
...SELAMAT MEMBACA...
...*...
...*...
...*...
Lauren selama dansa hanya menunduk tidak berani mengangkat wajahnya. Ia sangat canggung dan malu harus menjadi pusat perhatian seperti ini, ingin menolak namun ja tidak berani melakukannya.
Sementara Leatan terlihat biasa saja tak terusik dengan pandangan dari orang lain yang sebagian menghentikan acara dansa dan makannya sebenatar hanya untuk menyaksikan mereka berdansa.
"Anda perlu menatap lawan main Anda, putri Lauren." tegur Leatan yang sedikit merasa tidak nyaman karena lawan mainnya terus menunduk.
"A-aku malu. "
"Tatap wajahku , jangan tatap kearah lain. " ujarnya memberikan saran.
Lauren perlahan mengangkat wajahnya. Leatan bisa melihat dengan sempurna wajah gadis di depannya itu. Bulu mata dan alis berwarna putih kecoklatan, kulit seputih susu bola mata cokelat menjadi bagian pemandangan indah itu.
Lauren sangat manis.
"Anda cantik jadi tidak perlu malu menunjukannya. "
Lauren menatap balik matanya dan dengan seketika Leatan dapat melihat semburan merah muda terpampang samar di pipinya yang putih. Itu sangat menggemaskan.
"T-terimakasih."
Sifat malu-malu itu sangat berbeda dari gadis bangsawan lainnya. Itu yang membuat daya tarik tersendiri bagi Lauren. Kebanyakan gadis sekarang pasti akan terang-terangan menunjukan kesukaannya kepada lawan jenis bahkan mereka juga yang pertama kali mengungkapkan nya.Itu yang membuatnya sulit tertarik kepada gadis manapun.
Namun, Lauren berbeda.
Sangat berbeda dengan Luciana walaupun mereka kembar. Luciana juga menarik dengan caranya sendiri. Keduanya sngat menarik bagi Leatan.
Luciana kembali ke aula dan langsung disuguhkan dengan pemandangan mengejutkan itu. Ia melihat Lauren tengah berdansa dengan pria aneh itu? Ah, maksudnya Leatan.
"Mereka cocok juga." gumam Luciana memandang dari arah kejauhan.
Luciana sangat mendukung jika keduanya bersama. Karena ia tahu seperti apa karakter seorang Leatan walaupun hanya berjumpa beberapa kali saja.
"Jika begitu, aku tidak akan khawatir untuk meninggalkan nya di sini. " ujar Luciana memandang lurus kearah depan.
"Kau akan pergi kemana? "
Suara itu mengejutkan Luciana dari lamunannya. Ia langsung berbalik badan dan menemukan Liam disana tengah memegang segelas anggur ditangan kanannya sementara tangan kirinya dimasukkan kedalam kantong celana.
"Kau tidak berdansa seperti yang lain?"
Pertanyaan lain justru muncul dari bibir Luciana yang memang sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Tidak tertarik."
Luciana memutar bola matanya malas. Pria ini juga sama anehnya dengan pria itu. Ya, karena memang mereka saudar kandung wajar saja sama-sama aneh.
"Aku tidak aneh, Lexia. "
Luciana menatap Liam tajam.
__ADS_1
"Jangan menyebut nama itu!!" tekan Luciana
"Baiklah. Sekarang kau akan pergi kemana?" tanya Liam setelah menyeruput minumannya menatap gadis di depannya dengan santai.
"Makan. Aku lapar. "
"Bukan itu maksudku. Pergi dengan tenang itu apa yang kau maksudkan tadi." koreksi Liam
"Sudah aku bilang aku mau pergi makan."
"Tidak. Maksudku pergi dalam jangka panjang, Lexia." Liam seolah memancing Luciana untuk jujur dengan menyebut nama aslinya.
