Badboy & The Beast

Badboy & The Beast
BBTB #25


__ADS_3

Gio terbangun, ketika sinar mentari menyusup masuk di balik kaca jendela kamar nya yang tidak tertutup tirai. Gio mengerjap-ngerjapkan matanya menyesuikan pandangan. Perlahan, Gio mendudukkan dirinya, dan mengingat kejadian semalam.


"Shit !" umpatnya ketika melihat noda darah di seprai kasur.


Gio berusaha memakai pakaian lengkap. Gio benar-benar tidak ingin dibenci oleh perempuan yang sangat dia cintai. Gio bergegas keluar kamar. Tepat, ketika keluar ruangan, Gavin datang dengan gurat wajah yang merah padam.


Bugh ! Satu pukulan telak dilayangkan Gavin dirahang Gio.


Gio mengusap rahangnya yang sedikit mengeluarkan darah di sudut bibir.


"Apa maksud lo pukul gue Gavin !"


"Maaf Pak, orang ini memaksa masuk," sambung Adnan—security penjaga.


"Biarkan dia masuk Pak Adnan," perintah Gio.


Adnan mengangguk sopan.


"Lo nggak usah sok baik ! munafik !" pungkas Gavin.


"Apa maksud lo Gavin ? gue nggak tahu apa-apa !"


"Bulshit ! lo semalam dimana hah ?"


Gio menegang sembari memejamkan matamya. Gio tahu, Gavin semarah ini padanya.


"Vin, lo salah paham. Gue nggak maksud—"


"Apa lo bilang salah paham ? ******* !"


Bugh !


Gavin memukul rahang Gio kembali, kali ini dengan menendang perut Gio dengan kaki nya. Gio terjerambab.


"Stop Gavin ! lo nggak ada hak buat pukul gue !" hardik Gio mulai emosi.


"Ck, nggak berhak ? Mochi pacar gue ! dan lo tega memperkosa Mochi !"


"Vin, gue waktu itu dipengaruhi alkohol. Gara-gara lo juga gue mabuk !" bantah Gio berusaha bangkit mengulur waktu.


"Gue ? apa salah gue !"


"Lo udah cium Mochi ! Mochi milik gue ! nggak ada yang boleh menyentuh Mochi selain gue !"


Gio mengambil langkah cepat, menendang perut Gavin, sehingga Gavin terhuyung.


"Brengsek !"


Gavin bangkit dengan melawan Gio. Pertengkaran terjadi. Karena suasana masih pagi, dan ruangan kerja Gio kedap suara, orang-orang pun tidak bisa mendengar.

__ADS_1


"GIO, ADA APA INI ?"


Seorang lelaki bersetelan jas rapi, memasuki ruangan Gio yang seperti kapal pecah. kertas berserakan dilantai, dan keadaan dua orang lelaki didalamnya juga sudah babak belur.


"Papa."


"Kenapa bisa begini Gio ? kamu, siapa ?" tanya lelaki itu pada Gavin.


"Om tanya sendiri sama putra Om ! kesalahan apa yang sudah dia perbuat !" seru Gavin menahan emosinya.


"Gio, maksud teman kamu ini apa ?" tanya Elang—papa Gio.


"Pa, ini semua salah paham. Gio—"


"Gio sudah memperkosa pacar saya Om !"


"Apa ?" Elang memandang sengit Gio.


"Bukan Pa, Gio nggak sengaja lakukan itu sama Mochi," bela Gio.


"Mochi ? tunangan kamu itu ?" tanya Elang memastikan.


"Iya Pa."


"Gio, kamu salah, jika seperti ini. Papa mendukung hubungan kamu dengan Mochi. Tapi, bukan dengan cara seperti ini," tukas Elang.


"Om, harusnya beri pelajaran pada Gio ! dia sudah merusak pacar saya !" sela Gavin emosi.


Gavin terdiam ketika mendengar balasan telak yang tidak dapat dia hindari.


