BAD PRINCESS OF AQUALIORS

BAD PRINCESS OF AQUALIORS
45 . BEBAS


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


*


*


*


Pagi harinya, aula kerajaan terlihat penuh dengan banyaknya orang yang berniat melihat sosok putri terbuang itu. Sidang pembebasan ini memang terbuka untuk para penghuni kerajaan, sehingga baik para prajurit maupun pelayan juga ikut menyaksikannya secara langsung. Berita kembalinya putri Lauren sudah menyebar keseluruhan istana bahkan di kalangan penduduk juga. Mereka sama-sama menantikan bagaimana akhir dari nasib putri terbuang itu.


"Apakah dia putri terbuang itu? "


"Sepertinya begitu. Lihat saja seluruh rambutnya berwarna putih. Sangat aneh untuk dilihat. "


"Benar. Dia adalah aib kerajaan. "


"Husttt diamlah! Jika putri Luciana mendengarnya tangan kalian akan dipatahkan olehnya. " tegur salah satu dari mereka.


Luciana berjalan dengan anggun bersama Lauren. Dirinya jelas mendengar bisikan para pelayan itu, namun ia abaikan. Lauren diarahkan untuk duduk di kursi ditengah aula. Semua menyaksikan dengan tertib.


Serangkaian acara dari perkenalan hingga sesi tanya jawab pun mereka semua masih menantinya dengan penuh rasa penasaran. Terlihat Lauren menunduk ketika seorang juru bicara bertanya padanya soal berapa yakinnya bahwa dirinya merupakan anak Raja. Lauren meremas jarinya dengan gugup. Ia tidak tahu dan memang tidak tau, ia hanya tau bahwa Luciana adalah kembarannya.


Karena keterdiaman Lauren, membuat suasana sidang menjadi hening. Namun dengan cepat, tuan Richard melanjutkan ke sesi berikutnya yaitu pembuktian kasus.


Untuk kali ini Luciana akan mewakili Lauren sebagai saksi dan sudah mempunyai bukti-bukti yang tentunya sangat valid. Disebrang sana terdapat ibu dari Ratu Adriana. Kenapa dia bisa menjadi saksi? Luciana pun tidak tau, tetapi Luciana pastikan dirinya akan menang dan Lauren akan bebas dari masa pengasingan.


"Putri Lauren bukanlah anak Raja karena semua tes DNA yang dilakukan merujuk bahwa dia adalah anak haram, perselingkuhan ibunya dengan bangsawan rendahan. " tutur ibu ratu Adriana memperlihatkan bukti tes tersebut.


"Aku tidak percaya. Bukankah tes itu dilakukan di luar perjanjian? Bahkan tidak ada anggota keluarga kerajaan yang melihatnya secara langsung. Bisa dipastikan itu mengalami pemalsuan. " sanggah Luciana


"Ini bukti asli. Jangan mengada-ada! "


"Aku tidak mengada-ada. " sahut Luciana


"Sekarang giliranku. " ucap Luciana datar


Mereka semua menatap kearah Luciana, menanti apa pembelaan darinya.Lucian tengah sibuk mencari sesuatu membuat semua orang berbisik-bisik menyangka dirinya pasti akan kalah. Aplagi semua bukti dari pihak ratu Adriana sudah ada semuanya.


"Ah aku lupa tidak membawanya. " gumam Luciana


"Tapi.. aku membawa seseorang untuk memvalidasi semua informasi tanpa terlewatkan. " ujung bibirnya naik menampilkan senyum miring.


Semua orang beralih menatap kearah pintu masuk dan menatap seorang pria dengan tatapan bingung. Sementara para pejabat yang melihatnya melotot kaget. Sudah dipastikan, siapa yang tidak tau pria itu?


"La Carolus...... " gumam raja Gilbert


"Salam yang mulia. Kedatangan saya kesini bukan untuk bertele-tele, namun saya hanya ingin menyampaikan sebuah kebenaran. " ucapnya dingin dan menusuk


"B-bagaimana bisaa... " Ratu Adriana dan semua yang berada di belakang nya juga merasakan keterkejutan.