"Sudah kubilang jangan sebut nama itu." desis Luciana tajam
"Aku tidak tahu kau mengetahui seberapa banyak tentang diriku. Namun, kau harus tau Liam. Jika rahasia ini terbongkar kau orang pertama yang akan aku bunuh. " Luciana mengatakan dengan penuh aura intimidasi.
Liam justru tersenyum, "Aku adalah orang yang paling aman dalam menjaga rahasia."
Emillio yang merasakan tekanan udara yang berbeda menoleh kearah Luciana dan Liam berada yang tidak jauh darinya.
'Apa yang mereka lakukan hingga mengeluarkan tekanan seperti ini' paniknya
Emillio sangat peka sekecil apapun iru tekanan yang berusaha dikeluarkan oleh seseorang. Dan ia bisa mengenalinya bahwa ini berasal dari Luciana, walaupun kecil namun ia tahu gadis itu masih pintar dalam. menjaganya agar tidak lepas kendali. Emillio pamit dari hadapan kerabatnya meninggalkan Albert disana bersama mereka.
"Rahasia apa yang kalian bicarakan? "
Kedua menoleh kearah samping. Emillio menatap keduanya dengan penuh tanda tanya.
" Bukan apa-apa. "
Luciana langsung menelisik kearah seluruh penjuru aula istana dan mata emangnya menangkap seseorang diatas lantai 3 tengah memegang sebuah busur panah.
Melihat seseorang menatap kearahnya, orang itu langsung berlari kabur. Luciana hendak mengejar jejak pria itu sebelum langkahnya tehenti karena pegangan dari tangan Emillio.
"Biar aku dan Liam yang mengejar orang itu, kau urus Lauren. " ujar Emillio
Luciana menyentak tangan Emillio dan berlari mengejar pria itu. Pria itu telah berhasil keluar melalui celah jendela lantai tiga. Dan Luciana langsung membelah kerumunan keluar dari dalam aula dan menemukan pria itu baru saja mendarat diatas tanah setelah lompat dari lantai tiga.
Luciana mengambil belatinya dan merobek gaun merahnya menjadi sebatas betis dan melepaskan sepatunya kemudian berlari mengejar tanpa alasan kaki.
"Berhenti!! " geram Luciana
"Willlll..." teriak Luciana memanggil seseorang
Prajurit muda datang dan langsung memberikan Luciana sebuah jarum panjang yang langsung Luciana lembarankan kearah pria yang hendak kabur itu. Jarum beracun itu berhasil mengenai punggung pria itu yang langsung membuatnya terjatuh dan meringis kesakitan.
"Berikan aku pedang. "
Will memeberikan pedang yang ia sering bawa kepada Luciana. Will menatap ngeri kearah Luciana yang seperti seorang monster.
Luciana memang sudah mengetahui bahwa dirinya menerima permintaannya untuk menjadi seorang prajurit untuk Luciana dengan datang langsung ke istana. Namun untuk menjadi seorang prajurit pribadi itu harus melakukan beberapa pelatihan khsusus sebelum benar-benar bertugas. Dan Will tengah melakukannya walaupun dengan jarah jauh ia masih terus berada di jangkauan Luciana.
Tanpa basa-basi Luciana langsung menebas kepala pria itu tanpa mendengarkan apapun penjelasannya. Darah terciprat di bajunya yang berwarna merah juga. Wajahnya juga terkena darah pria menjijikan itu. Wajah Luciana datar menatap mayat itu benar-benar tanpa ekspresi.
__ADS_1
" Bereskan sisanya. "
Will langsung membereskan kekacauan itu tanpa terisa dibantu beberapa prajurit yang lain. Will sendiri sudah terbiasa melihat pemandangan seperti ini ketika ia hidup dan menjadi sosok kriminal adalah pekerjaannya dulu untuk mencari uang.
Liam terdiam menyaksikan semuanya.
