Badboy & The Beast

Badboy & The Beast
BBTB #32


__ADS_3

"*Gio, aku gak mau menikah sama kamu!" hardik Mochi.


"Mau atau tidak, kamu harus mau, Mochi. Ini demi janin yang ada di rahim kamu."


"Gak, aku akan menggugurkan janin ini!" Mochi menatap nyalang Gio yang berdiri di jendela ruang tamu melihat sisa rintik hujan yang jatuh membasahi dedaunan.


Gio menoleh. Memasukkan tangan ke saku celananya.


"Silakan, jika kamu tidak mau di cap sebagai pembunuh."


Mochi mengepalkan kedua tangannya erat, menghempaskan bokongnya duduk di kasur dengan mata terpejam. Langkah kaki Gio mendekati Mochi.


"Mochi, mau sampai kapan kamu menolak aku? Aku sangat mencintai kamu. Menikahlah dengan aku," ungkap Gio memegang tangan Mochi.


Mochi menangis dengan berurai air mata.


"Aku tidak bisa menikah tanpa cinta Gio, aku ingin pernikahan kita di landasi dengan cinta. Jika hanya karena janin ini, kamu tidak perlu repot harus menikahi aku," terang Mochi melepas genggaman tangan Gio memegang perutnya.


"Mochi, aku ingin tanggung jawab. Aku tidak mau di cap sebagai laki-laki yang tidak bertanggung jawab," bantah Gio. "Apa karena Gavin? Buka mata kamu, Mochi. Kamu lihatkan? Sampai detik ini, Gavin tidak pernah datang menemui kamu. Apalagi setelah tahu, kamu hamil."


Mochi terdiam mengingat kejadian Gavin dengan Tasya di basement mall waktu itu. Air mata Mochi semakin menetes.


"Mochi, apa selama ini yang aku lakukan gak berarti buat kamu? Apa aku yang terlalu bodoh mencintai kamu, yang gak pernah memiliki perasaan apapun sama aku?" Gio kembali menggenggam tangan Mochi.


Mochi ingin sekali membalas kebaikan Gio selama ini. Tapi, Mochi tidak ingin dirinya menikah dengan Gio. Namun, Mochi memikirkan nasib janin yang tidak bersalah di rahimnya*.


"Kamu memikirkan apa, Sayang?" tanya Rita melihat Mochi yang memikirkan sesuatu.


Rita masuk ke kamar Mochi yang di ikuti Haris di belakang.


"Gak ada, Bun," elak Mochi menghapus air matanya cepat.


Rita duduk di samping kanan Mochi mengusap rambutnya dengan sayang.


"Kamu jangan banyak pikiran, Mochi, kasian anak yang ada di kandungan kamu," peringat Rita.


"Anak, Ayah, kenapa? Kok, wajahnya murung?" sahut Haris duduk di samping kiri Mochi.


Mochi memeluk Haris menumpahkan semua kesedihannya. Hati Rita dan Haris mencelus mendengar tangisan Mochi.


"Ayah ... kenapa semuanya kayak gini? Apa salah Mochi? Kenapa Mochi selalu di beri pilihan? Kenapa Mochi gak bisa bahagia sama orang yang Mochi cintai?"


Suara serak Mochi yang bersamaan dengan air matanya yang terus menetes membasahi pipi.


Haris mengurai pelukan mereka dan menghapus air mata Mochi.


"Dengar, Ayah. Takdir mempertemukan kita dengan orang yang salah lebih dulu, hingga setelah kita dapat pelajaran, baru kita menemukan orang yang tepat. Sebagai seorang Ayah, Ayah sangat mengerti apa yang kamu rasakan. Tapi, Ayah minta, kamu jangan salah ambil keputusan. Menikah, itu sakral, seumur hidup. Ayah tidak ingin, kamu salah langkah, Nak," nasihat Haris.


"Benar, apa kata Ayah kamu, Sayang. Bunda, juga tidak ingin kamu salah langkah. Karena, Bunda ingin melihat putri kesayangan Bunda dan Ayah bahagia dan tersenyum," sahut Rita.


Mochi menoleh pada Rita.

__ADS_1


"Bunda, Mochi bingung, apa yang harus Mochi lakukan?" Mochi menunduk melihat perutnya.


Rita dan Haris saling pandang.


"Ini, salah Ayah. Dari awal, Ayah tidak bisa menafkahi keluarga Ayah dengan layak. Akibatnya, kamu harus berjuang demi keluarga ini," lirih Haris sendu.


Mochi mendongak menatap Haris yang terlihat sedih.


"Bukan salah, Ayah. Mochi udah pernah bilangkan? Kalau semua ini sudah takdir. Mungkin, takdir Mochi memang Gio."


