
Mochi ragu-ragu melihat testpack di tangannya. Petugas apotik memberikannya beberapa test pack agar hasilnya lebih akurat. Setelah pulang dari makan pangsit bakso di dekat kantor Gio, Mochi memutuskan pulang. Sebelumnya, Gio menghampiri Mochi, namun, Mochi tidak ingin melihat Gio.
Mochi bergegas ke kamar mandi. Mochi was-was. Beberapa menit menunggu, Mochi gelisah dengan hasil testnya. Mochi mencoba tiga testpack. Mochi mengambil masing-masing testpack. Mata Mochi terbelalak ketika melihat dua garis merah di masing-masing testpack, itu artinya, Mochi positif hamil.
"Gak, ini, gak, mungkin." Mochi menggumam lirih.
Mochi mengusap perutnya yang datar. Mungkinkah, malaikat kecil hadir di rahimnya?
"AAAA! GAK!"
Rita dan Haris mendengar teriakan Mochi, bersamaan dengan jatuhnya barang-barang.
"Ayah, Mochi kenapa?" seru Rita khawatir.
"Gak tahu, Bun. Kita lihat," ajak Haris.
Rita dan Haris bergegas menuju kamar Mochi.
"Mo, buka pintunya, Sayang, ini, Bunda," pinta Rita mengetuk pintu.
"Ada apa, Mochi?"
Tak ada jawaban dari Mochi, membuat Rita dan Haris semakin khawatir.
"Bunda, pakai kunci cadangan, cepat, Bunda," perintah Haris.
Rita mengangguk, mencari kunci cadangan di laci lemari ruang tamu. Rita membawa sebuah kunci, dan membuka pintu kamar Mochi.
Hati Rita dan Haris mencelus, melihat keadaan kamar Mochi yang berantakan. Mochi terduduk di sudut ranjang dengan berurai air mata.
"Kamu, kenapa, Sayang? Jangan buat Bunda khawatir," lirih Rita mendekati Mochi.
Haris melihat sekeliling. Kamar Mochi sangat berantakan, seprai kasur tergeletak di lantai, lampu kamar pecah, dan semua alat make up Mochi berjatuhan dari meja riasnya. Haris meneliti dengan saksama, satu benda menarik perhatian Haris berwarna putih tulang. Haris memungut benda itu, dan melihat benda itu ada tanda, dua garis merah.
Haris memegangnya dengan tangan bergetar. Haris merasa dejavu mengingat Rita dulu pernah memakai benda ini.
"Bu-Bunda." Rita menoleh dan mendekati Haris.
Rita mengambil benda itu dari tangan Haris, dan melihat dengan saksama. Air mata Rita mengalir, bahu Rita bergetar menahan tangis. Haris membawa Rita menuju Mochi. Rita memeluk Mochi. Tangis Rita pecah, dan hati Haris mencelus.
"Mochi ... kamu jangan takut, di sini ada Bunda," lirih Rita.
"Mo-Mochi, gak mau hamil anak Gio Bunda ... Mochi gak mau ...." Pandangan Mochi buram karena air mata yang membanjiri pipinya.
"Mochi, kamu harus kuat, ada malaikat kecil tidak bersalah di rahim kamu, maafkan, Ayah ... semua ini, salah Ayah ...."
Haris menunduk sendu. Rita menggeleng.
"Bukan salah, Ayah. Gak ada yang salah, Ayah. Ini, semua takdir. Kita harus bisa menerima takdir," bantah Rita.
"Tapi, kenapa harus, Mochi? Harusnya, Ayah yang menderita!"
"Ayah ...." Mochi memeluk Haris erat. Tangisan Mochi pecah semakin menyayat hati Haris.
Rita ikut memeluk Mochi dan Haris. Sebagai seorang Ibu, hati Rita lebih hancur, melihat penderitaan Mochi, yang tiada habisnya.
Beberapa jam kemudian ...
__ADS_1
Lelah menangis, Mochi tertidur. Rita dan Haris semakin gelisah. Mereka bingung ingin berbuat apa untuk memberi Mochi dukungan. Mereka takut, Gio akan semakin menjadi, mengingat Mochi mengandung anaknya.
Rita dan Haris terkejut mendengar ketukan pintu yang berulang kali. Haris meyakinkan Rita, agar tetap tenang. Rita melangkah pelan membuka pintu.
"Assalammualaikum."
Rita menelan salivanya susah payah.
"Wa-waalaikumsalam."
"Mochi, ada Bunda?"
"Mochi tidak bisa di ganggu," dalih Rita."GIO!"
Gio melangkah masuk begitu saja, tanpa perduli panggilan Rita.
"Gio, ada apa kamu datang ke sini?" tanya Haris dengan tatapan tidak bersahabat.
