Badboy & The Beast

Badboy & The Beast
BBTB #24


__ADS_3

Gavin yang berjalan hilir mudik di kamar sembari menggenggam gadget, sangat gelisah. Pasalnya, panggilan Gavin tidak dijawab Mochi. Diandra yang ingin sarapan menoleh pada pintu kamar Gavin yang terbuka.


"Ngapain lo kayak setrikaan Kak ?"


"Lo ada kabar dari Mochi nggak ?"


Diandra menautkan alisnya.


"Loh, kok lo nanya sama gue ?"


"Kali aja Mochi ada hubungi lo," kata Gavin mencoba mendial nomor Mochi.


"Nggak ada Kak, sejak ketemu di kafe waktu itu gue nggak ada komunikasi sama Mochi."


Gavin mengusap wajahnya.


"Mochi nggak ada angkat panggilan gue," keluhnya.


"Jadi, dari tadi lo ngapain hilir mudik kayak setrikaan kalau tahu Mochi nggak jawab panggilan lo ?"


"Maksud lo ?"


"Ck, Kak Gavin ... lo datang lah ke rumahnya Mochi !" Diandra berdecak sebal.


"Iya, ya. Gue siap-siap dulu. Lo ngapain masih disitu ?"


"Dasar oon ! pakai usir gue segala lagi," gerutu Diandra meninggalkan kamar Gavin.


"Gue dengar Diandra !"


****


Cahaya mentari yang menyelinap masuk di antara celah-celah tirai jendela yang masih tertutup rapat, tidak mengusik seorang perempuan yang duduk dibawah ranjang tempat tidur dengan kaki yang ditekuk.


Suara tangisan lirih yang dipadu dengan suara kekhawatiran Rita yang mengetuk pintu kamar Mochi.


"Bunda, kenapa gelisah ?" tanya Haris yang melihat Rita berjalan hilir mudik di ruang tamu.


"Mochi pulang pagi Ayah, Bunda takut Mochi ada apa-apa," keluh Rita.


"Bunda, bisa saja Mochi lembur di kantor, makanya Mochi pulang pagi."


"Perasaan Bunda nggak enak Ayah. Pasti udah terjadi sesuatu sama Mochi," tutur Rita memijit pelipis.


"Darimana Bunda tahu ?"


"Sejak pulang tadi, Mochi nggak keluar dari kamar. Bunda panggil Mochi nggak ada jawaban," kata Rita lirih.


"Bunda yakin ? udah coba berapa kali ?" tanya Haris.


"Barusan Bunda dari kamar Mochi."


"Yaudah, coba lagi Bun. Kali aja Mochi masih tidur," perintah Haris.


Rita segara melangkahkan kakinya menuju kamar Mochi kembali dengan diikuti Haris.


"Mochi, buka pintunya sayang," kata Rita mengetuk pintu kamar Mochi.

__ADS_1


Nihil. Suara samar-samar tangisan yang terdengar ketika Rita menajamkan indra pendengarannya.


"Ayah, Mochi nangis. Bunda semakin khawatir," desah Rita memandang Haris.


"Coba lagi aja Bun, kalau nggak ada jawaban, Ayah dobrak pintunya," lanjut Haris.


"Tapi, Ayah masih sakit. Bunda coba lagi aja Yah," ucap Rita mengetuk pintu Mochi dengan kuat.


Ting Tong !


"Ada yang datang Bun."


"Ayah coba ketuk pintu nya lagi, Bunda lihat siapa yang datang," pinta Rita melangkah menuju pintu.


"Assalammualaikum Bunda," ucap Gavin menyalami tangan Rita.


"Waalaikumsalam Gavin."


Gavin memperhatikan gurat wajah Rita yang gelisah.


"Bunda, kenapa ? apa Mochi nya ada ?" tanya Gavin.


"Bunda nggak pa-pa Gavin. Mochi ... "


"Mochi kenapa Bunda ?"


"Tadi pagi, Mochi baru pulang Gavin. Bunda khawatir terjadi sesuatu dengan Mochi," terang Rita.


"Mochi dimana Bunda ?"


"Gavin izin masuk ya Bunda."


Rita mempersilakan Gavin masuk menuju kamar Mochi.


"Ayah, Mochi belum keluar juga ?"


"Belum Nak Gavin, Ayah sudah mengetuk pintu berkali-kali. Namun, tidak ada jawaban," keluh Haris.


