
Geo dan Leo melajukan kecepatan motor nya menghindari kejaran dari geng motor Nicho. Mereka sampai di base camp perkumpulan tempat nongkrong nya bersama Gavin.
"Gavin ! Gavin !" panggil Geo tergesa-gesa ketika turun dari motor nya.
"Gavin !" teriak Leo.
"Ck, berisik !" ketus Gavin merubah posisi rebahan nya di kasur.
"Eh, si ogeb malah tidur disini ! Gav, bangun. Nicho lagi di jalan mau kesini," jelas Geo.
Gavin membuka kedua mata nya cepat, dan bangkit dari rebahan nya.
"Terus, lo takut ?"
"Ck, bukan takut. Gue mikirin lo ! pasti si Nicho tagih janji lo itu !" seru Geo.
"Janji masalah gampang ! lo nggak usah khawatir," balas Gavin santai.
"Vin, lo yakin cewek udik itu yang jadi tumbal ? secara lo tahu kan, gimana selama ini tuh cewek baik banget sama lo," sahut Leo.
"Lo suka heh ?" ejek Gavin.
"Nggak Vin. Lo kan tahu, selama dua minggu ini, lo dekatin dia. Dia juga yang selalu bawakan makanan kesukaan lo. Dia juga yang selalu perhatian sama lo. Memang nya lo nggak ada perasaan nyaman sedikit atau belas kasihan ?" Leo berbicara panjang lebar. Biasa nya, Leo lah yang paling absurd diantara mereka. Namun, kini Leo dengan bijak nya menasihati Gavin.
Gavin tertegun. Sejujur nya, Gavin merasakan kenyamanan disaat bersama Mochi dan keluarga sederhana nya. Tapi, Gavin tidak punya pilihan lain.
"Gue biasa aja."
Suara deru gas motor yang bersahut-sahutan terdengar. Gavin, Leo dan Geo berdecak kesal.
"Gavin Angkasa ... sesuai janji, gue minta lo nanti malam datang ke pesat ulang tahun gue," kata Nicko menyuruh Azka memberikan undangan pada Gavin.
Azka melemparkan udangan itu di kaki Gavin. Geo dan Leo menahan geraman melihat Nicko.
"Masih untung gue kasih tu undangan nggak tepat di wajah lo Gav," lanjut Azka yang melihat ekspresi wajah Gavin.
"Dan ... jangan lupa lo bawa tumbal yang lo janjikan," sambung Frans.
"Lo, jangan coba-coba ingkar janji Gav ! kalau sampai lo ingkar janji, lo lihat aja apa yang bakal gue lakukan !" ancam Nicko.
"Lo nggak usah takut ! gue bakal tepati janji. Dan, lo juga harus ingat ! kalau gue bisa tepati janji gue, lo harus cium kaki gue !"
__ADS_1
"It's oke," jawab Nicko santai.
Nicko memberi kode pada teman-teman nya untuk pergi meninggalkan basecamp Gavin.
"Shit !" umpat Gavin ketika memungut undangan ulang tahun Nicko dan membaca nya.
Gavin berlalu pergi menuju motor nya tergesa-gesa.
"Vin, lo mau kemana ?" panggil Geo.
Gavin tidak memperdulikan panggilan Geo. Gavin mengambil ponsel mengirim pesan singkat pada Mochi, untuk bersiap-siap karena Gavin akan menjemput diri nya. Gavin menghidupkan motor dan melajukan motor nya dengan kencang. Sementara Geo dan Leo saling pandang dan mengangkat bahu.
Di perjalanan, Gavin berperang dengan batin nya. Apakah, dia harus datang ke pesta ulang tahun Nicko membawa Mochi ? apakah, benar yang dikatakan Leo jika diri nya mulai nyaman bersama Mochi ? apakah, diri nya mulai bersimpatik pada Mochi ? satu-satu nya cara untuk memastikan perasaan nya adalah membawa Mochi ke pesta Nicko.
