BAD PRINCESS OF AQUALIORS

BAD PRINCESS OF AQUALIORS
Bab 48 : Sebuah Tantangan


__ADS_3

...HAPPY READING...


...*...


...*...


...*...


"Bukan begitu, itu salah... "


"Tidak. Sudah kubilang bukan begitu cara megangnya. "


"Aishhh..."


"Ap-emmphhh.. "


Belum selesai berkomentar mulut Luciana sudah terlebih dahulu dibekap oleh Pangeran Albert yang tepat berada di samping nya. Dengan wajah datar itu ia terlihat biasa saja, membuat Luciana berusaha melepaskan bekapannya itu.


"Emppph lepwash.. "


"Jika kau diam. " ucap Albert datar yang dibalas anggukan olehnya.


"Tadinya aku sendiri yang akan menyumpal mulutmu dengan kaos kakiku. " dengus Liam yang sedari tadi menyimak.


"Kenapa dengan kaos kaki? Biasanya pria akan mengancam wanita dengan kecupan istimewa." ujar Luciana menatap kedepan dengan santai


"Kau ingin dicium? " balas Leatan tiba-tiba


Luciana langsung mengalihkan pandangannya dan menatap pria itu, menaikkan sebelah alisnya, " Aku tidak minta seperti itu. "


"Tidak meminta tapi kata-katamu merujuk kesana. " gemas Emillio


"Otak kalian saja yang kotor. Kau pikir menyumpal dengan kecupan itu artinya dengan ciuman? Itu hanya pribahasa. Kecupan istimewa yang ku maksud itu dengan berbelanja dan perawatan kecantikan yang memanjakannya. Itu bisa membuat wanita diam dan menurut."


"Tidak pernah mendengarnya. " sahut Albert


"Darimana pribahasa itu? " tanya Emillio


Luciana menatap mereka dengan tatapan horor. Kemudian berdecak, " Tidak usah dipikirkan. "


Panglima Edward datang menghampiri mereka yang tengah duduk dikursi khusus pinggir lapangan pelatihan.


"Yang mulia, ada yang bisa saya bantu? "


"Istirahatkan mereka ,karena hari ini adalah hari pelatihan ku dengan Leatan, biarkan mereka menontonnya di pinggir lapangan sambil beristirahat. " perintah Albert


"Baik,"


Edward langsung melaksanakan perintahnya. Leatan dan Albert telah mengganti bajunya menjadi baju tempur dengan keamanan di sekitar tubuhnya. Masing-masing membawa pedang dan sejenisnya, mereka berjalan dengan gagah menuju tengah lapangan yang teduh itu.


"Kalian tidak ikut? " tanyanya pada Liam dan Emillio.


"Tidak. Aku sudah mahir dalam hal berperang... Kau tahu bukan , setiap bulan aku selalu diutus untuk menjaga perbatasan dan berperang dengan para komplotan bersenjata. " ucapnya Emillio bangga


Luciana mencibir.


"Kau? "


"Bukan jadwalku. Dan bertarung adalah hal yang konyol, mengingat besok adalah acara debutante ku. Kita harus mempersiapkan penampilan sebaik mungkin." jawab Liam

__ADS_1


Luciana mengangguk. Terserah mereka saja.


Mereka kembali fokus kearah tengah lapangan berumput. Melihat keduanya tengah berhadapan dan bersiap dengan memasang kuda-kuda. Bunyi pukulan, tangkisan bahkan pedang yang berada memenuhi arena lapangan hijau disana. Semua prajurit menontonnya dengan antusias, bahkan menjagokan masing-masing dari mereka.


Luciana menatap luruh kedepan. Melihat mereka dengan intens layaknya seorang pelatih yang tengah menguji anak didiknya, mencari kelengahan dan kelebihannya untuk bahan evaluasi.


Dihitung, hampir lima belas menit mereka saling menyerang Leatan mendapatkan pukulan sebanyak 2 kali, sementara Albert mendapatkan 3 kali pukulan. Bertarung dalam jarak dekat bukanlah keahlian Albert, pria itu unggul dalam pertarungan jarak jauh. Namun sangat beda tipis dengan Leatan. Mereka hampir seimbang. Namun dalam teknik penyerangan Leatan sedikit lebih unggul.


Leatan menepis pedang Albert dengan belatinya hingga terpental jauh, kini sudah tau siapa pemenangnya. Walaupun ini bukan ajang perlombaan.


"Cukup,"


"Anda berdua luar biasa. " puji Edward melihat kemampuan keduanya.


Albert menerima uluran tangan Leatan dan bangkit berdiri, " Kau luar biasa. "


"Kau juga. " balas Leatan


Para prajurit yang menontonnya bersorak. Membuat suasana semakin hidup walaupun ditengah lapangan luas itu. Luciana memberenggut dan berjalan mendekati ketiganya yang berada di tengah lapangan.


"Hey. Mau kemana kau!!" teriak Emillio ingin mencegah perginya Luciana namun gadis itu berlari sangat cepat dengan menjinjing gaunnya.


"Biarkan saja. "


"Bagaimana bisa begitu. Dia bisa terluka, bagaimana jika ada pecahan pedang dan senjata tajam disana dan dia menginjaknya? Lalu bagaimana jik-"


"Percaya padanya. " potong Liam tanpa menoleh


"Kenapa kau begitu yakin?" sentak Emillio


Liam melirik pria itu, "Tenang saja. "


Emillio mendengus.


Luciana mengambil pedang Albert yang terlempar dan tertancap di atas rumput dengan mudah. Menatap pantulan dirinya di pedang itu.



