
Gavin meringis ketika mengobati luka lebam di pipi dan pelipisnya. Gio dan Gavin sempat baku hantam ketika di rumah Mochi. Gavin mengalah karena tak ingin melihat Mochi menangis lagi.
"Gavin, kenapa bisa kayak gini?" tanya Zura ketika mengobati luka Gavin.
Diandra, Zura masih bungkam ketika mendapati Gavin pulang dengan wajah lebam. Ketika mereka menanyakan pada Gavin, Gavin hanya diam.
"Gavin gak apa-apa, Ma," jawabnya lemah.
"Kak, lo berantem sama siapa? Gio?" tebak Diandra.
"Ma, Gavin bingung, apa yang harus lakukan sekarang? Mochi dalam ancaman Gio. Jika Gavin menolong, akibatnya bukan Mochi saja, tetapi, keluarganya, keluarga kita," lirih Gavin memandang sendu Zura.
"Gavin, lakukan apa kata hati kamu saat ini. Jangan egois, hanya karena kamu memiliki keinginan bahagia bersama Mochi," nasihat Zura.
Gavin terdiam, Zura dan Diandra memandang sendu Gavin.
~Flashback~
"Gio ...."
Gio melangkah mendekati Gavin, Mochi serta Haris dan Rita.
"Keluarga yang bahagia, bukan?" sindir Gio.
"Nak, Gio, silakan duduk. Ayah sama Bunda—"
Gio mengangkat tangan ke atas memotong ucapan Haris.
"Gio ingin memberi tahu sesuatu. Lusa, Gio akan menikahi Mochi."
Gavin menatap Gio tajam.
"Apa maksud lo, Gio! Mochi belum mengiyakan permintaan lo!" sarkas Gavin.
"Lo belum tahu? Mochi udah setuju," kata Gio memandang Mochi.
Mochi menelan salivanya melihat tatapan tidak bersahabat Gio.
"Ka-kapan, aku menyetujuinya, Gio?" tanya Mochi takut-takut.
Gio tersenyum mendekati Mochi.
"Kamu lupa dengan kehadiran yang ada di rahim kamu?" Gio berbisik pelan di telinga Mochi.
"Ta-tapi, Gio, aku—aku ...."
"Ingat, Mochi. Semua keputusan ada di tangan kamu. Jika, kamu tidak ingin orang yang kamu cintai, menderita," bisik Gio menyeringai.
Gavin yang melihat raut wajah Mochi berubah seperti ketakutan mendekati Gio. Gavin menarik Gio keluar.
Bugh! Satu pukulan Gavin layangkan pada rahang Gio. Gio hanya tertawa meremehkan.
"Hah, Gavin Angkasa, cih! Lo pikir, apa hebatnya lo? Lo tinggal tunggu kabar, perusahaan lo collaps!" ancam Gio.
Gavin yang tidak terima semakin emosi. Gio membalas pukulan Gavin. Gavin dan Gio baku hantam. Haris berusaha melerai mereka.
__ADS_1
"Gavin, Gio, hentikan!"
Gavin memisahkan diri dengan Gio. Keadaan mereka sama-sama lebam di wajah. Gio menyeka darah di sudut bibirnya.
"Gavin ...." Mochi memanggil Gavin lirih dengan air mata yang menetes, di pelukan Rita.
Gavin mengepalkan tangannya erat.
"Gavin, Gio, sebaiknya kalian pulang. Warga sekitar akan merasa terganggu dengan pertengkaran kalian," kata Haris mengingatkan.
"Dengar Gavin, gue gak main-main. Sekali lagi, lo melangkah sejauh ini, gue pastikan, keluarga lo akan menderita," desis Gio pergi menuju mobilnya.
Haris menghela napas. Haris semakin yakin, jika Gio bukan orang yang tepat untuk Mochi.
"Gavin, kamu tidak apa-apa?" tanya Haris mendekati Gavin.
"Gak, Ayah. Gavin minta, Ayah jaga Mochi ya. Semua keputusan ada di Mochi. Jangan paksa Mochi melakukan sesuatu yang tidak dia inginkan."
Haris menepuk pundak Gavin.
"Tanpa kamu minta, Ayah akan selalu menjaga Mochi Gavin."
"Terima kasih, Ayah," balas Gavin tersenyum tipis.
Gavin melangkah mendekati Mochi.
"Boleh, Gavin bicara berdua dengan Mochi, Bunda?"
Rita mengangguk. Haris menyusul Rita masuk ke rumah.
Mochi memeluk Gavin tiba-tiba menumpahkan semua tangisannya. Gavin membalas pelukan Mochi.
"Ga-Gavin, apa yang harus Mochi lakukan? Mochi gak mau, terjadi sesuatu sama Gavin," lirih Mochi sendu.
