terdiam.


"Tidak nona, tapi apa anda yakin ingin memakainya? Para pembeli jarang menyukai model gaun seperti itu, mereka bilang gaun itu sangat norak. " jelas nya


"Aku tidak menemukan dimana bagian norak atau judulnya, ambilkan itu, aku akan mencobanya. "


"Baik nona. "


Luciana mencoba gaun itu di ruang ganti kemudian keluar. Wanita itu sedikit terkejut melihat gaun itu ternyata sangat cocok dipakai Luciana.



"Anda sangat cocok memakainya nona! "


"Terimakasih."


Luciana membayarnya tidak lupa meminta kain seperti warna gaun itu untuk dijadikan sebagai cadar. Luciana juga meminta mereka untuk menata rambutnya. Rambut Luciana yang lebat dan panjang itu dikepang kemudian disisakan beberapa helai saja untuk mempermanis.


"Ini kembaliannya nona. "


"Tidak perlu! Pakai kembalian itu untuk membeli baju yang lebih tertutup, kau tidak bisa menarik seorang pria hanya karena berpakaian seperti ini. Jadilah wanita yang berharga maka kau akan menemukan sosok lelaki yang mencintaimu sepenuhnya bukan karena tubuh. " sarkas Luciana


Terlihat wanita yang terlihat masih muda itu menunduk seolah perkataan Luciana menohok relung hatinya, namun apa yang dikatakan Luciana memang benar adanya.


"T-terimakasih nona. "


"Sama-sama, terimakasih atas pelayanannya."


Luciana membuka pintu keluar dan bertabrakan dengan seorang pria bertubuh kekar hingga dirinya sedikit oleng namun beruntung tubuhnya segera ditahan oleh pria itu. Jika tidak Luciana akan terjatuh dari tangga depan toko itu.


"Kau tidak apa-apa? "


"Liam? " kaget Luciana


...To be continued.... ...

__ADS_1


...TINGGALKAN KOMENTAR, LIKE, HADIAH DAN VOTE SEBELUM MEMBACA NEXT CHAPTER...


__ADS_2