
Rita dan Haris merasa sedih kehilangan keceriaan Mochi. Pasalnya, Mochi kerap mengurung diri di kamar. Rita dan Haris sudah melakukan berbagai cara agar Mochi kembali seperti semula. Namun, nihil.
Bunyi ketukan pintu membuyarkan lamunan Rita serta Haris.
"Siapa Bun ?" tanya Haris.
"Nggak tahu, Yah, Bunda buka dulu," sahut Rita beranjak dari duduknya.
"Assalammualaikum, Bunda," ucap Gavin menyalami tangan Rita.
"Waalaikumsalam, Gavin."
"Mochinya ada Bunda ?" tanya Gavin.
Raut wajah Rita berubah murung.
"Ada, di kamar."
"Bunda kenapa ? Mochi baik-baik aja kan, Bunda ?" desak Gavin khawatir.
"Mochi baik, masuk dulu Gavin," ajak Rita.
Gavin mengikuti langkah kaki Rita. Di ruang tamu, Haris duduk bersandar di sofa.
"Assalammualaikum, Ayah," ucap Gavin.
"Waalaikumsalam, Nak, Gavin."
"Ayah apa kabar ?"
"Baik, Gavin."
"Mochi gimana Ayah ?" tanya Gavin.
"Begitulah, Gavin. Beberapa hari ini, Mochi sering mengurung diri di kamar. Mochi sering murung," terang Haris.
"Benar Gavin, sudah berbagai cara Bunda lakukan untuk menghibur Mochi, tapi Mochi tetap enggan keluar kamar," sahut Rita membawa nampan berisi teh dan cemilan.
"Gavin izin ya, Ayah,Bunda, mau bujuk Mochi," pinta Gavin.
"Iya, Gavin."
Gavin beranjak dari duduknya pergi ke kamar Mochi. Gavin mengetuk pintu bercat cokelat dengan pelan.
"Mochi, ini aku, Gavin. Buka pintunya ya," kata Gavin.
Gavin menunggu beberapa detik, namun pintu tak kunjung dibuka. Gavin mencoba nembuka gagang pintu. Gavin melangkah masuk, masih dengan keadaan yang sama ketika Gavin menemukan Mochi pertama kali.
"Hei, kamu kenapa ?" sapa Gavin mendekati Mochi yang terlentang dengan menjuntaikan kepala di ujung tempat tidur.
Nihil, tidak ada jawaban. Gavin menarik tangan Mochi yang seperti robot digerakkan.
"Kamu sakit ? ayo, bilang sama aku."
Mochi tetap diam. Air mata Mochi terus berjatuhan dipipi. Gavin membawa Mochi kedalam pelukannya. Tangis Mochi semakin menjadi. Gavin mengusap punggung Mochi menenangkan.
"Jangan nangis lagi, kenapa princess Gavin ?" tanya Gavin mengurai pelukan mereka.
"A-aku ko-kotor."
"Ssst, siapa bilang ? bagi aku, kamu tetap suci."
Gavin menghapus air mata Mochi dan membingkai wajahnya.
"Jangan nangis, Princess, kamu tetap suci dimata aku. Kamu tetap Mochi, gadis paling lugu yang pernah aku kenal. Gadis paling bodoh yang rela menguras tabungan demi masak makanan kesukaan aku. Gadis paling ceriwis kalau lagi bicara," lanjut Gavin tersenyum.
Mochi mengerjapkan matanya berusaha melebarkan senyum.
"Gio ...."
__ADS_1
Mochi memeluk Gavin erat.
"Jangan nangis ya, jadikan semua ini pelajaran dalam kehidupan kamu. Setiap masalah, pasti ada jalan keluarnya. Apa yang kamu khawatirkan lagi ? jangan pernah berpikiran buruk jika tidak ingin terjadi," nasihat Gavin bijak.
"Makasih Gavin," lirih Mochi mengurai pelukannya.
"Iya sayang. Sekarang, kamu siap-siap ya, aku mau ajak kamu ke suatu tempat."
"Kemana ?"
"Nanti aku kasih tahu, sekarang, kamu mandi ya, bau asem," ejek Gavin menutup hidungnya.
Mochi mengendus-ngendus tubuhnya dan mencebik.
"Aku nggak bau asem, wangi kok," keluh Mochi cemberut.
"Masa sih ? coba aku cium."
"Ish, kamu cari kesempatan Gavin," kata Mochi menghindar dari Gavin yang mulai mengendus bau badan Mochi.
"Nggak, kamu bau asem, beneran deh," celetuk Gavin.
"Nggak ! semalam aku mandi," bantah Mochi cemberut.
"Nah, kan, semalam ? siang ini belum kan ?" selidik Gavin tertawa.