"Hei, siapa bilang? Aku baik-baik aja, Mochi. Kamu gak usah mikirin aku. Sekarang, kamu pikirin kesehatan juga janin yang ada di kandungan kamu," tutur Gavin mengusap pipi Mochi.
"Tapi ... aku gak mau menikah dengan Gio," jawab Mochi menunduk.
Gavin memegang dagu Mochi menghadapnya.
"Mochi, ikuti apa kata hati kamu. Aku sayang sama kamu, tapi, jangan jadikan keegoisan kita berakibat fatal ke orang-orang yang kita sayang," nasihat Gavin.
Mochi terdiam. Gavin benar, seharunya, dia tidak seperti ini.
"Gavin, kamu harus tahu, aku sangat mencintai kamu," ungkap Mochi.
Gavin mengernyit mendengar kata ambigu Mochi.
"Kamu jangan pernah berpikiran negatif Mochi. Aku harap, kamu selalu baik-baik saja," ujar Gavin.
Mochi hanya membalas ucapan Gavin dengan tersenyum getir. Mochi kembali memeluk Gavin.
Tuhan, apakah ini pelukan terakhirku bersama Gavin? Mochi menangis dalam hati.
Gio memukul stir kemudi kuat. Gigi Gio gemeletuk menahan emosi. Gio mengemudikan mobilnya di atas kecepatan rata-rata.
__ADS_1
"Gavin *******! Lo lihat aja Gavin, lo akan menderita," desis Gio.
Gio mengemudikan mobilnya menuju rumah. Gio memarkirkan mobilnya sembarangan. Gio melangkah keluar dari mobil.
"Gio, kamu baru—"
Mama Gio mendengar suara mobil Gio, membukakan pintu.
"Papa mana Ma?" tanya Gio melangkah masuk ke rumah duduk di sofa.
"Papa di masih di kantor, ada apa Gio?" tanya Naura—Mama Gio.
"Gio mau, pernikahan Gio di percepat dengan Mochi, lusa," pinta Gio memandang Naura.
"Kenapa tiba-tiba, Gio?"
"Gio ingin segera memiliki Mochi, dan, Mama, Papa akan segera memiliki cucu."
Naura mengernyit mendengar ucapan Gio.
"Tenang saja, Son. Papa sudah urus semuanya," sahut Elang yang datang tiba-tiba.
"Papa? Kenapa gak diskusi hal ini dulu sama Mama?" sela Naura protes.
"Ma, Papa tidak ingin ada yang mengganggu rencana Papa. Papa tidak ingin, satu orang pun menyakiti cucu Papa."
"Cucu? Maksud Papa cucu siapa?"
"Mochi mengandung anak Gio," celetuknya.
"Apa? Gio, kamu bercanda kan? Ini gak mungkin, kamu pasti bercanda."
Naura menggeleng tidak percaya.
"Ma, ini benar. Kesalahan satu malam itu menjadi seperti ini," lanjut Gio.
"Gio! Mama tidak pernah mengajarkan kamu bersikap seperti itu! Kamu gak bisa memaksa Mochi menikah. Kamu tahu kan? Mochi pasti tersiksa, jika kamu memaksanya, Nak," peringat Naura.
"Ma, tindakan Gio benar, ingin bertanggung jawab. Apa salah? Gio ingin menikahi Mochi," balas Gio.
"Ma, tenang saja. Semua akan baik-baik saja. Tidak akan terjadi sesuatu apapun pada Mochi," sambung Elang.
Perasaan Naura tidak tenang. Mengingat, Mochi hanya menganggap Gio sebagai kakak, tidak lebih. Sebagai seorang Ibu, Naura hanya bisa berharap, apa yang dia pikirkan tidak akan terjadi.
"Mama takut, Mochi merasa tertekan jika kamu mempercepat pernikahan ini. Sebagai perempuan, Mama mengerti perasaan Mochi, Gio," kata Naura memandang Gio yang duduk menyandar di sofa.
"Ma, gak ada cara lain. Mama tahu? Jika Gio tidak segera bertindak, Mochi akan jatuh ke tangan orang lain!"
"Gio, jika Mochi memang di takdirkan untuk kamu, Mochi akan bersama dengan kamu. Jika kamu memaksa yang bukan di takdirkan untuk kamu, Mochi akan pergi," terang Naura.
"Naura! Kamu tidak usah ikut campur. Cukup, kamu persiapkan apa saja yang di perlukan lusa untuk pernikahan Gio. Kamu tidak ingin, melihat putra kita bahagia? Aku rasa, ini balasan setimpal atas apa yang sudah kita lakukan selama ini terhadap keluarga Mochi," tutur Elang.
Naura terdiam. Naura berdoa dalam hati, jika nanti, Mochi dan keluarganya baik-baik saja.
***Update !
__ADS_1
Jangan lupa saran dan kritik 💞
Maaf, kalau ceritanya gak jelas 😂***