Beberapa menit dalam perjalanan, Gavin memberhentikan motor nya tepat di depan rumah Mochi. Mochi sudah berdiri di depan bersama Bunda nya. Penampilan Mochi hanya sederhana dengan memakai kaos lengan panjang polos berwarna biru muda, serta memakai rok lipit berwarna senada dengan baju kaos nya. Gavin hanya memandang sendu Mochi.
"Yuk, berangkat. Bunda, Gavin izin bawa Mochi ya," tutur Gavin.
"Hati-hati ya. Pulang nya jangan larut," peringat Rita.
"Iya Bunda. Mochi berangkat, assalammualaikum," pamit Mochi.
Gavin mengutak-atik ponsel nya. Gavin terlihat seperti menelfon seseorang dengan nada arogant nya.
"Gavin, kita mau kemana ?" tanya Mochi penasaran.
"Ikut aja, lo pasti senang. Tunggu bentar ya, gue nunggu seseorang," balas Gavin.
"Nggak jadi berangkat ?" tanya Rita.
"Iya Bunda, Gavin nunggu teman Gavin antar mobil."
"Yaudah, Bunda kedalam dulu ya," sahut Rita memasuki rumah.
Beberapa menit menunggu, mobil range rover putih memasuki halaman rumah Mochi.
Pengemudi nya keluar dengan gurat wajah sangat jengkel.
"Lho, Dian ?" seru Mochi.
"Mo, lain kali suruh nih pacar lo nggak usah pakai ancam segala ! keki kan gue jadi nya ! demi Mama, makanya gue mau antar nih mobil !" omel Diandra dengan wajah di tekuk masam.
__ADS_1
"Bukan nya kalian nggak akur ? sejak kapan baikan ?" sahut Mochi menautkan alis nya.
"Sejak lo dekat sama Kak Gavin Mo. Gue minta kompensasi, kalau mau dekati lo, wajib hukum nya baik sama gue dan Mama," cerocos Diandra.
"Ada-ada aja kamu Dian," balas Mochi tersenyum kecil.
"Kunci," pinta Gavin.
Diandra memberikan kunci mobil nya. Mobil ini, sebenar nya hadiah dari Zura untuk ulang tahu Gavin ketika umur 15 tahun. Tapi, karena Gavin sangat membenci Zura, Gavin tidak pernah memakai mobil itu. Hanya Diandra saja sesekali memakai atau hanya sekadar memanaskan saja.
"Lo mau bawa kemana Mochi ?" selidik Diandra dengan mata memicing.
"Bukan urusan lo ! yuk, Mochi," ajak Gavin menggenggam tangan Mochi menuju mobil nya.
Diandra mengerutkan dahi bingung melihat gelagat Gavin selama dua minggu terakhir. Diandra harus cari tahu pikir nya. Untung saja, mobil Gavin itu, gps nya sudah tersambung dengan ponsel Diandra.
Mobil yang di kendarai Gavin dengan kecepatan di atas rata-rata membuat Diandra berdecak sebal.
"Lho, Nak Dian ?"
Rita yang mendengar suara deruman mobil menderu, melihat keluar siapa yang datang.
"Eh, Bunda," cengirnya.
"Kamu sama siapa ?" tanya Rita.
"Itu Bun, Dian antar mobil Kak Gavin," jawab nya.
Rita memandang motor Gavin yang terparkir di depan rumah nya.
"Jadi, Gavin tadi nelfon kamu suruh antar mobil ?"
"Bukan suruh Bun, lebih tepat nya ngancam," desis Diandra kesal.
"Yasudah, masuk yuk. Bantu Bunda masak kue brownies," ajak Rita terkekeh pelan melihat Dian mencebik.
"Wah, kesukaan Dian ! yuk, Bunda," kata Dian dengan seruan riang nya.
Rita hanya merangkul Dian masuk kerumah dengan tersenyum kecil, melihat antusias Dian yang penuh semangat.
Jangan lupa kritik dan saran 🤗
__ADS_1