
Semburat kuning cerah yang menyapa semesta, tidak menyurutkan semangat Mochi untuk pergi ke kantor. Mochi datang ke kantor pagi-pagi sekali, karena ingin meminta maaf pada Gio. Seperti biasa, Mochi langsung menaiki lift khusus untuk para petinggi kantor lantai 15.
Ting !
Pintu lift terbuka, Mochi segera melangkah kan kaki nya memasuki ruangan Gio'Direktur Utama'. Mochi menunggu kedatangan Gio, hingga pukul 08.00.
Bunyi pintu yang berdecit, menyadarkan Mochi dari ngantuk nya.
"Gio," panggil Mochi.
"Kenapa lagi Mochi ? sejak kapan kamu di sini ?"
Gio nya telah berbeda. Mochi merasakan perubahan itu. Mochi mendekati Gio.
"Kamu marah sama aku ? aku minta maaf Gio," kata Mochi dengan suara sendu nya.
Gio menghela napas. Jika sudah seperti ini, Mochi pasti menangis.
Gio memegang bahu Mochi. Mochi mendongak.
"Mochi, aku sangat mencintai kamu. Apa kamu nggak bisa buka hati kamu untuk aku ?"
"Aku akan berusaha membuka hati untuk kamu. Kamu mau kan, bantu aku ?"
Gio mengangguk dan memeluk Mochi. Mochi membalas pelukan Gio dengan erat.
Mochi, seandai nya kamu tahu jika Gavin sudah kembali, aku takut kehilangan kamu. Batin Gio.
"Nggak mau di lepas nih pelukan nya hum ?"
Mochi salah tingkah. Gio hanya terkekeh pelan memandang gurat wajah Mochi.
"Y-yaudah, aku kerja dulu ya. Nanti, aku makan gaji buta kalau nggak kerja," kata Mochi denga cengiran lebar nya.
Gio hanya tersenyum mengusap pucuk kepala Mochi. Mochi kembali ke meja sekretaris, untuk mencatat agenda apa saja yang akan di lakukan Gio hari ini.
Ting !
Notif ponsel Mochi berbunyi. Mochi yang penasaran membuka ponsel nya.
+628132994xxx
__ADS_1
Hai, kita ketemu di cafe Grenada ya 12.00 💞
Mochi menautkan alis nya bingung membaca pesan dari nomor asing di ponselnya. Mochi memutuskan untuk menggunakan kartu baru, agar melupakan masa lalu nya. Namun, setahu Mochi yang tahu nomor ponsel nya hanya Ayah, Bunda dan Gio.
+628521414xxx
Siapa ?
+628132994xxx
Penasaran ? kita ketemu di cafe. Awas, kalau nggak datang !
Mochi menghela napas membaca pesan itu. Mochi meletakkan ponsel nya kembali di meja.
Siapa ya ? jadi penasaran. Kalau nggak datang, makin penasaran. Hum, datang aja deh. Siapa tahu penting. Mochi berperang dengan batin nya.
Pukul 12.00 Wib
Mochi memutuskan untuk pergi ke kafe Grenada. Mochi membereskan buku-buku, kertas serta mematikan laptop nya.
"Makan siang yuk, Mo," ajak Gio yang datang mendekati meja Mochi.
"Hum, kamu duluan aja ya Gio. Aku--hum, disuruh Bunda beli sesuatu," dalih Mochi.
"Nggak. Ini khusus perempuan, laki-laki nggak boleh tahu."
"Yaudah, iya-iya deh," balas Gio mengacak-acak rambut Mochi gemas meninggalkan Mochi.
"GIO ...!"
Mochi berangkat ke kafe Grenada menggunakan taksi. Beberapa menit dalam perjalanan, Mochi sampai. Mochi turun dari taksi dan memasuki kafe Grenada. Mochi mencari tempat duduk yang nyaman di ujung kafe dengan meja nomor 2.
Mochi yang ingin memanggil pelayan, terkejut melihat keberadaan Diandra dari jauh. Mochi buru-buru beranjak dari duduk nya.
"MOCHI !" panggil Diandra yang segera menyusul Mochi.
"Di-Diandra."
Diandra menilik penampilan Mochi dari atas sampai bawah. Sangat berbeda dari penampilan Mochi tiga tahun lalu. Mochi menggunakan blazer, serta rok span di bawah lutut yang memperlihat kan body goals nya.
"Ini lo Mo ? lo cantik banget ! gue sampai terpesona," puji Diandra.
__ADS_1
"Makasih, aku harus pergi," balas Mochi meninggalkan Diandra.
"Lo udah nggak anggap gue sahabat lagi Mo ?"
Langkah kaki Mochi terhenti mendengar ucapan Diandra. Mochi berbalik.
"Sahabat apa yang ninggalin gue di saat gue terpuruk !"
"Gue terpaksa ! karena Kak Gavin sekarat !"
Lagi. Mochi memejamkan mata mendengar nama itu. Mochi sangat-sangat merindukan nama itu. Tapi, Mochi tidak ingin mengenang masa lalu lagi. Mochi tetap melangkahkan kaki nya keluar kafe. Diandra yang tidak terima Mochi mengabaikan nya mengejar langkah Mochi.
"Mochira !" Diandra menyentak lengan Mochi.
"Apa lagi Dian ? sebentar lagi aku masuk kerja !" balas Mochi berusaha melepaskan cekalan tangan Diandra.
"Pokok nya, lo harus ikut gue !" Diandra menyeret Mochi kembali ke kafe.
Diandra mendudukkan Mochi di bangku meja nomor 2.
"Lo nggak usah naif Mo. Nomor 2, angka kesukaan Kak Gavin !"
Mochi merubah raut wajah nya menjadi tegang.
"Udah lah Dian, nggak usah bahas Gavin," sanggah Mochi.
"Nggak. Gue nggak akan berhenti untuk menjelaskan semua kejadian mengapa tiga tahun lalu, gue, Kak Gavin, dan si kembar nggak sekolah di sana lagi."
Diandra mulai menceritakan kejadian yang sebenarnya. Di mulai dari, Gavin yang kehabisan darah, hampir tidak tertolong karena pendarahaan di kepala nya, serta Gavin yang di bawa keluar negeri untuk pengobatan lebih lanjut. Dan Zura yang mendonorkan darah nya untuk Gavin.
Mochi menutup mulut nya dengan mata berkaca-kaca.
"K-Kak Gavin ...."
"Lo tenang aja Mo. Kak Gavin selamat, meski harus mengalami koma berbulan bulan dan lupa ingatan 2 minggu sebelum kejadian."
"Syukurlah."
"Lo, udah nikah Mo ?"
"Be—"
__ADS_1
"Mau menikah. Iyakan Mochi ?"