BAD PRINCESS OF AQUALIORS

BAD PRINCESS OF AQUALIORS
Bab 50 : Visualisasi


__ADS_3

...HAPPY READINGđź“–...


...*...


...*...


...*...


Lauren berlari bersama pelayan Elis ketika tidak sengaja mendengar bahwa Luciana tengah membuat keributan di lapangan pusat pelatihan. Lauren khawatir dengan keadaan Luciana karena sampai seorang pengawal memberitakan hal itu kepada Raja.


Saat berlari ia tidak sengaja berjumpa dengan rombongan Ratu Adriana . Ratu Adriana menatap Lauren sengit kemudian melongos pergi dengan menyenggol bahunya cukup kencang membuat tubuhnya yang seringan kapas itu terdorong . Lauren menghiraukan dan menyusul di belakang Ratu Adriana bersama pelayan Elis.


Sesampainya disana Lauren tekejut ketika mendapati Raja telah sampai telebih dahulu. Ia menatap Luciana yang nampak sedikit berantakan. Sontak, Kata-kata Ratu Adriana mengalir jelas di kepalanya. Ratu Adriana menginginkan Luciana dihukum karena telah melukai Pangeran dari Kerajaan seberang.



Luciana tersenyum mendengar perkataan dari wanita itu. Senyum yang terkesan mengejek.


"Jangan asal menuduh Ratu Adriana yang terhormat. Anda bahkan tidak tahu apa yang tengah terjadi sebenarnya."


"Jangan mentang-mentang anda seorang Ratu, bisa menghukum seseorang dengan seenaknya saja. "



"Belati ini bisa saja menusuk jantung dan hatimu yang busuk dengan sekali sentakan. " seringai Luciana memiringkan kepalanya dan kembali menarik belatinya , memasukkan kembali kedalam kantung gaunnya.


Ratu Adriana terdiam tidak berani menanggapi ketika merasakan benda dingin berujung tajam itu mengenai kulitnya. Sial gadis kecil itu terlalu mendominasi.


"Anda belum terkena karma juga ya. Rasanya sampai ingin mempercepat karma itu datang." tekan Luciana



Luciana mengepalkan tangannya.


"Dia.... "


"Dia telah memanggil ibuku dengan sebutan ******. Anak macam apa yang mengatai ibunya seperti itu?" tunjuk Luciana pada Albert


"Itu memang pantas untuknya. " sahut Ratu Adriana menaikkan ujung bibirnya.


"KAU YANG ******!!" teriak Luciana menatap tajam Ratu Adriana


"KAU TIDAK PANTAS MENJADI SEORANG RATU!! KAU PIKIR KAU SIAPA HUH! " teriak Luciana berjalan dengan kencang hendak menarik kerah gaun Ratu Adriana namun segera dicegah oleh Emillio.


"Cukup."


Suara interupsi itu berasal dari Raja Gilbert. Pria itu terlihat datar tanpa ekspresi apapun.


"Dia kurang ajar padaku! Bagaimana bisa aku diam saja. Bagaimanapun juga, putri Luciana harus dihukum. Jika tidak_"


"Jika tidak, seluruh bangsawan dibawah kekuasaan keluarga Ednrios akan melakukan pemboikotan besar-besaran kepada pihak istana. " sahut seorang wanita paruh baya muncul dibalik tubuh Ratu Adriana.


Dia adalah ibu dari Ratu Adriana, nyonya Ednrios. Wanita tua itu menatap kearah ayah Luciana dengan tatapan menyipit kemudian tersenyum.


"Yang Mulia anda harus bisa memilih keutuhan seluruh anggota kerajaan atau hanya seorang anak gadis tidak punya etika seperti dia. " wanita itu menunjuk Luciana


Suasana semakin panah. Dengan hembusan angin yang membuat keadaan menjadi mendayu-dayu. Mereka semua berdiri di tengah lapangan berumput yang teduh karena terhalang tingginya pohon.


