
...SELAMAT MEMBACA!...
...*...
...*...
...*...
BYURR
Ratu Adriana dan putri Arrabela langsung terdiam ditempat bagai patung cor berwarna putih. Pelayan Elis dan kedua pelayan yang menahannya , juga terkejut melihatnya.
Berbeda dengan Luciana yang sudah tak bisa menahan tawanya.
"Oh s**t! " pekik putri Arrabela
Ratu Adriana mengepalkan tangannya marah.
Ratu menatap Luciana yang tengah terkekeh itu dengan tatapan tajam menusuk. Namun Luciana terlihat biasa saja tak ada rasa takut sekalipun. Dirinya tidak salah bukan???
"Putri Luciana apa yang anda lakukan kepada saya!! " geram ratu Adriana
Luciana berdiri dan berjalan mendekatinya dengan tatapan remeh. Menatap penampilan keduanya dengan pandangan dingin.
"Apa yang saya lakukan? Jelas saya sedang duduk tadi. "
"Dan.. Ada gerangan apa yang mulia ratu TERHORMAT ini mengunjungi saya?"
"Bukankah, para penjaga sudah memberitahu Anda jika saya tengah tidak ingin diganggu? "
"Kau!!!" tunjuknya geram
"Kurangajar!! Kelakuan mu sangat tidak mencontohkan seorang putri. " geram ratu
"Gaunku menjadi kotor gara-gara kelakuanmu , putri bodoh! " teriak putri Arrabela marah juga dengan sesekali mengusap rambutnya yang lengket.
"Bodoh? Bukannya kalian yang bodoh? Padahal saya sudah memerintahkan seluruh penjaga untuk tidak mengijinkan siapapun masuk dan anda melanggarnya? Jadi disini siapa yang bodoh sebenarnya.. " ucap Luciana sinis
PLAK
PLAK
Dua tamparan itu berhasil mendarat sempurna di pipi mulus Luciana. Wajahnya sampai tertoleh kesamping. Pipi kirinya mendapat tamparan dari ratu Adriana sementara pipi kanannya ia menerima nya dari putri Arabella.
"Astaga!! Nona! " pekik pelayan Elis
Dalam dirinya, Elis sangat marah dengan tindakan yang mulia Ratu Adriana, namun disatu sisi ia tidak bisa berbuat apapun untuk membela putri Luciana.
Luciana mengelus pipinya dan terkekeh pelan sambil menatap ratu Adriana dan putri Arrabela, "Oh sakitnya.. "
"Itu untukmu yang dengan beraninya menghinaku sebagai seorang ratu di kerajaan ini!! Perilaku mu tidaklah mencerminkan seorang putri namun preman pemberontak!! " geram Ratu Adriana
"Ingat putri Luciana, kau semakin hari semakin nakal dan tidak terkendali. Memalukan!! "
"Saya akan mengadukamu kepada raja jika sudah kembali!! Bersiaplah untuk menerima hukuman mu! "
Setelah mengatakan itu Ratu Adriana melenggang pergi diikuti salah seorang pelayan sementara putri Arrabela masih terdiam menatap Luciana tajam.
"Kau hanya putri buangan!! Jangan sekali-kali berperilaku seolah kau adalah penguasa!! Dasar putri gila!! " bentak putri Arrabela
"Rasakan itu! Mati saja kau. "
Kemudian pergi ditemani pelayan satunya meninggalkan Luciana yang terdiam dengan pandangan datarnya. Pelayan Elis mendekat.
"Apa Anda baik-baik saja, yang mulia? "
"Aku baik -baik saja. "
"Syukurlah... "
"Jangan hiraukan perkataan mereka putri, anda adalah putri terhebat menurut hamba. " ucap pelayan Elis
Sebenarnya saat Elis melihat putri Luciana tertawa itu adalah momen yang langka untuknya walaupun harus membuat keributan terlebih dahulu. Khawatir tentu saja, tindakan putri Luciana terlalu berani.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang sedang anda lakukan putri? " tanya pelayan Elis bingung
Luciana berbalik dan berjalan menuju meja sementara pelayan Elis menutup kembali pintu.