Luciana menundukkan langkahnya dan melepaskan pedang penuh darah itu. Ia langsung berbalik dan berlari kedalam aula untuk menemui Lauren. Liam terus memantau pergerakan Luciana lalu menghela napas pelan.
Saat masuk kedalam bertepatan dengan Leatan yang tengah menggendong Lauren . Luciana langsung berjalan mendekat dengan wajah dipenuhi cipratan darah membuat semua orang takut sekaligus bertanya-tanya.
"Bawa Lauren ke ruang medis. Panggilkan tuan Alard untuk mengobati lukanya. " perintah Luciana entah kepada siapa, namun para pelayan yang mendengarkan langsung melaksanakan tugasnya dengan cepat.
"Lauren!! " teriak Lady Adellia yang entah kenapa baru muncul sekarang.
Kehadiran wanita itu sebagai mantan ragu Kerajaan Aqualiors lagi-lagi mengejutkan mereka semua. Lady Adellia langsung berjalan memeluk Luciana.
"Kenapa wajahmu penuh dengan darah, Luci?" tanyanya khawatir
"Bisakah ibu menemani Lauren sebentar?"
Lady Adellia mengangguk dengan antusias dan menyusul kepergian Leatan bersama Emillio.
Mereka bertanya-tanya bagaimana bisa mantan ratu Adellia berada di istana? Ini lagi-lagi akan menjadi berita yang akan menggelarkan seluruh masyarakat kerajaan.
"Bubarkan acara ini. "
Lucian berjalan keluar dan sempat bersitatap dengan Ratu Adriana yang menatapnya juga. Luciana langsung melongos pergi keluar dari istana.
Acara terpaksa dibubarkan karena kejadian seperti ini. Raja Gilbert meminta maaf kepada pihak kerajaan Calexius atas insiden ini dan mereka memaklumi nya. Dengan adanya peristiwa serupa ini dengan yang sebelumnya di Calexius tentu saja ini akan menjadi PR seluruh kerajaan untuk lebih menguatkan lagi segi keamanan bertingkat. Dan Raja Gilbert dan Raja Edward beserta petinggi lain langsung mengadakan rapat untuk membahas masalah ini.
Sebenarnya sekuat apapun pertahanan Keamanan dari serangan luar, itu akan percuma jika masih ada orang dalamnya. Mereka melupakan fakta itu.
Luciana berada di sebuah taman belakang. Menyenderkan tubuhnya di sbuah dinding kayu, pandangan matanya lurus kearah depan tanpa sebuah arti. Pandangannya kosong seolah jiwanya tengah berkelana di alam lain.
Satu titik mutiara jatuh dari kelopak matanya. Perasaan yang tidak bisa ia artikan seperti apa. Dirinya tiba-tiba merasa sedih dan tidak menentu. Luciana berusaha untuk tidak mengeluarkan air matanya sekuat mungkin dan hanya meloloskan satu titik mutiara putih itu satu kali tanpa berniat untuk menghapus nya.
"Jangan dipendam. "
Luciana terkesiap ketika Liam datang dan langsung menarik tubuh Luciana ke pelukannya.
Luciana hanya diam dengan mata memerahnya. Ia tidak tau kenapa dirinya merasa sedih dan menangis seperti ini. Liam mengelus rambut belakang Luciana yang berantakan dengan lembut. Membiarkan gadis itu lebih tenang dan kembali menata perasaannya kembali.
...BERSAMBUNG........
...KALIAN PERNAH NGERASAIN TIBA-TIBA SEDIH DAN NANGIS TANPA TAU ALASANNYA? JUJUR ITU JAUH LEBIH MENYAKITKAN KARENA KITA TIDAK BISA MENGENDALIKAN NYA DAN SEMAKIN DITAHAN SEMAKIN MENYAKITKAN....
...BIASAKAN UNTUK MENINGGALKAN JEJAK LIKE, COMENT, VOTE, HADIAH DAN FOLLOW!!...
...ILY<3...
__ADS_1