Lauren berlari mendekat dan berhenti di hadapan nyonya Ednrios.


"Tidak bisa. Luciana hanya melakukan kesalahan kecil, hukuman seperti itu tidaklah seimbang." tegas Lauren dengan berani.


Mereka tekejut dengan keberanian Lauren.


"Anda tidak akan pernah bisa menyentuh Luciana sampai kapanpun. " tekan Lauren



Dengan wajah putihnya yang mulai memerah karena terkena sinar matahari langsung, membuatnya seperti tengah marah. Wajah Lauren benar-benar sedikit memerah dibagian sekitar pipinya . Luciana khawatir, karena seorang albino itu tidak bisa tahan dengan sengatan matahari langsung.


"Dengan kondisi mu seperti ini, masih bisa mengatakan seperti itu? Hei ingat! Kau hanya putri lemah dan bodoh. Tidak pantas berkata seperti itu kepada ibuku. "


Luciana segera menarik tubuh Lauren sebelum tangan Ratu Adriana menyentuh tubuh Lauren.


"Pergi dari sini. Kau tidak bisa berada di bawah sinar matahari terlalu lama. Kulit mu bisa saja terbakar. "


Lauren terpaksa diseret pergi oleh pelayan Elis atas perintah dari Luciana. Walaupun gadis itu terus ingin bersama Luciana, namun melihat seluruh kulitnya hampir memerah jadi terpaksa ia menurutinya.


"Aku tidak peduli apapun hukumannya. Dan sama sekali tidak peduli dengan itu. Aku bahkan dengan senang hati menerimanya. "

__ADS_1


"Cukup." tegas Raja Gilbert


"Ini adalah masalah pribadi. Anda nyonya 5 tidak berhak mengatakan hal seperti itu di hadapan saya. Anda tau , itu bisa dikategorikan sebagai rencana pemberontakan terhadap pihak istana. Anda bisa saja dihukum karena itu. "


Raja Gilbert pergi dari sana ditemani Tuan Richard yang senantiasa menemaninya. Nenek tua itu ia hanya bisa diancam tanpa berani mengancam balik? Ia akan lakukan itu untuk membela seluruh anak-anaknya, termasuk Luciana?


"Anda dengar itu nenek tua! " tawa Luciana remeh


"Dasar gadis tidak tahu diri! "


"Kita pergi dari sini. "


Rombongan Ratu Adriana pun pergi dari hadapan Luciana.


*


*


Luciana terdiam melamun dengan duduk diatas tangga yang sepi.



Seluruh rencananya untuk kabur dan tidak terbebas dari belenggu istana telah tersusun di otaknya. Gadis itu memang berniatkeliar dari wilayah kerajaan dan hidup sebagai sosok yang biasa . Berbaur dengan orang lain tanpa dipandang sebelah.


"Setelah debuttante, aku akan mengajukan permohonan itu kepada Raja. Biarkan Lauren yang menggantikan posisiku di Istana. Aku yakin dia bisa dengan mudah beradaptasi disini. "


Luciana tidak menyukai konflik yang terlalu membelit-belit. Ia sudah terbiasa menyelesaikan masalahnya dengan satu tebasan dan tembakan saja tanpa harus berpikir pusing bagaimana cara melewatinya.


Gadis ini menginginkan kebebasan...


"Melamun? "


Liam. Pria menyebalkan itu tiba-tiba datang dan mengganggu waktunya. Lagi dan lagi.


"Kau berencana pergi dari Istana? " tebaknya tepat sasaran


"Kau tidak bisa pergi, Lexia. Karena setelah debuttante itu adalah waktu untuk memasuki Academi Xaliors."


Luciana menatap Liam dengan lekat.


"Academi? "


"Aku baru mendengarnya. "


"Bagaimana bisa kau tau isi pikiranku? " selidik Luciana pada Liam yang penuh ekpresi, namun juga terkesan misterius dan sulit ditebak apa isi pikirannya.


