
Gavin membawa Mochi ke pusat perbelanjaan di sebuah Mall. Gavin ingin Mochi berpenampilan lebih cantik, agar inner beauty dalam diri Mochi terpancar. Mochi sangat tidak percaya diri ketika banyak pasang mata melirik nya aneh.
"Santai aja, mereka hanya iri. Nih, lo coba ganti baju pakai ini," tutur Gavin menyerahkan beberapa dress.
Mochi mengambil dress dari tangan Gavin dan menelisik. Semua dress pilihan Gavin sangat seksi menurut Mochi.
"Kak Gavin, dress nya terlalu seksi," cicit Mochi melihat dress Sabrina pendek pilihan Gavin.
"Ck, pakai aja. Ingat, utang lo masih ada," desis Gavin.
Mau tidak mau, Mochi menurut. Karena, selama di sekolah, Tasya selalu berusaha membully, bahkan menyakiti Mochi selama Mochi dekat dengan Gavin. Menunggu beberapa lama, pilihan Mochi jatuh pada dress Sabrina pendek sepaha, dengan rompi menjuntai panjang ke bawah.
Gavin terperangah menelisik Mochi dari atas sampai bawah. Bentuk tubuh Mochi yang ideal, hingga kaki jenjang Mochi yang putih mulus serta bahu Mochi membuat Gavin mengalihkan kesadaran nya cepat.
"Jelek ! lo pakai apa aja tetap jelek ! lo memang di takdirkan jadi cewek udik sih," cerca Gavin menghilangkan kegugupan nya.
"Yaudah, Mochi ganti," jawab nya dengan nada lirih.
"Eh, nggak usah. Lo cantik kok pakai dress ini," kata Gavin keceplosan.
Mochi yang berbalik membelakangi Arvin hanya tersenyum kecil.
"Jangan ge-er ! baju nya yang gue bilang cantik, bukan lo," lanjut Gavin.
"Iya-iya Kak Gavin. Yaudah, pulang yuk," ajak Mochi.
"Kita belanja dulu. Gue mau ajak lo party ulang tahun teman gue," kata Gavin menarik tangan Mochi mengikuti langkah kaki nya.
Beberapa jam menghabiskan waktu di mall, Gavin dan Mochi kelelahan. Gavin mengajak Mochi membeli sepatu, tas, dan terakhir ke salon. Di sinilah Gavin menunggu Mochi keluar dari salon nya. Hari yang sudah berganti dengan semburat orange, membuat Gavin sangat mengantuk. Selang satu jam kemudian, Mochi siap dengan dandanan nya. Gavin lagi-lagi terperangah. Hari ini, penampilan Mochi sangat cantik. Lebih cantik dari Tasya. Dress Sabrina berwarna merah yang di kenakan Mochi, serta sepatu wedges warna senada dengan dress nya, dan tas tangan yang di pegang Mochi membuat Gavin mendadak gugup.
Sial ! kenapa jantung gue deg deg an gini. Batin Gavin.
"Gavin,"panggil Mochi.
"Yuk, berangkat," ajak Gavin.
Mochi hanya mengangguk.
Memang nya aku jelek ya ? kok Kak Gavin nggak puji aku, kayak di novel yang aku baca sih. Batin Mochi menggerutu kesal.
Sebelum berangkat, Gavin mengambil pakaian ganti nya untuk ke pesta ulang tahun Nicho. Sementara Mochi, menunggu di mobil. Tak lama, Gavin kembali dengan penampilan yang lebih segar, dengan rambut basah acak-acakan, dengan baju kaos yang dilapisi jaket denim.
"Gue tahu, gue ganteng. Lo nggak usah ileran gitu lihat gue," kata Gavin yang merasa diri nya di perhatikan oleh Mochi.
__ADS_1
Mochi meraba cepat bibir nya. Gavin hanya tersenyum tipis.
Gavin mengemudikan mobil nya ke tempat tujuan. Beberapa menit dalam perjalanan, mereka sampai.
"Kak Gavin, kita ada dimana ?" tanya Mochi menoleh dengan mengernyit dengan suasana asing di sekitar nya.
"Party ulang tahun teman gue."
"Party ? kok Kak Gavin nggak mandi dulu tadi ? nanti Kak Gavin bau lho," tutur Mochi membuat Gavin merasa sangat geram.
"Mochi ... gue udah mandi tadi siang, karena nungguin lo dandan selama ini, mana gue tahu ternyata cewek itu ribet !" cerocos Gavin.
"Lagian, kenapa Kak Gavin mau ajak Mochi ? kan, Mochi nggak pantas pakai baju ini. Apalagi, Mochi nggak cocok jadi pasangan Kak Gavin. Nanti, Kak Gavin malu," cicit Mochi menunduk memainkan jari nya.
