Badboy & The Beast

Badboy & The Beast
BBTB #29


__ADS_3

Gavin merasa lemah ketika dirinya harus berbohong dan menyakiti Mochi. Gavin tidak bisa melakukan apapun.


"Gavin, tidak seharusnya kamu menyakiti Mochi," kata Ferry.


"Gavin terpaksa, Pa."


Gavin memandang keluar jendela kaca kantor Ferry berada. Gavin melihat lalu lalang kendaraan melintas, silih berganti.


"Gavin, Papa tidak apa, jika perusahaan ini diambang batas, Papa hanya perduli kebahagiaan kamu," ujar Ferry.


Gavin berbalik menghadap Ferry dengan wajah sendu.


"Pa, masalahnya, ini bukan hanya perusahaan Papa, tapi ada kaitannya dengan Mochi."


Ferry menaikkan alisnya.


"Maksud kamu ?"


"Gavin nggak bisa cerita, Pa. Gavin nggak ingin, terjadi sesuatu dengan Mochi."


Gavin memandang sendu Ferry. Ferry mengusap wajahnya.


"Maafkan, Papa, Gavin. Karena Papa, hidup kamu jad seperti ini," lirih Ferry.


"Harusnya, Gavin yang minta maaf, Pa, karena semua masalah berasal dari Gavin."


Gavin kembali mendekat ke jendela kaca. Suasana hatinya saat ini bercampur antara sedih dan senang.


"Halo, Kakak Ipar," sapa Leo yang datang bersama Geo.


Leo berjalan mendekati Gavin, sementara Leo duduk di kursi depan Ferry.


"Baru calon, belum juga gue kasih restu," celetuk Gavin memandang Leo.


"Ayolah, Gavin, kasih restu lah, gue udah nggak sabar buat nikahi Diandra," keluh Leo.


"Nggak sabar nikahi, apa nggak sabar malam pertama," sindir Geo.


"Geo," tegur Ferry.


Leo menjulurkan lidah mengejek Geo.


"Buktikan dulu keseriusan lo. Kalau lo masih jalan sama cewek yang lo bilang adek sepupu."


"APA ?"


Leo meringis mendengarkan suara yang sangat Leo hafal.


"BENAR, ITU LEO WIRAWAN ?"


Ferry, Geo dan Gavin pura-pura tak acuh menyibukkan diri. Sementara Leo gelagapan menggaruk lehernya yang tak gatal.


***


Mochi melamun di kamarnya mengingat peristiwa tempo hari, dirinya bertemu Gavin. Mochi merasa keanehan sejak seminggu terakhir. Mochi menginginkan sesuatu yang tidak biasanya. Seperti siang ini, Mochi ingin sekali memakan pangsit bakso yang dijual di dekat kantor Gio.


"Mochi, kamu kenapa terlihat gelisah sayang ?" Rita memperhatikan Mochi ketika membuka pintu kamar Mochi.


"Nggak Bun, Mochi lagi pengin makan," celetuknya.


"Makan apa ? biar Bunda buatkan," sahut Rita antusias.


Mochi menggeleng.


"Mochi mau makan pangsit bakso di dekat kantor Gio, Bun." Mochi memandang lekat Rita.


Rita tertegun mendekati Mochi yang duduk di ranjang tempat tidur.


"Kamu kenapa tiba-tiba ingin makan pangsit bakso, sayang ?"


"Nggak tahu, Bun, Mochi tiba-tiba ingin aja."


"Mo, Bunda khawatir, kalau kamu ...."


Mochi memandang Rita.


"Kamu, apa Bunda ?"

__ADS_1


"Bunda takut, ka-kamu hamil."


Mochi meneguk ludahnya. Mochi menunduk memegang perutnya yang datar.


"Nggak—nggak Bun, Mochi nggak hamil," sanggah Mochi menggeleng.


"Tapi, Mo—"


"Bunda, Mochi nggak hamil," potong Mochi memandang Rita dengan air mata yang jatuh dipipi Mochi.


Rita menghapus air mata yang mengalir dipipi Mochi.


"Mochi, jika memang itu benar, apa yang akan kamu lakukan ?" tanya Rita lirih.


"Mochi nggak tahu, Bun. Mochi nggak bisa berpikir lagi," balas Mochi mengalihkan pandangannya kedepan.


"Bagaimana dengan Gavin ?"


"Jangan pernah Bunda sebut nama Gavin lagi. Mochi benci Gavin !" hardik Mochi.


Rita memegang lengan Mochi menghadap dirinya.


"Apa maksud kamu Mochi ? kenapa tiba-tiba kamu berubah ?"


"Bunda, Mochi nggak berubah, Gavin yang jahat. Gavin tega menyakiti Mochi lagi."


"Nggak, Gavin nggak seperti itu sayang, kamu salah," bela Rita.


"Bunda bela Gavin daripada Mochi ?"


"Bukan—maksud Bunda, bisa aja Gavin sengaja melakukan itu."


"Sengaja ? Bunda nggak tahu, gimana Mochi lihat dengan mata Mochi sendiri, Gavin berciuman dengan perempuan yang Mochi kenal !"


