Badboy & The Beast

Badboy & The Beast
BBTB #10


__ADS_3

Mochi melangkahkan kaki nya riang menuju loker kelas XII. Lagi dan lagi, Mochi datang lebih awal, hanya untuk meletakkan surat yang berisi kata-kata penyemangat.


"Berapa stock surat yang lo punya ?"


Bariton suara yang sangat di kenal Mochi. Mochi meneguk ludah nya kasar. Mochi takut, akan kemarahan Gavin.


"Lo tuli ? kalau orang bicara, jangan membelakangi !"


Mochi perlahan membalikkan badan nya dengan menunduk.


"Ma-maaf Gavin. A-aku nggak akan mengulangi nya lagi," ucap Mochi takut-takut.


Gavin hanya mendengkus. Gavin melangkahkan kaki nya mendekati Mochi. Mochi mendongak, Gavin semakin dekat.


"Ga-gavin mau apa ?"


"Gue, mau lo," bisik Gavin di telinga Mochi.


Gavin memerangkap Mochi. Mochi semakin ketakutan. Gavin memiringkan kepala nya. Mochi yang semakin ketakutan mencari akal.


"DIAN !" panggil Mochi.


Gavin melepaskan tangan nya mendengar Mochi memanggil nama yang keramat bagi nya untuk di dengar.


Gavin menoleh. Dian tidak ada. Sementara Mochi perlahan-lahan menjauhi Gavin.


"Ma-maaf Gavin,"tutur Mochi berlari kecil menjauhi Gavin.


"Shit !" umpat Gavin kesal.


Lihat aja cewek udik, lo pasti bertekuk lutut di hadapan gue !


****


Mochi berlari dengan melihat ke belakang. Napas Mochi tersengal-sengal.


"Awh!"


Mochi secara tidak sengaja menabrak Tasya dan teman-teman nya. Napas Mochi semakin tidak beraturan, seperti melihat setan.


"Heh, Mochin ! kalau jalan, lo lihat-lihat dong ! lecet nih, tangan gue !" hardik Tasya.


"Ma-maaf Sya. A-aku nggak sengaja," balas Mochi takut-takut.


Mochi meneguk ludah nya kasar. Mochi berpikir, ada apa gerangan Tasya sudah datang sepagi ini.


"Siera, Jeni, kalian kerjakan tugas gue. Biar gue sama Della yang urus cewek udik ini," perintah Tasya.


Siera dan Jeni hanya mengangguk.


"Mo-chi-ra. Lo nggak ada bosan-bosan nya ya, datang setiap pagi dan kasih surat untuk Gavin ?" cerca Tasya bersedekap dada.

__ADS_1


"Surat atau sampah Sya ?" sahut Della menyindir.


"Bisa jadi sampah. Kalau surat, mana ada sepatah, dua kata yang nggak bermutu," balas Tasya tersenyum mengejek.


"A-aku mau ke kelas dulu Sya," ujar Mochi terbata-bata.


"Eits, siapa yang suruh lo pergi ?" Della menghadang Mochi dengan menjulurkan kaki sebelah kanan nya.


"Ka-kalian mau apa ?"


Tasya dan Della saling pandang. Suasana sekolah sepi, seakan mendukung mereka untuk membully Mochi.


"Lo ikut gue," perintah Tasya menarik tangan Mochi kasar.


"Tasya, lepas ! tangan aku sakit !" jerit Mochi.


Della ikut menarik tangan Mochi. Mereka membawa Mochi ke gudang.


Gudang yang sudah lama tidak terpakai, hanya berisi bangku dan meja yang usang. Penuh debu dan sarang laba-laba dimana-mana.


Tasya menyentak tangan Mochi kasar. Mochi jatuh terduduk di lantai yang kotor dan berdebu.


"Lo diam di sini ! kalau perlu ... lo bermalam dengan tikus-tikus kecil yang mencari mangsa !"


"Nggak. Please Sya ... gue mau belajar. Gue nggak mau di kurung disini," pinta Mochi dengan memelas.


"Del !" panggil Tasya.


Della yang sudah mengerti pun, mengeluarkan obat tidur yang selalu di bawa nya di dalam tas. Obat penenang, ketika Della merasa frustasi.


"Del, lo apain dia ? kalau dia mati gimana ?" tanya Tasya khawatir.


"Ck, lo bodoh atau apa Sya ? gue cuma buat dia pingsan aja kok. Keluar yuk, biar yang lain nggak curiga," ajak Della setelah meminumkan obat tidur di mulut Mochi.


Tasya dan Della meninggalkan Mochi di gudang itu. Tasya mengunci gudang itu dari luar. Gudang yang mungkin, lupa di kunci penjaga sekolah.


