
"Bun, Mochi udah bangun ?" tanya Haris yang sedang menyantap sarapan pagi nya.
"Udah seperti nya Yah." Jawab Rita sembari menyiapkan sarapan pagi untuk Mochi.
"Pagi Ayah, Bunda," sapa Mochi dengan semangat.
"Pagi sayang."
Rita memandang Mochi dari atas sampai bawah. Rita mengerutkan dahi heran. Sejak kapan Mochi bangun pagi di hari minggu ? pikir nya.
"Bunda ?" panggil Mochi.
"Eh, iya. Kenapa tumben bangun pagi Mo ? biasa nya kalau hari minggu ini kan kamu lambat bangun," celetuk Rita.
"Nanti siang, Mochi ada tugas kelompok di rumah Dian."
"Diandra, yang pernah datang kesini waktu kamu sakit ya ?" tanya Haris.
Mochi mengangguk.
"Yasudah, kalau begitu sarapan dulu. Nanti bantu Bunda buat pesanan kue sama cuci pakaian ya Mo," ucap Rita.
"Siap Bunda," sahut Mochi mengarahkan tangan nya seperti gerakan hormat. Haris hanya tersenyum melihat Mochi.
Pukul 13.30 wib
Mochi sudah siap membantu Bunda nya. Saat ini, Mochi sedang bersiap-siap menuju rumah Diandra.
"Bunda, Ayah mana ?" tanya Mochi mencari keberadaan Ayah nya yang tidak terlihat.
"Ayah ke rumah teman sejawat nya sayang. Kamu mau pergi sekarang ?"
"Iya Bun, janji nya jam dua siang. Mochi berangkat ya Bun. Bilang sama Ayah," pamit Mochi.
"Assalammualaikum Bunda," ucap Mochi menyalami tangan Rita.
"Waalaikumsalam , kamu hati-hati," balas Rita mengingat kan.
Mochi pergi dengan menggunakan angkutan umum. Beberapa menit kemudian, Mochi sampai di tempat tujuan. Mochi melihat rumah di depan nya ini sangat mewah. Pagar yang bercat kuning keemasan dengan tinggi menjulang. Rumah yang berpilar tiang-tiang penyangga dengan kokoh nan besar. Serta, di hiasi beberapa bunga warna-warni di tepi anak tangga. Seperti, rumah cinderella bak menyambut tamu. Khayalan Mochi buyar, ketika satpam rumah Diandra menegur Mochi.
"Maaf Neng, cari siapa ?" tanya Pak satpam penjaga yang bernama Pak Suryo di badge seragam dada sebelah kanan.
"Eh, maaf Pak. Ini benar alamat rumah Dian ?" tanya Mochi memastikan sekali lagi isi pesan yang di kirim Diandra.
"Dian siapa ya Neng ? setahu Bapak nggak ada nama nya Dian. Tapi, Diandra," balas Pak Suryo.
"Iya. Diandra maksud saya Pak. Dian nya ada ?"
Pak Suryo menelisik Mochi dari atas sampai bawah. Penampilan Mochi sederhana. Hanya dengan memakai baju kaos dan rok lipit beserta tas slempang. Jangan lupakan sandal gabus yang tipis menghiasi kaki nya yang putih bersih. Gadis ini, berani sekali memanggil Non Dian dengan sebutan Dian ? pikir nya.
"SIAPA YANG DATANG PAK ?" tanya Diandra yang tiba-tiba berteriak dari atas balkon kamar nya, yang melihat Pak Suryo seperti berbicara dengan seseorang.
__ADS_1
Pak Suryo tersadar dari lamunan nya. Pak Suryo mengizinkan Mochi masuk. Mochi yang melihat keberadaan Diandra melambaikan tangan nya.
"MASUK MO ! DIA TEMAN DIANDRA PAK SURYO !" teriak Diandra lagi. Diandra bergegas turun menemui Mochi.
Pak Suryo hanya mengangguk mengerti."Silahkan Neng."
"Makasih Pak," balas Mochi tersenyum.
"Mochi ! dari tadi gue tunggu lo. Lo nggak tersesat kan sama pesan yang gue kirim tadi ?" tanya Diandra.
"Sedikit Dian. Oh, iya anak lain udah pada datang ?"
"Belum Mo, paling ngaret," celetuk Dian." Masuk yuk."
Mochi mengangguk sekaligus menganga takjub langkah demi langkah yang di napaki nya.
Perhatian Mochi teralihkan ketika memasuki ruang tamu rumah Dian yang terbilang mewah. Kursi sofa beludru berwarna cokelat keemasan, vas dan guci-guci kecil terpajang rapi di dalam lemari kaca. Foto berukuran besar berbingkai cokelat keemasan yang terpajang di dinding sebelah kiri dari pintu masuk, membuat Mochi tertegun.
"Papa sama Mama gue Mo," ucap Diandra yang mengerti arah pandang Mochi.
"Kamu anak tunggal Dian ?" tanya Mochi penasaran.