"Selama aku pergi pasti akan ada seseorang yang masuk kedalam kamarku dan membuat kekacauan. Oleh karena itu aku tengah membuat sebuah jebakan dan ternyata sebelum jebakan itu selesai , sudah terlebih dahulu diuji coba...." kekehnya kecil
"Sepertinya aku akan merancangnya lagi nanti. "
Pelayan Elis hanya bisa menggelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan tingkah putrinya itu. Terkadang kejam dan dingin namun ternyata masih bisa jahil juga. Entahlah pelayan Elis hanya bisa tersenyum dalam hati, yang terpenting putri Luciana sudah sedikit berubah dan berani mengungkapkan perasaannya.
"Pertengahan malam aku akan pergi dan... "
Luciana berjalan menuju nakas disamping ranjang untuk mengambil sebuah surat dengan pita ungu disana.
"Berikan ini pada pangeran Emilio esok harinya. "
"Baik yang mulia. "
Pelayan Elis mengambil surat itu namun..
"Eitss! panggil aku nona saja tidak usah terdapat kata yang mulia dan semacamnya.Aku tidak suka." pinta Luciana
"Baiklah nona. "
Luciana memberikan surat berpita ungu itu kepada Elis. Sengaja ia memberikan surat itu kepada pangeran Emilio karena ada sesuatu yang akan Luciana sampaikan.
Seperti...
Permohonan bantuan dan penjagaan ketat untuk seluruh pelayan di paviliun Awan tanpa terkecuali. Tujuannya agar tidak ada seorang pun yang bisa masuk apalagi sampai memasuki kamarnya yang banyak sekali barang berharga miliknya. Luciana pergi hanya akan membawa sebuah peta yang ia dapat dari perpustakaan dengan menyobek isi buku. Biarlah, yang penting ia tidak ketahuan.
Langit sudah menampakkan suasana hitam pekatnya. Baru saja pukul 8 malam.
Luciana belum bersiap karena ia masih ingin untuk beristirahat . Dirinya tahu perjalanan akan membutuhkan waktu yang lama dan pastinya melelahkan.
Tok*
Tok*
Beliau adalah selir agung Desiana.
"Yang mulia putri Luciana senang bisa bertemu dengan anda. " ucapnya tersenyum lembut
Ah! Ini senyum yang Luciana maksud! Senyum tulus yang tidak dibuat-buat, seperti ratu songong itu, ups!
"Senang juga bisa bertemu dengan anda selir Desiana. " balas Luciana hormat.
"Apa saya mengganggu waktu Anda putri?? " ucapnya sedikit tidak enak
"Tidak! Oh maksud ku tidak mengganggu sama sekali, kebetulan saya baru saja selesai membersihkan kamar. " ujar Luciana
Dengan penuh kelembutan Luciana mempersilahkan selir Desiana untuk masuk kedalam dan menutup kembali pintu kamar.Keduanya duduk diatas karpet tebal dengan meja kecil diantara mereka.
Hening
Tidak ada percakapan.
"Ada gerangan apa anda berkunjung ke kediaman saya yang mulia?? " tanya Luciana mengawali.
"Ah! Sebenarnya saya hanya ingin mengecek keadaan anda putri. "
"Apa anda sudah baikan putri?? "
"Tentu saja sudah kembali sehat yang mulia, terimakasih atas kekhawatiranmu. " balas Luciana
Selir Desiana mengangguk sambil tersenyum.
"Syukurlah... "
"Maafkan saya karena tidak menyiapkan hidangan untuk anda, kalau begitu saya akan memanggil pelay-"
"Tidak perlu putri! " potong Selir Desiana
__ADS_1
"Saya disini hanya sebentar karena harus kembali ke kediaman Melati untuk memberikan ASI . " jelasnya
Luciana mengikuti Selir Desiana yang berdiri dari duduknya.