Rita mendesah kasar. Rita yakin, Gavin tidak akan menyakiti Mochi kembali. Pasti, ada sesuatu yang tidak beres, pikirnya.


"Mochi, Bunda ingin memberi tahu sesuatu. Tapi, Bunda harap, kamu percaya," ungkap Rita.


Mochi memandang Rita dengan mengernyit.


"Gio."


"Gio ?" ulang Mochi.


"Iya, sebenarnya, Gio ... Gio ...."


"Gio apa Bunda ?" desak Mochi.


"Gio, sudah meminta kamu untuk dijadikan istri," sambung Haris yang berdiri di depan pintu kamar Mochi.


"Istri ?" ulang Mochi.


Haris berjalan tertatih dengan tongkatnya mendekati ranjang.


"Ayah, kenapa pakai tongkat lagi ? kaki Ayah masih sakit ?" tanya Mochi.


Haris tersenyum. Rita berpindah duduk disebelah Mochi memberi tempat Haris duduk.


"Mochi, Ayah sangat sayang sama kamu. Ayah nggak mau, siapapun menyakiti kamu," kata Haris mengusap pucuk kepala Mochi denhan sayang.


"Ayah sama Bunda kenapa ? sepertinya kalian merahasiakan sesuatu dari Mochi."


Rita dan Haris saling pandang.


"Nggak ada sayang, Bunda hanya ingin kamu mendapat lelaki terbaik, seperti ayah kamu yang mencintai Bunda apa adanya."


"Benar apa kata bunda kamu sayang, Ayah hanya ingin anak perempuan Ayah mendapat lelaki terbaik, kelak menggantikan Ayah."


Mochi memandang nanar ayah dan Bundanya. Mochi merangkul Rita dan Haris.


"Kalian orang tua terbaik Mochi."


Haris dan Rita menangis dalam diam. Tak ada yang bisa mereka lakukan, mengingat ini semua demi Mochi.


"Udah ya, katanya mau pangsit bakso ?" Rita melepaskan rangkulan Mochi, menghapus air matanya cepat mengalihkan perhatian Mochi.


"Iya, Bunda. Mochi pengin banget. Tapi ...."

__ADS_1


"Tapi, apa sayang ?" seru Haris.


"Bunda sama Ayah, ikut ya," pinta Mochi manja.


"Kenapa harus ikut Mochi ?" sela Haris.


"Nggak tahu, Mochi pengin banget. Apalagi, Mochi pengin disuapin sama Ayah dan Bunda," tutur Mochi dengan mata berbinar-binar.


"Kamu yakin sayang ?" tanya Rita memastikan.


Mochi mengangguk semangat.


"Yaudah, Ayah sama Bunda, siap-siap dulu ya sayang," putus Haris.


"Mochi juga," ucapnya riang.


Rita dan Haris tersenyum. Mereka beranjak keluar dari kamar Mochi. Setelah Rita dan Haris keluar kamar, Mochi tidak bisa menahan isakannya. Mochi sangat takut, jika memang benar dirinya hamil. Mochi memutuskan untuk mengecek jadwal bulanannya di kalender.


"Tanggal ini, bulan lalu. Harusnya, bulan ini udah datang, tapi kenapa sampai sekarang belum ?" desah Mochi menggigit kukunya cemas.


"Setelah makan pangsit bakso nanti, singgah ke apotik aja kali ya, semoga aja, apa yang aku takutkan nggak terjadi. Aku nggak mau hamil anak Gio," lanjut Mochi mendesah kasar.


Mochi mulai bersiap ke kamar mandi. Sebelumnya, Mochi mendengar nada dering teleponnya berbunyi.


📞Gio calling ...


Mochi melihat nama panggilan. Mochi snagat malas mengangkat panggilan itu, tapi, Mochi sangat penasaran mengapa Gio meneleponnya.


"Halo"


"Halo, Mochi"


"Kenapa lagi Gio ?"


"Aku rindu"


"Nggak usah basa-basi"


"Kamu lagi ingin makan sesuatu nggak ?"


Mochi mengerutkan alisnya.


"Kok, kamu tahu ?"


Diseberang telepon, Gio tersenyum penuh arti.


"Nebak aja"


"Oh"


"Kamu mau makan apa ?"


"Pangsit bakso di dekat kantor kamu"


"Kamu mau aku bawain ke rumah nggak ?"


"Nggak usah, aku sama ayah, bunda"


"Mau makan di kantor aku aja nggak ?"


"Nggak, aku kan udah nggak kerja disana lagi"


"Siapa bilang ? sebentar lagi, kamu bakal jadi karyawati resmi di kantor ini"


"Maksudnya ?"


"Lupakan, kamu hati-hati ya"


"Iya"


Tuts


Mochi mengangkat bahunya acuh. Mochi hanya menerka, jika Gio hanya kebetulan bertanya, tanpa tahu yang sebenarnya. Mochi melanjutkan langkah kakinya ke kamar mandi setelah meletakkan ponsel di kasur.


***Maaf up lama 😁


Jangan lupa kritik dan saran 😘***

__ADS_1


__ADS_2