
SELAMAT MEMBACA
#cerita ini hanya fiktif belaka jangan kaitkan dengan kehidupan nyata
*
*
*
" Silahkan , Nona . "
Luciana buntalan kain kecil yang disodorkan kepadanya . Bibirnya menyunggingkan senyum puas. Ini adalah langkah pertamanya menginjakkan kaki , di tangga menuju puncak tertinggi yang membuatnya bisa melihat kehancuran musuhnya .
" Terima kasih . "
Kemudian Luciana mengambil sesuatu di balik gaunnya , Dan menyerahkan beberapa lembar uang kepada sang penjual . Melihat banyaknya uang tersebut, mata si penjual seketika dipenuhi binar keserakahan. Dia dengan cepat mengambilnya , takut jika sang pembeli tiba - tiba berubah pikiran saat bertransaksi .
"Senang berbisnis denganmu, Nona," ucapnya dengan senyum lebar yang menghiasi wajah.
Luciana hanya mengangguk , setelah itu dia segera mengambil barang yang dibelinya dan menebusnya pergi , menjalankan rencana selanjutnya .
Disinilah Luciana berada.
Lingkungan yang terbuang dan sunyi , memang tidak bisa dihilangkan dari sebuah peradaban . Apalagi, kerajaan paling makmur pun masih terdapat daerah pemukiman kumuh. Lingkungan yang tersisihkan dari suatu peradaban , tempatnya yang kumuh , kotor , dan pastinya berisi orang-orang gila atau orang miskin yang kesulitan menjalankan hidup .
Dan disinilah Luciana berada, di salah satu daerah yang terbuang di kerajaan Aqualiors. Dia masuk, berjalan dengan cepat menuju sebuah rumah kecil dan mengabaikan tatapan-tatapan aneh yang dilayangkan para penghuni daerah yang 'terbuang'.
BRAKKK!!
Luciana membuka pintu rumah kecil itu dengan kencang. Dan sebuah pisau sudah ditodongkan padanya. Di depannya, berdiri seorang pria yang sedang menatapnya dengan tatapan menusuk.
"Apa yang sedang dilakukan seorang Bangsawan di daerah kumuh ini ?!! " Geram pria itu kepada Luciana
Sedangkan Luciana, dia hanya memandangi pria itu dalam diam dan menunjukkan ketenangan yang luar biasa di balik jubah hitam khususnya.
" Senang bertemu dengan anda , Tuan Xander," ucap Luciana sambil membuka tudung jubahnya .
"Atau harus saya panggil , La Carolus? "
Xander dikenal dengan identitas yang misterius , La Carolus . Nama itu pastinya sudah tidak asing di telinga para pejabat pemerintah di berbagai kerajaan . La Carolus adalah seorang mata - mata dan pengumpul informasi terbaik yang kehebatannya tidak bisa diragukan lagi . Saking terkenalnya dia , sebuah ungkapan muncul . " Jika kau butuh informasi , maka carilah La Carolus sampai ke ujung dunia . "
Kata-kata itu sudah menjadi makanan sehari- hari bagi telinga para bangsawan dan pejabat . Ungkapan itu berarti bahwa La Carolus adalah pengumpul informasi terbaik . Untuk menemuinya , sama saja dengan mencari sebuah jarum di tumpukan jerami . Sangat sulit .
Di kehidupan sebelumnya , La Carolus berhasil tunduk di bawah kaki sang Raja Emerson, kakek buyutnya dulu . Pria itulah yang membantunya menyingkirkan para pembelot dan menaklukkan kerajaan lain . Padahal , saat itu La Carolus terkenal teguh menjalankan prinsipnya bahwa dia tidak mau terikat dengan siapapun . Tapi , semua pejabat Aqualiors kala itu dikagetkan dengan tunduknya La Carolus di bawah kaki sang Raja . Dan sekarang , saatnya Luciana untuk menarik La Carolus di sisinya . Dan menjadikannya sebagai sumber informasi yang dia miliki .
Manik hijau pria itu membulat , terbelalak . Tapi itu tidak bertahan lama,setelah pria itu memandang Luciana dengan tajam . " Nona muda Luciana ? "
Lihat itu , bukankah kemampuannya sangat menakjubkan ? Luciana belum memulai debutnya , bahkan dia juga belum memperkenalkan diri . Tapi pria di depannya sudah mengenalinya disaat semua orang berusaha melupakannya.
Luciana hanya tersenyum menanggapi pria yang beberapa tahun lebih tua dari kakaknya itu. Dia juga yakin , La Carolus pasti mengenalinya sebagai salah satul anggota Aqualiors.
" Perkenalkan , saya Luciana De Aqualiors, " ucapnya seraya membungkukkan sedikit tubuhnya dan mengangkat kedua sisi gaunnya .
__ADS_1
" Apa yang kau inginkan ? " La Carolus menyipitkan matanya , menatap semakin tajam pada Luciana .
Dia tahu, para bangsawan pasti melakukan sesuatu hanya untuk keuntungan semata. Sangat menjijikkan !!
"Saya ingin menawarkan sesuatu , "
"Apa itu ? "
" Saya ingin bekerja sama dengan anda . "
SRAATT !!
PRAANGG !!
Luciana mengeluarkan kipasnya dan mengayunkannya , menangkis lemparan pisau yang diarahkan padanya . Menyebabkan benda itu jatuh dan menciptakan suara yang menggema di ruangan sunyi . Luciana hanya memandang pria itu dalam diam . Kemudian , tanpa diduga kedua sudut bibirnya melengkung, menampilkan senyumannya .