Gavin bungkam. Kenapa hati nya merasa tercubit, ketika Mochi mengatakan hal biasa seperti tadi ? apa mungkin , jika diri nya sudah termakan jebakan sendiri ?
Gavin keluar dari mobil nya dan membuka kan pintu untuk Mochi.
"Ayo, keluar. Party nya belum ramai. Nanti, kalau udah ramai, gue makin malu," ujar Gavin santai.
Mochi keluar dengan Gavin yang memegang tangan Mochi. Gavin menautkan jemari tangan nya dengan jemari tangan Mochi.
"Jangan jauh-jauh dari gue," bisik Gavin.
"Woah, gue kira bidadari dari langit yang datang. Nggak tahu nya cewek udik," ejek Tasya yang datang menghampiri Mochi dan Gavin dengan pakaian kurang bahan nya.
"Minggir !" ketus Gavin ketika Tasya dan teman-teman nya menghadang jalan Gavin.
"Ck, Gavin sayang ... kenapa kamu ajak dia ? pakai baju apa pun, dia tetap udik di mata siapa pun," kata Tasya menyandar manja di lengan Gavin, dan melepas paksa tautan tangan Gavin dan Mochi.
Tasya memberi kode pada Siera dan Jeni, agar membawa Mochi masuk ke basecamp.
"Mo, ikut kita yuk. Lo santai aja, anak-anak di dalam udah pada nunggu," kata Siera.
"Iya Mo. Jangan perdulikan apa kata Tasya. Mending sama kita," ajak Jeni menarik tangan Mochi.
"Ta-tapi--Kak Gavin."
Mochi memandang Gavin dengan tatapan memelas, tidak ingin ikut bersama Siera dan Jeni.
"Ck, kamu mau kemana Gavin ?" seru Tasya menarik lengan Gavin ketika Gavin ingin menyusul Mochi.
Gavin tidak mendengar perkataan Tasya. Tasya menghadang jalan Gavin dengan merangkulkan kedua tangan nya di leher Gavin manja.
__ADS_1
"Apaan sih lo ! lepas !" hardik Gavin.
"Nggak. Aku kangen sama kamu," bisik Tasya menggoda Gavin. Tasya yang tahu kelemahan Gavin, segera melancarkan aksi nya agar Gavin melupakan Mochi.
Lo lihat aja Gavin, gue pastikan cewek udik itu, mendapat balasan karena udah berani rebut lo dari gue ! batin Tasya menyeringai licik.
Diandra yang masih berada di rumah Mochi merasa khawatir, karena sejak siang, Mochi tak kunjung pulang. Diandra menghubungi ponsel Gavin, namun nihil. Diandra baru menyadari gps yang terhubung dengan ponsel nya.
"Sial ! titik-titik nya berhenti lagi. Kak Gavin bawa Mochi kemana ya ?" gumam Diandra gelisah.
"Dian, kenapa berdiri di luar ?" tanya Rita yang mencari keberadaan Dian.
"Hum, Dian nelfon Kak Gavin tapi nggak ada jawaban. Dian khawatir Bunda. Perasaan Dian nggak enak," keluh nya.
"Mungkin, hanya perasaan kamu aja Dian, ayo masuk, nunggu di dalam aja. Sebentar lagi, mereka pasti pulang," balas Rita menenangkan.
Diandra memastikan sekali lagi kemana Gavin membawa Mochi.
Kalau nggak salah, dari Mall ini Kak Gavin bawa Mochi ke tempat ini ? bukan nya tempat ini terpencil, jauh dari keramaian kayak basecamp ... astaga, base camp ?
Diandra sangat mengkhawatirkan Mochi. Seingat Dian, base camp itu tempat perkumpulan anak geng motor yang terkenal arogant dan sadis, dari cerita teman-teman karate nya.
"Bunda, Dian pamit ya mau pulang. Ada urusan," kata Diandra dengan gelisah.
"Bisa bawa motor Dian ?"
"Dian minta jemput sama teman di depan Bunda. Dian pergi dulu ya, assalammualaikum," ucap Dian melangkah kan kaki nya tergesa-gesa sembari mengutak-atik ponsel nya mencari kontak nama yang ingin di hubungi nya.
Calling Si Kembar Kampret ...
"Halo Geo"
"...."
"Lo jemput gue di persimpangan jalan Gracia. Gue tunggu sekarang ! ajak Leo. Penting banget, di suruh Gavin"
"...."
"Buruan ! pakai mobil lo sekarang !"
"...."
Tuts
__ADS_1
Diandra memanjatkan doa-doa agar Mochi baik-baik saja. Diandra sangat menyayangi sahabat nya itu. Diandra tidak ingin, terjadi sesuatu pada Mochi.