"Nggak. Masih ada Kakak gue. Ke kamar gue yuk," ajak Diandra.
Mochi mengikuti langkah kaki Diandra yang mulai menapaki anak tangga satu persatu. Anak tangga yang beralaskan karpet merah, serta pegangan tangga yang bercat cokelat keemasan, tidak luput dari perhatian Mochi. Setiap menapaki anak tangga , Mochi selalu menperhatikan. Anak tangga yang meliuk seperti ular kata Mochi. Mochi mengalihkan pandangan nya melihat lampu kristal besar dan mewah yang tergantung di langit-langit rumah Dian.
Dian yang merasa langkah kaki Mochi tidak mengikuti nya menoleh.
"Mo. Jangan melamun ! kamar gue di sini," peringat Diandra.
Diandra yang jengah melihat Mochi tak kunjung sampai di kamar nya menarik Mochi ke kamar nya.
"Eh, Dian ... pelan-pelan jalan nya," kata Mochi.
"Lo lama Mo. Ngapain lo di depan pintu Kak Gavin ? yang ada nanti lo kena ceramah," celoteh Diandra.
"Kak Gavin ? maksud lo Gavin sekolah kita ?" tanya Mochi penasaran.
"Iya Mochi. Sorry," ringis Diandra.
"jadi, Gavin kakak kamu ?"
"Iya Mochi sayang ...."
"Duh, ya ampun. Aku kok jadi deg deg an gini ya," ujar Mochi gelisah.
"Kenapa sih Mo ?"
"Nggak. Kalau Gavin di rumah ini, itu arti nya dia ada di kamar nya 'kan ?"
Mochi menggigit kuku jari nya gelisah.
__ADS_1
"Lo tenang aja Mo. Kak Gavin, bangun sore atau magrib. Soal nya, semalam Kak Gavin pulang pagi."
"Hah ?"
"Udah deh, nggak usah bahas Kak Gavin. Mending kita angsur buat resensi buku nya deh," ajak Diandra.
Mochi hanya mengangguk. Satu jam lama nya, mereka mengerjakan resensi buku novel fiksi remaja bergenre romance yang mengusung tema menikah muda. Pilihan Mochi, diantara novel yang Diandra punya.
"Huh, akhir nya selesai juga. Nanti untuk print sama jilid nya biar mereka aja yang kerjakan," gerutu Diandra.
"Sabar Dian. Mungkin aja mereka lagi berhalangan, makanya nggak bisa datang," sahut Mochi.
"Kalau nggak bisa datang, harus nya mereka kasih kabar dong. Ini mah nggak," omel Diandra lagi.
Mochi hanya tersenyum menggeleng.
"Eh, sampai lupa buat minum ya ampun. Maaf ya Mo," ringis Diandra.
"Hehe, nggak apa Dian."
"Lo tunggu di sini ya Mo, gue buat minuman dulu," balas Diandra beranjak dari duduk nya.
Lima belas menit berlalu, Diandra tak kunjung kembali ke kamar. Mochi memutuskan untuk menyusul Diandra.
Mochi memberhentikan langkah kaki nya di depan pintu kamar Gavin. Mochi penasaran, apa benar Gavin yang di kagumi nya Gavin yang sama. Mochi berdiri tepat menghadap pintu kamar Gavin. Mochi tidak menyadari, jika Gavin baru saja bangun tidur dan menguap lebar. Mochi terkejut dan menganga melihat penampilan Gavin yang acak-acakan, namun tetap tampan di mata nya.
"Eh, lo siapa !" sarkas Gavin.
Mochi yang tersadar pun terkejut.
"A-aku ... hum, a-aku ...."
"Lo bukan nya cewek udik yang suka letak surat di loker gue kan ?"
"I-iya,"jawab Mochi menunduk.
"Ngapain lo di rumah gue ! lo nguntit ya !" ketus Gavin.
Mochi mendongak." Nggak Gavin, aku ada tugas kelompok sama Diandra."
Gavin jengah mendengar nama Dian atau pun mama nya.
"Pergi !" usir Gavin.
"I-iya aku pergi," balas Mochi melangkahkan kaki nya tergesa-gesa sembari menunduk dalam.
"Awh ! Mo ... lo kenapa sih, jalan nunduk ? jadi nabrak gue kan," keluh Dian yang ingin ke kamar nya memanggil Mochi.
"Ma-maaf Dian. A-aku ...," Mochi mengalihkan pandangan nya ke belakang melihat Gavin yang berjalan mendekati mereka bagai hantu yang bersiap meneror."Dian, pergi sekarang. Sebelum Gavin marah," ajak Mochi lagi menarik pergelangan tangan Diandra.
"Ish, kenapa sih Mo ? sakit nih tangan gue," gerutu Dian melihat ke belakang yang tidak ada siapa-siapa seperti yang di bilang Mochi.
__ADS_1
"Nanti aku jelasin," balas Mochi yang masih menarik tangan Diandra menuju ruang tamu tergesa-gesa.
Jangan lupa saran dan kritik nya 🤗