"Ini adalah berkas yang putri Luciana minta pada saya. "


Sedari tadi ia tidak berhenti untuk tersenyum miring, melihat ekpresi kocak semua orang. Huh..


Raja membaca semua berkas itu terlihat sedikit ada raut keterkejutan disana.


"Putri Lauren adalah anak kandung anda yang mulai. Kondisi fisiknya bukanlah kutukan, itu hanya kelainan genetik. Semua itu berasal dari keturunan raja terdahulu. "


Semua fakta dijelaskan langsung oleh pria itu. Tentu saja membuat pria arogan nan penuh strategi sepertinya tidaklah mudah. Dan siapa sangka seorang gadis kecil sepertinya bisa mendapatkan kepercayaan dari La Carolus. Bahkan tanpa Luciana minta menjelaskannya pun ia sudah melakukannya, padahal Luciana hanya meminta berkas yang valid saja.

__ADS_1


Semua orang tercengang mendengarnya.


"Anda tau siapa yang telah menyebarkan berita palsu itu bahkan sampai membungkam semua orang? " tanya raja Gilbert


"Itu mudah. Namun saya tidak akan mengatakannya disini, hanya putri Luciana yang berhak mengetahuinya. " ucap pria itu dengan seringai nya


"Sialan.. " desis ratu Adriana


La Carolus pergi begitu saja. Ruangan besar nan megah itu dilanda keheningan yang murni.


"Apakah itu cukup jelas? " tanya Luciana menaikkan sebelah alisnya


"Kalian tidak akan mempertanyakan keaslian berkas itu bukan? Jika kalian meragukannya maka sama saja kalian meragukan seorang La Carolus. Dan itu sama saja menciptakan peperangan dengan para penjual informasi di seluruh dunia ini. "


"Kau terlalu sombong putri. " ucap Ibu ratu Adriana


"Aku tidak sombong. Bukankah itu kenyataannya? " sinisnya


"CUKUP. "


Raja Gilbert pergi dari singgasananya setelah memerintahkan tuan Richard untuk menutup sidang kali ini. Sidang selesai begitu saja tanpa ******* yang pas. Luciana padahal ingin terus menyudutkan pihak ratu Adriana, namun sepertinya gagal. Ah.. tidak gagal hanya belum terlaksana.


"Bagaimana bisa kau bertemu dengan nya? " tanya pangeran Liam


"Itu rahasia. "


"Hufttt.. jika begitu Berhati-hatilah dengannya, dia orang yang misterius dan sulit ditebak. " nasehat Liam


Lauren berdiri disamping Luciana dan memeluknya. Gadis itu menangis dipelukan Luciana dengan bahu bergetar. Luciana mengelus punggung nya dengan lembut.


"Terimakasih Luciana.. " gumam nya


"Ah.. emmm.. i-iya benar. " angguknya kikuk


Lauren tersenyum bahagia. Pangeran Albert menatap ketiga adiknya dengan datar. Lalu pandangannya berhenti ketika menatap Lauren. Kemudian ia menghela napa pelan dan melenggang pergi dari sana. Luciana tersenyum tipis.


"Jangan terlalu dipikirkan Lauren. Mungkin dia memerlukan banyak waktu. " ucap Liam ketika melihat pandangan sendu dari Lauren


"I-iyaa."


"Jangan kaku Lauren, aku ini kakakmu dan saudaramu sendiri. Bersikaplah layaknya saudara pada umumnya. " ucap Liam


"Ah maafkan aku. "


"Tidak masalah. Mungkin kau masih membutuhkan waktu untuk lebih dekat dan terbiasa." Liam merangkul pundak Lauren dengan akrab, Lauren awalnya terkejut namun kemudian bisa menenangkan dirinya.


Luciana menarik kerahasiaan baju Liam dan memiting lehernya, lalu menyeretnya keluar dari aula itu sambil berdesis.


"Apa yang kau lakukan! Lepaskan! Aku ini kakakmu.. "


"Husttt.. temani aku ke penjara untuk membebaskan pelayan Elis. " ucap Luciana rendah


"Ya tidak usah seperti ini juga! Bagaimana jika ada yang melihatnya, hancur reputasi ku sebagai pangeran. " belasnya


"Diam Liam. " tegur Luciana dan terus menyeret pria itu bersamanya.