"Kalian kenapa ada di sini ?"


Bariton suara Pak Yayan mengejutkan Tasya dan Della.


"Ah, nggak Pak. Ini, kita lagi cek gudang nya. Kok, gudang nya nggak terkunci ya ?" dalih Della.


"Iya Pak Yayan. Bahaya tu, kalau nggak di kunci," sambung Tasya lagi.


Pak Yayan memeriksa gudang itu.


"Astagfirullah ... Pak Yayan lupa, tadi Kepala Sekolah minta Bapak cek kursi dan meja yang masih bisa di pakai di gudang ini," tutur Pak Yayan.


"Tuh, kan. Untung ada kita berdua," celetuk Tasya.


"Kunci aja Pak," timpal Della.

__ADS_1


"Makasih ya, Bapak akan kunci."


Tasya dan Della bertos ria. Rencana mereka berhasil mengerjai Mochi.


****


Diandra berjalan hilir mudik di depan kelas nya. Sejak pagi, hingga sampai pulang sekolah seperti ini, Mochi belum tampak. Sudah berkali-kali, Diandra menghubungi Mochi, namun telfon Mochi tidak bisa di hubungi. Suasana sekolah sudah sepi, Diandra ingin mencari tahu, namun mengurungkan niat melihat Gavin masih bersama Geo dan Leo yang sedang bersantai di tangga. Diandra enggan bertemu Gavin. Diandra memutuskan untuk mencari Mochi nanti sepulang sekolah.


Pukul 18.00 wib


Mochi yang tersadar, perlahan membuka kedua mata nya. Mochi mendengar suara-suara seperti orang mengaji. Mochi mengerjap-ngerjapkan mata nya. Langit-langit yang penuh debu, dan sarang laba-laba. Mochi terduduk dan mengamati sekitar. Mochi merasa takut. Mochi mengambil ponsel nya, namun nihil. Ponsel nya habis batrai. Mochi berdiri menuju pintu.


"TOLONG ...! TOLONG ...!" Mochi menggedor-gedor pintu sekuat tenaga nya. Hari semakin larut, mengingat semburat orange mulai menunjukkan diri.


Mochi terus menggedor-gedor pintu. Namun nihil, tidak ada jawaban. Mochi menangis ketakutan. Mochi bingung harus melakukan apa. Mochi terus menggedor-gedor pintu lagi.


"TOLONG ...! TOLONG ...!" Mochi mulai kehilangan suara nya.


Pak Yayan yang seperti biasa mengontrol kelas demi kelas di sekolah Pelita Bangsa sayup-sayup mendengar suara. Pak Yayan memberhentikan langkah kaki nya. Arah suara berasal dari gudang. Pak Yayan yang mulai merinding, berjalan menjauhi suara-suara itu.


"Pak Yayan ?" panggil Gavin yang melihat Pak Yayan seperti ketakutan.


"Eh, Den Gavin, belum pulang ?"


"Belum. Ada apa Pak ?"


"Itu Den, anu ...." Pak Yayan gemetar ketakutan menunjuk arah gudang belakang yang sangat sepi, dan jarang di kunjungi.


Gavin yang penasaran, melangkahkan kaki nya menuju gudang. Semakin mendekat, suara isak tangis mulai terdengar. Gavin yakin, jika di dalam pasti ada seseorang.


"Siapa di dalam ?"


"TOLONG BUKA PINTU NYA!" jerit Mochi.


Gavin menyusul tempat Pak Yayan untuk meminta kunci gudang. Setelah mendapatkan nya, Gavin membuka pintu gudang. Mochi langsung memeluk Gavin begitu saja. Gavin hanya mampu terdiam mendengar isak tangis perempuan di depan nya.


Gavin mengurai pelukan nya dan memandang siapa yang berani memeluk nya ini.


"LO ?"


"Ma-makasih Gavin udah nolong Mochi ...," lirih Mochi.


"Lho, ada orang toh ? Pak Yayan pikir nggak ada orang. Soal nya Neng Tasya sama Neng Della tadi pagi di sini," sahut Pak Yayan mendekati Gavin dan Mochi.


Tasya sama Della ? sial ! tapi ... lumayan juga, gue bisa mendekati cewek udik ini. Batin Gavin tersenyum miring.


"Pak Yayan, lain kali tolong di cek. Gavin tidak ingin ada hal seperti ini lagi !"


"Ba-baik Den Gavin," jawab Pak Yayan menunduk.


"Gue antar lo pulang," tawar Gavin menghapus sisa-sisa air mata Mochi.

__ADS_1


Mochi hanya bisa diam dan melihat genggaman tangan Gavin memegang tangan nya erat.


Jangan lupa kritik dan saran 🤗


__ADS_2