"Saya menawarkan sesuatu , bukan menantang anda untuk bertarung , " ujarnya tenang.
Sedangkan , La Carolus tertegun .
Dia tidak percaya , gadis di hadapannya dapat menangkis lemparan pisau hanya dengan menggunakan kipas lipat . Melihat itu , dia yakin Luciana bukan gadis bangsawan biasa . Umumnya , wanita bangsawan tidak mempelajari seni bela diri mereka hanya tahu caranya mempercantik diri dan menghamburkan uang saja .
" Saya yakin , anda tidak akan menyesal bekerja sama dengan saya . "
" Apa yang akan saya dapatkan sebagai imbalan ? " Luciana mencondongkan tubuhnya , mendekatkan wajahnya pada La Carolus.
Saat jarak antar keduanya sudah menipis, dia tersenyum kecil kemudian berbisik.
"Sebuah kebenaran."
Ia menyelinap keluar dari istana ketika Lauren tengah beristirahat.Luciana sangat penasaran akan sosok la Carolus itu. Darimana dia mendapatkan nama itu? Tentu saja dari beberapa buku dan pusat informasi ketika dirinya mengembara diluar istana.
Simpel saja. Luciana ingin membuat La Carolus berada di pihaknya. Dengan begitu akan mempermudah dirinya untuk mengungkap sebuah kebenaran selama ini. Bisa dipastikan, dengan ketenarannya di kalangan bangsawan dan pejabat akan sangat meyakinkan untuknya terus maju. Maju untuk terus melawan siasat wanita itu.
Luciana masuk kembali ke dalam istana melewati lorong-lorong kotor di bawah istana.
Bertepatan dengan itu, Pangeran Emillio mengajak kakaknya yaitu pangeran Leatan untuk menjenguk kepulangan adiknya. Lebih tepatnya Emillio lah yang memaksa Leatan untuk ikut.
Keduanya berjalan berdampingan menuju kediaman Awan.
"Diamanatkan pelayan pribadi Luciana? Tumben sekali tidak menyambut kita. " heran pangeran Emillio
Sampailah di depan kamar milik Luciana. Mengetuk pintu namun belum juga kunjung dibuka. Emillio membuka pintu dengan lebar dan memang tidak terkunci.
Terlihat seorang gadis tengah tertidur diatas ranjang.
"Segitu lelahnya, sampai langsung tertidur. " ujar pangeran Emillio menggelengkan kepala gemas.
Pangeran Leatan hanya diam dengan ekpresi datar.
"Kucing? " kagetnya
"Ah? Apa Luciana pulang dengan membawa kucing ini? " mereka menatap kucing berwarna full putih yang tengah tertidur bersama gadis itu.
__ADS_1
Wajah gadis yang tidak terlihat membuat keduanya tidak menyadari sesuatu. Mereka menganggap bahwa yang tengah tertidur itu adalah Luciana.
Lauren.
Lauren yang merasakan pergerakan di sekitarnya pun mengerjapkan matanya. Menyibak selimut dan melorot kaget ketika melihat dua orang pria berada dikamarnya.
"SIAPA KALIAN?!! " jerit Lauren meringsekkan tubuhnya kesandaran ranjang.
"Kenapa kalian bisa berada disini!!! "
Tidak hanya Lauren saja yang terkejut, dua pria itu juga sama terkejutnya ketika melihat warna rambut dan wajahnya. Keduanya menegang.
"Kauu?? " tunjuk Emillio
Wajah itu sangatlah mirip dengan ibunya. Sangat mirip hanya warna rambut dan kulitnya saja yang membedakannya.
"Keluar dari sini!!! "
Teriak Lauren melemparkan bantal kearah keduanya. Trauma nya kembali ketikan berjumpa dengan laki-laki.
Pangeran Leatan mengerjapkan matanya. Kemudian mendesis tajam ketika sebuah bantal berhasil mengenai wajahnya.
"LUCIANA TOLONG AKUUUU.. "
"Ada apa ini? "
Luciana berjalan melewati kedua kakaknya itu dan berjalan mendekati Lauren yang terlihat bergetar ketakutan. Luciana menatap kedua pria itu tajam.
"Apa yang kalian perbuat kepada Lauren hah!"
"Kami tidak melakukan apapun. " sahut Emillio
"Tenanglah, Lauren mereka bukankah orang jahat, mereka adalah kakak laki-laki kita. " ucap Luciana berusaha menenangkan
"Apakah dia.. "
"Ya.Gadis ini adalah Lauren. " ucap Luciana datar
"Jangan takutt... "
"Mereka adalah saudara kita. " tenang Luciana
Leatan terlihat matanya bergetar melihat dua gadis di sana. Terlihat ada perasaan membuncah yang tidak bisa ia utarakan, semua bercampun menjadi satu. Setelah itu dirinya berbalik badan dan melenggang pergi dari kamar Luciana.
Luciana tersenyum tipis melihatnya. Pria itu masih saja mengutamakan keegoisan.
Emillio berjalan mendekat, " Hai Lauren. " sapanya tersenyum manis
"Selamat datang kembali. " sambut Emillio
Lauren tidak menjawabnya hanya diam. Setelah merasakan gadis itu sudah mulai tenang dan kembali tertidur karena kelelahan, Luciana menyeret pangeran Emillio keluar dari kamarnya.
End
__ADS_1
Nggak kok, santai.. santai..
See you>