Prajurit dan lainnya yang melihat melongo dan terheran-heran akan tingkah putri mereka. Mereka menjerit, takut tangan mulusnya tergores oleh tajamnya pedang itu. Mereka yang menonton dari pinggir lapangan pun bergidik ngeri melihat cara Luciana membawa pedang yang terlihat sangat santai. Sungguh mereka takut pedang itu melukai kulit mulus nan lembut putrinya.


"Apa yang kau lakukan, Luciana! Letakkan pedang itu. " titah Albert menatapnya waspada, bukan takut namun khawatir gadis itu melakukan hal nekat.


"P-putri apa yang Anda lakukan... " ujar Edward taku-takut sama seperti Albert.


Leatan melihat nya datar, namun ia juga sama paniknya dengan mereka semua. Mengingat terkahir kali mereka bertemu di hutan. Gadis itu memang penuh kejutan dan kejutan. Aneh dan sulit ditebak.


"Letakkan, Luciana. " geram Albert


Luciana menaikkan sebelah alisnya, mengangkat pedang itu dan sontak membuat mereka semua menjerit takut dan terkejut bersamaan.


Luciana menatap bingung mereka semua, padahal Luciana hanya ingin menancapkan kembali pedang itu ke tanah.


"Gadis itu.. " decak Liam mengelus dadanya


"Astaga, jantung ku hampir copot. " sembur Emillio


Tangan Luciana bertengger diatas gagang pedang itu, menatap pria didepannya dengan teliti. Dengan posisi seperti itu dan angel yang pas membuat Luciana terlihat keren di hadapan mereka.


"Ada yang mau melawan ku? "

__ADS_1


Mereka terdiam.


Sunyi. Bahkan jika dalam sebuah film akan disisi oleh suara jangkrik.


Kemudian tercengang menyembunyikan tawa tertahan para prajurit disana. Begitu pula dengan panglima Edward yang mati-matian menahan kikikannya. Liana menatap mereka bingung.


"Apa ada yang lucu? "


"T-tidak ada putri. Hanya saja... emmmm.. "


"Hanya saja? "


"Sepertinya anda harus kembali ke dalam paviliun putri. Disini bukan tempat untuk bermimpi. Maafkan jika hamba lancang." lanjutnya seperti meremehkan Luciana.


"Bermimpi ya... " gumam Luciana


"Agar mewujudkan mimpi itu menjadi kenyataan, bagaimana jika anda bertarung dengan saya, panglima Edward? " tawar Luciana tersenyum tipis


"Cukup. Kembali ke paviliun. " perintah Albert, ia tidak mau gadis itu mempermalukan dirinya sendiri di hadapan para prajurit dan panglima lainnya.


"Tidak, sebelum ada yang menantang ku. "


"Gadis nakal. " desis Albert, ia tidak suka dibantah.


"Ayo jangan jadi pengecut. " Luciana terlihat datar , namun tingkahnya entah mengapa terlihat lucu karena tidak masuk akalnya.


Luciana mendengus dan kembali mencabut pedang itu dengan kencang dan lagi-lagi membuat mereka menjerit tertahan. Luciana mengarahkan pedang itu kedepan dan berputar, seolah tengah menantang. Senyuman manis namun terkesan menyeramkan.



"Ayolah, aku sudah lama tidak bermain-main dengan benda seperti ini. "


"Letakkan pedang itu kembali. " pinta Albert berusaha menggapainya dari genggaman tangan Luciana.


Namun langsung mundur ketika pedang itu diarahkan padanya. Mereka yang menontonnya seperti tengah menonton film horor, taku-takut Luciana melakukan hal konyol yang membahayakan orang lain dan dirinya sendiri.


"JANGAN MENDEKAT. AKU AKAN PERGI TAPI TOLONG SIAPAPUN LAWAN AKU!! " teriak Luciana


Leatan berjalan cepat kearah belakang tubuh Luciana dan langsung menggenggam cengkraman tangan itu dari pedang. Seperti tengah memeluknya dari arah belakang, namun tangan mereka saling menyingkirkan satu sama lain. Akhirnya, Luciana menyikut dan mendorong mundur tubuh Leatan. Mengibaskan pedangnya dan dengan cepat Leatan menghindar.


Senyuman naik lebih tinggi menatap kearah pria itu, "bagaimana jika kau yang bertarung denganku, yang mulia pangeran Leatan? " smiriknya.


Kebetulan ia masih ada dendam dengan pria itu. Dendam kecil yang tercipta karena pria itu mencuri jubahnya. Bukannya dikembalikan justru dipajang di kamarnya sendiri, tanpa berniat mengembalikannya. Setelah di cek ternyata, ada beberapa bagian di lengan yang sobek. Sontak itu membuat Luciana kesal setengah mati.


Leatan menatapnya datar, kemudian menaikkan sudut bibirnya, "Apa untungnya denganku? "


"Kau memang jelas kau adalah pria yang kuat dan jika kalah .. itu artinya kau seorang yang lemah. "


"Aku tidak butuh itu.. "


"Apa yang anda butuh kan? "


"Jika menang, aku ingin kau menjadi istriku dan menikah denganku. Bagaimana? " tawar Leatan



Luciana menatap Leatan dengan kernyitan di dahinya.


Sementara Liam mengulum bibirnya mendengar ucapan itu. Itu curang!

__ADS_1


Bersambung....


Ahay ahay kalian tim siapa nih?? Liam yang misterius dan pecicilan atau Leatan yang dingin namun romantis?? 🤫Simpen dulu jawabannya buat nanti karena sekarang tinggalkan jejak dulu:D


__ADS_2