"Jika kamu lelaki sejati, harusnya, kamu merelakan Mochi bersama Gio. Kenapa kamu kembali ? kedatangan kamu kembali, hanya membuka luka lama untuk Mochi."


"Vin, gue bakal tanggung jawab sama Mochi. Gue benar-benar mencintai Mochi," timpal Gio.


"Om, saya akui, itu salah saya. Tapi, kelakuan Gio, juga salah. Om tahu ? Mochi trauma dengan kejadian ini," pungkas Gavin.


"Saya mengerti Gavin. Saya akan menangani masalah ini. Kamu jangan khawatir. Saya minta kamu tidak ikut campur masalah Gio dan Mochi."


"Tapi Om, Mochi pacar saya. Gio tidak berhak atas Mochi !" bantah Gavin.


"Gavin, jika kamu mau menyelamatkan perusahaan kamu dari kebangkrutan, Om minta kamu tinggalkan Mochi," kata Elang.


"Maksud Om ?"


"Papa kamu, tidak memberitahu ?"


"Perusahaan Angkasa Corp akan jatuh bangkrut, jika tidak mendapatkan investor dalam waktu dekat," sambung Gio menyeringai.


"Brengsek !" maki Gavin ingin memukul Gio kembali.

__ADS_1


"Jauhkan tangan kotor kamu Gavin ! akibat ulah kamu yang waktu itu mengakibatkan Ferry terpaksa menjual sebagian sahamnya demi biaya perobatan kamu di luar negeri !"


Deg Gavin menegang. Jadi ....


"Nggak, Om bohong ! tadi, kenapa Om tidak mengenal saya ?"


"Itu hanya taktik boy. Seorang pebisnis harus ahli dalam bermain taktik menjatuhkan lawan," sahut Elang tersenyum sinis.


"Sialan kalian !" umpat Gavin dengan emosi.


Gavin kembali ingin menghajar Gio, namun, Elang yang memberikan pukulan telak pada rahang Gavin.


Bugh !


"Itu balasan untuk anak yang tidak tahu diri seperti kamu !"


"Ck, anak dan Ayah sama saja," desis Gavin.


"Keluar Gavin !" usir Gio.


"Tanpa lo suruh, gue juga keluar. Malas gue berurusana sama orang munafik !"


Gavin pergi meninggalkan ruang kerja Gio.


"Gio, Papa tidak mau tahu. Bereskan semua kekacauan ini," perintah Elang.


"Iya Pa, nanti Gio suruh OB."


"Kenapa kamu bisa menyakiti Mochi ? dia itu perempuan baik-baik."


"Gio lepas kendali Pa. Alkohol menguasai tubuh Gio. Jadi, Gio ...."


"Stop Gio ! Papa tidak ingin mendengar alasan apapun !" bantah Elang.


"Pa, wajar Gio bersikap seperti itu. Mochi yang tidak bisa Gio sentuh, tiba-tiba Gavin kembali, mengacaukan semuanya !"


"Bersabarlah son, sedikit demi sedikit, kita bergerak."


"Papa yang buat perusahaan Angkasa Corp bangkrut ?" tanya Gio memastikan.


"Ya, karena Papa minta syarat, jika mereka sanggup memisahkan Mochi dengan Gavin, maka, perusahaan mereka aman. Begitu sebaliknya."


"Lalu, apa keputusan mereka Pa ?" tanya Gio penasaran.


"Belum ada kabar Gio. Kita tunggu saja, Papa pastikan, kamu yang akan jadi pemenang," kata Elang menyeringai licik.


"Arrgh ! shit ! kenapa harus kayak gini ?"


Gavin memukul stir kemudinya kuat. Buku-buku jarinya memutih memegang stir. Gavin tidak akan tinggal diam. Gavin merasa perlu melakukan sesuatu, pikirnya. Gavin mengemudikan mobilnya keluar dari parkiran kantor Atmajaya Corp.

__ADS_1


Jangan lupa kritik dan saran 🤗


__ADS_2