Gio duduk di sofa dengan santai.
"Begini, sambutan untuk menantu, kalian?"
Rita dan Haris saling pandang.
"Apa maksud, kamu Gio?" sambung Rita.
"Bunda tahu, maksud Gio."
"Jangan harap, saya akan merestui kamu menikah dengan Mochi!" kata Haris memperingati.
Gio tersenyum miring menatap Rita dan Haris.
Deg Rita dan Haris menegang. Hal inilah, yang mereka takutkan.
"Jangan mimpi, kamu Gio. Siapa bilang Mochi hamil? Mochi hanya tidak enak badan saja!" bantah Rita.
"Benar? Bukannya tadi pagi, Mochi pengin makan pangsit bakso, di dekat kantor Gio? Biasanya, orang hamil suka menginginkan hal yang aneh," celetuk Gio.
"Cukup, Gio! Kamu gak usah, sok, tahu!" sarkas Haris.
"Oh, ya? Jika Mochi tidak hamil, kenapa, Gio tidak boleh menikahi Mochi?" pancing Gio.
"Karena ...."
"Karena, Mochi tidak ingin menikah dengan kamu," lanjut Rita meneruskan ucapan Haris.
Gio menggut-manggut.
"Baiklah, jika Mochi tidak hamil, Gio bersyukur. Itu artinya, Gio tidak perlu repot tanggung jawab," celetuknya.
Haris terpancing emosi, Haris mendekati Gio dan melayangkan satu pukulan telak di rahang Gio.
Bugh!
"********, kamu Gio! Kamu sudah merusak anakku, sekarang kamu lari dari tanggung jawab!" hardik Haris.
"Ayah, sudah," lerai Rita.
__ADS_1
"Anak ini, sudah keterlaluan, Bunda! Dia sudah merusak Mochi! Sekarang? dia lepas tanggung jawab dengan kehamilan Mochi!"
Gio menyeringai, rencananya berhasil.
"Mochi hamil?"
Haris terdiam, sementara napas Rita tercekat.
"Gi-Gio, Mochi hanya—hanya sedang gak enak badan, bukan hamil," terang Rita gugup.
"Kalian berusaha menyembunyikan fakta ini? Mochi mengandung anak Gio!" balas Gio menahan geraman.
"Ini semua salah kamu, Gio! Kami percaya kamu lebih baik dari Gavin, tapi, nyatanya, kamu lebih ********!" tuding Haris.
"Ck, Gavin? Gio bukan Gavin!" bentak Gio.
"Gio! Jaga bicara kamu, kami ini orang tua!" peringat Rita.
"Ya, kalian orang tua, yang sebentar lagi, akan menjadi mertua." Gio menyeringai.
"Jangan harap, Saya, akan melepas Mochi hidup bersama orang ******** seperti kamu!" Haris memandang sinis Gio.
"Terserah, karena Gio Atmajaya, akan melakukan apapun, demi mendapatkan apa yang dia inginkan."
"Kamu mengancam kami?" Rita ikut menyahut.
"Gak, Bunda. Gio masih menghargai kalian, sebagai orang tua Mochi. Tapi, jika kalian tidak menyetujui Gio menikah dengan Mochi, pasti kalian tahu akibatnya."
Haris menahan geramannya ketika Rita menahan emosi suaminya. Rita tidak ingin terjadi hal buruk dengan Mochi.
"Bunda, ini ada apa, ribut-ribut?"
Rita, Haris, Gio menoleh ke asal suara. Gio melihat penampilan Mochi yang berantakan. Badan Mochi sedikit berisi. Kantung mata yang menghitam, dengan rambut kusut, memakai piyama seperti tadi pagi, Mochi melangkah mendekati Rita.
"Mochi."
Mochi melihat Gio dengan pandangan malas. Gio melangkah mendekati Mochi. Seketika, perut Mochi mual dan bergejolak. Mochi menutup mulut pergi ke kamarnya.
Hueek hueek
Gio menyusul Mochi ke kamar, Gio mengikuti langkah Mochi masuk ke kamar mandi.
"Ternyata benar, kamu hamil, Mochi."
Mochi terkejut mendengar ucapan Gio. Setelah rasa mual Mochi sedikit berkurang, Mochi mendongak menatap Gio.
"Hamil? Aku gak hamil," bantah Mochi.
"Hamil atau gak, aku akan tetap menikahi kamu dalam waktu dekat," balas Gio.
"Tapi, Gio—"
Kepala Mochi berdenyut sakit, kepalanya terasa berputar-putar. Mochi tidak sadarkan diri. Gio dengan sigap menangkap Mochi dan menggendongnya.
"MOCHI!"
***Jangan lupa kritik dan saran ya 🤗
__ADS_1
Maaf baru update! Happy reading 😘***