Badboy & The Beast

Badboy & The Beast
BBTB #36


__ADS_3

Diandra menggigit bibir gelisah melihat isi pesan di gadgetnya. Isi pesan yang membuat Diandra sangat shock. Diandra yakin, jika isi pesan ini di ketahui oleh Gavin, pasti Gavin marah besar.


Mochi


Dian, aku minta kamu jaga Gavin. Kamu harus tahu, kalau aku sangat mencintai Gavin.


Apa yang harus gue lakukan? Mochi kenapa sih? Perasaan gue gak enak. Batin Diandra gelisah.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Leo melihat gelagat Diandra yang gelisah.


"Hum, itu, anu ...." Diandra menggaruk pelipis.


Gavin yang bersandar di dinding pintu kamar inap Ferry menoleh. Gurat wajah gelisah Diandra terpancar.


"Ada apa Diandra?"


"Gak ada apa-apa Kak," dalih Diandra, "Leo, temani aku yuk, ke toilet."


Diandra memelototi Leo untuk mengikuti keinginannya.


Diandra beranjak dari duduknya di ikuti Leo. Sementara Gavin, merasa ada sesuatu yang di sembunyikan Diandra. Namun, Gavin tidak ambil pusing. Gavin lebih baik menunggu mamanya datang dari mengurus biaya administrasi rumah sakit.


"Gavin, Diandra mana?" tanya Zura yang datang tiba-tiba.


"Ke toilet di temani Leo."


Zura menghela napas. Gavin menilik gurat wajah Zura yang seperti kebingungan.


"Mama ada apa? Berapa biaya perawatan papa Ma?"


"Gavin, semua biaya rumah sakit udah lunas," sahut Zura memandang Gavin.


Gavin yang terkejut mendekati mamanya yang duduk di kursi tunggu.


"Maksud Mama apa? Ada yang melunasi biaya rumah sakit papa? Tapi, siapa?" desak Gavin.


"Mama gak tahu Gavin. Mama juga bingung. Tadi, Mama dapat telepon dari kantor, kalau investor ada yang menawarkan kerja sama dengan perusahaan kita. Dan, yang menjadi pikiran Mama itu, sewaktu papa cari investor gak ada perusahaan yang mau di ajak kerja sama. Sekarang? Banyak yang ingin menawarkan kerja sama," ungkap Zura.


Gavin terdiam memikirkan sesuatu. Gavin yakin, jika ini ada kaitanya dengan ancaman Gio. Gavin menyusul Leo dan Diandra. Karena, gelagat mereka berdua mencurigakan.


"Sayang, kamu kenapa sih, ajak aku ke toilet? Kalau kamu kangen sama aku jangan di toilet dong," celoteh Leo asal.


Diandra mencubit pinggang Leo geram.


"Kamu jangan berisik bisa? Ini masalah penting Leo," sewot Diandra mengutak-atik gadget di tangannya menunjukkan pada Leo.


"Ini apa?"


"Kamu baca aja."


"Maksud pesan Mochi ini apa Dian? Kayak Mochi mau pergi jauh dan gak akan kembali," celetuk Leo memandang Diandra.


"Itu masalahnya. Aku jugaβ€”"


"Isi pesan apa maksud kalian?"

__ADS_1


Diandra dan Leo meringis mendengar suara yang sangat di kenalnya.


"Kak Gavin, hum, ini, ituβ€”"


"Isi pesan Mochi," potong Leo kelewat jujur.


Diandra menginjak ujung sepatu yang Leo pakai dan memelototinya.


Gavin melangkah mendekati Leo dan Diandra.


Gavin merebut gadget yang ada di tangan Leo.


Mochi


Dian, aku minta kamu jaga Gavin. Kamu harus tahu, kalau aku sangat mencintai Gavin.


Gavin mengernyit melihat isi pesan dari Mochi. Gavin mencoba menghubungi nomor Mochi, namun, beberapa panggilan nomor Mochi tidak bisa di hubungi.


"Shit! Mochi, kamu kenapa? Jangan buat aku khawatir," gumam Gavin lirih.


Gavin memberikan gadget Diandra.


"Kak, lo mau kemana?" panggil Gavin yang pergi meninggalkan Diandra dan Leo.


Gavin tidak menggubris, tetap melanjutkan langkah kakinya.


***


Kamar yang di sulap indah dengan hiasan bunga-bunga di setiap sudut kamar, di tambah dengan tempat tidur yang di taburi mawar merah berbentuk love di seprai putih, menambah kesan manis. Namun, perempuan yang ada di kamar itu melihat kaca rias dengan berurai air mata ketika wajah cantiknya sudah di rias. Perempuan itu sangat cantik, dengan menggunakan kebaya putih moderen, serta hijab yang menghiasi mahkotanya dengan hiasan bunga melati.


"Mochi, kamu sudah siap, Sayang?" tanya Rita yang menghampiri Mochi.


"Sayang, jujur, kalau Bunda jadi kamu, gak akan kuat. Karena, sudah terlalu banyak kamu berkorban untuk kami, terutama untuk orang yang kamu cintai," aku Rita memandang Mochi di kaca rias.