"Gavin dobrak aja ya pintu nya. Gavin juga khawatir sama Mochi."


"Jangan di dobrak Nak Gavin, pintu kamar Mochi ada duplikat nya. Ayah sengaja menduplikat kunci setiap kamar yang sudah direnovasi," kata Haris.


"Sebentar Gavin, Bunda ambilkan."


Gavin mengetuk pintu kamar Mochi. Tetap nihil.


"Ini kuncinya Gavin," kata Rita memberikan kunci duplikat kamar Mochi.


Gavin dengan cekatan membuka pintu kamar Mochi. Suasana kamar yang gelap menyambut penglihatan Gavin. Kasur Mochi yang masih tertata rapi. Gavin melihat sekeliling. Tirai jendela yang masih ditutup rapat. Gavin mencari keberadaan Mochi.


"Mochi."


Gavin melihat Mochi terduduk disudut ranjang dengan menelengkupkan kepala di lipatan tangan. Mochi mendongak.


Gavin terhenyak ketika melihat wajah Mochi penuh dengan air mata. Jangan lupakan mata Mochi yang sembab akibat menangis lama.


"Kamu kenapa ?" Gavin mendekati Mochi.

__ADS_1


"Stop Gavin ! jangan mendekat !" pinta Mochi dengan suara seraknya.


"Kenapa ? aku khawatir dengan keadaan kamu Mochi," balas Gavin tetap melanjutkan langkahnya.


"A-aku nggak pantas buat kamu. A-aku kotor ...," lirih Mochi.


"Kata siapa ? kamu perempuan istimewa bagi aku."


Mochi menggeleng lemah.


"Nggak. Aku udah nggak sempurna. Aku cacat !" teriak Mochi histeris.


Gavin memeluk Mochi dan menenangkannya.


Mochi meronta minta dilepaskan, namun pelukan Gavin terlalu kuat.


"Mochi," panggil Rita.


Mochi mengurai pelukannya menatap Rita.


"Bunda ... maafkan Mochi hiks, hiks."


Tangis tergugu Mochi sangat menyayat hati Rita. Sebagai seorang Ibu, Rita bisa merasakan apa yang dirasakan Mochi.


"Bunda, nanti kita bicara. Biarkan Gavin menenangkan Mochi dulu," ajak Haris.


Rita mengangguk sendu.


"Aku nggak pantas untuk kamu cintai lagi Gavin. Aku kotor," racau Mochi.


"Ssstt, aku nggak perduli. Aku mencintai kamu tulus Mochi. Kamu jangan nangis ya, sekarang cerita sama aku," bujuk Gavin menghapus air mata Mochi.


Gavin memperhatikan penampilan acak-acakan Mochi. Gavin memperhatikan bekas keunguan di sekitar leher Mochi.


"Shit ! Gio ******** !"


Gavin beranjak dari duduk nya karena emosi yang menguasainya.


"Ga-Gavin ...."


"Jangan nangis lagi Mochi. Apapun yang terjadi sama kamu, aku akan tanggung jawab," jawab Gavin mantap.


"Hiks ... hiks ... Gavin, maafkan aku, udah ngecewain kamu ...," lirih Mochi terisak.


Bahu Mochi bergetar naik turun dengan isak tangis yang menyayat hati Gavin. Gavin bersumpah akan membalaskan sakit hati Mochi pada Gio.


Gavin membawa Mochi kepelukannya. Mochi menangis di dada Gavin. Tangisan sendu yang menyayat hati seorang Ibu.


Ya, sejak tadi Rita mendengar percakapan Gavin dan Mochi. Air mata yang mengalir tidak bisa Rita hentikan. Begitu juga dengan Haris yang merasa sesak di dadanya.


"Ayah, nggak pa-pa ?" tanya Rita khawatir.


Haris hanya menggeleng. Rita membantu Haris untuk kembali ke kemar mereka.


Gavin berhasil menenangkan Mochi. Tangan Gavin yang mengepal kuat dengan gigi gemeletuk beranjak dari duduknya melihat mata sembab Mochi yang bengkak.


"Lo harus menderita lebih dari yang Mochi rasakan Gio," gumam Gavin dengan tangan terkepal kuat melangkah meninggalkan kamar Mochi.

__ADS_1


__ADS_2