Luciana menggaruk kepalanya yang tidak gatal, " Siapa nama anak Anda yang mulia? maafkan saya yang pelupa. "
"Elsa."
"Oh putri Elsa. Nama yang cantik. " angguk Luciana tersenyum kecil
"Berkunjung dan bermainlah dengannya ,putri Luciana. Saya akan senantiasa menunggu kunjungan anda. " ucap Selir Desiana tersenyum
Luciana hanya bisa mengangguk. Tak berselang lama ia keluar untuk mengantarkan Selir Desiana kembali.
"Nona apa anda benar-benar akan pergi?? " tanya pelayan Elis ragu
Luciana terlihat sedang sibuk menyiapkan barang-barang yang akan ia bawa. Tidak banyak. Ia berencana hanya akan membawa alat dan senjata yang ia perlukan, untuk pakaian ia tak membawa sepeserpun.
"Tentu saja."
"Baiklah, jika anda membutuhkan uang anda bisa mengambilnya di kotak bawah ranjang nona. " ucap pelayan Elis
Ia mengeryit bingung.
"Anda menyimpan uang dan tabungan anda disana nona. "
Luciana hanya mengangguk dan mengecek bawah ranjang . Menarik sebuah kotak besar seperti koper. Terdapat sebuah sandi disana.
"Apa sandinya? " tanya Luciana
"Kenapa nona bertanya kepada hamba?? " ucap Elis bingung
Melihat respon dari pelayan Elis sudah bisa tertebak jika hanya dirinya yang tau. Jika mencoba sandi satu persatu pasti akan sangat lama dan ia tidak mempunyai kesabaran yang melimpah. Kesabaran Lexia sangat tipis setipis kertas.
Srettt! Sretttt!
Klak!
Terbuka!
Bagaimana cara Luciana membuka nya? jelas dengan paksaan. Setiap keamanan pasti ada kelemahan nya. Gembok itu terbuat dari besi dan besi akan meleleh jika dipanaskan dengan suhu yang sangat tinggi.
"Wahhh.. " kagum Elis saat melihat bagaimana cara ekstrim membuka sebuah kotak.
Luciana merendam kembali gembok itu kedalam air agar kembali mengeras. Membuka isi kotak besar itu dan...
Disana terdapat banyak sekali uang beserta barang perhiasan entah yang terbuat dari emas, perak ataupun berlian! Luciana hanya mengambil beberapa ikat uang seperlunya. Namun saat mengambil di tumpukan uang itu terdapat sebuah pistol.
"Bagaimana bisa disini terdapat pistol berjenis modern seperti ini? "
Luciana mengambil pistol itu dan meneliti semua komponennya. Luciana sangat tercengang saat tau jenis apa pistol itu.
"I--ini adalah pistol yang pertama dan terkuat di dunia yang dikabarkan hilang!! Bagaimana bisa ada disini?!! " pekik Luciana
SilverGun107 dengan jarak dan keakuratan yang sangat tinggi, hilang secara misterius.
"Siapa Luciana sebenarnya?? ' batin Luciana
"Ada apa yang mulia?? Benda apa itu? " tanya pelayan Elis
Luciana kembali membereskan barang-barang itu keposisi semua. Tak lupa mengganti keamanan gembok agar hanya dirinya yang bisa membukanya.
"Bukan apa-apa. "
Pelayan Elis tidak tahu bahwa benda yang ia pegang adalah sebuah pistol. Dizaman ini pengawal juga memakai pistol namun pistol jenis senapan angin yang besar dan berat. Mereka menyebutnya dengan Senapan Gunung. Entahlah jika tidak salah, Luciana lupa namanya.
...To be continued......
...TINGGALKAN KOMENTAR DAN LIKE TERLEBIH DAHULU...
__ADS_1