BAD PRINCESS OF AQUALIORS

BAD PRINCESS OF AQUALIORS
Bab 15 : Terkena Jebakan


__ADS_3

...Happy Reading...


...*...


...*...


...*...


Hari sudah mulai petang kembali. Sejak pagi gadis itu masih berkutat dengan sesuatu hingga sampai menjelang malam.


Pelayan Elis sesekali menyambangi kediaman putri Luciana untuk mengeceknya. Dirinya tidak ingin sampai lalai dan membuat putri yang ia jaga terluka karena keteledoran nya.


"Sebenarnya apa yang sedang anda buat nona? "


Pelayan Elis bertanya saat tadi siang Luciana menyuruhnya untuk mencari beberapa alat dan bahan untuk nya. Dirinya diperintahkan untuk membeli kain berwarna hitam dengan kualitas yang paling baik, mesin  jahit beserta benang dan jarum.


Luciana belum menjawabnya ia masih fokus menjahit kain.


"Nah selesai.. "


Dia berdiri dan merentangkan hasil jahitan nya sendiri.



"Itu apa yang mulia? "


"Jubah anti dingin dan anti benda tajam, mungkin?" ucapnya


Pelayan Elis tetap saja menampilkan wajah bingung. Untuk apa putrihnya membuat seperti itu? Luciana mencoba memakainya dan ternyata sangat sesuai dengan tubuhnya.


"Ambilkan pisau itu lalu lempar kencang ke lenganku. " pintar Luciana


"Apa?! Jangan macam-macam nona! Anda bisa saja terluka! " tolak pelayan Elis atas ide konyol putri Luciana.


Luciana yang sempat mengagumi jubah ciptaannya langsung menatap pelayan Elis tajam, " Jika kau tidak mau yasudah, aku bisa melakukan nya sendiri. " ucapnya santai


"A--anda tidak bercanda kan nona? "


"Untuk apa aku bercanda? "


Ujung bibir pelayan Elis berkedut menahan kekesalannya. Daripada putri melakukan sendiri , Elis terpaksa menuruti perintahnya. Jika Luciana melakukan nya sendiri itu pasti akan jauh diluar akal nekat nya.


"Lempar..."


"A--anda sungguh serius? " gugup pelayan Elis


"Cepatlah.."


"Lemparkan dengan kencang. "


Dengan ragu pelayan Elis melemparkan pisau itu dengan sedikit pelan agar tidak melukai nona mudanya.


Wushhhhhh


Jleb


"Awshh........." ringis Luciana


"Y--yang mulia!! Apa anda baik-baik saja?! " panik pelayan Elis langsung menghampiri Luciana yang kesakitan memegang lengan kanannya.


"Yaampun! Hamba harus bagaimana?! " panik pelayan Elis, dirinya siap jika nanti akan  diberi hukuman.


"Aku akan mencari bantuan! Tetap disini yang mulia. " pinta pelayan Elis


"JANGAN KEMANA-MANA, HAMBA AKAN MEMANGGIL DOKTER.... "


Sebelum beranjak dari jongkok nya, tangan  Luciana segera mencegah wanita itu pergi.


"Tidak perlu. "


"Ah? "


"Tapi anda terluka nona.....Bagaimana jik_"

__ADS_1


"Tidak, aku hanya  akting saja. "


"Hah? "


Terlihat pelayan Elis terbengong bingung. Luciana terkekeh kecil kemudian kembali mencabut pisau itu dari jubahnya dengan santai.


"Tenang saja aku baik-baik saja, pisau yang kau lemparkan tidak mengenai kulitku... " jelas Luciana


"Lihatkan? "


Luciana menyingkap jubah itu dan benar saja pisau itu hanya menancap sedikit sekali di kain tidak sampai mengenai kulit putri Luciana.


"Jika kau melemparkan nya kencang, pisau ini bisa terpantul. Karena kau tadi melemparnya pelan menjadikannya menancap. " jelas Luciana


"Ap-apa? "


"Apa hamba baru saja justru mencelakai nona?" tanya Elis kaget atas penjelasan Luciana.


"Ya hampir saja, tapi tidak, itu sebabnya aku menyuruhmu melemparkan nya kencang. "


"Maafkan ham-"


"Tidak! Jika kau bersujud aku akan menghukummu! " tegas Luciana saat sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan pelayan Elis itu.


"Ma--maafkan hamba yang sudah terbiasa, yang mulia."


"Hmm.. "


"Ta-tapi kenapa anda membuatnya yang mulia? "


"Tidak apa hanya untuk berjaga-jaga. "


Luciana membereskan semua peralatan jahitnya dibantu pelayanan Elis. Kini  Luciana menggantung pakaian itu dilemari pakaian.


"Ohh? "


Betapa terkejutnya saat melihat isi lemari pakaian yang besar disertai kaca yang dapat memperlihatkan seluruh tubuh. Disana tertata rapi pakaian-pakaian mahal dengan beraneka ragam warna dan bentuk.



"Ma--maaf nona tadi saat anda pergi ada beberapa pelayan urusan raja yang datang mengantarkan pakaian ini nona. " jelas Elis


"Ohh begitu.. "


Luciana menutup kembali lemari pakaian itu dan berjalan untuk menutup pintu kamar. Pelayan Elis hanya bisa melihat dengan keryitan dahi bingung.


"Apa ada sesuatu nona? "


"Aku tak ingin ada yang menguping pembicaraan ku. "


"Apa yang akan anda katakan nona? "


"Selama raja pergi aku akan berkelana untuk mencari ibu dan adikku. " ucap Luciana memutar-mutar tongkat ditangannya.