"Bunda sama ayah, orang tua yang sangat Mochi sayangi. Mochi gak mau, siapapun menginjak-injak harga diri kalian, termasuk Gio," tutur Mochi membalas tatapan Rita.


"Sayang, maafkan Bunda, sebagai seorang Ibu, Bunda tidak bisa berbuat apa-apa," kata Rita sendu menatap Mochi.


"Bunda jangan nangis, Mochi bahagia sudah bisa membahagiakan Bunda, ayah. Meskipun, Mochi tahu jika sebentar lagi, status Mochi akan berubah."


Air mata Rita menetes. Rita menghapus air mata Mochi yang kembali menetes.


"Jangan menangis, Sayang. Ikhlaskan, semoga ini jalan terbaik untuk kamu dan Gavin," pinta Rita memandang Mochi.


Mochi menunggu detik-detik ketika Gio mengucapkan ijab qabul.


Ya Allah ... jika memang ini jalan terbaik, beri aku keikhlasan. Tapi, jika ini hanya jalan perantara menuju bahagia, kembalikan kebahagiaanku. Batin Mochi merapal doa dalam hati.


"SAAAHHH!"


"Alhamdulillah," ucap Rita, "ayo, Mochi, kita temui suami kamu."


Mochi beranjak dari duduknya ketika riasan wajahnya sudah membaik. Rita menuntun Mochi keluar dari kamar.


Seluruh tamu undangan memusatkan perhatian pada Mochi yang sangat cantik dengan auranya. Mochi duduk di samping Gio. Gio terpesona dengan kecantikan Mochi.

__ADS_1


"Welcome, my wife ...." Gio mengecup dahi Mochi.


Air mata Mochi jatuh membasahi pipi. Mochi menyalami tangan Gio. Pak penghulu menyuruh mereka memakaikan cincin. Setelahnya, mereka meminta restu pada orang tua masing-masing.


"Assalammualaikum, Mochi ...."


Gavin memanggil Mochi, namun tak ada jawaban.


"Nak, penghuninya tidak ada sejak pagi tadi," sahut Ibu berdaster menghampiri Gavin.


"Maaf, Bu, pergi kemana ya?" tanya Gavin penasaran.


"Saya tidak tahu Nak, Mochi di jemput dengan mobil mewah bersama orang tuanya. Ibu tidak sengaja melihat mereka keluar dari pekarangan rumah," balas Ibu berdaster.


"Mobil mewah warna hitam?" tebak Gavin.


"Iya Nak."


Pasti mobil Gio, batin Gavin.


"Terima kasih Bu, saya permisi," pamit Gavin.


Ibu berdaster membalas dengan tersenyum mengangguk. Gavin masuk ke mobilnya, menginjak pedal gas mobilnya melaju meninggalkan pekarangan rumah Mochi yang terlihat sangat sepi. Gavin mencoba menghubungi nomor Mochi, namun tidak aktif.


"Mo, aku takut terjadi sesuatu sama kamu," gumam Gavin.


Beberapa menit kemudian, Gavin tiba di rumah Mochi. Gavin mengernyit melihat banyak karangan bunga kanan kiri.


***Happy Wedding



Gio Atmajaya & Mochira***


Gavin terhenyak membaca tulisan yang ada di papan karangan bunga.


"Ini gak mungkin," desis Gavin menggeleng.


Gavin bergegas turun dari mobil masuk ke rumah Gio. Gavin melihat banyak tamu sedang menikmati hidangan, serta hiasan rumah Gio yang seperti mengadakan pesta pernikahan. Gavin menyapu pandangannya mencari keberadaan Mochi. Pandangan Gavin bersitatap dengan Mochi di kejauhan. Mochi memakai gaun pengantin yang sangat cantik yang melekat di badannya. Air mata Gavin menetes. Mochi juga meneteskan air matanya.


"Kamu mau kemana, Mochi? Kamu ingat? Kamu istri aku sekarang," desis Gio berbisik menarik lengan Mochi yang ingin menemui Gavin.


Mochi memandang Gio bergantian dengan Gavin. Hati Gavin mencelus, melihat Mochi seolah biasa saja dengan keberadaan Gavin. Gio tersenyum miring, ketika Gio memegang pipi Mochi mendaratkan kecupan lembut di bibir Mochi. Tangan Gavin mengepal erat. Gavin pergi meninggalkan rumah Gio. Mochi mendorong Gio, menyapu pandangan melihat Gavin yang sudah tidak ada.


"Kamu sengaja kan, Gio?"


"Yes, baby. Kamu sangat tahu aku." Gio tersenyum miring.


Haris dan Rita saling berpegangan tangan menguatkan. Tak ada yang bisa mereka lakukan, selain hanya bisa pasrah, jika tidak ingin putri kesayangan mereka di sakiti oleh keluarga Gio.


*Maaf telat update 😁


Siap yang udah nungguin? Mana suaranya?


Huaa ceritanya kayak sinet ya wkwk πŸ˜†

__ADS_1


Jangan lupa saran dan kritik ya 😘


Happy Reading πŸ€—*


__ADS_2