Lauren pun berlari kecil mengejar kedua kakaknya dengan senyum mengembang.


Srettt

__ADS_1


Namun, tiba-tiba saat melewati lorong tangan Lauren ditarik oleh sesuatu yang menyeretnya dalam lorong itu. Lauren tidak sempat berteriak karena saking terkejutnya. Tubuhnya diseret oleh langkah seseorang kemudian membenturkan tubuhnya ke dinding. Dua lengan terlihat mengurungnya di kedua sisi tubuhnya.


"Hai cantik.... " bisiknya


Lauren meremas ujung gaunnya dengan gemetar ketika mendengar suara itu. Suara yang ia kenali dan is hindari. Bahkan tanpa melihat wajahnya pun ia sudah mengetahui pemilik suara itu.


"Selamat bergabung kembali, putri Lauren.. " bisiknya


"Ah jangan takut.. aku hanya ingin menyambutmu.. " ucapnya mengelus pipi kenyal miliknya


Lauren terdiam kaku. Reaksi tubuhnya selalu seperti ini. Lauren tidak bisa mengontrol nya. Hanya bisa menjerit dalam hati.


Luciana tolong aku.....


Disisi lain Luciana dan Liam sudah sampai di depan jeruji besi milik pelayanan Elis. Liam menyuruh para prajurit untuk membuka pintu penjara itu dan setelah terbuka Luciana langsung mendekati pelayan Elis yang tengah meringkuk diatas jerami.


"Kau kenapa Elis... " panik Luciana


"N-nona Luciana? Apakah itu anda? " tanyanya bergetar


"Iya ini aku. "


"Hiksss.. syukurlah... " tangisnya lemah


Liam memerintahkan beberapa pengawal untuk membohong tubuh pelayan itu menuju ruang kesehatan. Luciana terdiam mengepalkan tanganya.


"Ini pasti ulahnya.... " desisnya tajam


"Jaga emosimu Luciana. " tegas Liam


"Bagaimana bisa kau diam saja ketika melihat orang yang selalu menjagaku diperlakukan seperti itu!! " geram Luciana berjalan cepat keluar dengan emosi yang meluap-luap.


Liam mengejar langkah kaki Luciana dan menahan salah satu tangan gadis itu,karena tangan kanan Luciana entah sejak kapan sudah memegang sebilah belati.


"Kau mau kemana.. " cegah Liam


"Aku akan membunuhnya. "


Liam terkejut ketika melihat mata Luciana yang menggelap penuh akan haus rintihan kesakitan, Liam tidak pernah melihat nya sebelumnya. Membuatnya sedikit takut.


"Kontrol emosimu Luciana, jangan gegabah! "


"AKU TIDAK PEDULI! AKU INGIN MEMBUNUHNYA SEKARANG JUGA. " rontanya dari genggaman tangan Liam


Liam mengedarkan pandangannya kesekitar untuk mencari bantuan, namun kemudian mengernyit bingung. "Dimana Lauren? "


Luciana berhenti memberontak dan langsung melihat kearah sekitar. Lauren tidak bersama mereka? Seketika dirinya menjadi lebih baik dan terdiam. Tidak seemosi gadis namun tetap saja belati ditangannya masih terus digenggam dengan erat.


Hanya satu yang ia tau... dan jelas Lauren tengah dalam bahaya dengan seseorang.


_____________________________


Ahaii... Tinggalkan jejak....


Guyss masih mau lanjut?? jika iya plis tinggalkan jejak buat semangat author😢tau gk sih, sedikit curhat, aku dapet kelompok dan namanya kerja kelompok kan bagi tugas ya? Eh udah kumpul ngerjain makalah bareng tapi ujung-ujungnya aku yang harus nge revisi, ngedit, ngeprint dll, yaampun pengen banget marah😭padahal aku udah yg cari materinya, siapa yang gak sebel coba..


hmm.. maaf ya jadi lama update gara-gara ini....😭


See you:>

__ADS_1


__ADS_2