"Menebak."


"Tidak percaya. "


Liam menatap Luciana yang dibalas tatapan balik olehnya. Keduanya saling bertatapan dengan Luciana yang masih santai duduk diatas tangga sementara Liam berdiri di sampingnya.


"Aku juga tidak butuh kau mempercayai nya. " ledek Liam kemudian.


"Siapa sebenarnya kau? Terlepas dari kau seorang Pangeran Kedua dari Kerajaan Aqualiors. " Luciana mencoba menyelam dibalik mata hitam pekat pria itu, namun tidak menemukan apapun.


"Kau penasaran denganku? " Liam bertanya


"Kau ingin aku melakukannya? " tanya Luciana balik


"Jangan terlalu ingin mengenalku, Lexia. Karena jika kau mengetahui yang sebenarnya kau pasti akan waspada kepadaku. " Liam tersenyum


Luciana tertegun.


"Kenapa awal kita bertemu kau menggunakan nama Lexia? Siapa Lexia itu? " tanya Liam tiba-tiba membuat Luciana terbungkam.


"Kau sebenarnya bukan Luciana bukan? "


Brak


Luciana melompat turun dan mendorong tubuh Liam kearah dinding. Menjulurkan belatinya yang langsung ditahan oleh Liam. Luciana menatap Liam dengan tajam.



"Kenapa kau bisa tau. " tekan Luciana terus mendorong tubuh Liam mundur.


"Cepat.Jawab! " sentaknya


Liam membiarkan tubuhnya terjadi didesak kebelakang hingga menyentuh tembok di belakangnya. Menatap wajah Luciana dengan tenang.

__ADS_1


Dengan posisi terhimpit seperti ini dan wajah Luciana yang terus melesak kearahnya, membuat Liam bisa melihat dengan jelas wajah mulus gadis itu. Liam mengedipkan matanya.


Meneguk ludahnya dengan susah payah dan menatap Luciana dengan pandangan anehnya.


"Kenapa kau menatapku seperti itu!" sengak Luciana dengan terus menekan belatinya.


"Ada ulat bulu di rambutmu. "


Luciana menengang.


"Ulat? "


"Iya." Liam mengangguk


"Ambil.... "


"CEPAT AMBIL LIAM!!! " teriak Luciana dengan nafas tercekat, tubuhnya kaku.


"Lepaskan belatinya terlebih dahulu. Setelah itu ak-"


Luciana melepaskan belatinya dan menjatuhkan dengan kaku ke lantai begitu saja. Wajahnya terlihat pucat dan berkeringat dingin.


"Sebenarnya tidak ada ulat. Aku pergi!! Sampai jumpa besok di acara debuttante!! "


Liam berlari menjauh setelah berhasil keluar dari kukungan Luciana. Sementara sang empu kini tengah terdiam kaku, tubuh yang awalnya kaku kini mulai bereaksi.


Menatap kepergian pria itu dengan amarah hingga kedua pipinya merah padam karena saking kesalnya, "LIAM AKU AKAN MEMBUNUHMU! "


Luciana tidak menyukai binatang lunak menjijikkan seperti ulat dan teman-temannya. Pria itu berhasil kabur dengan mengerjainya.


"Bagaimana bisa dia tau bahwa ia tidak menyukai hewan lunak itu. "


To be continued.....


Visualisasi



Luciana De Aqualiors



Lauren De Aqualiors



Liam Kingsley Van Callexcius



Leatan King Van Callexcius



Albert De Aqualiors



Emillio De Aqualiors



Arabella De Aqualiors



Ratu Adriana De Aqualiors



Raja Gilbert De Aqualiors (V)



Lady Adellia (Ibu Luciana dan Lauren)



Selir Desiana De Aqualiors

__ADS_1


...HANYA UNTUK VISUALISASI SAJA. JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK DAHULU....


__ADS_2