"Ma-maksud anda?? "


"Seperti yang kau barusan dengar, aku akan pergi jadi aku meminta bantuan mu kak, apa kau mau? " tanya Luciana


"Tapi itu sangat berbahaya nona! Hamba tidak bisa membiarkan anda pergi sendirian jadi bawalah hamba juga agar hamba bisa menemani nona.. " pinta pelayan Elis


"Tidak kak! Aku akan pergi sendiri. "


"Tapi sangat berbahay-"


"Berhenti! Dengarkan aku.... " jeda Luciana


"Selama kepergianku aku memintamu untuk menjadi mata-mata ratu dan para pejabat kerajaan lalu laporkan semuanya padaku lewat sebuah surat. " jelas Luciana


"Jika kau ingin mengirim surat bersiulah sebanyak tiga kali makan akan ada seekor burung merpati putih yang akan datang, ikat surat itu pada kakinya dengan pita berwarna ungu agar tidak ada yang curiga. Ungu adalah tanda khusus dariku. Apa kau paham kak? "


"Hamba paham, lalu anda akan pergi kapan putri? " ucap pelayan Elis terlihat sedih


Luciana menjadi merasa tak tega melihatnya. Namun ini adalah kesempatan emas untuk nya pergi dikala sebagian pejabat kerajaan yang pergi bersama raja.

__ADS_1


Hanya satu minggu, itupun jika berhasil. Namun Luciana yakin terhadap kemampuannya sendiri.


"Nanti malam. "


"Hiksss.. Izinkan hamba ikut dengan anda putri...Hamba mohon. " pinta pelayan Elis sedih.


Luciana mengelus pundak wanita itu," Tidak bisa, jika kau ikut denganku maka akan semakin sulit untukku bergerak. "


Benar, bukannya ia tidak ingin membawa pelayan Elis apalagi sampai meninggal kan wanita itu sendirian disini.Namun jika ia membawanya akan jauh lebih sulit untuk Luciana bergerak apalagi harus menjaga nyawa orang lain.


Menjaga nyawa adalah hal yang sangat sulit untuknya. Seolah beban di pundaknya sangat berat.


"Lagipula kau bisa disini dan terhindar dari bahaya, alasanku tidak membawamu karena aku juga butuh seseorang yang dipercaya untuk tetap berjaga disini. Aku hanya bisa percaya kepadamu.. "


Ucapan itu berhasil membuat hati Elis sedikit menghangat, kepercayaan seorang tuan adalah hal yang sangat berharga untuk pelayan sepertinya.


"Hanya seminggu, sampai raja kembali. "


"Ba--baiklah putri, hamba bersedia membantu anda dari sini. " ucap Elis pasrah


"Terimakasih."


"Ah anda tidak  perlu berterima kasih kepada pelayan rendahan seperti hamba yang mulia. .." tunduk pelayan Elis


"Kau lupa? Kau bukan pelayan tapi kakak perempuan ku!! Apa aku harus mengatakan itu setiap hari ,heh? " geram Luciana


"Belajarlah untuk menganggapku seperti orang biasa, jangan pandang aku sebagai putri yang kejam, aku tak suka. "


"Baik yang mulia. "


Hari sudah mulai petang, ia meminta pelayan Elis untuk tidak ada yang mengganggunya. Luciana menyuruh penjaga untuk melarang siapapun berkunjung kecuali pelayan dan prajurit paviliun Awan. Tanpa terkecuali walaupun itu ratu Adriana sekalipun.


Paviliun Awan adalah kekuasaannya jadi ia berhak melarang dan mengatur siapapun didalamnya.


"Maaf yang mulia anda tidak diperbolehkan masuk kedalam paviliun Awan. " ucap prajurit penjaga depan paviliun


"Apa? Bagaimana bisa? "


"Maaf yang mulia ini adalah perintah dari yang mulia putri Luciana. "


"Berani-beraninya dia melarang seorang ratu untuk berkunjung!! " geram ratu dalam hati


"Tapi ibuku adalah seorang ratu! Kalian tidak bisa melarangnya! " ujar putri Arabella


"Tetap saja tidak bisa yang mulia. " ucap prajurit berusaha memberi pengertian


"Apa kalian ingin  aku pecat sekarang juga? " ucap ratu Adriana datar


Para prajurit itu menunduk takut jelas ia tidak ingin dipecat namun mereka melakukan ini juga perintah dari putri Luciana sebagai pemilik paviliun.


Serba bingung.


"Sudahlah.. "


Ratu dan yang mengikutinya menerobos masuk begitu saja walaupun sudah dihalangi. Saat berada di depan kamar putri Luciana mereka kembali dihadang oleh pelayan utama sekaligus pelayan pribadi Luciana.


"Maaf yang mulia, putri Luciana sedang tidak ingin diganggu. " ucap Elis membungkuk hormat


"Kalian tau apa yang harus kalian lakukan? " ucapnya pada dua pelayan yang selalu menemani ratunya pergi.


Keduanya mengangguk dan langsung menahan kedua tangan Elis membuat wanita itu memberontak dan terus berteriak meminta ratu dan putri Arabella agar tidak masuk kedalam.


Brugh*


Byur*


Saat pintu terbuka sebuah air bercampur tepung tumpah tepat diatas kepala ratu dan putri Arrabela. Keduanya nampak terdiam bagai patung membiarkan cairan itu membasahi tubuh mereka tanpa tersisa, hingga berwarna putih.


Luciana juga terkejut melihatnya, saat melihat kejadian itu.


Namun setelah melihat siapa yang terkena jebakannya, ia pun tertawa. Itu alasannya tak membiarkan siapapun masuk dan ternyata tetap saja ada yang menghiraukan nya.


"Oh ****! "

__ADS_1


...To be continued.......


...TINGGALKAN KOMENTAR DAN JEJAK LAINNYA SEBELUM BERALIH KE NEXT CHAPTER...


__ADS_2