"Tidak, Sayang. Bunda harap, kamu memikirkan ulang masalah pernikahan kamu. Bagaimana dengan Gavin?"


"Bunda, Mochi tidak suka, Bunda bahas soal Gavin. Mochi benci sama Gavin. Gavin selalu menyakiti Mochi!" sarkas Mochi.


"Tapi, Sayang—"


Ketukan pintu memutus ucapan Rita. Rita yang mendengar, beranjak membuka pintu.


"Bunda, lihat dulu."


"Assalammualaikum, Bunda."


"Waalaikumsalam, Gavin."


"Mochi, ada Bunda?"


"Gavin, sebaiknya kamu tidak perlu menemui Mochi lagi. Bunda tidak ingin terjadi sesuatu dengan Mochi," terang Rita.


"Kamu tahu kan, Gio akan segera menikahi Mochi? Kamu juga pasti tahu, apa yang akan Gio lakukan, jika kamu masih nekat mendekati Mochi."


"Jadi, Bunda sudah tahu? Kenapa Bunda diam aja?" keluh Gavin.


"Keluarga kecil Bunda, banyak berhutang budi dengan Gio, Gavin."


Gavin mengembuskan napas.


"Boleh, Gavin menemui Mochi, Bunda?"


"Silakan, masuk, Gavin. Bunda akan panggil Mochi."


Gavin masuk ke rumah berjalan mengikuti Rita. Rita pergi ke kamar Mochi.


"Mochi, ada yang ingin bertemu dengan kamu."


Mochi mengernyit dan menoleh pada Bundanya yang menghampirinya di kasur.


"Siapa, Bunda?"


"Temui saja dulu."


Mochi beranjak dari kasurnya pergi ke ruang tamu. Sementara, setelah Mochi keluar dari kamar, tangis Rita pecah. Rita tak kuasa menahan tangis yang sedari tadi ingin mendesak keluar. Haris menenangkan Rita.

__ADS_1


"Gavin," panggil Mochi melihat Gavin yang duduk menunggu di sofa ruang tamu.


"Mochi."


Mochi memutar langkahnya ingin kembali ke kamar, namun, Gavin segera berdiri dan menahan pergelangan tangan Mochi.


"Mochi, dengar penjelasan aku dulu," pinta Gavin.


"Penjelasan apa lagi, Gavin? Belum cukup bukti, apa yang aku lihat kemarin?"


"Kamu salah paham, bukan seperti itu kejadian sebenarnya," tutur Gavin.


Mochi menyentak tangan Gavin.


"Mau kamu, apa sih, Gavin? Belum cukup puas kamu menyakiti aku?" sarkas Mochi memandang Gavin sinis.


"Mochi, kamu salah paham, apa yang kamu lihat, itu bukan yang sebenarnya."


"Oh, jadi, aku yang salah? Gavin, selama ini apa belum cukup pengorbanan aku untuk kamu? Sampai detik ini, aku masih mencintai kamu!"


Air mata Mochi kembali menetes. Gavin melangkah mendekati Mochi, menghapus air matanya.


"Mochi, kamu tahu, selama ini, aku selalu memikirkan kamu. Berada jauh, dari kamu selama bertahun-tahun, membuat aku tersiksa. Sekarang, aku kembali untuk kamu."


Air mata Mochi menetes kembali semakin deras.


"Tapi, kenapa, kamu kembali menyakiti aku?"


"Aku gak bisa menjelaskan, Mochi. Aku tidak ingin terjadi sesuatu sama kamu. Aku akan menikahi kamu," kata Gavin menatap Mochi lekat.


"Tapi, a-aku—"


"Aku tahu, kamu hamil. Aku bersedia menjadi ayah untuk janin yang kamu kandung."


Gavin membingkai wajah Mochi. Mochi memeluk Gavin dengan erat disertai isak tangisnya. Haris dan Rita yang melihat mendekati mereka.


"Nak, Gavin. Maafkan, Ayah, jika selama ini, sikap Ayah selalu tidak baik sama kamu," ujar Haris.


Gavin melepas pelukan Mochi.


"Ayah, Bunda, izinkan Gavin menikahi Mochi saat ini juga. Gavin tidak ingin, siapapun menyakiti Mochi lagi," pinta Gavin memandang Rita dan Haris bergantian.


"Gavin, apa kamu bersedia menerima keadaan Mochi yang—"


"Gavin bersedia Bunda. Gavin tidak perduli dengan apapun. Saat ini, Gavin hanya ingin bersama Mochi."


Puk Puk Puk


"Drama yang sangat menyenangkan."


Haris dan Rita menelan salivanya melihat kedatangan seseorang yang sangat mereka benci.

__ADS_1


__ADS_2