Mochi menutup wajah menggunakan kedua telapak tangannya menahan malu. Gavin tergelak, dan menggelitiki Mochi.
"Ahaha Gavin, stop ! geli !"
"Nggak akan, sebelum kamu ngaku."
"Ish, iya-iya. Aku belum mandi dari tadi pagi, puas !" ketus Mochi merengut sebal.
"Nah, gitu dong. Siap-siap ya, aku senang kamu senyum lagi," balas Gavin mengusap pucuk kepala Mochi.
Dua puluh menit kemudian ...
Mochi sudah siap dengan penampilannya yang lebih segar. Rita dan Haris tersenyum melihat penampilan Mochi yang sudah lebih baik.
"Mochi, kamu mau pergi ya ?" tanya Rita.
"Iya Bunda, boleh ?"
"Boleh sayang, pulangnya jangan malam ya," pesan Haris.
"Ayah, Bunda, Gavin bawa Mochi jalan dulu ya," pamit Gavin.
"Hati-hati ya," tambah Rita.
"Iya Bunda, Ayah, assalammualaikum," ucap Mochi.
"Waalaikumsalam Mochi."
Rita dan Haris tersenyum, ketika Gavin berhasil membujuk Mochi untuk keluar dari kamarnya.
"Kamu mau ajak aku kemana ?" kata Mochi memandang Gavin yang sedang fokus menyetir.
"Ke tempat yang akan buat kamu bahagia," balas Gavin menoleh sekilas.
"Maksudnya ?"
"Kamu cantik hari ini pakai dress warna biru laut itu, kayak princess," puji Gavin.
Mochi menyembunyikan rona merah yang menjalar di kedua pipinya. Gavin yang melihat tersenyum kecil.
"Gombal."
Mochi mengalihkan pandangan kedepan melihat jalanan yang sangat dia kenali.
__ADS_1
"Gavin, ini ?"
Gavin mengangguk.
"Wah, aku kangen sama tempat itu," ujar Mochi antusias.
Beberapa menit dalam perjalanan, mobil yang dikemudikan Gavin sampai di tepi danau dengan hamparan rumput hijau yang luas.
"Yuk, turun," ajak Gavin.
"Udaranya segar, masih sama," kata Mochi menghirup udara disekitarnya.
"Ayo, kita kesana," tunjuk Gavin ditepi danau.
Mochi mengangguk.
Gavin menautkan tangannya ke jemari tangan Mochi. Mochi tersenyum memandang Gavin.
Gavin mendudukkan dirinya dibawah pohon rindang yang banyak akar besar mencuat.
"Sini, dekat aku. Kamu duduk di depan aku," perintah Gavin.
Mochi duduk didepan Gavin. Gavin memeluk Mochi, agar mendekat padanya. Mochi mengatur posisi duduknya yang pas agar dress yang dikenakannya tidak berterbangan.
"Sekarang, kamu pejamkan mata. Anggap, didepan kamu taman penuh bunga yang sangat indah. Rasakan keindahan dan kenyamanannya."
Mochi mengikuti intruksi Gavin dengan memejamkan matanya.
"Lepaskan beban yang mengganjal di hati dan pikiran kamu," lanjut Gavin."Ucapkan, satu nama yang akan membuat kamu selalu bahagia dan menjadi perempuan yang kuat setiap ada masalah."
"Gavin Angkasa."
Mochi membuka matanya terpejam dengan tersenyum lebar.
"Kenapa aku ?"
"Karena kamu, orang yang aku cintai sampai detik ini."
Mochi memandang Gavin dari samping. Gavin memegang Mochi dan membantu memperbaiki posisi duduknya.
"Aku lebih mencintai kamu."
"Buktinya, apa ?"
"Aku mau—kita menikah."
"Menikah ?" ulang Mochi antusias.
"Will you marry me ?"
"Tapi—"
"Say, yes, or no," potong Gavin.
"Yes, i do,"jawab Mochi mantap.
"Aku akan berusaha menyelesaikan masalah ini. Kamu sabar ya nunggu aku," pinta Gavin.
"Aku juga ingin masalah ini cepat selesai". Dan aku harap apa yang aku takutkan tidak terjadi, lanjut Mochi dalam hati.
"Pasti Mochi, aku nggak mau Gio memanfaatkan situasi dan keadaan."
"Tapi, bagaimana dengan keluarga kamu Gavin ?"
"Papa, Mama dan Diandra, mendukung aku. Tapi, aku nggak mau egois. Aku akan melakukan segala cara untuk meraih kebahagiaan kita," lanjut Gavin tersenyum.
Mochi memeluk Gavin erat. Gavin membalas pelukan Mochi tak kalah erat. Gavin berharap, kebersamaan mereka saat ini, bukanlah menjadi saat terakhir.
Jangan lupa kritik dan saran 🤗
__ADS_1